Arsen Winston, seorang lelaki berhati beku, menyimpan sisi kelam di balik ketampanan yang memukau. Ia bagaikan musim dingin yang mematikan bunga—dingin, keras, dan tanpa belas kasih. Pernikahan yang menjeratnya bukanlah pilihan hati, melainkan takdir yang mengikat dengan rantai yang tak terlihat.
Amey Agatha, gadis berparas jelita dengan jiwa secerah mentari pagi, tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang kini menjadi pendamping hidupnya bukanlah sosok penuh kasih yang ia bayangkan. Di balik senyum Arsen yang memikat, tersembunyi tabiat yang tajam dan menyakitkan, seperti duri yang melukai tanpa terlihat.
Takdir kejam menyingkap rahasia yang tak terduga—calon suami yang ia nantikan telah tiada, digantikan oleh sosok kembar bernama Arsen. Maka, Amey harus belajar menerima kenyataan pahit, berjalan di sisi seorang pria yang wajahnya serupa, tetapi jiwanya asing dan menakutkan.
.
.
©Copyright by Stivani, Agustus 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Soffy Akhirnya Tahu
Arsen tiba di mansion lebih dulu. Untunglah sebelum Arsen tiba, Soffy dan squad-nya sudah membersihkan kekacauan yang mereka buat. Mansion kembali sepi. Para pelayan kembali melanjutkan aktivitas mereka. Soffy? Ohh di mana Nenek Rempong itu?
"Uhhh senangnya jadi horang kayahhh! Semuanya telah tersedia. Tinggal pencet ini itu langsung srett ... srett muncul. Kayak ini nih, uhuyyyy." memainkan remote kontrol lemari penyimpanan anggur di kamarnya.
Lama kelamaan wanita tua itu mulai merasa bosan. Sejak tadi remote kontrol lemari anggur itu menjadi permainannya. Ia menekan tombol off on secara berulang kali sehingga lemari itu berputar-putar. "Ahh tidak seru lagi!" gumamnya.
Soffy berjalan keluar kamar. Ia hendak mencari hiburan untuk menyibukkan dirinya. Ia melihat dua mobil mewah yang baru saja tiba di depan mansion. Dengan semringah ia berjalan menghampiri mobil itu.
"Trima kasih Kai, telah memberikan tumpangan." tutur Amey. "Apa kau tidak mampir dulu?"
Kaisar sebenarnya akan mengiyakan tawaran Amey, namun karena melihat Soffy yang sedang berjalan menuju teras, membuat Kai mengurungkan niatnya untuk mampir. "Nanti saja Mey, ada urusan kantor yang harus aku kerjakan."
"Amey!" teriak Soffy.
"Ehh, Nenek?"
Soffy melihat Kai yang dengan segera menaikan kaca mobilnya. "Hey Brader?" sapa Soffy dengan tersenyum lebar.
Terpaksa Kai menurunkan kaca mobilnya kembali. "Halo Nenek?" sapa Kai kaku.
Soffy melihat mobil Jayden yang ada di belakang mobil Kaisar. Ia kini berjalan menuju Jayden dan Mark. Mark terlihat sangat gelisah ketika langkah Soffy semakin mendekat.
Mark mencoba membuka kembali pintu Jayden namun pria bule di dalamnya telah lebih dulu mengunci pintu. "Tuan! Buka pintunya, biarkan aku masuk kembali." bisik Mark sembari mengetuk kaca mobil.
Jay menjulurkan lidahnya dari dalam mobil. "Haha, sorry Mark, sepertinya kau tidak aman." gumam Jay.
"Bahaya! Nensi otw! Mark tenang, jangan panik." gumam Mark menenangkan dirinya.
"Braderrrr!" teriak Soffy.
Mark sangat terkejut, ia mencoba mengalihkan pandangnya ke arah Amey, berharap wanita itu membantu mengeluarkannya dari zona merah.
Mark memejamkan mata. Peluhnya menyucur deras di dahi. Ketika Langkah Soffy sudah tidak terdengar, ia membuka matanya. Mark melonjak saat Soffy sangat dekat menatapnya dengan mengedipkan mata.
"G--grandma?" ucap Mark gagap.
Soffy hanya menatapnya, setelah itu ia beralih mengetuk pintu kaca Jayden. "Honey? kam tu mama!"
Jayden membuka jendela kacanya. Ia menelan saliva saat mendengar ucapan Soffy, yang terdengar seperti slow motion di telinganya. Ditambah bibirnya yang berwarna merah dimonyongkan lima senti ke arah Jayden.
Ini benar-benar bencana alam! Mark s'lamatkan aku. batin Jayden.
"Handsome? Yuk mampir." tawar Soffy.
"Trima kasih Nek, tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku ... "
"Jayden memiliki pekerjaan kantor Nek. Jadi Jay dan Kai tidak bisa mampir." tukas Amey tiba-tiba.
Jayden mengusap dadanya sembari bernapas lega saat Amey datang menolongnya. "Thank God! Aku terbebas dari Grandma." gumam Jay.
Mark tersenyum tipis menyaksikan kegelisahan Jayden. Ia meledek Jay dalam hatinya karena Jay tidak menolongnya saat Nensi menghampiri Mark. Untunglah Soffy sudah tidak terlalu tertarik dengan Mark.
"Nek, ayo masuk." ajak Amey merangkul bahu Soffy.
"Baiklah. Tapi bilang ke berondong Nenek, untuk selalu mampir ke sini." pinta Soffy.
"Iya Nek. Mereka memang sering mampir kok." bujuk Amey.
Amey tahu dengan perasaan ketiga pria itu. Ia juga merasa tidak enak hati jika Neneknya yang narsis itu selalu mengganggu mereka. Untuk itu ia sengaja mengajak Soffy masuk ke dalam sebelum ia mengeluarkan ponselnya untuk selfie.
"Mey, di mana suamimu?" tanya Soffy.
Amey diam karena hatinya dilema. Apa aku jujur saja ke Nenek kalau Arka sudah meninggal dan pria itu adalah Arsen? Tapi apa Nenek akan jantungan mendengarnya? Ahhh bingung aku!
"Mey, kenapa diam?"
"Tidak Nek, tidak apa-apa."
"Amey, apa kau menyembunyikan sesuatu dari Nenek?" tanya Soffy menatap mata Amey.
Wanita itu tidak bisa berbohong jika sorot mata Soffy meliriknya dengan tajam. Apalagi Soffy sangat tahu dengan sifat cucunya. Amey memanglah tidak pandai menyembunyikan sesuatu di depan Soffy.
"Nek? Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Amey katakan."
"Apa itu?" tanya Soffy penasaran.
"Sebaiknya kita duduk di sofa dulu Nek." ajak Amey, jaga-jaga jangan sampai neneknya pusing saat mendengar kebenaran.
Keduanya pun duduk di sofa.
"Ayo ceritakan. Nenek sangat penasaran."
Amey memandangi foto besar keluarga Winston yang terpajang di dinding. Di dalamnya ada Arka yang tersenyum lebar. Amey menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan.
Plakkkk
"Aduhhh." pekik Amey. "Kenapa Nenek memukulku?"
"Lama sekali bicaranya. Kau pikir kita di pilem-pilem, yang lagi akting?. Pake acara tarik napas hembuskan, menghayal segala lagi! Dacjall kau ini." celutuk Soffy yang sangat penasaran.
"Ahh Nenek! Biar dramatis gitu." canda Amey.
"Ayo cepat katakan! Jangan lama-lama."
"Baiklah Nek. Tapi Nenek tenang ya, jangan panik, jangan kawatir. Amey baik-baik saja." tutur Amey menenangkan Soffy sebelum ia terkena jantungan hebat. "Nek, sebenarnya Arka punya penyakit kanker stadium akhir."
"APA?!" tukas Soffy terbelalak.
"Nek, Amey mohon tenanglah. Masih ada yang lebih parah dari ini." ucap Amey mulai berkaca-kaca.
Melihat raut wajah cucunya yang bersedih, membuat Soffy menahan diri untuk tidak terkejut. "Baiklah ... Baiklah, ceritakan pada Nenek."
"Nek ..." bibir Amey gemetar. "Arka sebenarnya sudah meninggal tepat di hari ulang tahun Amey, tepat di hari pernikahan Amey dan Arka."
Soffy terperangah. Matanya terbelalak, ia masih tidak percaya dengan ucapan Amey. Namun ia melihat raut wajah Amey yang begitu sedih. Kecil kemungkinan Amey berbohong, karena ia bukanlah tipe orang pandai berbohong.
"Ke--kenapa bisa?" lirih Soffy yang masih menahan diri untuk tidak terkejut.
"Aku menikah dengan Arsen, kembaran Arka. Makanya ia terlihat asing di mata Nenek. Tapi Nenek tenang saja, Arsen orangnya sangat baik. Meski dia terkadang dingin, tapi sebenarnya hatinya hangat." jelas Amey dengan menitikan air mata.
Soffy segera memeluk Amey. Ia sangat tahu jika saat ini hati cucunya sangat rapuh. Ia mengusap punggung Amey dengan lembut. Ingin rasanya ia berteriak marah, kepada Amey karena membohonginya dari awal, namun ia tak tega menambah beban bagi cucunya itu.
"Amey, Sayangku. Cucuk Nenek yang paling cantik, apa kau bahagia bersama Arsen?" tanya Soffy.
Amey diam. Ia masih bingung mengatakannya. Pasalnya Amey belum merasakan kenyamanan bersama pria arogan itu. Ia belum bisa move on dari Arka.
Selama ini ia tegar karena melihat wajah Arsen yang sangat mirip dengan Arka, membuat Amey merasakan jika Arka ada di sampingnya, dan itu membuat Amey untuk menahan kesedihannya sebisa mungkin.
Amey mulai menangis dipelukan Soffy. Ia bisa terlihat sangat bahagia, namun juga ia bisa terlihat sangat hancur jika siapa saja mengingatkan ia kepada sosok Arka.
Beribu pertanyaan berputar-putar di kepala Soffy, tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya. Ia tidak tega untuk melontarkan pertanyaan lagi. Tangisan Amey sudah cukup membuatnya paham bahwa cucu kesayangannya itu sedang tidak baik-baik saja dan sangat patah hati.
"Cup ... cup ... Sayang. Kamu jangan menangis lagi. Kamu harus tegar Sayang. Meski Arka sudah tidak bersamamu, tapi dia menitip Arsen untuk menjaga dan melindungimu. Memang sulit untuk melepaskan kepergian orang yang kita cintai, tapi kita juga harus memikirkan masa depan kita. Tidak baik terus-terusan terpuruk dalam kesedihan." tutur Soffy menguatkan Amey.
Amey menghentikan tangisannya. Ia kembali memeluk Soffy dengan erat. "Maafkan Amey yang telah membohongi Nenek. Amey janji, Amey akan tegar dan kuat. Amey tidak akan lama-lama larut dalam kesedihan. Hanya saja berikan Amey waktu."
"Iya Sayang. Nenek percaya kamu bisa melewati ini." mengecup kepala Amey.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘