Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga yang indah?
Tanpa menghiraukan lukanya, Zoran kembali mengambil telur yang tersisa di sarang ular.
Setelah semua telur habis diambil, dia melepas bajunya untuk membawa telur-telur itu dengan lebih mudah.
Tidak mungkin dia membawa semuanya dengan tangan kosong, bisa-bisa telur-telur itu jatuh dan pecah.
"Untuk ular besar itu, lain kali saja aku bunuh. Lagipula sekarang aku punya telur. Berhemat itu juga penting untuk masa depan," pikir Zoran sambil tersenyum.
Dengan 11 telur yang berhasil dia ambil, Zoran merasa itu cukup untuk dua atau tiga hari ke depan. Jadi, membiarkan ular besar hidup untuk saat ini adalah pilihan yang bijak menurutnya.
Anggap saja seperti menyimpan makanan cadangan.
Jika telur ini habis, dia tinggal membunuh ular besar itu, lagipula dia tahu di mana sarangnya.
Sambil menggendong kain yang berisi telur-telur itu, Zoran berjalan pulang dengan hati senang.
Langit sudah mulai menggelap, menandakan malam akan segera datang.
Begitu sampai, Zoran langsung memulai pekerjaannya untuk membuat tenda dari kayu-kayu yang dia kumpulkan sebelumnya.
Tenda yang Zoran buat bukanlah tenda besar yang mewah, tetapi sebuah tenda sederhana layaknya orang camping. Yang membedakan adalah, jika tenda camping menggunakan kain tahan air sebagai atap, tenda Zoran hanya menggunakan kayu-kayu dan menumpuk dedaunan di atasnya.
Daun-daun itu akan mengurangi suhu dingin malam hari, dan kayu-kayu tersebut akan menghalangi angin serta membuat tenda menjadi lebih kuat.
Untuk mengikat bagian-bagian tenda, Zoran menggunakan akar-akar kecil yang kuat. Dia tidak menggunakan tali, bukan karena tidak ingin, tapi karena memang dia tidak punya sama sekali.
\*\*\*
Keesokan harinya, Zoran dibuat bingung oleh dua potong roti yang terletak di depan tendanya.
“Apa gadis itu yang meninggalkannya di sini?” pikir Zoran.
Roti itu tampak sama persis seperti roti yang sempat ditawarkan padanya tempo hari.
Zoran mendengus kesal. “Cihh. Apa dia pikir aku tidak bisa mencari makan sendiri sampai terlihat menyedihkan, lalu dia kasihan padaku?”
Tanpa menyentuh roti itu sedikit pun, Zoran pergi begitu saja.
Hari ini, dia ingin mencari tahu apakah ada pemukiman penduduk di sekitar sini, desa atau apa pun, asalkan ada manusia.
Namun hingga sore hari, Zoran kembali dengan tangan kosong.
Tidak ada satu pun pemukiman yang dia temukan. Kalau pun ada tanda-tanda kehidupan, itu hanyalah kedai-kedai kecil yang berdiri sendirian di tengah angin dan salju yang dingin.
Saat kembali ke tempat tinggalnya, langkah Zoran terhenti.
Di dekat tendanya, sebuah obor tergeletak.
Di sampingnya, ada roti kering.
“Apa ini gadis itu lagi?” gumam Zoran ragu.
Sulit baginya untuk percaya bahwa gadis yang pernah menamparnya sampai pingsan bisa sebaik ini padanya. Terlebih lagi, dia sendiri pernah berniat merampok gadis itu.
Zoran terdiam cukup lama, lalu menghela napas pelan.
“Sudahlah. Yang penting ada makanan untuk sekarang.”
Sebelumnya, dia memakan telur ular mentah karena tidak punya api. Sekarang berbeda karena dia punya obor.
Zoran mengambil obor itu, menyalakan api unggun, lalu memasak telur-telur ular yang tersisa. Setelah matang, dia memakannya tanpa banyak bicara.
Malam itu, dengan perut yang akhirnya terisi, Zoran pun tertidur.
\*\*\*
Keesokan harinya, Zoran bangun dengan tubuh menggigil. Matanya tampak sayu dan kurang tidur. Ia meringkuk di pojok tenda dengan tubuh dibungkus selimut seadanya dari daun-daun kering.
Semalam, Zoran memang hampir tidak bisa tidur. Atau lebih tepatnya, dia tidur tapi terus terbangun. Rasa dingin menusuk hingga ke tulang, sementara seluruh tubuhnya terasa nyeri tanpa sebab yang jelas.
Setiap kali matanya terpejam, tak sampai satu jam kemudian dia pasti terbangun lagi.
Karena tak tahan dengan dingin, dia terus menambah tumpukan daun dan menggunakannya sebagai selimut, meskipun itu nyaris tidak membantu.
“Apa aku demam karena gigitan ular kemarin?” pikirnya.
Zoran teringat kejadian saat ular menggigit tangannya ketika dia mengambil telur. Selain tubuh yang terasa lemas, kepalanya juga sedikit pusing sejak bangun tadi.
Tanpa disadari Zoran, jika ada orang lain yang melihat kondisinya sekarang, kulitnya tampak sangat pucat. Di beberapa bagian, kulitnya bahkan terlihat seperti retak, berwarna putih kebiruan, tanda tubuh yang sudah terlalu lama melawan dingin dan kelelahan.
Meski menderita, Zoran tetap memaksa dirinya bangun. Dia keluar dari tenda dengan niat mencari tanaman obat atau apa pun yang bisa membantunya bertahan.
Di tempat dengan dingin yang bisa membunuh seperti ini, berdiam diri hanya akan mempercepat kematian. Terlebih lagi, sekarang dia sendirian.
Namun, baru beberapa langkah keluar dari tenda, Zoran terhenti.
Matanya membelalak.
Obor di dekat tendanya… masih menyala.
“Itu tidak mungkin…” gumamnya pelan.
Tidak masuk akal ada obor yang bisa menyala semalaman, apalagi di tempat dengan angin kencang dan salju seperti ini.
Zoran tampak heran dan berdiam diri cukup lama. Pandangannya tertuju pada obor yang masih menyala di dekat tendanya, api kecil itu bergoyang pelan tertiup angin dingin.
Jika ini terjadi di Bumi, dia pasti sudah menganggapnya mustahil.
Namun setelah dipikir-pikir lagi, ini adalah dunia lain.
Sejak tiba di tempat ini, Zoran sudah melihat terlalu banyak hal aneh seperti kekuatan manusia yang tidak masuk akal, hewan-hewan berbahaya, cuaca yang bisa membunuh, bahkan gadis yang menamparnya sampai pingsan hanya dengan satu gerakan.
Jika dibandingkan dengan semua itu, obor yang tetap menyala semalaman terasa… tidak terlalu mengejutkan.
Pada akhirnya, Zoran hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena masih sering bereaksi seperti orang normal di dunia yang jelas-jelas tidak normal.
“Sudahlah,” gumamnya pelan. “Yang penting aku bisa memasak sekarang.”
Zoran mengambil obor itu, lalu menyalakan api unggun kecil.
Wus
Api menyala perlahan, memberikan sedikit kehangatan yang sangat berharga.
Tangannya yang kaku karena dingin akhirnya bisa sedikit bergerak lebih bebas. Dia memasak sarapan seadanya, lalu memakannya tanpa banyak berpikir.
Makanan itu tidak enak, tapi cukup untuk memberi tenaga agar tubuhnya tidak ambruk hari ini.
Setelah selesai, Zoran memadamkan api seperlunya dan meninggalkan tempat tersebut.
Selain cuacanya yang ekstrem, Hutan Angin dan Salju juga dikenal karena keanehannya. Hewan-hewan yang hidup di sini tidak hanya berbahaya, tapi juga berbeda dari yang pernah Zoran lihat sebelumnya. Beberapa di antaranya bahkan cukup cerdas dan agresif.
Namun bukan hanya hewan.
Hutan ini juga menyimpan berbagai tanaman obat, itu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi para pendekar.
Sayangnya, tidak semua tanaman aman untuk dikonsumsi. Beberapa justru sangat beracun, dan efeknya bisa bermacam-macam.
Ada yang hanya membuat pusing, ada yang melumpuhkan tubuh, dan ada pula yang bisa membunuh tanpa disadari.
Jika ada orang bodoh yang memakannya, orang itu pasti akan menyesal.
Dan saat ini, orang bodoh itu adalah Zoran.
Zoran berdiri di dekat semak-semak, memperhatikan sebuah bunga berwarna merah dengan corak oranye. Putiknya mencolok, hampir berkilau di bawah cahaya redup. Bunga itu terlihat indah, bahkan terlalu indah untuk dianggap berbahaya.
“Tidak mungkin bunga secantik ini beracun,” gumamnya sambil tersenyum tipis. “Semoga saja ini tanaman obat.”
Dengan penuh harap, Zoran memetik bunga itu. Bahkan dia memetik beberapa lagi dan menyimpannya ke dalam saku, berjaga-jaga jika nanti dia membutuhkannya.
Tanpa berpikir panjang, Zoran memetik satu bunga dan langsung memakannya.
Dia mengunyahnya perlahan.
Rasanya pahit… tapi tidak sampai membuatnya memuntahkannya. Setelah beberapa detik, Zoran menelan bunga itu dan berdiri diam.
Satu detik berlalu.
Dua detik.
Tiga detik.
Zoran masih berdiri di tempatnya, menunggu tubuhnya bereaksi.