Janu Manggala adalah seorang pemuda polos yang tak menyadari bahwa dirinya memiliki kesaktian Tiada Tanding... Segala jenis pusaka tunduk di hadapannya, ucapannya langsung menjadi kenyataan, dan orang orang yang menunjukan kesaktiannya di mata Janu mereka hanyalah orang gila...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengajuan Naskah
Dua hari kemudian pekerjaan Janu dan Anton selesai, mereka pulang menuju kosan mereka yang berada di pelabuhan pinggiran kota.. melanjutkan rutinitas kuli yang sepi karena hari raya tinggal beberapa hari lagi.
Di perjalanan pulang tersebut Janu melihat sebuah plang reklame nama sebuah agensi penerbit. Ia pun iseng mampir sekedar untuk bertanya tanya mengenai pengajuan naskah. Ia pun mendapatkan informasi itu dari pihak penerbit.
"Yes...!!!" Batinnya.
***
Di dalam kamar kosnya ia begitu Down saat mengingat ucapan pemuda yang bernama Rendi itu. Akan tetapi Janu tidak menyerah dan putus asa begitu saja, karena baginya ia sudah terlanjur menulis tidak ada salahnya mencoba. Ia membuka file di laptopnya dan melanjutkan menulis kelanjutan novel yang sedang ia buat.
Ia mengisi tiap-tiap malamnya dengan menulis novel hingga dini hari, ia berusaha keras menyelesaikan naskah novel pertamanya itu yang ia beri judul, 'Psikopat Love' menceritakan tentang seorang Psikopat kejam yang tiba tiba jatuh cinta kepada korbannya.
Suara kumandang takbir mulai terdengar tanda satu syawal akan segera datang. Janu menghisap rokoknya dalam dalam malam hari itu. Lebaran ini ia tidak pulang ke kampung halaman, karena ia sudah tidak memiliki keluarga di sana hanya ada sebuah toko kecil warisan dari kakeknya yang ia tidak perdulikan.
Ia merokok di temani segelas kopi sembari memikirkan kelanjutan dari ceritanya dan bagaimana membuat ending yang tepat. Janu terus melamun hingga Anton datang membawa gitar dan plastik asoy bening berisi beberapa mie dan telur. Mereka berdua bernyanyi malam hari itu di temani dengan mie instan dan kopi..
"Sstt, Nu cewek kemarin itu cakep bener ya? Tapi pacarnya nyinyir banget kayak admin lambe turah." Ujar Anton memulai obrolan.
"Iya..." jawab Janu singkat.
"Dia cantik loh bro, masa kamu ngga suka?"
"Suka juga buat apa Ton? Dia udah punya pacar. Mana mungkin juga dia mau sama kita? Bumi langit Ton, aku sih realistis aja hidup ini ngga kayak drama ftv yang miskin bisa nikah sama yang kaya raya. Sutradara yang buat film itu halu, kebanyakan mabok lem."
"Ya siapa tahu loh bro, respek gitu kan yang cantik itu sama kamu. Jodoh siapa yang tahu, iya kan?"
"Amin."
Janu Manggala sosok pemuda realistis tidak terlalu tampan namun tidak jelek, memiliki tinggi 175 cm, sama sekali tak memiliki ilmu dan latar belakang apapun di dunia kepenulisan tetapi mempunyai mimpi menjadi seorang penulis terkenal. Ia lulusan SMK jurusan mesin ia sempat kuliah namun terhenti di tengah jalan.
Malam hari berikutnya Janu kembali melanjutkan menulis kelanjutan novelnya. Penerbit yang ia kunjungi saat pulang dari kota itu memberikan penjelasan mengenai pengajuan naskah. Seperti gaya huruf Times New Roman atau Arial, ukuran spasi 12pt, baris menggunakan justify dan lain sebagainya.
Ia di anjurkan minimal membawa setidaknya 20 bab tulisannya untuk di tinjau oleh editor dari pihak penerbit. Karena Janu tidak memiliki mesin printer, terpaksa ia harus pergi ke percetakan atau rental komputer untuk mencetak 10 bab naskah yang hendak ia serahkan.
Keadaan masih dalam lebaran, tidak ada rental atau percetakan yang membuka usahanya. Lagi lagi Janu harus menunggu beberapa hari lagi.
****
Seminggu kemudian hari yang di nantikan pun tiba, tampak Janu duduk mendekap erat jilid lembaran kertas yang tidak lain adalah naskah novelnya di dalam angkot. Ia menuju kota untuk menyerahkan naskah itu ke penerbit untuk di tinjau.
Sesampainya di kantor penerbit Janu justru di suruh menyerahkan naskah itu kepada editornya langsung yang sedang tidak berada di kantor itu.
"Ini nomer editornya mas, tanya aja sama dia harus di kirim kemana minta alamat lokasi pengirimannya. Kalau udah lolos nanti editor yang menghubungi masnya." Ucap seorang wanita sembari menyerahkan kartu nama sang editornya.
"Gitu ya mbak? Ya udah kalau gitu makasih."
Dengan langkah lunglai Janu menyusuri trotoar pinggir jalan ia kemudian berhenti di bangku pedagang es dawet pinggir jalan.
Di bawah rindangnya pohon mahoni ia beristirahat melepas lelah sekedar membasahi kerongkongan keringnya dengan meneguk segelas es dawet.
Ia sedikit kecewa kenapa pihak penerbit tidak meberitahukan sejak awal mengenai prosedur yang membuatnya dua kali bekerja. Tidak ada tempat untuk berkeluh saat ini. Ia hanya menarik nafas berat sambil memandangi kartu nama yang ia pegang.
Kartu nama yang hanya bertuliskan nama sang editor dan nomer ponsel tanpa foto.
"Rendi Bratadiskara." Gumam Janu yang membaca nama sang editor. Janu mengeluarkan ponselnya dan mengetik nomer itu untuk ia hubungi.
Tuuuttt.... tuuuuttt...!!!
"Halo selamat siang, dengan siapa ini?" Tanya seorang pemuda dengan sangat nyaring dan jelas seperti google voice.
"Se.. selamat siang Pak, saya Janu. Saya tadi baru saja dari kantor penerbit mau menyerahkan naskah, katanya suruh hubungi anda, pak." Ucap Janu sopan.
"Oh... panggil Rendi aja, saya masih muda. Baru dari penerbit ya? Mau mengajukan naskah? Sekarang dimana?"
"Belum jauh sih dari kantor penerbit, saya harus kirim kemana naskah saya ini, Pak? Ma.. maaf maksudnya Mas Rendi."
"Saya shareloc ya, kebetulan posisi saya ngga terlalu jauh dari kantor penerbit. Lagi makan siang di cafe. Kamu anter kesini aja. Buruan saya tungguin."
"I.. iya, Mas."
Janu pun segera membayar minumannya dan bergegas menuju lokasi yang di kirim. Ternyata tidak begitu jauh, hanya sekitar 300 meter dari tempatnya itu. Dengan langkah kaki yang di percepat ia bergegas menuju ke tempat itu. Tak sempat lima belas menit ia sudah sampai di tempat itu.
Ia tolah toleh karena pengunjung cafe itu sangat ramai di jam istirahat siang itu. Ia pun melakukan panggilan telephone untuk memastikan keberadaan sang editor.
Betapa terkejutnya dia saat seorang pemuda melambai dengan wajah di tekuk menatapnya, tatapannya begitu sinis. Ya pemuda itu tidak lain tidak bukan adalah Rendi, pemuda yang mencacinya tempo hari di area parkir auditorium.
Rendi tidak sendirian ia bersama Rina kekasihnya menikmati siomay dan es kopi di bangku ujung cafe itu.
Dengan perasaan ragu ragu Janu menghampiri Rendi dan Rina.
"Si.. siang Mas, Mbak..." sapa Janu berusaha sopan.
"Jadi lu yang mau ajuin naskah itu hah?" Ketus Rendi.
"Iya, Mas. Saya Janu... Mas Rendi editornya ya?"
"Udah sini naskah lu itu! Ngga usah banyak basa basi!" Balas Rendi dengan nada suara tinggi.
"Husstt... apaan sih Ren! Inget aturan kerja lu, siapa pun yang mau ngajuin naskah harus di layani sopan.." sahut Rina tidak suka dengan sikap arogan Rendi.