bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.
Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13.PELATIHAN DAN TUGAS YANG MEREPOTKAN
Distrik 7 Aethelgard bukanlah tempat yang ramah bagi hidung kaum bangsawan. Aroma jerami basah, besi berkarat, dan debu memenuhi udara pagi yang dingin. Di sudut distrik ini, terdapat sebuah barak tua yang dipinjamkan oleh petugas pendaftaran kepada Arka dan ketiga muridnya, sebuah bangunan kayu dengan atap bocor yang seharusnya hanya menjadi tempat persinggahan sementara sebelum mereka terusir.
Namun pagi ini, sebuah kereta kuda hitam dengan lambang sayap perak kerajaan berhenti di depan gerbang kayu barak yang miring. Komandan Alaric turun tanpa pengawalan ketat. Ia mengenakan jubah kasual, namun wibawa seorang Ksatria Suci Peringkat S+ tetap memancar, membuat para gelandangan di sekitar distrik itu menyingkir dengan ketakutan.
Alaric datang dengan sebuah gulungan merah di tangannya—surat perintah dari dewan tertinggi. Secara teknis, ia bisa mengirim ajudan atau agen Burung Hantu Perak. Namun, rasa penasaran yang menggerogoti logikanya selama tiga hari terakhir memaksanya untuk datang sendiri. Ia perlu melihat Arka dari jarak dekat, tanpa perantara lensa sihir atau laporan tertulis.
Begitu Alaric melangkah masuk ke halaman barak yang berdebu, ia tertegun.
...
Di tengah halaman, Jiro, Kael, dan Elara berdiri dengan formasi segitiga. Yang aneh adalah mata mereka masing-masing tertutup rapat oleh kain hitam tebal yang dililitkan berkali-kali. Mereka tidak memegang senjata asli, hanya batang kayu lapuk yang ujungnya sudah tumpul.
Di bawah pohon ek yang meranggas di sudut halaman, Arka sedang berbaring malas di atas dipan bambu yang hampir patah. Ia menyanggah kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang sekantong kerikil kecil.
Plentang!
Arka menjentikkan sebuah kerikil dengan ibu jarinya tanpa menoleh. Kerikil itu melesat secepat anak panah menuju pelipis Jiro. Dengan gerakan refleks yang sangat halus, Jiro memiringkan kepalanya hanya beberapa milimeter. Kerikil itu lewat, menghantam tembok di belakangnya hingga menancap dan berlubang.
Plentang! Plentang!
Dua kerikil lagi melesat ke arah Kael dan Elara. Kael menangkisnya dengan ujung kayu tanpa bergeser dari tempatnya, sementara Elara memutar tubuhnya seolah sudah tahu persis lintasan batu tersebut.
"Kurang cepat," gumam Arka sambil menguap lebar. "Kalian bergerak seperti siput yang sedang mabuk. Jika kalian tidak bisa 'mendengar' niat batu itu sebelum dia lepas dari tanganku, lupakan soal makan siang."
Alaric berdiri diam di ambang pintu gerbang, memerhatikan pemandangan itu dengan mata menyipit. Sebagai seorang Grandmaster, ia tahu betapa sulitnya melatih insting murni tanpa penglihatan. Biasanya, ksatria tingkat tinggi butuh bertahun-tahun meditasi untuk mencapai tahap ini. Tapi bocah-bocah Pemula ini melakukannya seolah-olah itu adalah permainan petak umpet.
"Metode yang unik, Arka," suara Alaric menginterupsi kesunyian.
Arka tidak terlonjak kaget. Ia hanya menoleh malas, matanya yang sayu menatap sang Komandan. "Ah, Komandan Alaric. Maaf, saya tidak mendengar suara kereta kuda mewahmu. Maklum, barak ini terlalu bising dengan suara perut murid-murid saya yang kelaparan."
Alaric melangkah mendekat, matanya tetap tertuju pada ketiga murid yang masih menutup mata, tetap dalam posisi waspada meskipun ada tamu agung. "Mengapa kau melatih mereka seperti ini? Menutup mata di lingkungan yang tidak stabil seperti ini sangat berbahaya bagi pemula."
Arka bangkit duduk, menggaruk kepalanya yang berantakan. "Yah, Anda lihat sendiri di arena waktu itu, kan? Ketiga muridku ini pemula. Mereka hanya pernah bertarung dengan monster-monster hutan yang menyerang dengan insting buas, tanpa teknik, tanpa tipu muslihat. Berbeda dengan para ksatria kerajaanmu yang sombong itu. Mereka punya teknik, kecepatan, dan kelicikan."
Arka melemparkan satu kerikil lagi ke arah Jiro yang langsung ditangkap dengan dua jari oleh pemuda itu. "Aku pikir metode ini bisa membuat insting mereka lebih tajam. Jika mereka bisa merasakan 'desir' serangan dari kegelapan, mereka tidak akan mudah tertipu oleh gerakan tipu daya ksatria di masa depan. Ini soal bertahan hidup, Komandan. Bukan soal estetika bertarung."
Alaric terdiam, mencerna penjelasan Arka yang terdengar masuk akal namun terasa menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar. Ia ingin menguji sejauh mana "insting" itu bekerja.
Tanpa peringatan, Alaric melepaskan Killing Intent (Niat Membunuh). Bukan tekanan mental seperti di jamuan makan malam, melainkan aura haus darah murni yang biasa digunakan untuk melumpuhkan lawan sebelum pedang ditarik. Udara di halaman barak mendadak terasa membeku. Burung-burung di atas pohon segera terbang menjauh dengan panik.
Alaric berekspektasi ketiga murid itu akan gemetar, jatuh berlutut, atau setidaknya berteriak karena ketakutan yang mendalam.
Namun, reaksinya justru di luar nalar.
Begitu aura Alaric menyentuh mereka, Jiro, Kael, dan Elara secara bersamaan menurunkan pusat gravitasi mereka. Mereka memasang pose pertahanan sempurna. Jiro mengangkat batang kayunya ke depan dada, Kael menarik napas dalam dengan posisi kaki yang kokoh, dan Elara merentangkan tangannya seolah siap memutar aliran mana.
Tidak ada ketakutan di wajah mereka. Yang ada hanyalah kesiagaan yang dingin.
Alaric tertegun. Aura membunuhnya adalah aura seorang Peringkat S+. Orang biasa seharusnya sudah pingsan. Mengapa mereka justru terlihat seolah-olah sedang menghadapi "gangguan kecil"?
Apa yang Alaric tidak tahu adalah bahwa ketiga murid ini telah menghabiskan pelatihan neraka di bawah tekanan 1% aura murni Arka—sang Void King level 999. Dibandingkan dengan aura Arka yang terasa seperti lubang hitam yang menelan eksistensi, aura membunuh Alaric bagi mereka hanyalah seperti embusan angin musim gugur yang sedikit tajam.
Arka buru-buru berdiri, menyadari bahwa ia harus memberikan penjelasan sebelum Alaric mencurigai "kekebalan" murid-muridnya.
"Ah, maafkan mereka, Komandan!" Arka tertawa canggung, sambil mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat. "Anak-anak, santai! Itu cuma Komandan Alaric, bukan monster gunung yang mau memakan kepala kalian!"
Ketiga murid itu perlahan rileks dan membuka kain penutup mata mereka. Napas mereka sedikit memburu, bukan karena takut, tapi karena tubuh mereka secara otomatis bersiap untuk bertaruh nyawa.
"Kau lihat sendiri, kan?" Arka melanjutkan sambil mendekati Alaric dengan pose membungkuk yang dibuat-buat. "Mereka itu sudah agak... 'rusak' mentalnya. Tiap hari di hutan Ovelia, mereka bertaruh nyawa melawan monster-monster level tinggi yang jauh di atas kemampuan mereka. Mereka sudah terbiasa dengan ancaman kematian setiap detik. Jadi, aura membunuh tidak akan mempan lagi pada mereka. Mereka sudah kebal karena terlalu sering hampir mati."
Arka kemudian memiringkan kepalanya, menatap Alaric dengan senyum tipis. "Tapi kalau 'tekanan mental' atau aura wibawa seperti yang Anda keluarkan di jamuan makan kemarin... nah, itu cerita lain. Saya belum mengajari mereka cara menahan tekanan ego ksatria. Mereka masih anak desa yang lugu dalam hal politik dan mentalitas."
Alaric menatap Jiro, Kael, dan Elara bergantian. Penjelasan Arka terdengar logis. Petualang yang tumbuh di daerah konflik ekstrem memang sering memiliki mental yang mati rasa terhadap haus darah. Namun, ada sesuatu yang tetap terasa mengganjal. Insting bertarung mereka terlalu... matang.
...
Alaric menarik napas panjang, memutuskan untuk menyimpan keraguannya sementara. Ia menyerahkan gulungan merah itu kepada Arka.
"Aku datang ke sini untuk menyampaikan tugas pertama kalian sebagai Peringkat B," ujar Alaric dengan nada resmi. "Minggu depan, kalian diwajibkan memasuki Dungeon Grotto of Silence. Ini bukan permintaan, ini perintah dari dewan."
Arka menerima gulungan itu dengan dua jari, wajahnya langsung merengut. "Grotto? Tempat gelap yang sempit itu? Merepotkan sekali."
"Ada satu hal lagi," Alaric menambahkan, matanya menajam. "Mengingat kontroversi di arena kemarin, dewan ksatria tidak sepenuhnya percaya pada laporan kenaikan peringkat kalian. Oleh karena itu, aku sendiri yang akan turun ke lapangan sebagai pembimbing dan pengawas langsung misi ini."
Jiro dan yang lainnya terkejut. Seorang Peringkat S+ mengawasi misi Peringkat B? Ini praktis merupakan pengintaian terbuka.
"Jika kalian berhasil menyelesaikan misi ini dengan bersih di bawah pengawasanku," lanjut Alaric, "aku akan memberikan rekomendasi agar kalian diizinkan kembali ke kota asal kalian di Ovelia dengan status ksatria kehormatan. Kalian tidak akan diganggu lagi oleh birokrasi kerajaan."
Mata Arka sedikit berbinar mendengar kata "kembali ke kota asal". Baginya, itu berarti tiket menuju kehidupan santai kembali. "Bisa pulang dan tidur di penginapan lamaku tanpa ada yang berteriak soal ujian ksatria? Tawaran yang menggoda, Komandan."
Alaric berbalik, jubahnya berkibar ditiup angin. "Persiapkan diri kalian. Grotto bukan tempat untuk bermain-main dengan peralatan dapur. Aku akan melihat sendiri, Arka... apakah kau benar-benar hanya 'paman desa' dengan peringkat A, atau ada sesuatu yang lebih gelap di balik kain hitam yang kau pasang pada murid-muridmu."
Setelah kereta kuda Alaric menghilang dari pandangan, Arka menghela napas panjang dan menjatuhkan diri kembali ke dipan bambunya.
"Guru... apakah kita harus bertarung dengan serius di depan dia?" tanya Kael sambil melepas kain hitamnya.
Arka menatap langit biru Distrik 7, ekspresinya kembali malas namun matanya memancarkan perhitungan yang dingin.
"Semasa aku masih seorang Player, Grotto adalah Dungeon, lokasi yang sempit dan berisik," gumam Arka. "Kalian harus serius, Namun jangan sampai Komandan berfikir kalau kalian adalah monster. Jika kita terlalu main-main, kita akan terjebak di sana selamanya."
Jiro menggaruk kepalanya "Baik guru, kita akan berusaha." Arka tersenyum. "Kalian harus menang, tapi pastikan kalian terlihat seolah-olah hampir mati saat melakukannya. Buat Alaric berpikir kalau kalian menang hanya karena keberuntungan murni. Itu adalah satu-satunya cara agar kita bisa pulang dan tidur nyenyak."
Di kegelapan lorong barak, bayangan Arka tampak memanjang, seolah-olah seekor naga raksasa sedang menggeliat bangun dari tidurnya, bersiap menghadapi ujian yang paling merepotkan.