NovelToon NovelToon
Randy Sang Tabib Tampan

Randy Sang Tabib Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Harem / Dokter Ajaib
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.

Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.

Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keajaiban di Rumah Mentari

Nggak sampai satu am mereka sampai di Panti Asuhan Rumah Mentari. Beberapa teman sekelas Helen sudah tiba di panti asuhan tersebut.

“Loh, emangnya kamu udah jadian sama Randy idola kampus ini?” kata Tari keluar latahnya karena kaget. “Beruntung banget.”

“Eh nggak gitu,” kata Helen merah mukanya karena nggak enak sama Randy. “Randy mau cari spot-spot foto menarik, aku ajak ke sini bareng sama kita sekalian.”

“Digosipin sama Helen juga nggak rugi kok,” jawab Randy cool sambil senyum yang bikin Helen makin blingsatan.

“Eh sudah komplet semua?” tanya Sofian, pemimpin angkatan Helen dalam kunjungan ke panti asuhan itu. “Kita bisa masuk sekarang?”

“Let’s go,” kata Ivonne semangat.

Rombongan kunjungan Fakultas Kedokteran angkatan 2025 ke panti asuhan itu segera masuk. Anak-anak panti asuhan itu telah berbaris rapi menyambut mereka.

“Selamat sore, kakak-kakak semua,” sambut mereka berbarengan. “Selamat datang di Panti Asuhan Rumah Mentari.”

“Selamat sore adik-adik,” kata para mahasiswa berbarengan.

Randy segera berkeliling mencari spot-spot yang menarik di panti asuhan tersebut, sedang Helen dkk. saling berbagi cerita, menyanyi dan menari dengan anak-anak tersebut.

Tiba-tiba pandangan Randy tertuju pada seorang gadis kecil yang tampak pucat dan lemah duduk di kursi roda.

“Dia namanya Martha,” kata seorang ibu, salah satu pengasuh di panti asuhan itu. “Martha terkena kanker tulang stadium tiga. Dia berkeras mau ikut dalam acara ini, meski kami sudah melarangnya karena besok dia harus menjalani chemotherapy.”

Randy diam saja, dan mengeluarkan Silverqueen yang selalu dia bawa untuk dibagi-bagi kepada anak-anak seperti di Tanah Abang lalu atau Martha di panti asuhan ini.

“Boleh saya berikan Silverqueen untuk Martha ini, Bu?” Randy meminta izin dulu kepada ibu pengasuh tersebut.

“Silakan,” jawab ibu tersebut. Lalu Randy berlutut dan membuka tasnya lalu mengambil satu bar cokelat Silverqueen dan diberikannya kepada Martha yang menerima dengan bahagia dan senyum yang mengharukan.

“Terima kasih, Kak,” kata Martha.

“Sama-sama Martha,” jawab Randy dengan haru. “Semoga besok chemo-nya berjalan dengan baik.”

“Terima kasih kakak yang baik,” kata Martha. “Nama kakak siapa?”

“Panggil aku Kak Randy.”

Randy tetap berjongkok lalu mendekatkan kedua telapaknya ke kaki Martha, dan sensasi hangat dan sengatan ribuan listrik kecil menjalar di kedua telapaknya yang berubah kemerahan selama beberapa detik.

Tidak tahu apakah ilmu baru itu bisa berfungsi atau tidak, karena masih atau tidak adanya kanker harus diperiksa di laboratorium rumah sakit. Tapi yang jelas tiba-tiba pucat pada Martha berangsur hilang, dan anak itu merasakan bahwa napasnya lebih lega, sesuatu yang tidak pernah dirasakan belakangan ini.

Helen memperhatikan kejadian tersebut dan diam-diam mengabadikan adegan tersebut dengan kamera video di ponselnya.

Lalu Randy melanjutkan mengambil foto-foto menarik dari beberapa spot di panti asuhan itu. Tak lupa dia mengambil beberapa foto candid Helen yang tengah bernyanyi bersama anak-anak tersebut.

“Adik-adik, kakak membawa beberapa bingkisan untuk kalian,” kata Sofian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Ini bagi satu-satu jangan berebut, ya. Semua pasti dapat.”

Sofian membagikan bingkisan kecil-kecil itu satu per satu kepada anak-anak panti asuhan tersebut.

“Ayo, baris satu per satu,” kata Helen dengan sabar mengatur anak-anak tersebut.

“Kakak juga kebetulan bawa beberapa cokelat Silverqueen,” kata Randy. “Tapi tidak banyak, ini untuk rame-rame saja, ya?”

Randy lalu mengeluarkan 5 batang Silverqueen dari dalam tasnya dan memberikannya kepada anak-anak tersebut.

“Terima kasih adik-adik semua yang telah meluangkan waktu berbagi kebahagiaan dengan anak-anak ini,” kata Bu Retno, pimpinan panti asuhan itu ketika Sofian mewakili teman-temannya berpamitan. “Sering-sering mampir kemari, berbagi kebahagiaan dengan mereka.”

“Pasti Bu, akan kami usahakan,” kata Sofian.

Akhirnya mereka pun berpamitan.

Masing-masing mengendarai kendaraan masing-masing, terkecuali Helen yang membonceng motor Randy.

“Randy, hati-hati,” goda Luna. “Pulangin Helen ke rumahnya, jangan dibawa kabur!”

“Ngawur!” kata Helen sambil terkikik.

“Dia yang maunya dibawa kabur kok,” kata Randy tertawa, tapi punggungnya dipukul oleh Helen.

Di rumah Helen sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Randy. Dia berkali-kali memutar video tadi sore, sepintas tidak ada yang aneh. Lalu dia zoom, tampak telapak tangan Randy lebih merah dari bagian yang lain. Ada fenomena apa ini?

Esoknya di kantin kampus seperti biasa Helen nongkrong sebentar membeli arem-arem kesukaannya. Dilihatnya Randy sedang asyik dengan laptopnya memilih foto-foto yang bagus yang dijepretnya kemarin.

“Ada fotoku nggak?” tanya Helen yang membuat Randy sedikit terlonjak kaget.

“Ada dong. Kalau nggak ambil foto kamu ntar nggak boleh boncengin lagi,” tawa Randy.

Helen langsung mencubit tangan Randy. “Ih dari kemarin nggodain melulu!”

“Omong-omong foto kamu aku kirim lewat email, ya,” kata Randy. “Filenya gede, susah dikirim lewat WA.”

“Whatever,” jawab Helen. “Kalau aku nggak terima foto itu ya nggak boleh boncengin aku lagi. Gitu aja kok repot.”

Lalu keduanya tertawa terbahak-bahak karena guyonan garing itu.

“Ran, aku mau nanya serius,” kata Helen mendadak mukanya berubah serius. “Apa yang kamu lakukan kemarin sama gadis di kursi roda itu?”

“Nggak apa-apa,” jawab Randy bohong. “Cuma kasih Silverqueen dan pesan-pesan yang membesarkan hatinya.”

“Jangan bohong, aku rekam dengan video semuanya,” kata Helen sambil menunjukkan video Randy di HP-nya. “Tidak terlalu jelas, namun telapak tanganmu berwarna lebih merah.”

“Efek cahaya aja mungkin,” elak Randy.

“Nggak! Sofian barusan info aku, anak cewek di kursi roda itu batal chemo hari ini karena sel-sel kankernya hilang secara ajaib,” cetus Helen. “Pak Sugiono sembuh dari serangan jantung, darah tinggi papamu jadi normal, sel kanker anak itu hilang. Semuanya setelah berinteraksi dengan kamu, Rand!”

“Hah? Sel kanker Martha hilang?” teriak Randy yang mengagetkan pengunjung lain di kantin itu. “Terima kasih, ya Tuhan.”

“Rand, kamu harus cerita semuanya dengan jujur,” desak Helen.

“Len, ingat kamu pernah cerita ke aku soal reiki yang bisa memancarkan hangat dan sensasi setrum kecil-kecil tempo hari?” tanya Randy.

Helen mengangguk. “Iya aku ingat.”

“Secara gaib aku mendadak punya kemampuan itu,” jelas Randy. “Entah itu reiki atau bukan, tapi mendadak sekarang aku punya kemampuan menyembuhkan.”

“Secara gaib?” Helen tidak mengerti.

“Kalau aku cerita semuanya pasti kamu tidak percaya,” tukas Randy kemudian meneguk air mineralnya.

“Aku akan percaya, Rand,” jawab Helen memastikan.

“Suatu malam aku bermimpi didatangi oleh kakek buyutku yang merupakan tabib di masa lalu. Dia mewariskan ilmu ini kepadaku,” terang Randy. “Aku sendiri masih sulit mempercayai itu, apalagi orang lain.”

Saat mereka tengah bercakap-cakap, mereka tidak memperhatikan Tatia juga ada di kantin itu. Tatia berjalan pelan ke arah Randy dan Helen yang tengah ngobrol asyik itu. Tiba-tiba kaki Tatia terantuk kaki meja dan hampir jatuh.

“Tatia, hati-hati…” teriak Randy. Namun terlambat, air kelapa muda yang dibawanya tumpah mengenai baju dan celana jeans Helen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!