Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Malaikat di Ambang Maut
Hujan turun seperti ribuan jarum perak yang menghujam aspal jalanan kota yang kusam. Di sebuah gang sempit yang terjepit di antara dua gedung tua yang tak lagi berpenghuni, napas Dante Valerius terdengar memburu, tersengal di antara deru badai. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding bata yang lembap, tangannya menekan perut kiri yang kini bersimbah cairan kental berwarna merah pekat.
Dante, pria yang dikenal sebagai "The Vulture" karena ketajaman insting dan kekejamannya, baru saja dikhianati. Transaksi senjata di pelabuhan tua itu adalah jebakan yang dirancang apik oleh orang kepercayaannya sendiri. Kini, ia sendirian, tanpa pengawal, tanpa senjata yang tersisa pelurunya, dan nyawanya berada di ujung tanduk.
"Sial," umpatnya lirih. Suaranya serak, tertelan suara petir yang menggelegar di langit.
Dante memaksakan kakinya melangkah. Setiap gerakan terasa seperti sayatan pisau di otot-ototnya. Ia harus terus bergerak. Jika ia tetap di sini, anak buah Marco akan menemukannya dan menghabisi nyawanya sebelum fajar menyingsing. Ia menyeret langkahnya, meninggalkan jejak darah yang segera tersapu air hujan, menuju sebuah pemukiman padat di pinggiran kota yang jarang tersentuh lampu jalan.
Di sebuah rumah kecil yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian, Aruna Kirana sedang duduk di depan mesin jahit tuanya. Lampu pijar kekuningan di atas kepalanya berkedip-kedip, seolah ikut lelah dengan beban hidup yang dipikul wanita berusia dua puluh enam tahun itu. Aruna baru saja menyelesaikan jahitan pesanan tetangganya ketika ia mendengar suara benda berat menghantam pintu kayu rumahnya.
Bruk!
Aruna tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Di dalam kamar kecil di sudut ruangan, Bumi, putranya yang baru berusia empat tahun, masih tertidur lelap. Aruna melirik jam dinding—pukul satu pagi. Tidak ada orang waras yang bertamu di jam seperti ini, apalagi di tengah badai.
Ketakutan menyergapnya. Apakah itu rentenir yang menagih hutang mendiang suaminya lagi? Ataukah preman pasar yang mencoba mencari masalah? Dengan tangan gemetar, Aruna mengambil sebuah sapu kayu di dekat dapur. Ia mendekati pintu, mencoba mendengarkan suara dari luar.
Hanya ada suara hujan. Dan suara napas berat yang terdengar sangat kesakitan.
Dengan keberanian yang dipaksakan demi melindungi anaknya, Aruna membuka sedikit celah pintu. Matanya membelalak. Seorang pria bertubuh tinggi besar terjatuh tepat di depan pintunya. Pria itu mengenakan setelan jas hitam mahal yang kini koyak dan kotor oleh lumpur. Namun yang membuat Aruna hampir menjerit adalah warna merah yang mengalir deras dari balik jas pria itu.
"Tolong..." suara itu nyaris tak terdengar, hanya bisikan parau sebelum kepala pria itu terkulai lemas di atas lantai kayu terasnya.
Aruna mematung. Cahaya lampu dari dalam rumah menerpa wajah pria itu. Wajah yang sangat tampan, dengan rahang tegas dan luka gores di tulang pipi, namun ekspresinya tampak seperti iblis yang sedang meregang nyawa. Aruna tahu, secara logika, ia harus menutup pintu ini dan menelepon polisi. Pria ini jelas bukan orang baik-baik. Luka tembak dan pakaian mahalnya meneriakkan kata "bahaya".
Namun, saat Aruna melihat tangan pria itu yang gemetar—tangan yang tampak kuat namun kini tak berdaya—ia teringat pada mendiang suaminya yang meninggal sendirian di jalanan tanpa ada yang menolong. Nurani keibuannya menang. Ia tidak bisa membiarkan manusia mati di depan matanya.
Dengan susah payah, Aruna menarik tubuh besar pria itu masuk ke dalam rumah. Dante jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Otot-otot pria itu keras seperti batu. Aruna harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyeretnya ke ruang tengah, tepat di atas karpet tipis tempat Bumi biasanya bermain.
Setelah mengunci pintu, Aruna segera mengambil kotak P3K sederhana miliknya. Ia merobek kemeja putih mahal pria itu untuk melihat lukanya. Napasnya tertahan. Sebuah lubang peluru bersarang di perut kiri bawah pria itu. Darahnya terus mengalir.
"Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?" bisiknya panik.
Aruna pernah mengambil kursus keperawatan singkat sebelum ia menikah, namun menangani luka tembak adalah hal yang berbeda. Ia mengambil kain bersih, menekannya kuat-kuat pada luka tersebut untuk menghentikan pendarahan. Dante mengerang dalam pingsannya, otot rahangnya mengeras, dan tangannya secara refleks mencengkeram pergelangan tangan Aruna dengan kekuatan yang menyakitkan.
Mata Dante terbuka sedikit. Mata yang dingin, tajam, dan penuh dengan kegelapan. Untuk sesaat, Aruna merasa seolah ia sedang menatap maut secara langsung.
"Jangan... panggil... polisi..." Dante mendesis, sebelum matanya kembali terpejam dan cengkeramannya mengendur.
Aruna gemetar. Ia tahu ia sedang melakukan kesalahan besar. Ia sedang menyimpan monster di dalam rumahnya. Namun, saat ia melihat foto Bumi yang terpajang di atas meja kayu tak jauh dari sana, Aruna menarik napas panjang. Ia harus tenang. Jika ia ingin pria ini tidak mati dan tidak membawa masalah ke rumahnya, ia harus menyelamatkannya sekarang.
Selama dua jam berikutnya, Aruna berjuang melawan rasa takut dan mual. Ia membersihkan luka itu dengan alkohol seadanya, menggunakan pinset yang sudah disterilkan dengan api untuk memastikan tidak ada sisa kain yang tertinggal di dalam luka. Ia tidak berani mengeluarkan pelurunya, karena itu terlalu berisiko. Ia hanya fokus menghentikan pendarahan dan menjahit kulit yang robek dengan jarum jahit medis yang ia simpan sebagai cadangan.
Keringat dingin membanjiri kening Aruna. Setiap kali Dante mengerang, Aruna merasa jantungnya berhenti berdetak.
Pukul tiga pagi, pendarahan akhirnya melambat. Aruna membungkus perut Dante dengan perban bersih. Ia duduk bersandar di kursi kayu, menatap pria asing yang kini terbaring tak berdaya di rumahnya. Dalam tidurnya yang tidak tenang, Dante tampak sedikit manusiawi, meski aura gelap tetap memancar darinya.
Tiba-tiba, sebuah suara kecil memecah keheningan.
"Ibu?"
Aruna tersentak. Ia menoleh dan melihat Bumi berdiri di ambang pintu kamar sambil mengucek matanya yang mengantuk. Bocah kecil itu memeluk boneka beruang lusuhnya.
"Ibu sedang apa? Siapa paman itu?" tanya Bumi polos, matanya menatap sosok besar yang terbaring di lantai.
Aruna segera menghampiri anaknya, berlutut, dan memeluknya. Ia berusaha menutupi pemandangan berdarah itu dari pandangan Bumi. "Ssttt, sayang. Paman ini sedang sakit. Dia jatuh di depan rumah karena hujan. Ibu sedang menolongnya."
Bumi menatap Dante dengan rasa ingin tahu yang besar, bukan rasa takut. "Paman itu terluka seperti Bumi waktu jatuh dari sepeda?"
Aruna tersenyum getir, mengusap rambut putranya. "Iya, tapi lukanya sedikit lebih besar. Sekarang Bumi kembali tidur ya? Ibu harus menjaga Paman."
"Bolehkah Bumi memberikan plester untuk Paman?" Bumi berlari kecil ke arah meja makannya, mengambil sebuah plester bergambar robot berwarna biru yang merupakan harta karunnya.
Aruna ingin melarang, namun Bumi sudah mendekati Dante. Dengan gerakan lembut, bocah itu menempelkan plester robot itu di kening Dante yang lecet. "Biar Paman tidak sakit lagi," bisik Bumi.
Pemandangan itu membuat hati Aruna terenyuh. Kontras yang luar biasa—seorang anak suci yang mencoba menyembuhkan monster yang paling ditakuti di kota ini.
Setelah mengantar Bumi kembali ke tempat tidur, Aruna kembali duduk di samping Dante. Ia memperhatikan plester robot biru yang menempel di dahi pria mafia itu. Ia tidak tahu bahwa keputusan sederhananya malam ini akan mengubah seluruh garis hidupnya. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia selamatkan adalah api yang bisa menghangatkan rumahnya, atau justru membakar seluruh dunianya hingga menjadi abu.
Aruna memejamkan mata sejenak, membiarkan suara hujan meninabobokannya, sementara di luar sana, dunia bawah tanah sedang gempar mencari sang pemimpin yang hilang. Di dalam rumah kecil yang sederhana itu, sang "Monster" baru saja memulai masa hutang nyawanya.