Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
“Terakhir untuk tahun ini?” ejek Lucien dengan nada mengolok.
“Kau pikir aku akan menghabiskan waktu bertahun-tahun bersamamu? Berhentilah terlalu percaya diri.”
Sisi mengangguk cepat, nyaris terlalu bersemangat.
“Apa pun yang kau katakan. Aku janji tidak akan marah atau mengganggumu dengan hal-hal yang tidak kau sukai. Aku bersumpah tidak akan melakukannya,” ucap Sisi, berharap ketulusannya bisa meluluhkan pria itu.
Lucien menatapnya lama, sorot matanya dingin dan menimbang.
“Baiklah. Karena kau terlihat begitu tulus, aku setuju untuk kali ini,” katanya akhirnya. “Tapi ingat, ini yang terakhir. Aku peringatkan. Dan kau berutang satu permintaan padaku. Kau harus membayarnya kapan pun aku memintanya.”
Sisi langsung mengangguk dengan senyum manis.
“Oke. Tidak masalah. Kau punya janjiku.”
Mereka kemudian berjalan bersama menuju ruang makan, menyusul orang tua dan adik Lucien.
“Kau sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Lady sambil mengusap tangan Sisi dengan penuh perhatian.
Sisi tersenyum tipis.
“Ya, Ibu. Maaf sudah membuat Ibu khawatir,” jawabnya lembut.
Mereka mulai makan dalam keheningan. Hanya bunyi sendok dan garpu yang terdengar.
Sisi terkejut ketika ibu menyodorkan semangkuk sup ke hadapannya.
“Minum ini selagi masih hangat.”
“Oke,” jawab Sisi canggung sambil menerima mangkuk itu dan menyeruputnya perlahan.
“Kau harus menghabiskannya dan rutin meminumnya supaya cepat memberiku cucu,” ujar Lady dengan senyum lebar.
Sisi langsung tersedak hebat, napasnya nyaris terhenti. Lyra buru-buru menyodorkan segelas air.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Lord dengan nada khawatir.
Sisi mengangguk cepat, lalu melirik Lucien dengan kesal. Sial. Pria itu duduk paling dekat dengannya, tapi sama sekali tidak membantu.
Ia ingin meninju pria itu. Perhatian suaminya benar-benar menyentuh titik nol.
“Ibu… ini sup apa?” tanya Sisi setelah akhirnya bisa bernapas normal.
“Sup bergizi untuk meningkatkan peluang kehamilan,” jawab Lady dengan santai.
Perasaan bersalah langsung menghantam dada Sisi. Jika mereka tahu kenyataannya, tentu mereka tidak akan berharap sejauh itu. Bagaimana mungkin ia bisa hamil jika ia bahkan tidak benar-benar bersama Lucien?
Dan Lucien, pria itu sama sekali tidak membantunya.
“Aku sudah selesai,” ujar Lucien santai sebelum bangkit dan pergi.
Tatapan Sisi mengikuti punggung pria itu dengan perasaan kecewa.
Sebelum rasa bersalahnya semakin menumpuk, Sisi berkata,
“Ibu, Ayah, Lyra, selamat makan. Aku sudah kenyang,” ucapnya sopan sambil menunggu izin.
Setelah itu, ia bergegas menuju kamar.
Ia mendorong pintu dan sial.
Sisi terengah dan refleks memalingkan wajahnya, hampir berteriak. Lucien berdiri di sana hanya mengenakan celana dalam hitam, handuk tersampir di bahunya. Astaga. Seperti model iklan pakaian dalam. Wajah Sisi pasti sudah merah padam sekarang.
Ia memeluk dirinya sendiri, berpura-pura tenang meski perut rata dan otot perut Lucien benar-benar… tidak manusiawi.
“Pakai baju! Kau pikir tubuhmu enak dipandang? Memalukan,” ejek Sisi sambil tetap membelakanginya padahal dalam hati ia ingin sekali berbalik dan menatapnya.
Sejak kapan ia jadi seperti ini? Mesum? Sepertinya baru sekarang.
“Aku tidak malu. Aku punya tubuh hampir sempurna yang membuat semua wanita terpesona,” jawab Lucien dengan nada menggoda.
Sombong. Sangat sombong.
“Terserah. Tapi bagaimana kalau yang masuk tadi Ibu, Lyra, atau pelayan?” bentak Sisi sambil akhirnya berbalik, namun hanya menatap wajah Lucien. Ia masih punya sedikit rasa malu untuk menatap tubuh itu terlalu lama.
“Kau satu-satunya yang masuk ke kamarku dengan tergesa seperti itu,” balas Lucien santai.
Sial. Pria ini tidak mau kalah.
Pandangan Sisi hampir saja melorot ke bawah. Terlalu menggoda.
“Yah… kau juga seharusnya tidak mondar-mandir seperti itu. Kita bukan benar-benar suami istri,” ucap Sisi sambil mengangkat alis.
Lucien justru menyeringai.
“Jadi, kau menyalahkanku karena tidak bercinta denganmu?” tanyanya sambil mengangkat alis.
Astaga. Otaknya memang rusak.
Sisi melipat tangan di dada, hanya menatap wajah Lucien.
“Selamat. Kau sudah belajar bagaimana caranya sombong dariku,” ujarnya Sisi tajam. “Dan terima kasih juga, karena darimu aku belajar untuk tidak mengetuk pintu.”
Dengan cepat, Sisi menyelinap ke kamar rahasianya dan menutup pintu.
Hari yang benar-benar mengerikan.