"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
"gimana?kamu mau nolong aku nggak?"
Dihya, pria itu melotot tak percaya. Mengamati wajah mahiya yang memang terlihat sangat serius. Sejak makan siang pertama kali itu, mereka jadi lebih akrab dan sering makan bareng, dihya dan mahiya sering kelihatan bersama.
"kamu serius mahi?"
"yupss.." angguk mahiya mantap tanpa keraguan sedikitpun.
"cuman kamu yang bisa menolong aku, dihya!"
"ta..tapi, kalau suami kamu marah gimana? trus dia menceraikan kamu gimana?"
"emang itu tujuannya" jawab mahiya tanpa beban, kepalanya yang manggut-manggut, malah membuat dihya semakin keheranan.
"boleh aku tahu alasannya?" tanya dihya hati-hati.
"boleh.." sahut mahiya tenang, matanya menerawang ke atas langit-langit rumah makan, tempat dia dan dihya makan siang.
"tapi, dihya.., kamu harus janji dulu padaku!"
"janji apa?" dihya mengernyitkan keningnya penasaran.
"janji kalau kamu nggak bakalan maksa aku untuk menerima perasaan kamu, bahwa sandiwara ini hanya sekedar sandiwara"
Dihya, Dihya atharrazka. Pria berwajah tampan ke turki-turkian, dengan hidungnya yang mancung berkulit putih dengan bola matanya berwarna ke abu-abuan itu, menatap mahiya tidak percaya.
Sungguh dia tidak menyangka sama sekali kalau mahiya sekejam itu.
Bagaimana bisa gadis ini minta tolong kepadanya untuk berpura-pura jadi pacar, dan tidak melibatkan perasaan, sementara mahiya sendiri tahu betapa dirinya sangat menyukai gadis itu.
Dihya masih terdiam, dia nggak tahu mau ngomong apa, lidahnya berasa kelu.
Beneran dia nggak nyangka kalau mahiya sekejam itu, bagaimana bisa dia menahan perasaannya pada mahiya, 2 tahun sudah dia memendam rasa dihatinya ini.
"kalau kamu nggak bisa janji, aku nggak mau maksa kamu dihya!"
"tunggu.." sambar dihya dengan suara parau
"bukankah lebih nyata, jika kita langsung saja saling menyukai?"
Mahiya menggeleng cepat, wajah cantiknya terlihat datar.
"nggak bisa dihya, aku cuman kepengen lepas dari kael, dan tak ingin terjebak lagi ke dalam hubungan seperti itu"
"tapi ma—"
"kalau kamu nggak mau, aku bisa minta bantuan dari yang lain" sambar mahiya cepat, berdiri dan ingin pergi. Tapi dihya dengan cepat mencekal tangannya, cowok itu kelihatan gusar menatap bola mata indah mahiya kesal.
"aku nggak sangka ternyata kamu sekejam ini mahi!"
Mahiya melengos jengah, tatapan mata dihya membuatnya gerah.
"padahal kamu tahu mahi, aku menyukaimu.."
Dihya masih mencekal pergelangan tangan mahiya, sementara mahiya, gadis itu mulai kelihatan gelisah.
"maaf dihya, kalau begitu aku pergi du—"
"mahi..!"
Kini dihya beneran marah, suaranya terdengar bergetar.
Mahiya menoleh kaget, suara sergahan dihya membuat nyalinya ciut. Beneran dia nggak nyangka cowok selembut dihya bisa marah.
"kamu benar-benar keterlaluan, kamu egois mahi"
Mahiya cuman bisa diam, pergelangan tangannya yang masih di cekal dihya, mulai terasa sakit. Cowok itu mengenggamnya sangat erat.
"aku nggak nyangka sama sekali kamu ternyata kejam..."
Mahiya mendorong cekalan tangan dihya pelan, dia merasa nggak enak hati, nggak nyangka sama sekali reaksi dihya begitu marah.
"maaf dihya, anggap saja kamu nggak pernah mendengar permintaan tolongku tadi.."
Mahiya menyandang tas ranselnya, dia sudah memutar tubuhnya hendak meninggalkan dihya, tiba-tiba ucapan pria itu menahannya.
"kamu bilang apa barusan?" tanya mahiya kurang yakin, dia memicingkan matanya.
"barusan kamu ngomong apa?"
"aku bersedia mahi!, aku mau menolongmu"
Mahiya menggeleng cepat, tangannya juga mengibas tidak setuju.
"anggap aja kamu nggak pernah mendengarnya.."
"nggak bisa.." geleng dihya lesu,
"aku nggak mau kamu minta tolong orang lain, aku janji mahi nggak akan melibatkan perasaanku padamu"
Mahiya menatap lekat mata dihya, seakan dia pengen mencari kejujuran di mata itu. Walau mata itu terlihat sedih, tapi mahiya tahu dihya serius.
"kapan kita ketemuan dengan suamimu?"
Mahiya masih belum bisa menjawab, jujur dia tadi sedikit syok, ucapan-ucapan dihya benar-benar menyentil perasaan dan harga dirinya.
"mahi.. !" panggil dihya menyentakkan mahiya dari lamunannya.
Mahiya berdehem, memecah rasa yang tiba-tiba menggumpal dan menyumbat di tenggorokannya.
"aku cari hari yang tepat dulu yah"
Suara mahiya parau, jelas mahiya merasa sedikit terganggu, dan emang benar dia merasa bersalah pada dihya, ternyata dia benar-benar gadis yang egois dan kejam.
*******
Mahiya meletakkan kopi hangat di depan kael yang sedang menonton berita. Pria itu menoleh, tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih.
Mahiya cuman ngangguk, dia ingin berlalu dari situ, tapi pembicaraannya dengan dihya kemarin, terngiang kembali di pikirannya.
"kak.."
Kael menoleh sekilas, tapi kepala pria itu mengangguk lembut.
"aku ingin bicara!"
Mahiya meremas nampan yang masih di pegangnya, sebenarnya mahiya merasa gugup. Sanggupkah dia mengatakannya pada kael, secara hatinya belakangan ini sering goyah karena pria itu.
"ada apa mahi?"
Kael mendongak, karena mahiya masih berdiri dan tak kunjung duduk.
"anu kak, aku..aku.."
Kael mengernyitkan keningnya heran, kenapa mahiya kelihatan gugup dan gelisah. Hal yang sangat jarang kael temukan dari gadis ini, gugup.
"duduklah..!" perintahnya masih tetap mengamati mahiya.
Gadis itu mengangguk patuh, duduk di sisi kael dan meletakkan nampannya di atas meja.
"nggak terasa kita sudah menikah hampir 6 bulan kak.." ujar mahiya membuka obrolan dengan tenang.
Kael menegakkan tubuhnya, suara mahiya terdengar serius.
"kakak masih ingat kan dengan janji yang kakak buat dulu?"
"janji?" alis kael naik sebelah, pria itu seakan sedang mengingat-ingat janji yang dibuatnya.
"he‐um" angguk mahiya.
"janji saat kita akan mau menikah kak, ingat?"
Jantung kael berdetak kencang, tentu kael ingat. Janji yang dia ucapkan pada mahiya saat memasuki rumah ini, tapi kenapa gadis ini mendadak bertanya tentang janji itu.
Kael mendadak gelisah, jujur dia takut.
"anu kak kael, aku ingin mengenalkan seseorang padamu!"
"deghhhh"
Kael terkesiap, wajah tampannya berubah. Apakah mahiya akan mengenalkan pria yang dia cintai.
Lalu apakah 6 bulan kebersamaan mereka ini tak menghasilkan apapun di hati mahiya, apakah getar-getar itu hanya milik hatinya sendiri.
"seseorang?"
Mahiya mengangguk dan tersenyum manis, wajah cantik dan binar matanya itu menghipnotis kael, kael terpesona tapi juga merasa takut.
"kakak kan pernah janji akan menceraikan aku kalau aku jatuh cinta pada pria lain, dan kakak juga akan menjelaskan hubungan kita ini pada pria itu"
Kael terdiam, denyutan di dadanya terasa lebih kencang, dan sakit. Dia menatap mata mahiya lekat, mencari sesuatu di mata indah itu, tapi mata itu terlihat berbinar indah.
Benarkah dirinya sama sekali tak mampu membuat mahiya menyukainya, ingin rasanya kael meraba dadanya yang terasa sakit, tapi dia menahannya, kael tak mau mahiya tahu perasaannya.
"siapa pria itu?" tanya kael lembut dan tersenyum, nada suaranya tak lagi terkejut. Dia berhasil menutupi reaksi dan nada suaranya, walau sejujurnya kael susah payah menahan rasa sedih yang tiba-tiba menyerang hatinya. Itu.
Mahiya menatap lekat wajah kael, dia belum menjawab, tapi jujur hatinya sangat kecewa melihat reaksi pria itu, terlihat kael menanggapinya biasa-biasa saja.
Bersambung...