Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja yang Sama
Ari datang lebih dulu.
Kafe itu tidak istimewa… tidak viral, tidak estetik berlebihan, tidak menyimpan identitas yang ingin dijual. Meja-meja kayu sederhana, jendela besar menghadap jalan kecil, musik diputar pelan seolah hanya untuk menemani, bukan menarik perhatian. Ari memilih tempat itu justru karena tidak memberi tekanan apa pun.
Ia duduk di meja dekat jendela, membiarkan cahaya siang masuk tanpa silau. Di depannya, secangkir kopi pahit yang belum disentuh. Tangannya diletakkan di atas meja, jari-jarinya diam, tapi pikirannya bergerak cepat.
Ia sudah lama membayangkan pertemuan ini. Bukan sebagai momen besar, melainkan sebagai sesuatu yang pasti terjadi, cepat atau lambat. Namun ketika saatnya benar-benar tiba, Ari menyadari satu hal yang tidak pernah ia rencanakan: ia tidak tahu harus memulai dari mana.
Wawan datang sepuluh menit kemudian.
Tas kecil di bahu, jaket kulit coklat yang sudah familiar, langkahnya sedikit ragu seperti seseorang yang belum sepenuhnya tiba di tempat baru meski sudah mendarat. Ia berhenti di pintu, matanya menyapu ruangan, lalu menangkap pandangan Ari.
Mereka saling mengangguk. Tidak ada pelukan. Tidak ada sapaan keras. Hanya senyum kecil yang lebih mirip pengakuan: ya, akhirnya.
Wawan duduk, meletakkan tas di lantai, lalu menghela napas panjang seolah baru sadar bahwa ia sudah sampai.
“Capek?” tanya Ari.
Wawan mengangguk. “Bukan capek badan. Lebih ke… beres-beres hidup.”
Ari tersenyum tipis. “Itu jenis capek yang nggak ada liburnya.”
Mereka terdiam sejenak. Pelayan datang, mencatat pesanan. Wawan memesan teh tawar tanpa gula. Ari tetap dengan kopinya.
Ketika pelayan pergi, Wawan menyandarkan punggung ke kursi. Ia menatap Ari lebih lama dari yang perlu, seolah ingin memastikan bahwa orang di hadapannya benar-benar nyata, bukan lanjutan dari percakapan digital yang selama ini menjadi penghubung.
“Tempat ini tenang,” kata Wawan akhirnya.
“Sengaja,” jawab Ari. “Biar nggak perlu ninggiin suara.”
Wawan mengangguk. Ia memahami maksud itu.
Mereka tidak langsung membahas sistem. Tidak menyebut verifikasi, arsip, atau kata-kata besar lain yang belakangan memenuhi hidup mereka. Percakapan dimulai dari hal-hal kecil: perjalanan, cuaca, perubahan kota yang terasa tapi sulit dijelaskan.
Namun seperti air yang selalu mencari celah, pembicaraan itu perlahan mengalir ke inti.
“Jadi,” kata Wawan pelan, “gue pulang bukan karena gagal.”
Ari mengangguk tanpa menyela.
“Gue pulang karena gue capek hidup dalam versi yang nggak sinkron,” lanjut Wawan. “Dan ternyata, sistem lebih peduli sama versi di kertas daripada yang gue jalanin tiap hari.”
Ari menatapnya, tidak dengan simpati berlebihan, tapi dengan perhatian yang jujur. “Gue rasa banyak orang lagi ngalamin hal yang sama. Cuma belum semua sadar.”
Wawan tersenyum pahit. “Atau belum semua bisa berhenti buat mikirinnya.”
Mereka terdiam lagi. Suara sendok dari meja sebelah terdengar jelas. Kafe itu tetap berjalan seperti biasa, seolah dua orang ini hanya pelanggan lain yang sedang menghabiskan siang.
“Aku ketemu Wijaya,” kata Ari akhirnya.
Wawan mengangkat alis. “Dan?”
“Dia nggak panik,” jawab Ari. “Itu justru yang bikin gue panik.”
Wawan tertawa kecil, singkat. “Gue bisa ngebayanginnya.”
“Ada arsip,” lanjut Ari. “Bukan bukti sensasional. Tapi pola. Pengulangan. Bahasa yang sama muncul lagi dengan wajah baru.”
Wawan mengaduk tehnya pelan. “Gue bukan orang arsip.”
“Gue tahu,” kata Ari. “Makanya gue pengin lo di meja ini.”
Wawan menatap Ari, lebih serius sekarang. “Lo mau apa dari gue, Ri?”
Pertanyaan itu tidak menantang. Lebih seperti permintaan kejelasan.
Ari menarik napas. Ia sudah memikirkan jawaban ini berulang kali, tapi baru sekarang ia mengucapkannya.
“Gue nggak mau lo jadi simbol,” katanya. “Gue juga nggak mau lo jadi korban yang dijual ceritanya. Gue cuma pengin lo ada. Duduk. Ngomong. Tanpa harus ngebela apa pun.”
Wawan mengernyit. “Itu kedengerannya sederhana.”
“Justru itu yang susah,” jawab Ari.
Mata Wawan turun ke meja. Ia memikirkan kafenya di Medan. Pelanggan yang pergi pelan-pelan. Mesin pembayaran yang diam. Kata sementara yang tak pernah berujung. Ia menyadari sesuatu yang selama ini ia hindari: selama ini ia bertahan sendirian.
“Kalau gue duduk di sini,” kata Wawan pelan, “itu berarti gue berhenti pura-pura semuanya baik-baik aja.”
Ari mengangguk. “Dan itu cukup.”
Pelayan datang membawa minuman. Meletakkannya dengan hati-hati, lalu pergi. Uap tipis naik dari cangkir teh Wawan.
Wawan menatap uap itu, lalu berkata, “Gue nggak pengin jadi orang yang marah-marah ke sistem.”
“Gue juga nggak,” jawab Ari.
“Tapi gue juga nggak mau diem,” lanjut Wawan.
Ari tersenyum kecil. “Berarti kita satu meja, bukan satu barisan.”
Kalimat itu menggantung di antara mereka. Tidak heroik. Tidak provokatif. Tapi terasa tepat.
Wawan mengangkat cangkirnya, menyesap teh. “Terus setelah ini apa?”
Ari menggeleng. “Belum tahu. Dan gue nggak mau pura-pura tahu.”
Wawan tertawa kecil. “Aneh ya. Biasanya orang ketemu buat nyusun rencana.”
“Ini bukan pertemuan buat rencana,” kata Ari. “Ini pertemuan buat jujur.”
Mereka duduk lebih lama dari yang mereka sadari. Tidak semua waktu diisi kata-kata. Ada jeda-jeda yang tidak canggung, hanya sunyi yang diisi kesadaran bahwa sesuatu telah bergeser.
Di luar, lalu lintas berjalan pelan. Kota tetap hidup. Tidak ada tanda bahwa dua orang di kafe kecil ini baru saja melangkah ke fase hidup yang berbeda.
Namun bagi Ari dan Wawan, duduk di meja yang sama hari itu berarti satu hal sederhana tapi berat: mereka tidak lagi hanya berbagi cerita lewat layar.
Mereka kini berbagi ruang.
Dan ruang, tidak seperti kata-kata, selalu menuntut konsekuensi.
Mereka tidak langsung beranjak.
Ari menambahkan gula ke kopinya, bukan karena ia ingin manis, tapi karena tangannya butuh bergerak. Wawan menatap jalan di luar jendela, memperhatikan orang-orang lewat dengan langkah masing-masing. Tidak ada yang terlihat tergesa. Tidak ada yang tampak terancam. Dunia di luar kafe itu terasa terlalu normal untuk menampung percakapan yang baru saja mereka lakukan.
“Lo sadar nggak,” kata Wawan pelan, tanpa menoleh, “selama ini kita ngobrol soal hal-hal berat lewat layar.”
Ari mengangguk. “Dan selalu ada tombol tutup.”
Wawan menoleh. “Di sini nggak ada.”
Mereka tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya nyaman, tapi jujur.
Wawan meraih ponselnya, meletakkannya di atas meja, layarnya menghadap ke bawah. Sebuah gestur kecil, hampir refleks, tapi Ari menangkap maknanya.
“Gue pengin cerita sesuatu,” kata Wawan. “Dan ini bukan keluhan.”
Ari mencondongkan tubuh sedikit. “Gue denger.”
“Waktu akun usaha gue dibatasi,” lanjut Wawan, “gue ngerasa bukan cuma pemasukan yang ditahan. Tapi rasa diakui.”
Ari tidak menyela.
“Gue nggak ngerasa dihukum,” kata Wawan lagi. “Itu yang bikin bingung. Nggak ada rasa bersalah yang bisa gue periksa. Nggak ada kesalahan yang bisa gue koreksi. Yang ada cuma… penantian.”
Ari mengangguk pelan. “Penundaan itu sendiri jadi hukuman.”
Wawan menatap Ari. “Dan makin lama lo nunggu, makin kecil ruang lo buat nolak apa pun yang disodorin.”
Kalimat itu membuat Ari terdiam. Ia teringat Kusuma. Lorong sempit. Kebiasaan yang terbentuk dari keterpaksaan.
“Makanya gue pulang,” lanjut Wawan. “Bukan buat nyelamatin diri. Tapi buat berhenti nunggu.”
Ari menghela napas, merasakan bobot kata-kata itu. “Dan sekarang?”
“Sekarang gue di meja ini,” jawab Wawan. “Dan itu aja udah beda.”
Pelayan lewat, menawarkan tambah minum. Mereka menolak dengan anggukan. Kafe mulai lebih sepi. Siang bergeser ke sore.
Ari membuka tasnya, mengeluarkan buku catatan tipis. Ia tidak membukanya. Ia hanya meletakkannya di meja, sejajar dengan ponsel Wawan yang terbalik.
“Ada satu hal yang gue pelajari dari ngobrol sama Wijaya,” kata Ari. “Perubahan besar jarang dimulai dari rencana. Biasanya dimulai dari dokumentasi.”
“Dokumentasi?” ulang Wawan.
“Mencatat apa yang terjadi sebelum semuanya punya nama,” jawab Ari. “Sebelum bahasa resmi datang dan ngerapihin semuanya.”
Wawan mengangguk pelan. “Lo mau gue dicatat?”
Ari menggeleng cepat. “Bukan lo sebagai objek. Tapi lo sebagai saksi hidup.”
Wawan terdiam. Ia menatap buku catatan itu, lalu kembali ke wajah Ari. “Dan saksi biasanya diminta ngomong.”
“Cuma kalau lo mau,” kata Ari. “Dan cuma sejauh yang lo sanggup.”
Wawan tersenyum tipis. “Gue nggak takut ngomong. Gue takut ngomong sendirian.”
Ari membalas tatapan itu. “Makanya kita duduk di meja yang sama.”
Kata-kata itu tidak diucapkan sebagai janji. Tidak ada sumpah. Tidak ada kesepakatan tertulis. Tapi Wawan merasakan sesuatu yang selama ini absen: kehadiran yang tidak menuntut hasil.
Ponsel Ari bergetar. Pesan masuk. Ia melirik cepat, lalu mengunci layar tanpa membaca. Wawan memperhatikan gerakan itu.
“Lo nggak cek?” tanyanya.
“Nanti,” jawab Ari. “Yang di depan gue lebih penting.”
Wawan tertawa kecil, kali ini lebih lepas. “Gue lupa rasanya didahulukan tanpa agenda.”
Ari ikut tersenyum. “Jangan dibiasain. Bisa bikin ketagihan.”
Mereka kembali diam. Diam yang tidak kosong. Di luar, langit mulai berubah warna. Bayangan jendela memanjang di lantai kafe.
“Ri,” kata Wawan tiba-tiba, “kalau nanti gue diminta datang ke tempat tertentu, buat klarifikasi atau apa pun… dan gue ngerasa nggak nyaman…”
Ari langsung menjawab, “Lo nggak harus datang sendiri.”
Wawan mengangguk. “Itu aja udah cukup.”
Ia mengambil ponselnya, membalik layar ke atas, lalu membuka Random. Tidak menulis apa pun. Hanya membaca ulang nama-nama di grup itu. Enam orang. Enam jalur hidup. Enam cara bertahan.
“Gue pikir,” kata Wawan, “meja ini bakal sepi. Ternyata nggak.”
Ari mengikuti arah pandangnya, meski yang terlihat hanya kursi kosong. “Meja ini cuma awal.”
Mereka berdiri hampir bersamaan. Membayar, mengenakan jaket, bersiap pergi. Di depan pintu, mereka berhenti sejenak… bukan karena ragu, tapi karena menyadari bahwa setelah ini, arah hidup mereka tidak lagi sepenuhnya paralel.
“Gue bakal tinggal beberapa hari di Jawa,” kata Wawan. “Ngurus berkas. Ngejar yang bisa dikejar.”
Ari mengangguk. “Gue di Yogya. Kalau lo butuh berhenti sebentar, kabarin.”
Wawan tersenyum. “Kayaknya gue bakal butuh.”
Mereka berpisah di trotoar. Tidak ada jabat tangan panjang. Tidak ada pelukan. Hanya anggukan kecil yang lebih bermakna dari salam apa pun.
Ari berjalan ke arah berlawanan, tasnya terasa lebih berat meski isinya sama. Wawan melangkah menuju motornya, dadanya terasa lebih ringan meski urusannya belum selesai.
Meja itu kini kosong.
Tapi jejak percakapan mereka tertinggal… bukan di permukaan kayu, melainkan di keputusan-keputusan kecil yang akan menyusul.
Dan sejak siang itu, bagi Ari dan Wawan, kata sendiri mulai kehilangan sebagian maknanya.