Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Pagi datang dengan sinar matahari yang hangat. Cahaya itu masuk melalui jendela kecil rumah mereka dan jatuh tepat di wajah Tasya yang masih tertidur di sofa ruang tengah.
Laptopnya masih terbuka di atas meja. Beberapa tab lowongan pekerjaan masih terpampang di layar. Tasya tertidur tanpa sadar setelah semalaman mencari pekerjaan.
Matanya perlahan terbuka. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengusir kantuk yang masih tersisa.
Lehernya terasa pegal. Tasya menegakkan tubuhnya perlahan lalu melihat jam dinding. Pukul 06.15 pagi, Tasya langsung terkejut.
“Ya ampun…” Ia berdiri cepat.
Hari ini Kenzo dan Kenzi harus bangun lebih pagi. Meskipun sekolah mereka baru mulai minggu depan, Tasya sudah mulai membiasakan mereka bangun pagi. Namun, sebelum ia sempat berjalan menuju kamar anak-anak dua bocah kecil itu sudah muncul dari arah dapur.
Kenzo berjalan sambil membawa dua gelas susu. Sedangkan Kenzi berjalan di belakangnya dengan wajah datar seperti biasa.
“Mommy sudah bangun,” kata Kenzo dengan senyum lebar.
Tasya menatap mereka heran.
“Kalian sudah bangun dari tadi?”
Kenzo mengangguk bangga.
“Kami buat susu sendiri, dibantu Bi Mirna.”
Dia meletakkan dua gelas itu di meja. Tasya menatap mereka dengan tatapan lembut.
“Terima kasih.”
Kenzo langsung memperhatikan wajah ibunya.
“Mata Mommy merah.”
Tasya tersenyum tipis.
“Mommy cuma kurang tidur.”
Kenzi yang sejak tadi diam tiba-tiba berbicara.
“Karena pekerjaan?”
Tasya terdiam sejenak namun ia tidak ingin membuat anak-anaknya khawatir.
“Mommy akan segera menemukan pekerjaan.”
Kenzo langsung mengangkat tangan seperti orang yang yakin.
“Pasti!” Kenzo, duduk di sofa di samping Tasya.
“Mommy kan paling pintar.” Lanjut Kenzo.
Kenzi hanya menatap ibunya beberapa detik, tatapannya tenang. Namun, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Mommy,” katanya pelan.
Tasya menoleh.
“Iya, Sayang?”
Kenzi terlihat ragu sebentar namun akhirnya ia berkata dengan nada polos.
“Kalau perusahaan besar yang cari Mommy … Mommy mau kerja di sana?”
Tasya tertawa kecil.
“Perusahaan besar?”
Kenzo langsung menyahut cepat.
“Seperti Vasillo!”
Nama itu membuat Tasya langsung terdiam.
Wajah Alex tiba-tiba muncul di pikirannya. Tatapan dingin pria itu, dan ancaman yang ia ucapkan.
Tasya menghela napas pelan.
“Mommy rasa itu tidak mungkin, kemarin Mommy baru saja dari sana dan ditolak.”
Kenzo mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Tasya mengusap rambut anaknya.
“Karena orang di sana tidak suka Mommy.”
Kenzo terlihat tidak setuju.
“Belum tentu.”
Kenzi yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya berkata tenang.
“Mungkin mereka akan berubah pikiran sekarang.”
Tasya tersenyum kecil.
“Kenapa kamu bisa berpikir begitu?”
Kenzi hanya mengangkat bahu.
“Kadang orang pintar bisa berubah pikiran.”
Tasya menganggap itu hanya ucapan polos anak kecil, dan mengangguk lalu tersenyum pada kedua anaknya.
Sementara itu, jam 07.00 pagi, di Vasillo Group terlihat normal seperti biasanya. Para karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, rapat pagi sudah dimulai di beberapa ruangan, dan layar komputer menyala memenuhi seluruh lantai kantor. Tidak ada yang tahu sesuatu telah terjadi di perusahaan itu sejak semalam belum ada yang menyadarinya.
Di lantai paling atas, tepatnya di ruang kerja Alex Roman Vasillo, sebuah notifikasi email muncul di layar laptop pribadinya.
Alex yang sedang membaca laporan keuangan mengerutkan kening saat melihat pengirim yang tidak dikenal. Tanpa banyak berpikir, ia membuka email tersebut.
Isi pesannya hanya satu paragraf pendek tetapi kata-katanya membuat udara di ruangan itu seakan berubah dingin.
[Tuan Alex Roman Vasillo. Menolak lamaran Tasya Aditya adalah kesalahan terbesar yang pernah Anda buat. Anda pikir Anda bisa menghancurkan masa depan seseorang hanya karena ijazah? Anda membuat Tasya gagal diterima di perusahaan mana pun. Kalau begitu saya akan membuat perusahaan Anda mengalami hal yang sama. Dalam waktu singkat, sekitar jam 07.20, saya bisa membuat Vasillo Group bangkrut. Anggap ini peringatan pertama.] Alex langsung melirik jam di dinding ruangannya. Tatapan Alex berubah tajam, tangannya mengepal di atas meja.
“Siapa yang berani mengancamku ?” gumamnya dengan nada berbahaya.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dengan cepat. Mario masuk dengan wajah serius.
“Tuan,”
Alex langsung menatapnya. “Ada apa?”
Mario terlihat sedikit ragu, tetapi ia tetap melapor.
“Ada sesuatu yang tidak beres dengan sistem keamanan perusahaan.”
Alis Alex langsung terangkat. “Jelaskan.”
Mario menghela napas pendek.
“Beberapa server internal kita … diretas.”
Ruangan itu seketika terasa sunyi, Alex perlahan berdiri dari kursinya.
“Apa maksudmu diretas?”
Mario menelan ludah.
“Seseorang masuk ke jaringan internal kita. Firewall utama berhasil ditembus. Bahkan beberapa sistem pengawasan digital sempat mati selama beberapa menit.”
Tatapan Alex berubah gelap. “Siapa pelakunya?”
Mario menggeleng. “Kami belum bisa melacaknya.”
Alex berjalan mendekati jendela besar ruangannya. Tangannya terlipat di depan dada, rahangnya mengeras.
“Berapa lama mereka ada di sistem kita?”
“Sekitar tujuh menit,” jawab Mario.
“Tujuh menit sudah cukup untuk mencuri data penting.”
Mario tidak menjawab, karena mereka berdua tahu itu benar. Alex kembali menatap layar laptopnya. Email ancaman tadi masih terbuka di sana.
Ia menunjukkannya pada Mario. “Baca ini.”
Mario mendekat dan membaca isi email tersebut. Ekspresinya berubah kaget.
“Ini … ancaman?”
Alex tersenyum tipis, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan dalam senyum itu.
“Sepertinya begitu.”
Mario kembali menatap layar.
“Orang ini menyebut Tasya Aditya…”
Alex menyela dengan suara datar.
“Wanita yang kemarin berani membanting pintu ruanganku.”
Mario mengangguk, Alex memejamkan mata sesaat, mencoba menenangkan amarah yang mulai mendidih.
Alex membuka mata kembali, sorotnya kini sangat tajam.
“Orang ini sengaja membuat kekacauan.”
Mario mengangguk setuju, Alex kemudian berkata dengan nada dingin yang tegas.
“Cari tahu siapa pelakunya!”
“Baik, Tuan.”
“Gunakan semua tim IT. Tutup semua celah sistem. Perbaiki keamanan server sekarang juga.”
“Saya mengerti.”
Alex berhenti sejenak sebelum menambahkan,
“Dan satu lagi Mario…”
Mario menoleh.
“Temukan orang yang mengirim email ini.”
Suara Alex sangat tenang tetapi justru itulah yang membuatnya terasa lebih berbahaya.
“Siapa pun dia…” Alex menatap layar laptopnya lagi. "Dia sudah membuat kesalahan besar dengan menantangku.”
Mario mengangguk serius.
“Saya akan menemukannya.”
Mario lalu keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat.
Beberapa waktu berlalu.
Puluhan layar komputer menyala bersamaan, menampilkan kode-kode yang bergerak cepat. Para staf IT terlihat panik, jari mereka mengetik tanpa henti mencoba menutup celah keamanan yang terus muncul.
Di tengah ruangan, Alex Roman Vasillo berdiri dengan wajah dingin. Tatapannya tajam mengawasi setiap gerakan para staf. Aura pria itu begitu menekan hingga membuat ruangan terasa mencekam.
Mario berdiri di sampingnya sambil menatap layar besar yang menampilkan sistem keamanan perusahaan.
“Sudah normal?” tanya Alex dingin tanpa mengalihkan pandangannya.
Mario menggeleng pelan.
“Belum, Tuan.”
Rahang Alex mengeras, Mario melanjutkan dengan nada serius.
“Sistemnya terus ditembus dari berbagai jalur. Tim IT kita kesulitan menutup semua akses. Sepertinya orang di balik ini...”
Mario berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Seorang hacker yang sangat hebat.” Ucapan itu justru membuat wajah Alex semakin gelap.
“Hebat?” ulang Alex dengan nada tajam. Ia berbalik menatap para staf IT yang sedang bekerja mati-matian.
“Pantas saja perusahaan di sini sulit berkembang.”
Semua orang langsung terdiam, Alex melanjutkan dengan suara dingin yang penuh tekanan.
“Tim IT perusahaan sendiri tidak becus menjaga sistemnya.”
Beberapa staf langsung menundukkan kepala, tidak berani menatapnya.
“Dan kalian bisa dengan mudah dibobol oleh orang tak dikenal seperti ini?”
Suasana ruangan semakin tegang, tak ada yang berani menjawab. Tiba-tiba salah satu staf berteriak panik.
“Tuan! Lihat ini!” Semua mata langsung tertuju pada layar utama.
Di layar besar yang menampilkan sistem keamanan perusahaan muncul sebuah gambar. Sebuah lambang jari tengah, beberapa detik ruangan itu benar-benar hening. Lalu, semua layar komputer tiba-tiba berkedip keras. Dan dalam sekejap seluruh sistem mati total.
Layar berubah gelap.
“Tidak … tidak mungkin…” gumam salah satu staf dengan suara gemetar.
Suasana ruangan berubah panik. Beberapa orang mencoba menyalakan ulang komputer mereka, tetapi semuanya tetap gelap.
Alex berdiri diam tetapi ekspresinya berubah sangat berbahaya. Tangannya mengepal kuat, dan tiba-tiba,
Brak!
Alex menghantam meja di depannya dengan keras. Semua orang tersentak.
“Siapa yang berani menantang Alex Roman Vasillo?!” Suara Alex menggema di seluruh ruangan. Nada suaranya dipenuhi amarah yang mengerikan.
Aura dingin seorang pewaris mafia kini benar-benar terasa. Beberapa staf bahkan langsung menundukkan kepala, takut menatapnya.
“Orang yang melakukan ini … jelas seseorang yang sudah bosan hidup.” Suasana menjadi semakin mencekam.
Mario yang berdiri di samping Alex pun ikut terdiam. Ia sangat mengenal tuannya, dan saat seperti ini Alex benar-benar dalam kondisi paling berbahaya. Alex menarik napas tajam, mencoba menahan amarahnya. Lalu, ia menoleh pada Mario dengan tatapan dingin.
“Hubungi seseorang.”
Mario langsung bersiaga.
“Siapa, Tuan?”
Alex menjawab tanpa ragu.
“Tasya Aditya.”
Mario sedikit terkejut.
“Tasya?”
Alex menyipitkan matanya.
“Hanya dia yang tahu jawabannya.”
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal