NovelToon NovelToon
Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Status: tamat
Genre:Misteri / Bad Boy / Romansa / Tamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Di Balik Bayangan Kampus

Matahari pagi menyelinap melalui celah gorden kamar Lia, memaksanya untuk segera bangkit dari mimpi tentang ksatria dan naga. Namun, alih-alih semangat, ada rasa berat yang menghimpit dadanya setiap kali ia harus menginjakkan kaki di gedung Universitas Mahardika. Baginya, kampus bukanlah tempat untuk menuntut ilmu dengan damai; itu adalah medan perang yang tak kasat mata, di mana ia selalu berada di baris depan sebagai target empuk.

Lia merapikan sweater abu-abu kebesarannya dan membetulkan letak kacamata bulat yang menjadi ciri khasnya. Rambut cokelatnya ia cepol asal-asalan—gaya "culun" yang sering dijadikan bahan ejekan oleh mahasiswi-mahasiswi modis di jurusannya. Sambil memeluk buku teks sejarah tebal, ia melangkah keluar rumah dengan satu doa sederhana: semoga hari ini ia bisa menjadi "transparan".

Namun, keberuntungan tidak sedang berpihak padanya.

Begitu ia melewati koridor utama menuju fakultas, suasana yang tadinya bising mendadak berubah menjadi bisik-bisik yang tajam. Lia menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan buku. Di ujung koridor, berdiri tiga orang yang menjadi sumber mimpi buruknya selama setahun terakhir: Sarah, ketua pemandu sorak yang selalu merasa paling cantik, ditemani dua pengikut setianya yang tak henti-hentinya tertawa sinis.

"Wah, lihat siapa yang datang," suara Sarah melengking, memecah kesunyian yang coba Lia bangun. "Si Kutu Buku Kesayangan Dosen sudah datang. Apa hari ini kamu bawa ensiklopedia tentang cara menjadi manusia normal, Lia?"

Lia tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya, namun Sarah dengan sigap menghadang jalannya. Sepatu hak tinggi Sarah beradu dengan lantai, menciptakan bunyi yang mengintimidasi.

"Mau ke mana buru-buru? Kita belum selesai bicara," kata Sarah sambil menyilangkan tangan di dada.

Matanya yang penuh riasan menatap Lia dari atas ke bawah dengan jijik. "Sweater ini lagi? Apa kamu tidak punya baju lain atau kamu sengaja ingin terlihat menyedihkan supaya dapat beasiswa?"

Tawa pecah dari sekeliling koridor. Beberapa mahasiswa berhenti untuk menonton, namun tak ada satu pun yang bergerak untuk membela. Di kampus ini, melawan Sarah sama saja dengan bunuh diri sosial.

"Minggir, Sarah. Aku ada kelas," bisik Lia pelan, suaranya bergetar.

"Apa? Aku tidak dengar. Bicara yang jelas, dong!" Sarah merampas buku yang ada di pelukan Lia dengan kasar.

"Jangan! Kembalikan!" seru Lia panik. Itu adalah buku perpustakaan yang ia pinjam kemarin, buku yang sempat ia baca di depan Devan.

Sarah mengangkat buku itu tinggi-tinggi. "Oh, cerita fantasi? Naga? Ksatria? Benar-benar kekanak-kanakan. Kamu itu mahasiswa, Lia, bukan anak TK." Tanpa peringatan, Sarah menjatuhkan buku itu ke lantai, tepat di atas genangan air bekas pel yang masih basah.

Hati Lia mencelos. Ia segera berlutut untuk mengambil bukunya, namun sebelum tangannya sampai, salah satu teman Sarah menginjak ujung buku tersebut dengan sepatu mahalnya.

"Ups, tidak sengaja," katanya dengan nada yang dibuat-buat, diikuti tawa jahat.

Lia merasakan matanya memanas. Air mata mulai menggenang, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada mereka dengan melihatnya menangis. Saat ia berusaha menarik buku itu, Sarah sengaja mendorong bahu Lia hingga ia jatuh terduduk di lantai koridor yang dingin.

"Dengar ya, culun," Sarah membungkuk, berbisik tepat di telinga Lia. "Tempatmu bukan di sini. Kamu merusak pemandangan kampus ini. Lebih baik kamu pulang dan mengurung diri di gudang buku saja."

Tepat saat Lia merasa dunianya akan runtuh, sebuah deru mesin motor yang sangat keras terdengar dari arah parkiran luar yang letaknya dekat dengan koridor terbuka itu. Suaranya menggelegar, menelan semua tawa dan ejekan yang ada. Semua mata berpaling ke arah gerbang.

Sebuah motor besar hitam, mengkilat di bawah sinar matahari, masuk dengan kecepatan tinggi sebelum berhenti mendadak dengan suara decit ban yang memekakkan telinga. Pengendaranya turun dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh otoritas. Jaket kulit hitam, bandana, dan aura yang gelap.

Itu Devan.

Seisi koridor mendadak senyap. Nama Devan bukan hanya dikenal di kalangan geng motor, tapi juga sebagai sosok "legenda hitam" yang jarang terlihat di area kampus kecuali ada urusan penting—atau masalah besar. Kehadirannya selalu membawa ketegangan yang berbeda.

Devan berjalan perlahan, boots-nya berdentum mantap di lantai. Ia tidak menoleh ke kanan atau kiri, matanya hanya tertuju pada satu titik: kerumunan di depan fakultas. Saat ia semakin dekat, Sarah yang tadinya sombong mendadak mundur beberapa langkah, wajahnya pucat pasi.

Devan berhenti tepat di depan mereka. Ia tidak melihat ke arah Sarah, melainkan menatap Lia yang masih terduduk di lantai dengan buku yang kotor.

"Lia?" suara Devan berat, memenuhi lorong yang sunyi itu.

Lia mendongak, kaget melihat pria yang ia temui kemarin kini berdiri di hadapannya di tengah kampus. "Devan...?"

Devan mengulurkan tangannya yang besar dan penuh tato. Ia membantu Lia berdiri dengan gerakan yang sangat lembut, berlawanan dengan penampilannya yang sangar. Setelah Lia berdiri, Devan memungut buku yang tergeletak di lantai, mengibaskan debu dan air dengan tangan kosongnya, lalu memberikannya kembali pada Lia.

"Siapa yang melakukan ini?" tanya Devan pelan, namun nadanya mengandung ancaman yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.

Sarah mencoba mengumpulkan keberaniannya, meski suaranya bergetar. "Dia... dia cuma jatuh sendiri, Kak Devan. Kami cuma ingin membantu..."

Devan menoleh perlahan ke arah Sarah. Tatapannya begitu tajam hingga Sarah terdiam seribu bahasa. "Aku tidak bicara denganmu," desis Devan.

Ia kembali menatap Lia, memastikan gadis itu baik-baik saja. "Kamu terluka?"

Lia menggeleng cepat, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. "Aku... aku tidak apa-apa."

Devan mengangguk kecil. Ia kemudian merangkul bahu Lia di depan semua orang—sebuah gestur perlindungan yang sangat jelas. Ia menatap ke sekeliling koridor, ke arah mahasiswa-mahasiswa yang tadi hanya menonton dan menertawakan.

"Mulai hari ini," suara Devan terdengar lantang, bergema ke seluruh penjuru koridor, "siapa pun yang menyentuh Lia, berarti berurusan langsung dengan aku. Paham?"

Tidak ada yang berani menjawab. Bahkan Sarah hanya bisa menunduk ketakutan.

Devan menunduk menatap Lia, senyum tipis yang pernah Lia lihat di perpustakaan muncul kembali. "Ayo, aku antar ke kelasmu. Setelah itu, kita pergi ke kafe yang kamu ceritakan kemarin. Aku butuh kopi."

Lia hanya bisa mengangguk patuh, membiarkan dirinya dituntun oleh sang ketua geng motor melewati kerumunan yang kini memberinya jalan dengan penuh rasa hormat—atau lebih tepatnya, rasa takut. Di balik rasa malunya, ada satu perasaan baru yang muncul di hati Lia: rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Gadis culun itu kini memiliki pelindung yang paling tidak terduga. Dan bagi Lia, cerita fantasinya seolah baru saja menjadi kenyataan, meski ksatria yang datang menyelamatkannya tidak menunggangi kuda putih, melainkan motor besar hitam yang garang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!