"Pokoknya aku mau Mama kembali!"
"Mau dibawa kemana anakku?!"
"Karena kau sudah membohongi puteriku, maka kau harus menjadi Mamanya!"
Tiba-tiba menjadi mama dari seorang gadis kecil yang lucu.
"Tapi, mengapa aku merasa begitu dekat dengan anak ini ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linieva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Siapa Ibu Kandungnya?
“Sadewa, dimana ibu kandung dari Anisha? Dan, siapa itu Alisha?”
“Apa kau yakin kalau ibunya Anisha sudah meninggal? Apa kau pernah mencarinya?” Sadewa memikirkan pertanyaan dari dokter Riani padanya beberapa saat yang lalu.
‘Dekat? Akrab? Anisha dan Alisha? Tidak mungkin kan kalau mereka berdua…
Sadewa melihat Alisha dan Anisha bermain boneka-bonekaan dengan serius. Sadewa merasa kepalanya pusing sampai dia memijit keningnya sendiri.
“Papa? Papa kenapa?” Anisha menyadari kegundahan dari satu-satunya orang tuanya.
“Ya? Papa gak apa-apa kok Nak. Kenapa? Kamu takut kalau Papa sakit ya?” Sadewa memeluk puterinya.
“Iya Pa. Anisha gak mau Papa sakit.”
“Papa sehat. Nih lihat, otot-otot Papa masih besar kan?” Sadewa menonjolkan otot dilengannya.
“Iya, otot Papa besar sekali.” Rasa cemas diwajah Anisha menghilang, berubah dengan senyum yang sangat senang, memainkan otot lengan Sadewa.
Tapi, kembali lagi Sadewa memikirkan yang ditanyakan Riani tadi, tapi Anisha tidak memperhatikannya lagi.
‘Aku tahu, ada yang dia pikirkan. Tapi, kenapa dia selalu melihat kearahku? Kalau ada yang ingin dia tanyakan padaku, bukankah langsung ditanyakan saja?’ pikir Alisha.
“Anisha.”
“Ya?”
‘Nah, apa dia sekarang sudah memutuskan untuk bertanya langsung padaku?’
“Mmm… tidak, tidak jadi.”
“Apa? Kenapa? Padahal tadi wajahmu begitu serius ingin bertanya padaku. Ada apa?” Alisha mendesaknya.
“Tidak, lupakan saja.”
“Mana bisa aku melupakannya. Ada apa sih?”
“Aku bilang lupakan saja, karena aku juga lupa mau bertanya apa padamu.”
*
“Apa? Kau pergi keluar? Kau pergi ke mana lagi? Jangan bilang kau ke rumah kakak-mu?” Sadewa sedang berbicara dengan Alisha perihal dia tidak ada di rumah, setelah mendapat kabar dari Dewi.
“Maafkan aku Pak Dewa, tapi, aku harus pulang dulu karena keponakanku sakit dan menangis terus minta bertemu denganku.”
“Alasan! Apa kau tidak memikirkan Anisa, puteriku??”
“Aku-
“Dewi meneleponku dan bilang kalau Anisha menangis terus karenamu! Apa niatmu sebenarnya Alisha? Kau datang dan lalu pergi lagi seperti sengaja untuk membuat anakku semakin terikat padamu?”
“Pak! Dengarkan aku dulu-
“Apa??”
‘Astaga, dia marah sekali. Haruskah aku menutup teleponnya?’
“Kenapa kau diam?”
“Anda… anda tidak mengijinkanku untuk bicara.”
“Uhuk… uhuk… Tante…”
“Aku akan menjelaskan semuanya. Aku juga tidak mungkin membawa Anisha kesini, takutnya dia juga tertular.”
“Lalu kau tidak? Kau dari sana dan kembali padaku dengan membawa virus untuk menularkan orang-orang di rumahku?”
“Kalau begitu, aku… aku tinggal di sini kalau memang anda takut saya bawa virus.”
“Alisha!!”
“Apa sih?? Anda terus saja berteriak sampai kupingku sakit! Pokoknya, aku akan pulang kalau keadaan keponakanku membaik.”
“Alisha, selagi aku bicara baik-baik padamu, sebaiknya kau segera pulang-
“Uhuk… uhuk… Tante.”
“Iya Sayang. Maafkan aku Pak, aku akan menutup teleponnya sekarang.”
“Tunggu! Alisha, kau ada dimana biar aku menjemputmu..
Klik!
“Brengsek!” Sadewa sangat marah karena belum selesai bicara, tapi Alisha menutup teleponnya. Rasanya, Sadewa sangat tidak puas berbicara dengan Alisha, dan meluapkan amarahnya.
Yusra juga gugup dengan kemarahan atasannya. Seperti dirinya yang sedang dimarahi.
Sadewa memijit keningnya, berusaha mengendalikan emosinya.
“Sial! Seenaknya saja meninggalkan anakku! Apa dia pikir tanggung jawabnya adalah permainan untuknya?” Sadewa bicara sendiri.
“Pak, kalau memang anda membutuhkan wanita itu, kenapa tidak anda jemput saja dia?”
“Itulah masalahnya, Yusra! Aku tidak tahu dimana dia tinggal atau siapa keluarganya! Rasanya kepalaku mau pecah.”
Ddrtdd… drtdd..
Sadewa melihat ponselnya karena ada panggilan masuk, “Hallo? Apa? Anisha masih menangis? Berikan teleponnya pada Anisha.”
“Tapi Tuan-
“Apa lagi????”
‘Bisa-bisa jantungku meledak dan gendang telingaku pecah karena amukan dari bos-ku.’ Pikir Yusra.
Dewi memanggil Anisha untuk menerima telepon dari papanya.
“Papa!! Mama mana? Hiks… hiks.. hiks…”
“Sayang, Mama sedang ada urusan sebentar. Besok dia akan pulang.”
“Mama kenapa? Tadi… tadi dia pelgi buyu-buyu. Apa Mama sakit lagi?”
“Enggak Sayang. Ada yang ingin dia beli untuk kamu. Aduh… harusnya Papa gak boleh ngebocorin rahasia ini. Takutnya mama kamu memarahi Papa. Gimana nih? Kata mama-mu, kalau kamu menangis terus, dia gak jadi memberikannya padamu.”
‘Apakah dia berhasil aku bujuk? Kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana membuatnya untuk-
“Benalkah? Papa gak bohong kan?”
“Ya? Iya Sayang, Papa gak bohong. Tadi… pesanannya salah. Dia beritahu sama Papa begitu, jadi dia mau memarahi mereka. Takutnya, kamu gak suka sama hadiah dari mama. Kamu… gak nangis lagi kan Nak?”
Sadewa mendengar suara tarikan hidung dari puterinya, tapi tidak ada suara tangisan lagi.
“Iya, Anish gak nangis lagi.” Anisha mengelap ingusnya dengan lengan bajunya.
“Anak pintar. Mama pasti senang karena Anisha begitu patuh dan nurut begini.”
“Mama.. gak ninggalin Anish kan Pa?”
“Enggak dong Sayang. Anisha kan selalu dengar kalau mama akan selalu ada di sisi Anisha, puteri kami yang paling cantik dan tidak cengeng ini. Nah, sekarang, kalau sudah gak menangis lagi, bisa kasih ponselnya pada mba Dewi?”
“Iya Pa. Mba Dewi, papa mau ngomong.”
“Iya Non. Hallo Tuan?”
“Dewi, jaga Anisha. Jangan bicara aneh-aneh pada puteriku, awas saja kalau dia bicara yang tidak-tidak. Kau mengerti kan?”
“Iya Tuan, saya mengerti.”
“Aku tidak mau ada banyak pertanyaan, karena kau selalu seperti itu. Urus puteriku dengan baik kalau kau masih mau bekerja padaku.”
Sadewa menutup teleponnya setelah selesai berbicara. Dia kembali duduk di kursi kerjanya dan menghela napas, “Hhuuff…. Akhirnya aku berhasil membujuk Anisha untuk tidak menangis.”
“Syukurlah, Pak.” Yusra juga ikutan lega, karena jika atasannya masih mengamuk, dirinya juga pasti kena omelan.
“Tapi… apa yang kau lakukan disini?” tatapnya tajam pada Yusra, “Apa kau hanya ingin menerima gaji saja tanpa bekerja?”
“Itu… Pak, anda memanggil saya untuk memberikan laporan penjualanan. Saya sudah mengantarnya dan sekarang saya sedang menunggu tanda tangan dari anda.”
“Apa? Laporan? Yang mana?”
‘Apa anda tidak bisa melihat tumpukan berkas diatas meja anda?’
“Oh, ini rupanya. Ngomong dong, kenapa kau hanya diam saja? Kalau kau tidak bicara, mana aku tahu.” Sadewa tetap tidak mau mengakui kesalahannya.
‘Akh… padahal sudah berapa kali aku menanyaka laporan itu, Pak Sadewa. Tapi, aku tidak bisa mengatakan itu demi kelanjutan gajiku.’
*
“Gak apa-apa kau menginap di sini, Alisha?” tanya Astrid.
“Iya Kakak Ipar. Aku sudah kasih tahu sama bos-ku.”
“Apa dia memarahimu dulu?” tanya Astrid lagi.
“Ya begitulah. Sudah terbiasa aku Kak.”
“Apa? Dia selalu marah-marah padamu?” tiba-tiba Fabian datang. Mereka bertiga mengobrol di kamar Mira.
“Enggak, enggak setiap hari juga. Jarang-
“Itu artinya tetap saja kalau dia marah-marah kan?” Fabian tetap tidak menyukai majikan Alisha.
“Lagian, kenapa sih kau betah bekerja di sana? Memangnya dibayar berapa?” tanya Fabian, duduk di pinggir ranjang, bersamaan dengan Alisha dan Astrid.
“Kakak kak sudah pernah tanya dan aku menjawabnya. Mana sih, lupa?”
“Ck, tinggal kasih tahu aja lagi.”
“20 juta sebulan.”
“Apa??? Oke, tetap bertahan disana saja.”
“Hah??”