NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Malam Tanpa Kedatangan

Waktu biasanya diukur Guiren melalui suhu udara dan pergerakan angin. Sore hari seharusnya membawa embusan dari lembah yang membawa aroma asap dapur dari pemukiman di bawah. Itu adalah penanda bahwa Xiaolian sedang mendaki, membawa keranjang anyaman dan aneka pujian yang selalu berhasil mengusir kesunyian tebing selama beberapa saat.

Namun, hari ini, suhu telah turun drastis. Angin berubah menjadi tajam, bersiul di sela-sela celah batu seperti rintihan panjang.

Guiren duduk di tepi tebing. Kakinya menggantung di atas kehampaan yang buta. Jari-jarinya meraba permukaan batu yang kini terasa dingin dan lembap oleh embun malam.

"Dia terlambat," bisiknya pada kegelapan.

Ia mencoba menenangkan debar jantungnya. Mungkin jalanan lebih licin dari kemarin. Mungkin Ibunya menahannya sebentar untuk membantu membereskan jemuran. Guiren menarik napas dalam-dalam, mencoba mengalihkan kegelisahan yang mulai merambat di tengkuknya.

Ia memejamkan mata di balik kain penutup, tindakan yang sebenarnya sia-sia bagi seorang tunanetra dan mulai memusatkan perhatian pada apa yang ada di dalam dadanya.

Ada sesuatu yang mengalir di sana. Bukan darah, bukan pula udara. Itu adalah sesuatu yang cair, kental, dan dingin, menyerupai tinta yang bergerak dalam sirkulasi yang tidak beraturan. Ia mencoba menggiring aliran itu ke ujung jemarinya, sebuah rutinitas kultivasi yang ia lakukan setiap malam dalam kesendirian. Ia ingin mengubah "tinta" dalam tubuhnya menjadi garis takdir yang stabil di udara.

Namun, seperti malam-malam sebelumnya, alirannya pecah sebelum mencapai kuku.

Sirkulasi itu bergejolak, menghantam dinding-dinding meridiannya dengan kasar. Rasa mual seketika naik ke pangkal kerongkongan. Guiren terbatuk, merasakan sesak di dadanya. Kultivasi ini... ia tidak tahu dari mana asalnya. Ia hanya tahu bahwa sejak ia bisa memegang kuas, ada kekuatan aneh yang menolak untuk tunduk. Setiap kali ia mencoba mengendalikannya, ia merasa seolah-olah sedang mencoba menggenggam angin dengan tangan kosong.

Ia gagal lagi.

Matahari seharusnya sudah lama tenggelam. Ia tidak lagi bisa mendengar kicauan burung senja, yang tersisa hanyalah kepakan sayap burung hantu dan suara dedaunan yang beradu dengan gelisah.

"Lian’er?" panggilnya. Suaranya tertelan oleh gemuruh angin lembah.

Keheningan yang menyusul terasa lebih berat dari biasanya. Tidak ada suara langkah kaki yang tersandung batu. Tidak ada nyanyian kecil yang sering adiknya gumamkan untuk mengusir rasa takut saat mendaki sendirian.

Firasat itu kembali. Bukan lagi bisikan, tapi cengkeraman dingin yang meremas jantungnya. Lukisan gerbang desa yang jebol dengan noda amis yang ia buat kemarin terbayang kembali di benaknya.

Guiren berdiri. Tubuhnya yang kurus berguncang sejenak tertiup angin kencang. Ia tidak boleh menunggu lagi. Rasa bersalah karena membiarkan adiknya mendaki sendirian setiap hari kini berubah menjadi teror yang nyata.

Ia merangkak menuju jalur turun.

Bagi orang dengan penglihatan normal, jalur ini adalah maut. Bagi Guiren, ini adalah labirin vertikal yang hanya bisa dipahami melalui ujung jari dan kaki. Ia menurunkan tubuhnya, memegang akar-akar pohon yang menonjol dan tepian batu yang tajam.

Hingga sebuah batu tumpuan pecah. Tubuh Guiren merosot tajam.

"Argh!"

Ia mencengkeram sebongkah akar berduri. Rasa perih seketika menjalar di telapak tangannya saat duri-duri itu menembus kulit, namun ia tidak berani melepaskannya. Napasnya memburu. Di bawah kakinya, ia bisa mendengar suara air danau yang menghantam kaki tebing dengan jarak yang cukup untuk menghancurkan tulang jika ia terjatuh.

Ia menarik tubuhnya kembali ke atas, menempelkan dada pada dinding tebing yang dingin. Darah dari telapak tangannya mulai merembes, hangat dan lengket. Untuk sesaat, ia hanya diam di sana, gemetar, membiarkan rasa sakit itu mengingatkannya bahwa ia masih hidup.

Ia terus turun. Ia terjatuh lagi, bahunya menghantam tonjolan batu hingga ia merasakan sendinya bergeser sedikit. Ia terperosok ke dalam semak berduri, merobek jubah tipisnya dan meninggalkan goresan di sepanjang lengannya. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan yang ia rasakan setiap kali ia tidak mendengar suara Xiaolian.

Setelah waktu yang terasa seperti selamanya, tekstur di bawah kakinya berubah. Bukan lagi batu miring yang licin, melainkan tanah padat dan hamparan rumput liar.

Kaki tebing.

Guiren berdiri dengan goyah. Seluruh tubuhnya sakit, pakaiannya compang-camping, dan telapak tangannya masih berdenyut karena luka. Namun, indra penciumannya menangkap sesuatu yang asing.

Seharusnya, dari titik ini, ia bisa mencium bau kayu bakar yang terbakar dari perapian desa. Bau yang menenangkan, bau rumah.

Namun, bau yang datang dibawa angin malam ini berbeda. Bau itu tajam, menusuk, dan terlalu tebal. Bau kayu yang terbakar hebat, bercampur dengan sesuatu yang ia kenali dari luka di tangannya, namun dalam jumlah yang jauh lebih banyak.

Bau daging yang hangus. Dan bau darah yang tak terbendung.

Langkah Guiren melambat. Jari-jarinya yang gemetar meraba udara, mencoba menangkap bentuk dunia di depannya. Di kejauhan, ia tidak lagi mendengar suara anjing penjaga atau obrolan tetangga yang biasa terdengar di malam hari.

Hanya ada suara api yang berpesta dan keheningan yang mati.

Guiren mulai berlari menuju arah desa, mengabaikan setiap batu yang menyandung kakinya. Di dalam kegelapan matanya, ia mulai melihat percikan merah yang samar, bukan penglihatan fisik, melainkan sisa-sisa "tinta" di jiwanya yang bergejolak menanggapi kematian yang masif di depannya.

"Lian’er... ."

Ia tidak ingin melukis lagi. Ia hanya ingin tangan adiknya yang hangat menyentuh tangannya. Namun, dunia di sekelilingnya kini terasa seperti kanvas yang baru saja disiram dengan tinta kematian yang paling pekat.

Besok, tidak akan ada lagi cerita tentang bunga persik.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!