Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Rumahnya?
Pukul lima pagi, suasana di koridor kosan masih sangat sunyi dan udara dingin menusuk tulang, Kanaya sudah berdiri di depan kamarnya dengan tas punggung kecil dan sebuah tas jinjing berisi oleh-oleh sederhana untuk orang tuanya.
Ketukan pelan di pintu kamarnya membuatnya tersentak, Kanaya segera keluar dan melihat Narendra yang sudah ada didepan kamarnya. Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna biru gelap dengan lengan yang digulung hingga siku dan memberikan kesan santai namun tetap berwibawa.
"Ayo," ajak Narendra dan mengambil alih tas Kanaya.
Narendra pun berjakan terlebih dahulu melewati lorong gang sempit itu lalu diikuti Kanaya dibelakangnya.
Sesampainya di ujung gang, Narendra membukakan pintu mobil untuk Kanaya. Gerakannya begitu natural, seolah menjaga Kanaya sudah menjadi tugas utamanya sejak lama dan begitu mesin menyala, mobil mulai membelah jalanan kota yang masih sepi.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Narendra sambil melirik sekilas ke arah Kanaya yang tampak masih sedikit mengantuk dan juga gugup.
"Sudah, tadi aku sempat makan roti sedikit," jawab Kanaya pelan.
Narendra meraih sebuah kantong kertas dari kursi belakang, "Tadi aku mampir beli sandwich dan susu hangat, makanlah karena perjalanan kita masih jauh. Aku tidak mau kamu sampai di sana dalam keadaan lemas," ucap Narendra.
"Kamu sudah makan?" tanya Kanaya.
"Sudah," jawab Narendra.
"Kalau begitu, terima kasih," ucap Kanaya dan mulai melahap sandwich pemberian Narendra.
"Kamu sudah kabarin orangtuamu?" tanya Narendra.
"Aku sudah kabarin mereka, kalau aku akan pulang dengan temanku, jadi aku nggak minta Ayah buat jemput aku," ucap Kanaya dan diangguki Narendra.
.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Narendra menyadari bahwa Kanaya mulai terlihat sedikit pucat, mungkin karena pengaruh jalanan yang tidak rata atau karena rasa gugup yang semakin memuncak mendekati kampung halamannya.
Narendra memutar kemudi menuju sebuah rest area besar yang terletak di dataran tinggi dan begitu mobil terparkir sempurna di bawah deretan pohon pinus, ia tidak langsung turun, melainkan menoleh ke arah Kanaya yang sedang memijat pelipisnya.
"Kita istirahat dulu tiga puluh menit. Kamu kelihatan pucat," ucap Narendra lembut.
Narendra meraih botol air mineral dari cup holder dan membukakan tutupnya sebelum memberikan kepada Kanaya. "Terima kasih, Narendra. Aku sedikit mual, mungkin karena jalannya terlalu banyak belokan. Biasanya Ayah jemput aku di terminal, jadi aku pulangnya naik sepeda motor dan sekarang pakai mobil, jadi aku nggak kuat," jawab Kanaya sambil meminum air itu perlahan.
Narendra turun dari mobil dan memutari kap mesin untuk membukakan pintu Kanaya. Begitu Kanaya turun, udara pegunungan yang sangat dingin langsung menerpa mereka, Narendra mengambil jaketnya di dalam mobil dan menyampirkannya ke bahu Kanaya.
"Nanti kamu kedinginan, Narendra," protes Kanaya.
"Aku kuat, Kanaya. Kamu yang harus tetap hangat agar tidak masuk angin," ucap Narendra yang tak ingin dibantah.
Narendra menggandeng tangan Kanaya menuju area pujasera yang lebih tenang dan memilih tempat duduk di sudut yang menghadap langsung ke arah lembah hijau, Narendra kemudian membelikan teh jahe hangat untuk Kanaya guna meredakan mualnya.
Setelah menyesap teh jahe hangat pemberian Narendra, rasa mual Kanaya perlahan mulai mereda, ia menatap pemandangan lembah di depannya lalu beralih menatap Narendra yang tetap terlihat tenang meski sudah menyetir berjam-jam.
"Masih mual?" tanya Narendra dan tangannya masih sesekali mengusap punggung tangan Kanaya untuk memastikan gadis itu merasa nyaman.
"Sudah jauh lebih baik, kita lanjutkan perjalanan?" tanya Kanaya.
"Beneran bisa?" tanya Narendra dan diangguki Kanaya.
"Kalau begitu, ayo kita lanjut," ucap Narendra.
Perjalanan berlanjut menyusuri jalanan yang semakin sempit dan asri, pepohonan besar di sisi kanan dan kiri jalan memberikan keteduhan yang menenangkan, namun jantung Kanaya justru berdegup kian kencang saat ia mulai mengenali gapura desa tempat ia dibesarkan.
Setelah dua jam berkendara dari tempat peristirahatan, Narendra akhirnya menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana, namun asri dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman bunga dan pohon mangga yang sedang rimbun.
"Ini rumahnya?" tanya Narendra.
"I-iya," jawab Kanaya gugup.
Kanaya menarik napas panjang dan mencoba menetralkan debar jantungnya yang kian liar, belum sempat ia membuka pintu, Narendra sudah lebih dulu turun dan membukakan pintu untuknya. Sikap pria itu tetap konsisten, sangat menghormati dan menjaga Kanaya bahkan di depan rumah sederhana ini.
Seorang pria paruh baya yang sedang membenahi pagar bambu di samping rumah, bersama seorang wanita yang tengah menyapu dedaunan kering, itu adalah Ayah dan Ibu Kanaya.
"Kanaya? Kamu sudah sampai?" seru Ibu Kanaya sambil meletakkan sapu lidinya.
Matanya memicing dan menatap mobil mewah yang terparkir di halamannya yang berpasir lalu beralih pada sosok pria jangkung di samping putrinya, Kanaya melangkah mendekat dan langsung mencium tangan kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu... maaf Kanaya baru sampai," ucap Kanaya.
Narendra menyusul di belakang Kanaya dan tanpa menunggu diperintah, ia menunjukkan tata krama yang sangat santun. Narendra menunduk dalam dan menyalami Ayah Kanaya, kemudian Ibu Kanaya, dengan gerakan yang sangat hormat, jauh dari kesan pria kota yang angkuh.
"Selamat siang, Pak, Bu. Saya Narendra," sapa Narendra.
Ayah Dani menatap Narendra cukup lama. Matanya yang tajam khas orang desa yang waspada tampak meneliti setiap jengkal penampilan Narendra.
"Mari, masuk dulu. Perjalanannya pasti melelahkan," ucap Ayah Dani singkat namun ramah.
Di dalam ruang tamu yang hanya beralaskan karpet bersih dan beberapa kursi kayu tua, suasana terasa canggung. Ibu Fita segera sibuk ke dapur untuk membuatkan minum, sementara Ayah Dani duduk berhadapan dengan Narendra.
"Jadi, Nak Narendra ini temannya Kanaya di kota?" tanya Ayah Dani memulai percakapan.
Narendra duduk dengan posisi tegak namun santai dan menoleh sekilas ke arah Kanaya yang duduk di sampingnya dengan wajah tegang lalu kembali menatap Ayah Dani.
Narendra menarik napas tenang, ia meletakkan kedua tangannya di atas lutut dan menunjukkan sikap hormat yang sempurna di depan Ayah Dani.
"Benar, Pak. Saya teman Kanaya di kota, namun tujuan saya datang ke sini hari ini bukan sekadar sebagai teman," ucap Narendra dengan suara rendah namun sangat tegas.
Ayah Dani terdiam dan meletakkan gelas kopi hitamnya yang masih mengepul, ia memberikan atensi penuh pada pria di depannya. Kanaya di sampingnya semakin mengeratkan remasan pada ujung bajunya, jantungnya terasa ingin melompat keluar.
"Lalu, apa tujuan Nak Narendra jauh-jauh datang ke desa ini?" tanya Ayah Dani dengan tatapan yang menyelidik.
.
.
.
Bersambung.....