NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Labirin di Bawah Tanah

"Kau seharusnya tidak bangun," bisik Kayra, mencoba menutupi kegugupannya. "Luka jahitannya bisa terbuka."

Harry tidak memedulikan peringatan itu. Ia melangkah masuk, menyeret tiang infusnya dengan suara gesekan pelan yang terdengar mengancam di keheningan malam. Ia berhenti tepat di depan Kayra, mengurung wanita itu di antara tubuhnya dan meja kerja.

"Aku selalu bangun saat merasakan ada penyusup di ruanganku," gumam Harry. Suaranya rendah dan bergetar, mengirimkan gelombang panas ke sekujur tubuh Kayra. "Termasuk saat penyusup itu adalah dokter yang sudah menyelamatkan nyawaku."

Kayra menunjuk ke arah map di meja. "Kau tahu siapa aku. Elara bukan sebuah kebetulan, kan?"

Harry tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak berbahaya sekaligus memikat. Ia mengulurkan tangan, menyelipkan sehelai rambut Kayra ke belakang telinga wanita itu.

"Elara adalah keberuntungan, Kayra. Aku tahu kau bersembunyi di sana, tapi aku tidak menyangka Luca akan menyerang di saat yang tepat hingga memaksaku menjatuhkan diri ke pintu puskesmasmu."

"Jadi kau menggunakanku?" suara Kayra bergetar karena marah.

"Aku memanfaatkannya," koreksi Harry.

Ia mencondongkan tubuh, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Kayra. Aroma antiseptik dan kayu cendana dari tubuhnya memenuhi indra penciuman Kayra.

"Dunia luar menganggapmu dokter gagal yang membunuh pasien di meja operasi. Tapi aku ... aku melihat wanita yang sanggup memegang jantung pria asing tanpa berkedip."

Harry meraih tangan kanan Kayra, merapatkan jemari wanita itu ke dadanya yang berbalut perban, tepat di atas jantungnya yang kini berdetak dengan ritme yang kuat dan mantap.

"Jantung ini berdetak untukmu sekarang, Kayra. Secara biologis, dan mungkin ... secara emosional."

Kayra mencoba menarik tangannya, namun Harry menahannya dengan kuat. "Jangan takut padaku, Dokter. Takutlah pada dunia yang ingin menghancurkanmu. Di sini, kau aman. Di sini, kau adalah ratuku."

Momen itu terasa sangat nyata dan intens. Di bawah temaram cahaya bulan, di ruang kerja yang penuh rahasia berdarah, Kayra merasakan tarikan yang tak terelakkan.

Ada sisi gelap dalam dirinya yang merespons dominasi Harry. Selama dua tahun ia melarikan diri dari kenyataan, dan kini, ia justru menemukan dirinya berada di pelukan pria yang merupakan personifikasi dari bahaya itu sendiri.

Harry merunduk, bibirnya menyapu kening Kayra dengan lembut, sebuah tindakan intim yang mendadak, kontras dengan kekejaman yang ia tunjukkan sebelumnya. "Luca tidak akan berhenti mencari kita. Serangan di Elara hanyalah permulaan. Dia menginginkan kepalaku, dan sekarang, dia juga akan menginginkanmu karena kau adalah satu-satunya kelemahanku yang tersisa."

Kayra tersentak. Rasa hangat di keningnya segera berganti menjadi amarah yang membakar. Ia mendorong dada Harry dengan tenaga yang cukup kuat hingga pria itu sedikit meringis, tertahan oleh sisa nyeri jahitannya.

"Beraninya kau," desis Kayra, matanya berkilat penuh emosi. "Jangan pernah menyentuhku seperti itu lagi! Aku menyelamatkan jantungmu bukan untuk memberimu hak atas tubuhku. Bagiku, kau tetaplah orang asing, Harry. Seorang pasien yang berbahaya."

Harry tidak marah. Sebaliknya, ia justru terkekeh pelan, sebuah suara serak yang bergema di keheningan ruang kerja. Bukannya menjauh, tangannya justru berpindah ke pinggang Kayra dengan gerakan kilat, menarik wanita itu lebih dekat hingga tidak ada jarak di antara mereka.

Kayra bisa merasakan panas tubuh Harry menembus jas putihnya yang tipis.

"Kau punya nyali, Dokter. Aku menyukai itu," gumam Harry, mengabaikan protes Kayra. "Kau bisa menyebutku orang asing, tapi kau adalah orang asing yang sudah melihat bagian terdalam dari diriku. Kelemahanmu? Bukan, kau bukan kelemahanku."

Harry merunduk lebih dalam, napasnya terasa hangat di telinga Kayra. "Kau adalah milikku yang paling berharga sekarang. Kita lihat saja berapa lama kau bisa bertahan dengan kemarahan itu sebelum kau sendiri yang meminta untuk tidak pernah kulepaskan."

Kayra baru saja hendak melayangkan tamparan saat suara alarm di mansion itu mendadak meraung nyaring. Lampu merah berputar di lorong, menandakan ada pelanggaran keamanan di perimeter luar.

Harry segera melepaskan Kayra, wajahnya kembali menjadi dingin dan penuh perintah. Ia menyambar sebuah alat komunikasi dari meja dengan gerakan taktis. "Enzo! Lapor!"

"Tuan, mereka menemukan kita! Luca mengirimkan unit udara! Kita harus evakuasi ke ruang bawah tanah sekarang!" suara Enzo terdengar panik dari seberang.

Harry menatap Kayra, lalu menarik pergelangan tangan wanita itu dengan protektif dan kasar. "Simpan amarahmu, Dokter. Permainan ini belum berakhir, dan sepertinya, malam ini akan menjadi jauh lebih panjang daripada yang kau bayangkan."

Mansion yang tadinya hening kini berubah menjadi pusat kepanikan yang terorganisir. Suara baling-baling helikopter musuh menderu rendah di atas atap, diikuti ledakan mortir yang menghantam taman depan.

Harry tidak membuang waktu, dengan satu tangan mencengkeram pergelangan tangan Kayra dan tangan lainnya menyeret tiang infus, ia menariknya menuju lift tersembunyi di balik lemari buku.

"Harry, luka jahitmu bisa lepas!" teriak Kayra di tengah kebisingan alarm.

"Biarkan saja lepas jika itu harganya untuk membawamu keluar dari sini hidup-hidup!" balas Harry tanpa menoleh.

Lift meluncur turun dengan kecepatan tinggi, membawa mereka ke level bunker terdalam. Saat pintu terbuka, Kayra terperangah. Di bawah mansion mewah itu terdapat pusat komando taktis yang dipenuhi layar monitor dan persenjataan lengkap. Enzo sudah menunggu di sana dengan wajah tegang.

"Tuan, unit udara Luca mulai menjatuhkan tim infiltrasi di sayap barat. Kita terjepit," lapor Enzo cepat.

Harry melepaskan tiang infusnya dan duduk di kursi komando dengan wajah meringis menahan nyeri. Darah mulai merembes di perban dadanya, persis seperti kekhawatiran Kayra.

"Aktifkan sistem pertahanan otomatis. Jangan biarkan satu pun dari mereka menyentuh pintu lift!" titahnya.

"Harry, kau pendarahan!" Kayra merangsek maju, mengabaikan ketegangannya sendiri. Ia segera merobek jas putihnya yang sudah kotor untuk menekan luka Harry.

Pria itu menatapnya, matanya yang tajam tampak meredup sejenak karena rasa sakit, namun tangannya kembali mencengkeram pinggang Kayra, menariknya agar tetap berdiri di antara kedua kakinya.

"Kau sudah dengar, Dokter? Mereka datang untukmu juga. Kau sudah menjadi bagian dari dosa-dosaku sekarang."

"Aku tidak peduli pada dosamu! Aku peduli pada pasienku yang keras kepala ini!" bentak Kayra, meskipun hatinya mencelos melihat keberanian pria ini di ambang kematian kedua kalinya.

Tiba-tiba, layar monitor di depan mereka berkedip. Wajah seorang pria dengan luka parut melintang di pipi muncul. Luca.

"Harry Marcello," suara Luca terdengar dingin melalui speaker. "Kau menyelamatkan diri dengan membawa seorang dokter cantik? Serahkan dia, dan aku akan memberimu kematian yang cepat. Jika tidak, aku akan meratakan mansion ini sampai menjadi kuburan kalian berdua."

Harry tersenyum predator. Ia menarik Kayra lebih dekat, hingga wanita itu bisa merasakan detak jantungnya yang liar. "Luca, kau membuat kesalahan besar dengan menyentuh apa yang menjadi milikku."

Harry kemudian menatap Kayra dengan intensitas yang menyesakkan. "Dokter, bersiaplah. Karena mulai detik ini, kau bukan lagi penyelamat nyawa. Kau adalah alasan perang ini tidak akan pernah berakhir."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!