___
"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.
"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah
"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 18
Mobil Aiden berhenti tepat di depan teras rumah mewah keluarga Saputra. Sepanjang perjalanan, Vanya hanya bisa meremas tali tasnya. Perasaan takut, cemas, dan berdebar bercampur menjadi satu.
Besok adalah hari kepindahannya ke apartemen, dan lusa tepat pada hari Kamis pernikahan privat itu akan dilaksanakan. Hanya tinggal dua hari lagi statusnya akan berubah total.
"Turun,"
perintah Aiden lembut namun tegas saat melihat Vanya masih bengong.
"Kak... beneran lusa?"
tanya Vanya pelan, matanya berkaca-kaca menatap Aiden.
Aiden melepas sabuk pengamannya, lalu berbalik menghadap Vanya.
Ia mengusap kepala Vanya dengan telaten.
"Semua udah disiapin, Vanya. Papi sama Papa udah sepakat. Lo cuma perlu ikutin gue. Paham? "
Vanya mengangguk kecil, lalu turun dari mobil dengan langkah gontai.
Begitu masuk ke dalam rumah, ia melihat Papa Airlangga dan Mama Olivia sedang duduk di ruang tengah sambil memandangi beberapa kotak kado yang baru tiba.
"Papaaa! Mamaaa!"
Vanya langsung berlari dan menjatuhkan tubuhnya di pelukan Papa Airlangga.
Ia memeluk pinggang papanya sangat erat, seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal di hari pertama sekolah.
"Loh, loh... kenapa ini anak Papa? Kok manja banget sore ini?"
Papa Airlangga tertawa sambil mengelus punggung putrinya.
"Vanya takut, Pa... Vanya nggak mau pindah... Vanya masih mau tidur sama Mama, masih mau manja-manja sama Papa,"
isak Vanya manja.
Sifat barbarnya hilang total, digantikan oleh mode bayi.
Mama Olivia ikut duduk di samping mereka, mengusap air mata di pipi Vanya.
"Sayang, dengerin Mama. Kamu pindah ke apartemen itu bukan berarti jauh dari kami.
Ini demi kebaikan kamu dan Aiden juga. Lusa itu hari besar kamu, Vanya. Kamu harus belajar jadi istri yang baik buat Aiden."
"Tapi Vanya kan masih bocah, Ma! Vanya bahkan belum bisa masak air!"
rengek Vanya.
"vanya takut nanti Kak Aiden galak kalau vanya nggak bisa apa-apa!"
Papa Airlangga terkekeh.
"Aiden itu sayang sama kamu, Sayang. Dia sudah janji sama Papa bakal jagain kamu lebih dari Papa jagain kamu. Udah, sekarang mandi, terus siap-siap packing. Barang-barang kamu harus sudah rapi malam ini."
Vanya masuk ke kamarnya dengan perasaan berat.
Ia menatap sekeliling kamar yang sudah ia tempati selama belasan tahun. Boneka-boneka besar, meja rias yang penuh skincare, dan tempat tidur yang sangat empuk. Semuanya harus ia tinggalkan besok.
Sambil memasukkan baju-baju ke dalam koper, ponselnya bergetar di atas kasur. Sebuah pesan suara Aiden.
"Jangan nangis terus.Mending lo pastiin semua baju yang kamu pilih di mall kemarin masuk ke koper utama."
Vanya mendengus, air matanya berhenti seketika karena kesal.
"Dasar ni orang,Gak ada sedih-sedihnya apa ya mau pisah sama ortu!"
gumamnya kesal.
Vanya melemparkan ponselnya ke atas tumpukan baju dengan wajah merah padam.
Ia kembali merengek manja, berguling-guling di atas karpet.
"Mamaaa! Kak Aiden nakal bangettt! Gwehh nggak mau nikah kalau begini caranyaaa!"
Namun, di balik rengekan itu, ada getaran aneh di dadanya.
Ada rasa tidak sabar yang terselip di antara rasa takutnya. Vanya berdiri di depan cermin, menyentuh bibirnya yang tadi siang dicium secara brutal oleh Aiden.
"Lusa ya... gue beneran bakal jadi istrinya es batu itu?"
bisiknya pada bayangannya sendiri.
Malam itu, Vanya meminta tidur di tengah-tengah Papa dan Mamanya untuk terakhir kalinya.
Ia memeluk lengan Papanya erat-erat, mencoba merekam aroma rumah ini sebelum besok ia
harus memulai hidup baru di bawah atap yang sama dengan pria yang haus akan dirinya.