NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Cerai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.

Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.

Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.

Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pahlawan Sebenarnya

Hans berbicara tanpa ekspresi. Tatapannya tajam dan membuat suasana mendadak mencekam.

“Hahaha!” Donio terbahak.

Para pengawal di belakangnya ikut tertawa. Mereka memandang Hans seperti orang bodoh.

“Bocah, kamu tahu gak aku siapa? Berani banget kamu ngomong kayak gitu ke aku,” ujar Donio sombong.

“Aku gak tau kamu siapa, dan aku juga gak peduli. Tiga detik buat lepasin dia. Kalau gak .…” kata Hans datar.

Ucapannya langsung membuat suasana ricuh. Bahkan orang-orang yang sedang menahan Tiffany pun terkejut.

Tak ada yang menyangka Hans berani berkata seperti itu. Dibandingkan Othan yang diam seribu bahasa, keberanian Hans mencolok.

Namun keberanian saja belum tentu cukup.

“Kamu bener-bener cari mati. Kamu bakal nyesel!” Wajah Othan dipenuhi rasa kesal.

“Kamu udah gila ya?” Donio menatap Hans dari atas sampai bawah. “Mau jadi pahlawan? Oke. Kita lihat seberapa hebat kamu.”

Dia mengangkat tangan memberi isyarat.

Dua pengawal bertubuh besar langsung maju bersamaan menerjang Hans. Keduanya tinggi besar, berotot, tubuhnya seperti beruang. Aura mereka mengintimidasi.

Dibandingkan mereka, Hans tampak jauh lebih kecil. Semua orang mengira pertarungan itu akan selesai dalam sekejap.

Mereka salah.

Saat dua pria itu mendekat, Hans melayangkan dua pukulan cepat.

Dua suara benturan keras terdengar hampir bersamaan.

Sekejap kemudian, kedua pria bertubuh besar itu ambruk ke lantai seperti tersambar petir, tak bergerak sama sekali.

“Hah?”

Semua orang terpaku.

Tak ada yang benar-benar melihat apa yang terjadi. Dalam sekejap, dua pengawal itu sudah terkapar. Sementara Hans berdiri tanpa luka sedikit pun.

“Sial! Barusan dia ngapain?” Wajah Donio langsung berubah.

Dua orang tadi adalah pengawal terbaiknya. Biasanya mereka bisa menghadapi beberapa orang sekaligus tanpa kesulitan.

Namun kini mereka tergeletak tak berdaya hanya dalam satu serangan.

“Ini kesempatan terakhir kamu. Lepasin dia,” ancam Hans dingin.

“Mimpi kamu!” bentak Donio. “Hajar dia!”

Sisa pengawal langsung mengepung Hans.

Hans hanya mendengus pelan dan bergerak lebih dulu.

Gerakannya cepat, hampir tak terlihat. Setiap pukulannya tepat sasaran dan terdengar jelas saat mengenai tubuh lawan.

Pengawal-pengawal bertubuh besar itu tak berkutik. Di hadapan Hans, mereka seperti domba di depan harimau.

Dalam hitungan detik, satu per satu tumbang ke lantai.

Saat pengawal terakhir jatuh dengan suara keras, seluruh aula mendadak sunyi.

Para tamu terpaku, menatap Hans dengan mata terbelalak. Tak ada yang menyangka pria itu sekuat itu.

Dia menjatuhkan begitu banyak orang sendirian, seperti adegan film.

“Gimana bisa dia sekuat itu?” Othan menatap tak percaya.

“Ini beneran Hans Rinaldi yang itu?” gumam Rachel, masih linglung.

“Dia … bisa berkelahi?” Tiffany akhirnya tersadar, wajahnya sulit ditebak.

Tiga tahun menikah, dia tak pernah tahu Hans punya kemampuan seperti ini.

Apa dia memang pandai menyembunyikannya?

Atau selama ini dia tak pernah benar-benar peduli untuk melihat?

“K-kamu … siapa sebenarnya?” Donio mulai panik dan tanpa sadar mundur dua langkah.

“Aku … akhir dari masalah kamu,” jawab Hans pelan sambil melangkah mendekat.

“Mundur!” teriak Donio sambil tiba-tiba mengeluarkan pisau lipat dan menempelkannya ke leher Tiffany. “Kamu maju selangkah lagi, aku gorok dia!”

Wajah Hans langsung mengeras.

“Aku paling gak suka diancam.”

Dalam sekejap dia menerjang maju dan mencengkeram pergelangan tangan Donio yang memegang pisau.

Dengan satu puntiran kuat, pisau itu terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring.

Donio terpaku sesaat, lalu menjerit melengking seperti babi disembelih.

“Argh—”

“Diam.”

Sebelum teriakannya keluar sepenuhnya, Hans sudah menampar wajahnya.

Ekspresi Donio langsung berubah masam, seperti baru menelan sesuatu yang menjijikkan.

“Kamu ... kamu mati! Kalian semua mati!” Donio masih sempat mengancam, berusaha mengumpulkan keberanian.

“Gitu?” tanya Hans datar, lalu menendangnya sampai terjatuh.

Melihat itu, Tiffany segera berdiri di depan Hans, menghalanginya.

“Berhenti! Kamu gak boleh nyakitin dia. Akibatnya bakal parah!”

“Aku gak peduli,” jawab Hans dingin.

“Tapi aku peduli!” Wajah Tiffany tegang. “Kamu sadar gak kalau kita semua bakal kena dampaknya kalau kamu mukul dia?”

Hans mengernyit.

Dia sempat mengira Tiffany mengkhawatirkan dirinya. Ternyata yang dia pikirkan justru keselamatan mereka sendiri.

“Udah cukup, Hans! Jangan seret-seret kita!” seru Rachel.

“Bener! Kamu udah bosan hidup ya berani nyentuh Tuan Langodai!” sahut Othan. Dia buru-buru membantu Donio berdiri. “Kami gak ada hubungannya sama Hans Rinaldi yang tadi memukulmu, Tuan Langodai.”

Kalimat itu bukan hanya untuk lepas tangan, tapi juga jelas menyalahkan Hans.

Hans menyipitkan mata. Dadanya terasa sesak. Dia tadi bergerak demi menyelamatkan Tiffany, tapi sekarang justru dianggap biang kerok.

Sulit baginya untuk tidak merasa kecewa.

“Bocah! Jago berantem? Terus kenapa!” Donio, yang salah mengira diamnya Hans sebagai ketakutan, kembali percaya diri. “Aku kasih tau ya, di dunia ini yang penting itu kuasa dan status. Coba aja kamu sentuh aku lagi. Aku pastiin hidupmu tamat dengan tragis!”

Hans tetap diam, tetapi kemarahan terlihat jelas di matanya.

“Kenapa? Takut?” Donio menyeringai. “Kalau kamu gak punya nyali, taruh lutut kamu ke lantai sekarang. Tunduk sama aku. Siapa tau aku lagi baik hati dan aku maafin.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!