Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Letnan Rinto.
Bentakan itu menggema di dalam kamar yang sempit, membuat dinding seakan ikut bergetar. Mata Bang Rinto menyiratkan rasa cemburu dari sebuah kepemilikan yang tak terhapus. Genggamannya di bahu Anye begitu kuat, ia masih terus menuntut jawaban yang tegas.
Tubuh Anye gemetar, air matanya mengalir deras. Hatinya hancur lebur bercampur rasa takut, bersalah, namun di saat yang sama... rindu yang selama ini terpendam kini meledak kembali.
"Anye... Anye mau Abang..." isakan Anye pelan, suaranya pecah.
Tanpa menunggu jawab apapun lagi, Bang Rinto mengangkat tubuh mungil istrinya dan membawanya perlahan menuju ranjang.
Malam itu, waktu seakan mengikhlaskan semua itu terjadi. Di bawah sehelai selimut yang hangat, mereka berpel*h dalam satu t*buh yang penuh ga*rah, rindu, dan juga air mata.
Bang Rinto melampiaskan segala rasa rindu, rasa sakit di hatinya. Rasa cemburu juga begitu kuat karena melihat wanita yang dicintainya kini menjadi milik orang lain. Ia melakukannya dengan penuh hasratt seorang laki-laki yang merebut kembali haknya, namun di setiap sentuhannya masih tersisa kasih sayang dan kelembutan. "Saya akan buat kamu melupakannya..!!"
"Abaang..." rintih Anye di sela-sela tangis dan hal berbeda yang baru kali ini dirasakannya, tangannya mencengkeram kuat punggung suaminya. "
"Bang Rinto semakin hilang kendali, ia membisikkan kata-kata yang membuat hati Anye bergetar hebat. "Tidak setiap saat kita bisa bertemu, biar malam ini saya lepaskan semua. Hanya dengan adiknya Al ada di rahim mu, kamu bisa kembali sama saya." Nafas Bang Rinto sudah tak beraturan, tubuhnya sudah tak karuan. "Berikan salah satu maafmu dari perjanjian besar kita..!!"
"Tapii.. Anye takutt..!!!!"
Bang Rinto tak peduli, pertahanan dirinya roboh total, ia memeluk Anye semakin erat hingga akhirnya ia menumpahkan segala rasa yang selama ini ia tahan kuat.
Anye pun terisak saat menyadari apa yang terjadi di dalam pelukan Bang Rinto yang masih menggelinjang menuntaskannya.
"Apa harus seperti ini caranya??? Abang cinta sama Anye atau tidak??" Tanya Anye.
Mendengarnya, Bang Rinto kembali membuang nafas panjang. "Abang hampir mati di jalan, masih sempatnya kau tanya begini."
"Anye beneran takut, Bang. Abang pasti tanggung jawab, kan??" Tanya Anye lagi.
Tatap mata Bang Rinto kini seolah hendak menelan Anye hidup-hidup.
"Tanggung jawab????"
Suara Bang Rinto berat, rendah, namun setiap katanya terucap jelas dan bernada tegas.
"Selama nama Rinto masih tersemat di dalam dadamu dan nyawa masih bersatu dengan raga di dunia, pernyataan seperti itu tidak perlu ditanyakan."
Bang Rinto mengecup kening Anye cukup lama, ia lalu berbisik dengan penekanan penuh kewibawaan.
"Saya jamin, saya sudah mengambil jalan ini. segala sesuatunya sudah saya atur. saya sendiri yang akan memikulnya. Tidak ada yang perlu kau takutkan selain Tuhan. Karena mulai detik ini, resiko apa pun yang datang, saya yang akan hadapi sepenuhnya."
Anye berkedip-kedip mendengarnya. Pikirannya masih terasa buntu.
"Suamimu ini bukan b*****t yang lari setelah menikmati wanitanya. Lagipula, saya juga punya harga diri, saya tidak sedang mengobral senjata perang dengan sembarangan. Hanya satu wanita yang boleh menikmatinya, kamu.. Hanya kamu..!!"
Anye terpana, hingga serasa tidak sadar saat Bang Rinto kembali mengecup bibirnya.
***
"Alhamdulillah, Rinto bisa tidur semalaman. Mungkin karena kecapekan di jalan." Gumam Bang Ronald.
"Siap, saya juga bisa bernafas lega, Dan." Jawab Prada Tegar tak kalah tenang.
Tak lama Bang Rinto membuka matanya, ia kaget melihat ada ajudan dah sahabatnya disana.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu??" Tanya Bang Rinto.
"Ng_gak.. Nggak ada apa-apa. Senang saja ternyata kamu sudah sadar. Dari selesai sholat isya kemarin, kamu langsung tidur. Kalau begitu ayo kita sholat subuh dulu. Nanti usai apel, kita menghadap Bang Rico.
...
Matahari mulai menyelinap masuk melalui celah gorden. Suara burung berkicau membangunkan suasana.
Anye terbangun dengan tubuh terasa lemas namun hati penuh warna. Ia menoleh ke samping, ranjangnya sudah kosong. Bang Rinto sudah tidak ada di sana. Hanya tersisa bantal yang masih lekat dengan aroma tubuh pria itu, aroma itu masih tertinggal kuat di seprei, sebagai bukti bahwa semuanya bukan mimpi.
Anye memeluk selimut yang menutupi tubuhnya, wajahnya memerah padam antara rasa malu, bahagia, dan cemas yang luar biasa. Tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri.
'Seliar ini Abang menginginkan seorang anak. Jadi, bagaimana dulu Abang menghadirkan Al?? Aku bingung, aku tidak pernah merasakannya.'
Pintu kamar terbuka pelan.
"Nyenyak sekali tidurnya, sampai nggak tau Abang pulang." Sapa Bang Ali. "Ini.. Makan dulu sarapanmu. Hari ini kan tepat satu bulan Al lahir, kita do'a bersama ya..."
Suara lembut dan penuh kasih sayang Bang Ali kini terdengar begitu menyakitkan. Pria itu masuk membawa wajah ceria, dengan nampan berisi makanan, sama sekali tidak tau bahwa badai besar baru saja terjadi di rumahnya sendiri, dan rahasia besar itu kini sedang tersimpan di dalam hati dan raga istrinya.
Anye menunduk, tak berani menatap wajah Bang Ali. Jantungnya berdegup seakan hendak melompat saking takutnya.
Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Anye teramat sangat takut... bukan pada suami yang ada di hadapannya sekarang, melainkan pada sosok 'suami pertamanya' yang kini telah kembali, Bang Rinto. Ia takut membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, dan bagaimana ia harus menyembunyikan insiden malam ini, selamanya.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu