Yan Jian— seorang generasi muda yang awalnya terlahir tanpa memiliki Roh Bela Diri bawaan, kini bangkit sebagai Generasi Muda terkuat di Provinsi Chang Yuan.
Setelah melakukan pertarungan panjang yang melelahkan waktu, menepati janji, menorehkan prestasi, hingga dirinya disebut Generasi Muda nomor satu di Provinsi Chang Yuan.
Yan Jian bersama sembilan Generasi Muda perwakilan Provinsi Chang Yuan lainnya berangkat menuju Kota Kekaisaran, tempat Kompetisi terbesar di salah satu Kekaisaran Wilayah Timur. Namun di wilayah timur besar, Provinsi Chang Yuan di anggap sebagai debu berjalan, karena setiap kompetisi, provinsi Chang Yuan selalu menjadi yang terlemah dan selalu berada di peringkat paling rendah.
Mampukah Yan Jian bersama rekan-rekannya mengangkat dan mengharumkan Provinsi Chang Yuan di Kompetisi terbesar Kekaisaran Api Agung itu? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PKT 2: Chapter 19
Akhirnya, Yan Jian pun telah sadarkan diri, membuat Peri Yun Xi yang sangat merasa bahagia dengan Yan Jian yang akhirnya sadarkan diri. Bahkan, mereka sampai tak sempat mengantar ke depan pintu ketika Yao Qingyu dan juga Yao Zhetian hendak pergi kembali.
Peri Yun Xi tak bisa menahan diri lagi. Saat mata Yan Jian terbuka tipis dan namanya terucap dengan suara serak yang lemah itu, hati yang selama empat hari penuh pilu tiba-tiba meledak seperti api yang tak terkendali. Air matanya yang masih basah di pipi tak lagi dari kesedihan, tapi dari kebahagiaan yang meluap-luap. Dengan gerakan cepat seperti angin musim semi yang tiba-tiba datang, ia melompat dari posisinya di tepi ranjang, langsung memeluk tubuh Yan Jian yang masih lemah itu erat-erat, seolah takut kehilangan lagi.
"Jian! Suamiku!" serunya pelan, suaranya bergetar penuh emosi, wajahnya menempel di dada Yan Jian. Tubuhnya yang ramping menekan tubuh Yan Jian dengan lembut tapi penuh kebahagiaan, tangannya memeluk pinggangnya seolah ingin menyatukan jiwa mereka. Aroma wangi bunga salju dari tubuh Peri Yun Xi bercampur dengan bau obat-obatan di kamar itu, menciptakan suasana yang hangat dan intim. Ia tak peduli jika pelukannya terlalu kuat untuk kondisi Yan Jian yang baru sadar; yang penting, dia hidup, dia kembali.
Dan Yan Jian, meski tubuhnya masih lemah dan energi Spiritualnya belum pulih sepenuhnya, merasakan kehangatan itu seperti obat mujarab. Matanya yang kabur mulai fokus, dan dengan tenaga yang tersisa, ia mengangkat tangan kanannya, memeluk balik pinggang Peri Yun Xi. "Yun Xi... aku... merindukanmu." gumamnya pelan, suaranya penuh rindu yang selama ini tertahan di alam bawah sadarnya. Selama empat hari tak sadar, mimpi-mimpinya penuh dengan wajah dingin tapi lembut Peri Yun Xi, bagaimana ia merawatnya, bagaimana bibirnya menyentuh bibirnya saat memberi makan, bagaimana tangannya menyeka tubuhnya dengan penuh kasih. Semua itu membuat rindu Yan Jian meledak begitu ia tersadar. Ia menarik tubuh Peri Yun Xi lebih dekat, jari-jarinya menyusuri punggungnya pelan, seolah melepaskan semua kerinduan yang selama ini terpendam.
Peri Yun Xi mengangkat kepala, matanya yang indah berbinar-binar bertemu dengan mata Yan Jian. Wajahnya memerah, tapi bukan karena malu, karena kebahagiaan yang tak bisa untuk diungkapkan dengan kata-kata. "Aku juga... aku takut kehilanganmu, Jian. Jangan pernah lagi buat aku menunggu seperti ini!" katanya dengan suara bergetar, air mata bahagia mengalir lagi. Saking bahagianya, kendali diri Peri Yun Xi yang biasanya dingin dan anggun pun lepas. Tanpa pikir panjang, ia membidik bibir Yan Jian dengan penuh gairah, menciumnya dalam-dalam seperti orang haus yang akhirnya menemukan sumber air. Bibirnya yang lembut dan hangat menekan bibir Yan Jian, lidahnya menyusup pelan, mengeksplorasi dengan penuh hasrat yang selama ini ia tahan.
Ciuman itu bukan sekadar ciuman, itu adalah ungkapan cinta, rindu, dan janji abadi. Tangan Peri Yun Xi naik ke leher Yan Jian, menariknya lebih dekat, sementara tubuh mereka saling menempel, auranya yang biru samar mulai bercampur dengan spiritualitas Yan Jian yang mulai bangkit.
Yan Jian tak menolak; malah ia balas ciuman itu dengan semangat yang sama, meski napasnya masih tersengal. Tangan kirinya menyusuri rambut panjang Peri Yun Xi, meremasnya pelan, seolah ingin merasakan setiap helai rambutnya sebagai bukti bahwa ini nyata. Mereka berdua tenggelam dalam momen itu, dunia luar seolah lenyap. Hujan di luar jendela masih deras, tapi di dalam kamar, hanya ada hembusan napas mereka yang semakin cepat, detak jantung yang saling berdetak, dan kehangatan yang membara seperti api suci yang tak bisa dipadamkan.
Sementara itu, Yao Qingyu dan Yao Zhetian, yang tadinya hendak pamit, hanya bisa saling pandang dengan senyum kecil. Mereka tahu apa yang sedang terjadi di balik pelukan dan ciuman itu. Tanpa menunggu diantar ke depan pintu, keduanya diam-diam keluar dari kamar, menutup pintu dengan pelan agar tak mengganggu. "Sepertinya mereka butuh waktu sendiri," bisik Yao Zhetian pada saudaranya. Yao Qingyu hanya mengangguk, matanya menyimpan sedikit iri tapi juga kelegaan. Mereka berdua meninggalkan penginapan tanpa suara, membiarkan pasangan itu melepaskan rindu yang selama empat hari terpisah oleh kegelapan. Namun, di dalam hatinya, Yao Qingyu merasakan sesuatu yang aneh, mungkin perasaan itu telah tumbuh seiring kebersamaan mereka di Lembah Api Gerbang ke dua.
Di dalam kamar, ciuman Peri Yun Xi semakin dalam, tubuhnya bergeser naik ke atas ranjang, menindih Yan Jian dengan lembut.
"Jangan pernah tinggalkan aku lagi," gumamnya di antara ciuman, suaranya penuh hasrat. Yan Jian tersenyum di balik bibir mereka yang saling menempel, tangannya turun ke pinggul Peri Yun Xi, memeluknya lebih erat. "Aku janji, Xi'er. Selamanya... bersamamu."
Momen itu berlangsung lama, penuh cinta dan kebahagiaan yang meluap, hingga akhirnya Yan Jian mulai merasakan kelelahan kembali. Peri Yun Xi mundur pelan, masih memeluknya, tapi kini dengan lebih hati-hati. "Istirahatlah dulu... aku akan menjagamu malam ini." matanya penuh kasih sayang, dan Yan Jian hanya bisa mengangguk, mata mereka saling terkunci dalam janji diam yang lebih kuat dari kata-kata apa pun. Tapi di luar sana, masih ada pertarungan yang masih menanti mereka untuk tampil.
Keesokan harinya, hari kelima sejak Kompetisi tahap pertama selesai.
Cahaya pagi yang lembut menyelinap melalui celah-celah jendela bambu di kantin penginapan Bulan Purnama Teratai. Aroma nasi kukus hangat bercampur dengan wangi daun teh hijau gunung dan hembusan dingin dari arak embun pagi berusia seribu tahun yang dituangkan ke dalam lima cawan giok kecil di atas meja bundar. Arak itu bercahaya keemasan samar, seperti embun yang membeku di puncak salju abadi, minuman langka yang biasanya hanya disajikan di pesta klan besar, tapi pagi ini terasa lebih seperti obat penenang jiwa daripada minuman perayaan.
Di sekeliling meja duduk lima orang yang tersisa dari perwakilan Provinsi Chang Yuan: Chang Ge, wajahnya tenang tapi matanya menyimpan beban berat. Nangong Yuxin, duduk tegak dengan sikap anggun, tapi jari-jarinya sesekali mengetuk-ngetuk meja pelan. Xiao Yu'er, yang biasanya paling cerewet, kini hanya menatap mangkuknya dengan pandangan kosong. Peri Yun Xi, duduk rapat di samping Yan Jian, tangan kirinya tak pernah lepas dari lengan kekasihnya sejak mereka turun dari kamar tadi pagi. Dan Yan Jian, masih pucat tapi sudah bisa duduk tanpa sandaran. Jubah hitamnya sedikit longgar di tubuh yang belum sepenuhnya pulih, tapi matanya sudah kembali tajam, meski lelah.
Mereka makan dalam diam yang tegang, hanya terdengar suara sumpit menyentuh porselen dan hembusan angin pagi yang membawa aroma bunga persik dari kebun belakang. Sampai akhirnya Chang Ge meletakkan sumpitnya pelan, tatapannya tertuju ke cawan arak di depannya.
"Hua Shi Wang, Lin Zun, Ma Wei, dan Du San..." suaranya rendah, berat seperti batu yang jatuh ke danau sunyi. "Mereka gugur di tahap pertama kompetisi. Bahkan tubuh mereka hancur lebur, menurut informasi yang aku dapatkan dari para peserta di setiap gerbang yang mereka masuki."
Kata-kata itu menggantung di udara seperti kabut dingin. Xiao Yu'er menunduk dalam, matanya berkaca-kaca tapi ia menahannya. Nangong Yuxin menghela napas pelan, tangannya meremas ujung lengan baju birunya hingga kusut. Peri Yun Xi meremas lengan Yan Jian lebih erat, jarinya dingin meski pagi ini hangat.
Yan Jian menatap Chang Ge lama, lalu bertanya dengan suara yang masih serak tapi penuh keteguhan. "Lalu bagaimana dengan Senior Feng Xian?" tanya Yan Jian.
Chang Ge mengangkat bahu tipis, ekspresinya sulit dibaca, campuran antara kecewa dan kewaspadaan.
"Entahlah. Aku melihatnya pergi bersama Tuan Putri Huo Xu setelah pertarungan selesai. Mereka berdua menghilang ke arah paviliun pribadi Kaisar, diiringi pengawal elit berjubah merah darah. Sejak itu, tak ada kabar lagi. Dan dari apa yang kudengar dari bisik-bisik di pasar gelap beberapa hari terakhir, sepertinya dia ingin berkhianat pada kita."
Kata berkhianat itu jatuh seperti pisau, menusuk hati semua orang yang ada di meja.
Xiao Yu'er akhirnya angkat bicara, suaranya kecil tapi gemetar.
"Dasar manusia tidak tahu diri! Tidak terima dikalahkan oleh adikku, dia malah ingin membelot pada provinsinya sendiri!" ucap Xiao Yu'er dengan nada yang kesal.
Nangong Yuxin menatap ke luar jendela, suaranya dingin.
"Mungkin karena dia tahu kita tak punya peluang lagi. Empat orang mati, Yan Jian hampir tak selamat, Provinsi Chang Yuan sekarang hanya tinggal kita berlima. Mungkin dia memilih bertahan hidup daripada mati sia-sia." ujar Nangong Yuxin.
Peri Yun Xi mendengus pelan, auranya biru samar meledak sejenak sebelum ia menahannya.
"Bertahan hidup dengan mengkhianati saudara sendiri? Itu bukan bertahan, itu pengecut."
Yan Jian diam sejenak, matanya menatap cawan arak di depannya. Lalu ia angkat bicara, suaranya tenang tapi penuh tekad.
"Jika benar dia berkhianat... maka kita harus siap menghadapinya di babak kedua. Aku tak akan membiarkan nama Provinsi Chang Yuan tercoreng karena satu orang yang memilih jalan mudah."
Chang Ge mengangguk pelan. "Babak kedua tinggal tiga hari lagi. Musuh-musuh mu pasti sudah tahu kondisimu, Yan Jian. Jika mereka ingin pembersihan total, mereka bisa saja membantai kita dengan alasan apa pun. Atau lebih buruk... mengirimkan orang-orangnya untuk mengakhiri kita sebelum kompetisi dimulai."
Suasana menjadi hening lagi. Arak embun pagi yang seharusnya menyegarkan kini terasa seperti darah dingin di lidah.
Xiao Yu'er mengangkat cawannya pelan, matanya basah tapi tegas.
"Untuk mereka yang sudah pergi... Hua Shi Wang, Lin Zun, Ma Wei, Du San. Dan untuk kita yang masih di sini. Kita minum, bukan untuk merayakan, tapi untuk mengingat bahwa kita masih bernapas, masih bisa bertarung."
Yang lain mengangkat cawan. Bahkan Peri Yun Xi, meski tangannya gemetar, ikut mengangkat. Yan Jian menuangkan arak ke cawannya sendiri, lalu menuangkan sedikit lagi ke cawan Peri Yun Xi dengan gerakan lembut.
"Untuk kita," ucap Yan Jian pelan. "Dan untuk balas dendam jika memang harus."
Mereka meneguk bersama. Rasa arak itu dingin menusuk tenggorokan, tapi membakar dada dengan tekad yang baru lahir.
Peri Yun Xi menoleh ke Yan Jian, matanya penuh kekhawatiran tapi juga cinta yang dalam. Ia menyandarkan kepalanya pelan di bahu kekasihnya, berbisik hanya untuk Yan Jian.
"Kau harus pulih sepenuhnya. Aku tak mau kau pergi ke medan perang dalam kondisi seperti ini."
Yan Jian tersenyum kecil, tangannya meraih tangan Peri Yun Xi di bawah meja, jari mereka saling bertaut erat.
"Aku tak akan pergi sendirian, Yun Xi. Kita hadapi bersama apa pun yang datang dari istana, dari Feng Xian, atau dari Kaisar sendiri."
Di luar jendela, angin pagi bertiup lebih kencang, membawa aroma darah dan api yang samar dari arah Istana Kekaisaran. Tiga hari lagi... dan badai babak kedua akan benar-benar dimulai.