NovelToon NovelToon
Balas Dendam Pengantin Pengganti

Balas Dendam Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Penyesalan Suami / Putri asli/palsu / Balas dendam pengganti / Chicklit
Popularitas:52.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.

Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.

“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”

Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.

Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

pagi itu, dapur rumah utama Pradipta sudah ramai sejak fajar.

Aroma kaldu hangat bercampur wangi bawang tumis memenuhi ruangan luas berlantai marmer. Para pelayan lalu-lalang dengan cekatan, sementara kepala pelayan berdiri di tengah dapur, mengawasi setiap gerakan.

Di antara mereka, Yura ikut sibuk, lengan bajunya digulung rapi, celemek terikat di pinggang. Tangannya cekatan mengiris bahan, mengaduk panci, mencicipi rasa dengan penuh perhatian.

“Apa perlu ditambahkan garam sedikit lagi, Nona Yura?” tanya kepala pelayan dengan hormat.

Yura menggeleng pelan. “Tidak, Tuan Arga tidak suka terlalu asin.”

Kepala pelayan mengangguk, seolah itu pengetahuan yang sudah tak perlu dipertanyakan lagi.

Sejak Yura masuk ke keluarga Pradipta, ada satu kebiasaan yang tak berubah, sarapan Arga selalu berbeda. Bukan lebih mewah, melainkan lebih sesuai. Setiap bumbu, setiap tingkat kematangan, setiap aroma, semuanya diingat Yura dengan baik.

Sup ayam bening dengan jahe tipis untuk menghangatkan lambungnya. Telur setengah matang tak pernah lebih dari itu. Secangkir kopi hitam tanpa gula, tanpa susu. Tanpa sadar, Arga telah terbiasa.

Bahkan pada pagi-pagi ketika ia marah, ketika ia bersikap dingin, ia tetap menghabiskan masakan Yura hingga suapan terakhir, seolah itu satu-satunya hal dalam hidupnya yang masih berada di bawah kendali.

Yura menuangkan sup ke dalam mangkuk porselen, uap hangat mengepul perlahan. Wajahnya tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi.

Tak ada yang tahu, di balik ketelatenan itu, pikirannya sedang bekerja jauh lebih dingin.

'Masakan ini bukan karena cinta,' batinnya.

'Ini hanya bagian dari peranku.'

Kepala pelayan meliriknya sekilas. “Tuan Arga pasti segera turun.”

Yura mengangguk, mengelap tangannya dengan lap kecil.

“Tolong antarkan ke ruang makan seperti biasa.”

Ia melangkah keluar dari dapur dengan langkah tenang, meninggalkan aroma sarapan yang selama ini tanpa disadari Arga menjadi satu-satunya kehangatan di rumah itu.

Yura baru saja melangkah keluar dari dapur ketika langkah kaki ringan terdengar dari arah pintu samping rumah.

“Sheli?” Yura menghentikan langkahnya.

Sheli Lingga Pradipta berdiri di sana dengan tas kecil di pundaknya. Rambutnya masih sedikit acak, seolah ia baru saja tiba tanpa sempat beristirahat. Wajahnya tampak lelah namun senyumnya tetap hangat saat melihat Yura.

“Kak Yura,” sapa Sheli pelan. “Kamu baik-baik saja?”

Yura terdiam sesaat, alisnya berkerut samar. “Maksudmu?”

Sheli tersenyum kecil. “Aku dengar Kak Shasmita sudah kembali semalam.” Ia mendekat beberapa langkah, suaranya diturunkan.

“Kak Arga … masih bersikap kasar?”

Tatapan Yura seketika menghindar. Ia tak menjawab, namun gerakan kecil itu sudah cukup. Mata Sheli jatuh pada dagu Yura yang memerah, bekas cengkeraman yang belum sepenuhnya pudar. Senyum di wajah Sheli lenyap perlahan.

“Dia melakukannya lagi…” gumamnya lirih.

Sheli menarik napas panjang, lalu menatap Yura dengan sorot penuh keprihatinan.

 “Kak Yura, menyerahlah. Sekarang Kak Shasmita sudah kembali. Tidak ada lagi alasan kamu bertahan di sini.”

Ia menggenggam tangan Yura dengan lembut.

“Aku tidak mau melihat kamu terus menyakiti diri sendiri hanya karena pernikahan itu.”

Yura menatap jemari mereka yang saling bertaut. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja disarankan pergi.

“Aku baik-baik saja, Sheli,” ujarnya lembut. “Aku yang memilih tinggal di sini.”

Sheli menggeleng pelan. “Tapi—”

“Aku tidak akan pergi,” potong Yura pelan namun tegas.

“Sampai kontrak itu selesai. Aku tidak akan ke mana-mana.”

Nada suaranya bukan memohon. Bukan pula ragu tetapi itu keputusan.

Sheli menatapnya lama, seolah ingin berkata lebih banyak, namun kata-kata itu terhenti saat suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga.

Langkah itu khas, tegas dan mendominasi. Yura dan Sheli menoleh bersamaan.

Sosok Arga muncul di puncak tangga, masih dengan kemeja gelap dan wajah dingin tatapan yang tak pernah berubah sejak pagi.

Arga menuruni anak tangga terakhir dengan langkah mantap. Tatapannya langsung tertuju pada Yura dingin, penuh peringatan.

“Jangan mempengaruhi Sheli,” katanya datar namun keras, cukup untuk membuat udara di sekitar mereka menegang.

Sheli refleks menoleh ke kakaknya. “Aku hanya—”

“Ini bukan urusanmu,” potong Arga tanpa menatap adiknya. “Kau terlalu mudah terbawa perasaan.”

Yura menunduk, jemarinya saling menggenggam di depan tubuh. Sikapnya tenang, nyaris patuh.

“Aku tidak mempengaruhi siapa pun, Mas,” ucapnya pelan.

 “Sheli hanya bertanya.”

Arga mendengus kecil. “Tetap jaga posisimu.”

Lalu, seolah itu hal paling biasa di dunia, Arga menambahkan, “Shasmita dan kakaknya akan sarapan di sini pagi ini.”

Sheli terperangah. “Kakaknya … juga?”

Arga mengangguk singkat. “Sky akan ikut.”

Wajah Sheli berubah antara kaget dan canggung.

“Di rumah utama?”

“Ya.”

Tak ada penjelasan lebih lanjut. Tak ada ruang untuk protes. Arga lalu menoleh kembali pada Yura.

“Siapkan meja makan. Pastikan semuanya sempurna. Aku tidak mau ada kesalahan sedikit pun.”

Kata sempurna itu terdengar seperti ancaman.

“Baik, Mas,” jawab Yura tenang.

Dia berbalik melangkah menuju ruang makan tanpa menoleh lagi. Setiap langkahnya terukur, seolah tak ada yang terjadi barusan. Namun, di balik punggung yang tegak itu, pikirannya berputar cepat.

Sheli memandang Yura dengan sorot khawatir, lalu kembali menatap Arga.

 “Kak—”

“Bersiaplah,” potong Arga. “Jangan membuat suasana canggung.”

Sheli terdiam.

Di ruang makan, Yura mulai mengatur piring-piring porselen, menyusun peralatan makan dengan presisi. Tangannya cekatan, wajahnya datar, seolah ini hanya pagi biasa.

Shasmita datang bersama Sky dengan mobil keluarga yang dikemudikan sopir pribadi. Perjalanan dari villa ke rumah utama hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit padahal jaraknya tak lebih dari satu hamparan halaman luas. Namun kawasan Pradipta terlalu besar untuk ditempuh dengan berjalan kaki.

Begitu mobil berhenti di pelataran, Arga sudah berdiri menunggu. Wajah dinginnya lenyap seketika, berganti senyum ramah yang jarang ia tunjukkan.

“Selamat pagi,” ucapnya hangat. “Kalian tidak kesulitan ke sini?”

“Tidak,” jawab Shasmita singkat, turun dari mobil dengan anggun. Sky menyusul di belakangnya, matanya mengamati rumah utama dengan tenang. Namun, pandangan Shasmita justru tertuju pada sosok yang berdiri tak jauh dari pintu masuk.

“Kenapa kamu pergi pagi-pagi sekali dari villa?” tanya Shasmita, mendekat. Nada suaranya lembut, nyaris akrab.

“Aku ingin minum teh bersamamu tadi pagi.”

Udara di sekitar mereka seketika berubah. Yura terkejut, namun segera menunduk sopan.

“Tugas saya ada di rumah utama, Nona.”

Belum sempat Shasmita menanggapi, Arga menyela cepat.

“Mulai besok, kamu tinggal di villa saja. Urusan rumah utama biarkan pelayan yang menangani. Kamu fokus melayani tamu.”

Kening Yura terangkat samar. Wajahnya tetap tenang, namun di dalam hatinya, sebuah senyum tipis terbit.

'Setidaknya … aku bebas dari amukannya untuk sementara.'

“Baik,” jawabnya pelan.

Namun, sebelum Arga melangkah lebih jauh, Shasmita justru mendahuluinya. Ia meraih tangan Yura di depan semua orang. Sentuhan itu membuat Arga dan Sheli sama-sama terkejut.

Gerakan Shasmita begitu natural, seolah Yura bukan bawahan, bukan asisten, bukan orang asing, melainkan seseorang yang layak digandeng.

“Ayo sarapan,” kata Shasmita ringan.

Sheli menatap kakaknya, lalu berpindah menatap Shasmita dengan raut tak percaya.

Sky tersenyum kecil. “Jangan ditunda. Tidak baik makan terlambat.”

Tatapan Sheli beralih ke arah Sky, sejenak merasa aneh dengan nada pria itu. Namun, Sky sama sekali tak memandangnya perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Yura, tanpa berkedip.

Yura merasakan itu, ada perasaan canggung yang dia rasakan sejak kemunculan Shasmita dan Sky.

1
Asyatun 1
lanjut
merry
cept tes hans,, klo cocok depak putri palsu itu umuknn siapa adikmu mky putri Arga gk brni ngusik yura lgg,, untuk Arga mngkin bulan nyesel tau yura ank konglomerat bangsawan dan org yg dh Nolongin dia 😄😄😄 putri gk bs berkutik klo seluruh ngeri tau yura adalh adik mu hans
Gadis misterius
Pertama yg harus disingkirkan dan ditengalamkan putri hans arga urusan blekangan krn putri membully yura dr zaman dia sekolah
Hanifah 76
apa kabar ka baru up lagi?sehat selalu
Arieee
semoga test dna positif Yura si putri yang hilang🤧🤧🤧🤧
Allea
semoga yura ga cepat2 memaafkan si hans
ken darsihk
Nggak sabar menunggu tnggl 10 , dan hasil tes DNA Yura & keluarga Wijaya
iqha_24
semoga positif, Yura Adik Hans
Eva Karmita
bukan kebahagiaan yang akan kamu dapatkan Arga tapi sebuah kehancuran, kebenaran yang sesungguhnya 🔥💪🥰
Oma Gavin
seharusnya kalau test DNA ini bener putri wajib didepak dari keluarga wijaya secara dia anak panti songong banget ngga cocok jadi keluarga wijaya
Naufal hanifah
ceritanya bagus
Aidil Kenzie Zie
peringatan untuk menjauhi Hans paling yang dimaksud Sky
merry
klo niat baik gpp klo niat buruk siap de demo ibu ibu kmu sky😄😄😄
Aisyah Alfatih: belum bisa double ini 😁 padahal pengen tak double terus biar tamat ... mungkin besok ya ...
total 1 replies
Ma Em
Alhamdulillah akhirnya Yura bebas dari jerat Arga , semoga Yura selalu bahagia setelah lepas dari Arga pasti Arga akan menyesal karena sdh menyia nyiakan Yura .
Eva Karmita
lanjut... pengen tau bagaimana Arga Tampa Yura disisinya, apa hidupnya akan bahagia atau sebaliknya jungkir balik ngk karuan .
Yulia Dhanty
menarik
ken darsihk
Setelah ini Arga akan menyesal parah , setelah dia tau siapa yng menolong dia sebenar nya
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂
Hanifah 76
bagus ceritanya ka semangat
Gadis misterius
Yura akan menghindari sky krn yura tau adeknya arga ada rasa ke sky...jngn kuatir ksu sky yura tdak akan menggangu hubungan hans dan adekmu yura itu anti laki2 sebelum blas dendamnya terblaskan
Sunaryati
Dengan membuang Yura berarti kau menyia- nyiakan perempuan yang pernah berjasa padamu, apalgi 4,5 tahun kau siksa fisik dan mentalnya dengan menyandra, setelah kau tahu, tapi keadaan kamu telah hancur. Kau tidak mendapatkan Yura atau tunangan kamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!