NovelToon NovelToon
Shen Yu Jalan Melawan Langit

Shen Yu Jalan Melawan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.

Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Undangan Puncak Darah

Surga Pertama - Penjara Bawah Tanah Kota Patahan Es.

Udara di dalam sel penjara baja itu membeku, namun bukan karena hawa dingin dari badai Kalpa di luar sana. Kebekuan ini berasal dari niat membunuh yang begitu pekat hingga membuat hukum ruang di sekitarnya terdistorsi.

Utusan Yan, seorang ahli di batas Dewa Fana Tahap Puncak, merasakan jantungnya berhenti berdetak. Tangan kiri Shen Yu yang mencengkeram lehernya tidak memancarkan Qi yang meledak-ledak. Tangan itu memancarkan kehampaan mutlak.

Di belakang Utusan Yan, dua pengawalnya yang berada di Dewa Fana Tahap Menengah tersadar dari keterkejutan mereka. Mereka menghunus pedang lengkung bergigi gergaji dan menerjang ke arah Shen Yu.

"Lepaskan Utusan Yan, Anjing Fana!" raung salah satu pengawal.

Shen Yu bahkan tidak menoleh.

Dari posisi duduknya, Lin Xue melesat bagaikan sehelai kelopak bunga yang tertiup angin mematikan. Pedang es teratainya tidak lagi memancarkan cahaya yang mencolok. Ia telah belajar menyembunyikan mematikan di balik keanggunan.

Tring! Sraaat!

Hanya terdengar dua suara gesekan halus. Dua pengawal itu mendadak kaku di tengah udara. Garis merah tipis muncul di leher mereka secara bersamaan. Sedetik kemudian, kepala mereka tergelincir jatuh dari bahu, menyisakan tubuh yang roboh membeku ke lantai batu.

Lin Xue mengibaskan darah dari pedangnya dengan gerakan yang sangat rapi, menatap mayat-mayat itu tanpa emosi.

Utusan Yan membelalakkan matanya melihat dua pengawalnya mati dalam satu tarikan napas oleh seorang wanita yang tampak rapuh. Kesombongannya langsung runtuh. Dia mencoba mengalirkan energi panas dari Dantian-nya untuk membakar tangan Shen Yu.

"M-Mati kau!" Utusan Yan menggeram, kulitnya berubah merah membara.

Namun, panas itu padam seketika saat menyentuh kulit Shen Yu. Dao Ketiadaan melahap elemen api tersebut seolah meminum setetes air di padang pasir.

"Panas yang menyedihkan," bisik Shen Yu, meremas leher Utusan Yan lebih erat hingga tulang rawan pria besar itu berderit mengerikan. "Di duniaku, ada seekor burung yang apinya seribu kali lebih membakar dari ini. Sekarang, berlututlah."

Shen Yu menendang lutut Utusan Yan. Pria kekar itu jatuh berlutut dengan suara dentuman keras, mematahkan tempurung lututnya sendiri di atas lantai es. Jeritan tertahan keluar dari tenggorokannya yang tercekik.

Di ambang pintu sel, Mo Han mundur selangkah, menempelkan punggungnya ke dinding besi. Budak tua itu gemetar melihat bagaimana utusan yang biasa menindasnya kini diperlakukan seperti serangga.

"Siapa... siapa kau sebenarnya?!" Utusan Yan terengah-engah, darah menetes dari sudut bibirnya. "Jika kau membunuhku, Aliansi Asal Leluhur akan memburumu! Raja Dewa Ye tidak akan membiarkan—"

KRAK.

Shen Yu mematahkan lengan kanan Utusan Yan dengan gerakan santai. Jeritan pria itu bergema di penjara bawah tanah, namun tidak ada penjaga yang akan datang menolongnya.

"Aku tidak bertanya tentang Raja Dewa Ye," Shen Yu berjalan memutari Utusan Yan, menatapnya dari atas. "Aku bertanya: Apa langkah Aliansi selanjutnya? Apa rencana mereka dengan Ladang Pil dan kayu bakar yang mereka panen?"

"Aku tidak akan bicara! Pelarian kotor sepertimu tidak akan selamat di Surga Pertama!"

Mata hitam legam Shen Yu sedikit menyipit. "Kesetiaan yang mengagumkan."

Shen Yu menempelkan ujung jarinya ke bahu Utusan Yan yang sudah patah. Api hitam legam Api Ketiadaan merambat masuk ke dalam meridian pria itu. Itu bukan rasa sakit fisik biasa. Api itu menghapus ingatan otot, melumat hukum alam yang telah dipadatkan Utusan Yan selama ratusan tahun kultivasi, dan secara harfiah menghapus esensi keberadaannya secara perlahan.

"AAAAAARGHH!" Utusan Yan meronta-ronta dengan gila, air matanya membeku di pipi. Rasanya seperti jiwanya sedang dikuliti sehelai demi sehelai.

"Aku bisa mengupas keberadaanmu sampai kau bahkan tidak ingat namamu sendiri, apalagi nama rajamu," bisik Shen Yu, suaranya sedingin badai kosmik. "Bicara."

"B-Bicara! Aku bicara!" jerit Utusan Yan, mentalnya hancur total dalam hitungan detik.

Shen Yu menarik jarinya, menghentikan penyiksaan itu tepat sebelum Dantian Utusan Yan hancur.

Sambil terengah-engah dan menangis, Utusan Yan menatap lantai es yang berlumuran darahnya sendiri. "T-Tiga hari lagi... ada Perjamuan Bulan Darah di Puncak Darah... wilayah pusat Aliansi di Surga Pertama."

"Untuk apa perjamuan itu?"

"S-Setiap seratus tahun... Aliansi mengumpulkan seluruh 'kayu bakar' berkualitas dan Kristal Dao dari seluruh penjuru Surga Pertama. Kami... kami melelang budak dan tungku kultivasi kepada utusan dari Surga Kedua dan Ketiga, menukarnya dengan Pil Penunda Kehancuran dan artefak purba."

Lin Xue mengepalkan tangannya kuat-kuat. Perdagangan manusia dalam skala kosmik. Nyawa para kultivator fana yang berjuang mati-matian menembus langit, hanya untuk dijual sebagai Qi hidup.

"Raja Dewa Ye akan hadir?" tanya Shen Yu.

"T-Tidak... Raja Dewa Ye berada di Surga Ketiga. Tapi... komandan tertingginya di Surga Pertama, Jenderal Serigala Besi, akan memimpin lelang tersebut. Jenderal itu baru saja menerima perintah langsung untuk mencari dua anomali dari Alam Bawah... pria bersabit dan wanita teratai..."

Utusan Yan menelan ludah, matanya menatap liar ke arah pedang teratai di tangan Lin Xue, baru menyadari siapa yang sebenarnya ada di depannya.

"K-Kalian... kalian adalah buronan utama Pengadilan Langit..."

"Kecerdasanmu datang terlambat," Shen Yu melepaskan cengkeramannya dari bahu pria itu. Dia menoleh ke arah Mo Han yang masih mematung di pintu. "Mo Han, apakah kau memiliki peta menuju Puncak Darah?"

"H-Hamba punya, Tuan Shen," jawab Mo Han buru-buru. "Tapi tempat itu dijaga oleh formasi pertahanan tingkat tinggi. Hanya utusan yang memiliki Token Darah yang bisa melewati pelindungnya."

Shen Yu menatap Utusan Yan. Tanpa peringatan, tangan kanannya melesat menebas udara.

SRAK.

Kepala Utusan Yan terlepas dari tubuhnya, mengakhiri hidup pria arogan itu dalam diam. Dari jari mayat yang perlahan membeku itu, Shen Yu menarik sebuah cincin penyimpanan dan melepaskan sebuah plakat giok merah yang menggantung di pinggangnya. Token Darah.

Shen Yu melemparkan token itu ke atas dan menangkapnya.

"Formasi pelindung hanya mengenali token, bukan pemegangnya," kata Shen Yu santai. Dia menatap Lin Xue. "Kau ingat bagaimana kita menyusup ke Sekte Pedang di dunia fana dulu?"

Lin Xue tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini lebih banyak mencerminkan ketajaman sang tiran. "Kita masuk melalui pintu depan, sebagai tamu kehormatan."

"Tepat," Shen Yu beralih menatap Mo Han. "Mo Han, kau akan tetap di kota ini. Gunakan Kristal Dao dari perbendaharaan penguasa lama untuk memperkuat Formasi Pelindung Kota. Jika ada patroli Kuil Pedang Salju Pucat yang mendekat, gunakan jaring terowongan bawah tanah kota untuk menyembunyikan pasukanmu. Saat aku kembali, aku ingin kota ini sudah menjadi benteng yang siap menahan pengepungan."

Mo Han membungkuk hormat, menempelkan dahinya ke lantai yang dingin. "Hamba mengerti, Tuan Shen! Nyawa hamba adalah milik kota ini!"

Shen Yu memasukkan cincin penyimpanan Utusan Yan ke dalam saku jubah peraknya. Dia berjalan menghampiri Lin Xue, membersihkan sepercik darah musuh dari pipi gadis itu dengan ibu jarinya.

"Puncak Darah," gumam Shen Yu. "Ribuan kultivator Aliansi, kekayaan Kristal Dao dari seluruh Surga Pertama, dan artefak purba untuk dijarah. Tempat yang sempurna untuk menerobos batas Dewa Fana ini."

"Dan tempat yang tepat untuk membebaskan mereka yang masih memiliki tulang punggung dari pelelangan itu," tambah Lin Xue, matanya memancarkan tekad yang kokoh.

"Kita ambil kekayaannya, kita bunuh Jenderalnya, dan kita bakar panggung lelang mereka hingga menjadi abu," Shen Yu menyeringai.

Kaisar Malam tidak pernah puas hanya dengan bertahan hidup. Jika Alam Atas ini menganggap mereka sebagai hama, maka ia akan menjadi hama yang memakan akar dari Pohon Dunia mereka.

Keduanya berjalan keluar dari penjara bawah tanah, meninggalkan Mo Han dengan mayat-mayat utusan Aliansi. Badai di luar masih melolong, namun di dalam dada dua pelarian itu, sebuah badai yang lebih mematikan sedang bersiap untuk meledak.

1
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka...
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Bambang Widono
👍👍🙏🙏🙏🙏💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏
Bambang Widono
mantab lanjut Thor 👍👍💯💯💯💯👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
aleena
semua karyamu pasti bagus bagus
💪💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih 🙏
total 1 replies
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!