JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA YA...!!!
Lin Yao seorang blogger makanan didunia modern Time Travel kenegeri kuno, menjadi seorang wanita muda miskin.
Berawal hanya dengan sebuah sendok, ia menghasilkan uang sepenuhnya melalui Hobby & kecerdasannya dalam makanan.
Lin Yao memanfaatkan keterampilan memasaknya untuk bisa bertahan bertahan hidup didunia yang baru ia pijaki.
Bukan cuma untuk dirinya seorang, tapi juga bagi keluarganya.
Bagaimana kah kisah perjalan Lin Yao diDunia kuno...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
Sesampainya di rumah, Lin Yao tidak berkeinginan untuk beristirahat. Ia langsung menumpahkan semua daun bawang dari keranjang ketampah, memilah dengan teliti memisahkan daun layu dan gulma.
Lin Song turut membantu.
Sementara Lin Shun membelah kayu menjadi potongan kecil-kecil untuk anglo penerangan.
Setelahnya semua dicuci bersih.
Agar bawang daun tetap segar hingga esok hari, Lin Yao merendam akar umbinya kedalam baskom.
Lin Yao menyisakan segenggam, mengiris tipis lalu mencampurnya dengan dua butir telur dan sepuluh sendok tepung.
"Nyalakan api tungkunya, rebus sisa kentang yang kita punya." titah Lin Yao.
Lin Song patuh.
Ada tiga butir kecil kentang tersisa disudut ruangan. Itu didapat Lin Shun saat ia mengais sisa panen diladang milik tetangga.
Lin Yao memperhatikan Lin Song yang sedang memperhatikan adonannya "Song'er, jaga apinya dan pastikan agar tidak padam."
Lin Song tersentak, menyengir kuda lalu mengangguk dengan mata yang kembali fokus keapi.
Lin Shun menggendong kayu yang telah ia potong, meletakkan didekat tungku.
"Ada yang bisa aku bantu..?"
"Tolong kakak iris lemak babinya lalu panaskan."
"Oke...!"
Lin Song bekerja dengan cepat dan efisien, mengiris lemak babi menjadi potongan tipis berukuran sama. Setelahnya anglo masak diatas meja ia nyalakan.
Wajan tembaga berisi sedikit air Lin Shun taruh diatas kompor tanah liat tradisional itu setelah apinya menyala.
Saat suhu naik, air didalam penggorengan meletup perlahan, lemak babi mendesis, bergulir lembut didalamnya.
Air menguap, lemak babi mulai meleleh, menghasilkan minyak bening yang perlahan meresap keluar, menggenang didasar panci.
Lin Shun sesekali mengaduknya dengan sendok, hingga kemudian lemak babi berubah menjadi kerupuk kuning keemasan dengan aroma khas yang kaya rasa gurih lezat.
Dengan penuh kehati-hatian, Lin Shun menuangkan minyak babi cair kedalam panci tanah liat sembari disaring guna memisahkan kerupuknya.
Mata Lin Song terpaku pada kerupuk yang Lin Shun taruh dipiring. Hidung kecilnya berkedut saat mengendus aroma gurihnya "Kakak, baunya enak sekali."
Melihat adik laki-lakinya seperti ini, Lin Shun merasakan kesedihan yang mendalam.
Sebelum keluarga utama menyita harta lalu menempatkan mereka kegubuk reot itu, kakek Lin selalu lebih menyayangi keluarga cabang pertama.
Apa pun yang diinginkan keluarga pamannya selalu dikabulkan.
Sang kakek memberi semua yang terbaik dari segalanya bagi keluarga pamannya itu.
Dulu keluarga Lin Shun bisa memiliki beberapa lembar kerupuk babi ketika sang ayah masih hidup. Tetapi setelah beliau meninggal, semuanya berakhir diperut keluarga cabang pertama.
Lin Shun memindahkan tiga potong kerupuk kemangkuk kecil yang sompel dibagian pinggirnya "untukmu, nanti yang lain untuk kita makan bersama kentang."
Mata Lin Song berbinar.
Dengan girang ia mengunyah setiap lembar kerupuk yang masuk kemulutnya. Tekstur renyah nan gurih menyebar diantara giginya, meninggalkan rasa harum yang nikmat.
"Enak sekali..!" gumam bocah itu.
Lin Shun menepuk pelan kepala sang adik bungsu, tersenyum parau dengan netra memanas sendu.
Dadanya sesak, hatinya pedih tercabik.
Sebagai seorang kakak ia merasa gagal dalam menjalani perannya. Adik-adiknya menderita, sering kelaparan, kedinginan dan sesekali dipaksa menahan sakit.
"Kakak, tolong panaskan kuali itu." sela Lin Yao guna mengalihkan kesedihan Lin Shun.
Pancake kucai telur mulai digoreng, kentang juga sudah matang dan terhidang dimeja bersama kerupuk babi.
Lima belas menit kemudian, ketiganya duduk hikmat menyantap makanan sederhana yang telah lama tak mereka nikmati.
Setelah itu tiga saudara bahu-membahu membenahi keperluan berdagang esok hingga petang hari.
Melihat bahan-bahan yang sudah disiapkan, Lin Yao merasakan kepuasan dan antusiasme yang membuncah tinggi.
Gadis itu tak sabaran menunggu esok, untuk memulai perjuangan dalam mengais rezeki guna keberlangsungan hidupnya didunia asing ini.
Mereka bertiga lanjut beristirahat setelah makan sup akar sayuran liar.
Keesokan paginya saat fajar masih malu-malu menurunkan sinarnya, langit menampilkan semburat warna biru tua samar, Lin Yao, Lin Shun dan Lin Song sudah selesai bersiap.
Tanpa sarapan, ketiga saudara itu pergi kepelabuhan dengan masing-masing menggendong perlengkapan dagang dipunggung kurus mereka.
Untuk bungkus panekuk. Lin Yao menggunakan daun palem yang kemarin sore dipetik oleh Shun.
Daun itu sudah dicuci bersih, kemudian dianyam menyerupai piring bulat.
Dimasa ini para pedagang kaki lima lebih banyak menggunakan daun palem sebagai wadah makanan, guna menghemat biaya belanja.
Lin Yao awalnya berencana untuk membeli kertas minyak lalu memotongnya menjadi beberapa bagian kemudian dibentuk seperti dizaman modern.
Namun Lin Yao mengetahui ternyata harga kertas cukup mahal dimasa ini, makanya rencana itu pun urung dilakukan.
Dengan langkah mantap, tekad kuat dan doa harapan tersemat, tiga saudara itu menuju kepelabuhan yang menjadi pusat aktifitas tersibuk didaerahnya.
semangat trs updatenyaaa 💪