NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan hanya belajar

Sejak dokter memastikan bahwa aku benar-benar hamil, ada satu hal yang berubah cukup drastis di rumah kami.

Ashar.

Atau lebih tepatnya… cara Ashar bersikap.

Jika sebelumnya ia hanya sedikit protektif, sekarang ia berubah menjadi seseorang yang hampir seperti penjaga museum yang mengawasi artefak paling langka di dunia.

Artefak itu tentu saja… aku.

Dan mungkin juga seseorang yang masih sangat kecil di dalam perutku.

Perubahan itu mulai terasa bahkan sejak hari pertama kami pulang dari klinik.

Pagi itu aku bangun lebih dulu dari Ashar.

Tubuhku masih sedikit lelah, tetapi tidak terlalu buruk.

Aku berjalan pelan menuju dapur.

Udara pagi terasa sejuk.

Aku membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan untuk membuat sarapan sederhana.

Telur.

Roti.

Dan sedikit sayuran.

Namun baru saja aku menyalakan kompor—

suara langkah cepat terdengar dari belakang.

“Mala!”

Aku menoleh.

Ashar berdiri di ambang dapur dengan ekspresi panik seperti seseorang yang baru saja melihat kebakaran kecil.

“Ada apa?” tanyaku.

“Kamu sedang apa?”

“Membuat sarapan.”

Ia berjalan cepat mendekat dan langsung mematikan kompor.

“Ashar!”

“Kamu tidak boleh terlalu lama berdiri.”

Aku menatapnya dengan alis terangkat.

“Ini dapur.”

“Aku tahu.”

“Orang biasanya berdiri di dapur.”

“Tapi kamu sekarang hamil.”

Aku menghela napas panjang.

“Aku baru hamil beberapa minggu.”

“Justru itu.”

Aku menyilangkan tangan.

“Justru apa?”

Ia terlihat berpikir keras.

Lalu akhirnya berkata dengan sangat serius.

“Justru kita harus lebih berhati-hati.”

Aku menatap wajahnya beberapa detik.

Lalu tidak bisa menahan tawa.

“Ashar…”

“Iya?”

“Kamu bahkan lebih gugup daripada aku.”

Ia menggaruk belakang lehernya.

“Mungkin.”

Aku mengambil kembali spatula dari tangannya.

“Aku hanya membuat telur.”

“Aku bisa melakukannya.”

“Kamu akan membuat telur abstrak lagi.”

“Itu hanya sekali.”

Aku tertawa.

“Baiklah, Chef.”

Akhirnya kami memasak bersama.

Meskipun “bersama” dalam arti Ashar melakukan hampir semua hal sementara aku hanya duduk di kursi dapur.

Beberapa hari kemudian aku menemukan kebiasaan baru Ashar.

Ia mulai membaca buku tentang kehamilan dan parenting.

Banyak sekali buku.

Aku menyadarinya ketika suatu malam masuk ke ruang kerja kecilnya.

Meja itu penuh dengan buku.

Beberapa judulnya bahkan membuatku mengangkat alis.

“Panduan menjadi ayah yang baik.”

“Psikologi anak sejak dalam kandungan.”

“Komunikasi dengan bayi sebelum lahir.”

Aku menatap Ashar yang sedang membaca dengan sangat serius.

“Ashar.”

Ia menoleh.

“Oh. Kamu sudah bangun?”

“Kamu membaca semua ini?”

Ia mengangguk.

“Sebagian.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kemarin.”

Aku melihat tumpukan buku itu lagi.

“Ada sekitar sepuluh buku di sini.”

“Aku baru membaca tiga.”

Aku tertawa kecil.

“Kamu belajar terlalu cepat.”

Ia terlihat sedikit malu.

“Aku hanya ingin siap.”

Aku duduk di kursi di depannya.

“Ashar.”

“Iya?”

“Kamu tidak harus menjadi ayah sempurna.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu membaca seperti mahasiswa yang sedang mengejar skripsi?”

Ia menutup buku di tangannya.

Beberapa detik ia tidak bicara.

Lalu berkata pelan.

“Aku tidak pernah punya ayah.”

Aku terdiam.

Kalimat itu selalu membuat suasana berubah.

Ashar memang tumbuh bersama kakek dan pamannya.

Mereka baik.

Mereka merawatnya dengan tulus.

Namun tetap saja…

itu tidak sama dengan memiliki seorang ayah.

“Aku tidak tahu bagaimana rasanya punya ayah,” lanjutnya.

“Aku juga tidak tahu bagaimana cara menjadi ayah.”

Aku memegang tangannya.

“Kamu akan belajar.”

Ia tersenyum kecil.

“Itulah yang sedang aku lakukan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!