NovelToon NovelToon
Transfer Student

Transfer Student

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Ketos / Teen School/College / Diam-Diam Cinta
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: Viin

Bastian, siswa pindahan yang mengundang sorotan publik karena ketampanannya. Ia juga lihai dalam bermain sepak bola
yang menambah nilai plus dari setiap mata yang menyaksikannya. Ia dipertemukan dengan Aleksa sang ketua OSIS yang tidak menyukai pemain bola. Namun mereka ditakdirkan untuk menjalani hari-hari bersama.
Seperti apakah kelanjutannya?
Mari, temukan dalam cerita ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan

Bastian masih berusaha untuk mencari alternatif yang lain untuk menjaga Aleksa. Ia memutar otaknya berkali-kali agar mendapat solusi, sementara itu Aleksa yang menunggu keputusan Bastian masih tersenyum-senyum sendiri mengamati tingkah laku laki-laki yang mampu memikat hatinya itu.

Entah mengapa ia begitu sangat ingin dekat terus sama Bastian, walaupun ia merasakan sakit karena Bastian selalu menggantung hatinya namun hal itu tetap terobati karena Bastian masih mau bersamanya bahkan bersikap manis kepada gadis itu.

Ia tahu bahwa saat ini ia hanya dianggap sahabat oleh Bastian, tetapi entah mengapa ada harapan besar bagi dirinya untuk dijadikan lebih dari itu. Bastian si anak baru, selalu memberikan kepedulian yang berlebih kepadanya walaupun terkadang sikapnya yang kurang peka terhadapp dirinya membuat Aleksa kesal.

“Hm, kita lihat besok.”Akhirnya Bastian membuka suara.

“jadi kamu ingin kejadian yang sama menimpaku?’’

“Dih, kamu ini. ya jangan sampai lagi kamu terluka.’’celutuknya.

Hana menelepon anak gadisnya, wanita itu melakukan panggilan video terhadap putri kesayangannya.

“Kamu di mana jadinya Nak?’’tanya Hana dari kejauhan. Ia masih di tengah keramaian.

“Di rumah Bastian Ma.’’jawabnya singkat.

“Kamu ngapain di rumah Bastian? Jadi itu…bajunya.. kenapa…”tanya Hana ragu. Aleksa sepertinya mengerti arah omongan ibunya ke mana.

“Aleksa numpang di sini Ma. Sebenarnya tadi Aleksa jatuh di sekolah, seragam Leksa juga kotor, kebetulan Bastian ngantar Leksa, karena enggak ada orang di rumah, jadi Aleksa di sini Ma.”

“Tapi kan di rumah Bastian enggak ada siapa-siapa Leksa?’’

“Ada Mbak Astri Ma, yang ngerawat rumah ini. Kami enggak cuma berdua kok Ma.”Aleksa langsung menyerahaan handphonenya ke arah Bastian.

“Bas? “

“Ya tant?’’

“Kalian jangan ngapa-ngapain ya? Aleksa putri semata wayang tante, tante enggak mau sampai…’’

“Iya Tante. Bastian tahu. Lagian Aleksa sama Bastian cuma sahabatan. Enggak mungkin ngapa-ngapain kan Tan?’’

“Tante pecaya sama kamu. Tapi kalau kamu merusak kepercayaan Tante. Kamu enggak akan semudah itu kabur dari hadapan Tante.”ancamnya serius.

Bastian tersenyum. “Iya Tan, ya ampun.”

Aleksa langsung menarik handphonenya. “Mama apaan sih, syukur ada Bastian, kalau enggak aku bisa kering di luar sana Ma. Lagian Bastian udah nolong Aleksa, Mama kok gitu ngomongnya?’’

Ibu Hana tertawa. Ia memperhatikan raut wajah anaknya berubah seratus delapan puluh derajat. “Ibu percaya sama Bastian, Mama cuma mau ingatin loh Leksa. Lagian Mama juga tahu, kalau memang Bastian suka sama kamu, mana mungkin dia nganggapnya sahabat’’ledek Hana.

Tut tut

Aleksa langsung mematikan handphonenya. Bastian pura-pura tidak mendengar omongan Mama Aleksa yang terakhir. Ia pura-pura sibuk memainkan handphonenya. Aleksa terdiam seribu bahasa. Ia sangat malu mendapat ledekan dari ibunya sendiri.

“Leksa, kalau kamu capek kamu boleh istirahat di kamarku.’’ucap Bastian.

“Hm,”jawabnya singkat.

“Mau istirahat?’’tanyanya lagi mengulang tawarannya.

“Emang boleh?’’tanyanya lagi. Sejak tadi ia memang lagi butuh itu.

“Kan enggak mungkin kamu istirahat di sini. Nanti kalau kamu tidur, terus kalau jigongan gimana?’’tanyanya kesal. “Kalau kamu ragu, kunci kamarnya Leksa! Aku enggak akan ngapai-ngapai.”sentaknya.

“Hehe, iya maaf ya Bas. Aku enggak bermaksud menyinggung hatimu. Aku cuma segan aja Bas, karena numpang di kamarmu.’’

“Dih, kamu ini.’’Bastian menggaruk kepalanya tak gatal. “Kamu kunci kamarnya ya Leksa.”titahnya.

Aleksa tersenyum. “Iya Bas. Makasih.”Aleksa memasuki kamarnya dan mengunci pintunya. Ia mulai traveling mengelilingi kamar teman sebangkunya itu. Suasana monokrom menghiasi dinding kamarnya. Dengan sprei club bola kesukaannya. Kamarnya cukup rapi, berbeda dengan kamar adiknya yang berantakan. Tidak banyak perabotan di sana. Meja belajar lelaki itu, juga tertata rapi tanpa ada yang berserakan.

Ada yang menarik hati Aleksa saat itu. Foto Bastian dengan teman-temannya, akantetapi berbeda dengan seragam yang digunakan Aleksa saat ini. Sepertinya Bastian menikmati fotonya waktu itu. Enam orang temannya saling merangkul, Bastian berdiri di tengah dengan menyilangkan kedua tangannya. Pose dirinya berbeda dengan teman-temannya dulu.

Aleksa menghela nafas kasar. Ia amati sudut ruang yang terdapat berbagai jenis buku di sana. Ia bacain judul-judulnya dari tulang buku yang berdiri di sana. Banyak buku-buku psikologi dan olahraga yang tertera di sana.

Akhirnya gadis itu keletihan. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Ia mengusap-usap kasurnya beberapa kali. Aroma tubuh Bastian masih membekas di sana. Tiba-tiba Aleksa berdesir hebat menyium aroma itu. Ia hanya tersenyum ketika masih menikmati hal itu. Aleksa, menatap langit kamar yang penuh dengan motif catur. Akhirnya ia pun tertidur.

Selang dua jam berikutnya. Aleksa terbangun, setelah ia merapikan kembali tempat tidur Bastian, Aleksa pun keluar dari kamarnya. Ia mencari-cari lelaki yang memberikan tumpangan kepadanya.

“Hm, berapa lama aku tertidur?’’gumamnya. Ia duduk di dapur, tak lama Astri datang,

“Udah bangun Non?’’tanyanya sambil tersenyum. Ia mengambilkan air minum untuk Aleksa. “Minum dulu Non.’’ujarnya.

“Makasih Mbak. Bastian mana Mbak?’’

“Lagi nyuci motor kayaknya Non.’’ucapnya sambil duduk di dekat Aleksa.

“Panggil nama aja Mbak. Aku juga sebaya Bastian.”

“Mbak enggak sopan Non.’’

“Aku yang nyuruh Mbak, lagian kami masih jauh di bawah Mbak.’’tutur Aleksa sopan. “Enggak ada perbedaan kasta di sini Mbak,”ujar Aleksa.

“Iya dik.’’ucap Astri senang. Walaupun sebenarnya terkesan kurang menghormati, namun ia menyetujui kedua remaja itu. Astri juga kagum sama mereka yang masih menghormati yang lebih tua.

“Mbak, apakah Bastian sering bawa perempuan ke rumah ini?’’tanya Aleksa ingin tahu. Ia kembali meneguk air minumnya.

“Setau saya enggak ada Dik. Kayaknya cuma kamu.”

“Hm.”

“Kenapa Dik? Apakah Bastian selingkuh?’’kali ini Astri yang ingin tahu.

“Dih, gimana mau selingkuh. Jadian aja belum Mbak. Makanya aku tanya sama Mbak. Apakah ada teman dekat Bastian selain aku Mbak?”tanyanya lagi memastikan.

“Enggak ada Dik. Selama Mbak bekerja di sini, Bastian tidak pernah membawa temannya ke sini kecuali kamu.”

“Syukurlah Mbak.”

“Dan herannya, kamu diizinin masuk ke kamarnya. Sedangkan saya saja yang merapikan kamarnya, Bastian menolak. Ia lebih memilih merapikan sendiri kamarnya.’’terang Astri kepada remaja.

“Hm, jadi aku yang pertama.”gumamnya dalam hati. “Aku boleh minta nomor Mbak? Aku butuh banyak informasi dari Mbak.’’ujar Aleksa.

Astri meberikan nomor ponselnya dengan senang hati. Setelah itu wanita undur diri, karena waktu bekerjanya sudah selesai.

Aleksa pun keluar menemui Bastian yang masih asyik menyirami mootornya. Gadis itu langsung duduk mengamati gerakan Bastian.

“Lah udah bangun?’’

“Hm, iya Bas. Kenapa enggak di doorsmeer aja sih Bas?’’

“Enggak apa-apa. Biar ada kegiatan.”jawabnya singkat. “Udah ada kabar dari tante?’’

Aleksa menggeleng. Suaranya masih terdengar parau. Ia memperhatikan Bastian yanghanya mengenakan celana pendek dengan kaos oblong biasa.

“Mau makan lagi?’’tanyanya lagi

“Enggak Bas.”

Bastian mulai mengeringkan motornya dengan kaneebo kering. Ia begitu telaten dalam urusan seperti itu.

“Hm, pantas enggak punya pacar, pula motor aja yang kamu urusin.’’

Bastian tertawa. Ia benarkan ucapan Aleksa. “Nih motor, enggak akan macam-macam Leks.’’pujinya sambil tersenyum.

“Oh pantes, enggak pernah peka. Pula bergaulnya sama mesin.’’sindirnya lagi.

“Mesin itu enggak pernah berkhianat Leksa.”

“Emang pernah dikhianati?’’jawaban Bastian mengundang Aleksa untuk bertanya lebih jauh.

“Pernah.’’

“Dikhianati siapa? Pacar?”

“Teman”

“Kok bisa?’’

Bastian memasukkan motornya ke garasi kembali. Ia sudah melakukan finishing. Setelah itu, ia menemui Aleksa. “Mau ngopi atau teh? Coklat hangat mau?

“Kalau ada coklat, aku mau Bas. Udara mendung gini, kayakynya cocok.”

“Oke. Kamu tunggu aja di teras. Tapi aku mandi dulu ya Leks.”

“Hm,. udah aku aja yang buat. Nunggu kamu lama. Gih kamu mandi. Kamu tunjukkan aja tempatnya di mana.’’sarannya sambil mengikuti Bastian yang berjalan ke dalam.

“Emang kamu bisa?’’

“Aku lebih ragu kamu yang buat.’’ucapnya. “Kamu juga mau coklatnya?”

“Boleh deh. “Bastian menunjukkan ke arah pantry. “Noh, di sana. Semua udah di labelin. Kamu tinggal meracik aja.’’

“Okeh. Kamu cepetan ya mandinya. Aku enggak mau coklat yang kubuat, keburu dingin.’’

“Aku mandi enggak sampai lima menit.’’ujarnya sambil berlari menuju kamar mandi. Baju Bastian dan celananya sudah basah dari tadi karena terkena air saat mencuci motor.

Tidak sampai lima menit, Bastian keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju berlengan panjang dan celana jeans pendek. Ia langsung menemui Aleksa yang menunggunya di teras rumah.

“Dih, beneran enggak sampai lima menit.’’

“Iya, kan benar kubilang.”

“Nih Cobain?’’

Bastian menyeruput coklat hangatnya. “Hm, ini mah enak banget Leksa.”

“Nah, kan. Siapa dulu yang buat.”

“Gimana racikannya? Biar sewaktu aku mau minum bisa seenak ini.’’tanyanya ingin tahu.

“Kalau kamu mau nanti setiap kamu mau minum, bilang aja. Ntar aku buatin.”

“Dih, ini ciri-ciri pelit ilmu.”ledeknya. Ia kembali menyeruput coklatnya. “Hm, benaran enak.’’pujinya lagi.

Aleksa tersenyum. Ia sangat puas karena racikan coklatnya menyenangkan penikmatnya.

“Ehm, kamu belum jawab pertanyaan ku tadi Bas. Kenapa kamu bisa dikhianati?’’tanya Aleksa ingin tahu.

“Hm, apa setelah aku menceritakan ini. Kamu masih mau berteman samaku Leksa?’’tanyanya penuh ragu.

“Tergantung, tapi sebisa mungkin aku tetap stay di samping kamu.’’

“Kalaupun kamu mau ngehindar gara-gara cerita ini. Atau, kalau kamu enggak percaya, ya itu hak kamu Leks.’’

“Udah Bas, langsung aja. Kamu buat aku penasaran.’’

“Sabaran dikit! Aku lagi muluhin diri untuk cerita tentang ini.”

“Hehe hiya maaf.”

“Kamu tahu Leksa, aku suka bola.’’

Aleksa mengangguk.

“Pernah di suatu waktu, aku bermain dengan teman-temanku yang ada di foto kamarku. Mungkin kamu sudah lihat.”

“Oh, yang di kamar itu. Aku memang udah lihat.’’

“Jadi waktu itu, kami bermain. Lawan kami mainnya brutal, anarkis Leks, bukan seperti main bola, tapi seperti main silat. Ketiga kawanku jadi korbannya. Jadi di tengah pertandingan, aku tersulut emosi. Kutendang dengan sengaja kepala lawanku sampai dia pingsan Leks.’’Bastian menghentikan penjelasannya.

“Kamu sadar enggak sih Bas, kalau itu bahaya?’’

Bastian mengangguk. “Aku emosi Leksa. Seketika kami berhenti bermain. Teman-teman mereka menyerang. Terus aku ladeni. Sama-sama imbang. Tapi mereka agak parah. Ada yang bocor kepalanya, dan ada juga matanya sampai bengkak.”

“Hm, terus?’’

“Kasus kami sampai ke polisi. Teman-temanku menghindar dan enggak ada yang mau jadi saksi. Malah mereka bilang aku yang mulai duluan.’’Lagi-lagi Bastian menghentikan omongannya. “Padahal mereka duluan. Tapi mereka malah menjawab ‘entah, Bastian memang yang mulai semuanya.’’Batsian menirukan mereka.

“Lah kamu kena batunya Bas?’’

“Enggak tahu tindakanku salah atau benar Leks. Tapi karena mereka aku menghajar para pemain itu.”

“Jadi akhirnya gimana?”

“Mereka minta damai.’’

“Terus.”

“Mereka minta dana. Bahkan teman yang kubela juga minta ganti rugi.’’

“Dih, mereka gila Bas.”gerutu Aleksa kesal.

Bastian diam tak bergeming. Ia tersenyum tipis. Lukanya masih sangat membekas.

“Makanya, sejak saat itu. Aku putuskan untuk hidup secara individualis Leks.”

Aleksa menepuk pundak Bastian menenangkan.

“Tapi enggak semua orang kayak gitu Bas. “

“Kejadian itu menjadikanku untuk selektif Leks.’’

“Hm”Aleksa menarik nafas dalam. Selama ia kenal dengan Bastian, ia memang ke mana-mana sendiri. Seluruh teman-teman ia sapa, namun tidak pernah dijadikannya untuk dekat. Aleksalah yang setia menemaninya ke mana-mana, itu pun karena kemauan sendiri bukan Bastian yang meminta.

“Hm, rumah Mama di sana di terror.’’lanjutnya lagi. “Kami sempat pindah Leks.’’

“Jadi sekarang mereka gimana? Dan Mama gimana?’’

“Aku enggak tahu apa yang dipikirin Mama. Yang jelas aku langsung dipindahin ke sini.’’

“Mudah-mudahan Mama di sana baik-baik aja.”ucap Aleks menenangkan.

Bastian tertawa. Ia menatap rintikan hujan yang mulai turun. “Noh kan gara-gara kamu ini Leksa. Hujan.”candanya. Suasana sempat kaku dan tegang namun Bastian tidak mau itu terus terjadi.

“Hm, Iya udah. Di sini kamu kan punya aku Bas. Aku enggak akan khianati kamu.’’

Degg

Bastian langsung menatap Aleksa. Kata-katanya cukup menyembuhkan. Sejujurnya ia beruntung karena Aleksa selalu ada untuknya. Bahkan walaupun terkadang banyak sekali kejadian yang di luar ekspetasi, Aleksa tetap berada di sisinya.

“Makasih Aleksa.’’ujarnya sambil tersenyum.

Aleksa menarik bibirnya ke dalam. Dagunya ia topangkan pada kedua tangannya. Gadis itu baru menyadari bahwa Bastian mengalami trauma secara psikis yang mungkin membuatnya terlihat cuek, terkesan tak peduli, karena di masa lalu ia punya luka yang dalam. Percaya, dan peduli dengan orang lain tetapi dikhianati.

“Hujannya, udah berhenti. Antar aku ya Bas.”

“Ya ayo. Tapi entar. “Bastian masuk ke dalam ia mengambil jaket miliknya.”Pakai ini, udah sore, biar enggak dingin.’’

“Makasih Bas.”

1
Sasa Ran
sweet banget babasss/Chuckle/
Sasa Ran
hehe
Sasa Ran
mau kok bas
Sasa Ran
aku salting bas🫣
Sasa Ran
bastian /Brokenheart/
Sasa Ran
bawain utk ku juga ya leksa
Devoy 🍁
Luv luv luv
😘Rahma_wjy😉 IG @rwati964021
semangat terus untuk berkarya kak.
Ayano
Temen curhat ternyata 😅
Ayano
Bastian udah punya anak orang 🤣
Ayano
Melabeli orang bisa jadi sayang
Ayano
Aku ampe salting sangking cepetnya. Kupikir Leksa yang nembak. Ternyata salah pokus 😅

Pastinya aku seneng banget akhirnya mereka jadian

Mawar buat thorthor lah
5 cukup kali buat semangat 🤗
Viin: hahaha
terima kasih kaka
sayang banyak2 untuk kakak 💐💐💐💐💐😁
total 1 replies
Ayano
Aduh
Congrats 🤗🤗🤗
Ayano
Serius lah. Akhirnya jadian juga. Eh... nyaris jadian maksudnya
Ayano
The real MVP kali ini adalah Raka
Selamat kamu keren
Ayano
Aku nitip satu tamparan lagi buat Bastian biar dia bangun
Ayano
Jleb kan
Akhirnya ada juga yang ngomong
Ayano
Bastian masih gak peka atau pura-pura gak peka ya
Kamu mesti liat kepingan hati Alexsa
Ayano
Bas Bas... kukasih kembang tujuh rupa. Kamu abis ini pulang terus mandi ya
Ayano
Gue yang laporin. Tuh cewek urat malunya dah putus 😑
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!