NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:99k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Tidak terasa sudah empat bulan berlalu sejak kalimat talak itu meruntuhkan hidupnya. Empat bulan sejak Azalea melangkah keluar dari rumah yang pernah ia sebut surga kecilnya. Sejak itu ia belajar menerima kenyataan bahwa cinta yang ia pertahankan dengan kesabaran ternyata tak pernah benar-benar diperjuangkan oleh suaminya.

Kini ia berdiri di depan rumah tua peninggalan orang tuanya. Dindingnya retak di beberapa bagian. Catnya mengelupas, menyisakan warna kusam yang memudar dimakan waktu. Atapnya miring sedikit ke kiri, seolah ikut memikul beban kesedihan yang selama ini menghuni tempat itu.

Namun bagi Azalea, rumah itu bukan sekadar bangunan tua. Di sanalah ia tumbuh. Di sanalah suara tawa ibunya dulu memenuhi dapur kecil setiap pagi. Di sanalah ayahnya biasa duduk di teras, menyeruput kopi hitam sambil menunggu adzan subuh. Di sanalah ia dan kakak perempuannya saling mengejar di halaman, tertawa tanpa tahu bahwa waktu akan begitu kejam memisahkan mereka.

Kini, halaman itu sunyi. Hanya suara angin yang menggerakkan dedaunan kering.

“Apa kamu tidak akan menjual rumah ini, Lea?”

Suara Abah Iip, sesepuh desa yang sudah seperti kakek sendiri baginya, membuyarkan lamunannya. Lelaki tua itu berdiri dengan tongkat kayu di tangan, memandang rumah itu dengan sorot prihatin.

Azalea tersenyum kecil. Senyum yang lembut, tapi menyimpan banyak luka.

“Tidak, Abah,” jawab Azalea pelan. “Ini satu-satunya tempat yang aku punya. Makam ibu, bapak, dan kakak juga ada di sini. Walau aku merantau ke kota pasti nanti akan pulang juga ke sini.”

Abah Iip mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca.

“Rumah ini memang sudah tua. Tapi kenangan di dalamnya tidak pernah hilang,” gumamnya lirih.

Azalea menunduk. Dadanya menghangat sekaligus perih.

“Nanti sesekali Abah suruh orang untuk membersihkan rumah ini,” lanjut Abah Iip. “Biar tidak terlalu terbengkalai.”

“Terima kasih, Abah.” Azalea tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Kalau ada tamu dari luar kampung yang butuh tempat tinggal, pakai saja rumah ini. Asal dijaga, jangan dirusak.”

Di kampung kecil itu memang tak ada penginapan. Jika ada tamu yang datang untuk urusan atau sekadar singgah, rumah Azalea sering dijadikan tempat menginap. Rumah yang sudah tua itu masih lebih berarti daripada dirinya di mata mantan suaminya.

Sore itu, setelah menziarahi makam orang tua dan kakaknya, Azalea duduk lama di samping nisan mereka.

“Ibu … Bapak … Kak,” gumam Azalea suaranya bergetar. “Lea mau ke kota. Lea mau mulai hidup baru.”

Angin berembus pelan, menyibakkan ujung jilbabnya. “Lea tidak punya siapa-siapa lagi. Tapi Lea janji, Lea tidak akan menyerah.”.Air mata menetes, jatuh membasahi tanah makam.

Kota menyambutnya dengan panas yang menyengat dan debu yang beterbangan..Begitu turun dari terminal, Azalea menggenggam tas ranselnya erat. Dunia terasa begitu luas dan asing. Orang-orang berlalu-lalang tanpa peduli siapa ia, dari mana ia datang, dan luka apa yang ia bawa.

Sebuah musholla kecil tak jauh dari terminal, Azalea melangkah ke sana. Waktu Zuhur mau hampir habis. Ia berwudhu dengan air yang terasa hangat karena terik matahari. Lalu berdiri dalam saf paling belakang, menunaikan salat dengan hati yang penuh harap.

Dalam sujudnya, ia menangis. “Ya Allah, aku tidak meminta hidup yang mewah. Aku hanya ingin pekerjaan yang halal. Aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri. Tolong aku.” Doanya lirih, namun penuh keyakinan.

Usai salat Azalea duduk sambil mencari lowongan pekerjaan via online hingga waktu Ashar.

Usai salat Ashar, Azalea keluar dari musholla dengan langkah yang sedikit lebih mantap. Tetangganya di kampung pernah memberi tahu beberapa lokasi kontrakan murah dan kawasan industri yang sering membuka lowongan. “Asal tidak pilih-pilih kerja,” begitu pesan mereka.

Azalea memang tak berniat memilih. Lulusan SMK sepertinya tak punya banyak opsi. Menjadi pembantu rumah tangga, cleaning service, penjaga toko atau apa pun tak masalah, asal halal.

“Jalan Rajawali,” gumam Azalea sambil memandangi papan nama jalan. Ia tidak sadar bahwa alamat yang ia cari sebenarnya Jalan Cendrawasih.

Langkah Azalea membawanya masuk ke kompleks gedung-gedung tinggi yang menjulang angkuh. Kaca-kaca besar memantulkan cahaya matahari, menyilaukan mata. Mobil-mobil mewah hilir mudik karena jam pulang kerja telah tiba.

Azalea merasa kecil. Ia berdiri di antara dunia yang tampak begitu megah, sementara dirinya hanya membawa tas lusuh dan harapan yang rapuh.

Karena bingung, ia terus berjalan menuju perempatan tak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu, matanya menangkap sesuatu. Seorang anak perempuan kecil berlari ke tengah jalan, mengejar bola merah muda yang menggelinding bebas.

“Awas!” teriak Azalea spontan.

Namun anak itu hanya tertawa, tak memedulikan klakson yang bersahut-sahutan.

“Non Elora!” teriak seorang wanita paruh baya dari seberang jalan, suaranya panik.

Dalam hitungan detik, Azalea melihat sebuah motor melaju cepat, menyalip kendaraan lain. Tanpa berpikir panjang, tubuhnya bergerak lebih cepat dari akalnya. Ia berlari. Kakinya terasa ringan sekaligus berat. Dunia seperti melambat. Suara klakson memekakkan telinga. Angin menerpa wajahnya. Tangannya terulur.

Sekali gerakan, Azalea menyambar bola itu dan meraih tubuh kecil si anak, memeluknya erat sebelum motor itu melintas hanya beberapa jengkal dari mereka. Jantungnya berdetak liar. Kakinya gemetar saat ia menepi. Anak kecil itu menatap wajahnya lekat-lekat. Mata bulatnya besar dan bening.

“Non Elora! Kamu tidak apa-apa?!” Wanita paruh baya itu berlari menghampiri mereka.

Azalea menyerahkan anak itu dengan tangan masih gemetar. “Anaknya tidak apa-apa, Tante?” tanyanya cemas.

Wanita itu yang kemudian dipanggil Bi Minah mengangguk cepat, wajahnya pucat. “Alhamdulillah … alhamdulillah.”

Namun anak kecil itu malah mendorongnya. “Ngak mau digendong, Bi Minah!” serunya manja, mengambil bola dari tangan Azalea.

“Bibi takut Non kenapa-kenapa. Nanti Daddy marahi Bibi.” Suara Bi Minah mengecil.

“Bi Minah ganggu caja!” Elora membanting bolanya. “Aku mau main sama Daddy! Bi Minah pulang caja cana!”

Azalea terdiam. Miris. Anak sekecil itu sudah bisa membentak orang yang jelas-jelas mencemaskannya.

“Tapi Daddy bilang lagi sibuk, Non. Mainnya besok saja, ya,” bujuk Bi Minah.

“Ngak mau!” Elora menangis keras, lalu berguling, tantrum.

Tangis itu bukan hanya tangis manja. Ada rasa sepi di sana.

Azalea berjongkok perlahan di hadapan anak itu. “Nama kamu Elora?” tanyanya lembut sambil mengulurkan tangan. “Kenalkan, Tante Azalea. Panggil saja Tante Lea.”

Elora menatap Azalea.

“Elora suka main bola?” tanya Azalea, tersenyum lembut.

Elora mengusap air matanya. “Tante mau main sama aku?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi entah kenapa hati Azalea terasa teriris. Ia teringat betapa dulu ia berharap bisa mendengar suara anak memanggilnya “Ibu”. Namun kini, ia bahkan tak pernah diberi kesempatan.

Hari sudah sore. Azalea sebenarnya harus mencari kontrakan. Mencari alamat yang benar, tetapi melihat wajah kecil itu, ia tak tega menolak.

“Main sebentar saja, ya. Habis itu harus pulang.”

Wajah Elora langsung berbinar. Senyumnya lebar sekali.

Mereka bermain bola di parkiran gedung tinggi itu. Azalea tertawa untuk pertama kalinya sejak lama. Tawanya ringan, tulus, meski di sudut hatinya masih ada perih yang belum sembuh.

Elora berlari-lari kecil, rambutnya yang diikat dua bergoyang-goyang. Bi Minah berdiri tak jauh dari mereka, memandangi dengan rasa lega.

Azan Magrib berkumandang. Azalea menghentikan permainan. “Elora, sudah sore. Harus pulang.”

“Ngak mau! Mau main cama Tante!” Elora cemberut.

“Elora, ayo pulang!” Suara pria terdengar dari belakang.

Dalam sekejap, Elora berlari meninggalkan Azalea. “Daddy!”

Azalea menoleh. Langkahnya terhenti. Napasnya tercekat. Dunia seolah berhenti berputar.

“E-Enzo…?” gumam Azalea lirih, hampir tak terdengar.

1
Tasmiyati Yati
semoga mendapat hidayah ya Enzo
Tasmiyati Yati
semoga mendapat hidayah ya Enzo
Naufal Affiq
mertua gak punya hati,gak semua wanita dari kampung itu kerjanya merusak rumah tangga orang,jadi jangan sama kan dengan ayah,kakek mu yang selingkuh sama pembantunya lho
ken darsihk
Dan kecelakaan itu mengharuskan mami Elsa mendapatkan transfusi darah , akhir nya Azalea maju untuk me donor kan darah nya
Lisa
Moga dgn kecelakaan itu Mami Elsa jadi sadar dr kesombongannya
Kar Genjreng
ga ngertia. Mak teroma dengan ayah' nya
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Esther
luka masa lalu Elsa membuat dia menganggap wanita kampung kelakuannya sama dgn gundik ayahnya.
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.

Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Nar Sih
semoga dgn kejadian kecelakaan ini mami elsa sdr klau punya menatu dri kampung itu blm tentu ngk baik ,
Eonnie Nurul
gak semua orang kampung kayak gundik bapakmu Elsa,bisa jadi bapak mu dulu kenak pelet 🤪
Dian Rahmawati
sweet nya Enzo
~Ni Inda~
Terbuat dari apa hatimu nek
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Yasmin Natasya
lanjut thor 😁🙏😍🤗
~Ni Inda~
Note !
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi
Fa Yun
😍😍
Oma Gavin
bikin saja elsa mati atau cacat permanen biar tau rasanya tidak sempurna dan yg mau ngurusin hanya azalea
Kar Genjreng: jangan dong mending Mak Elsa saja biar nyadar anak anak masa depan nya masih panjang
total 3 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Yulay Yuli
Setelah kecelakaan Mami Elsa sadar, betapa baiknya Azalea
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Meninggoy si mami Elsa..
Diana Dwiari
udah lebaran aja sih thor....jadi pengen segera lebaran nih..m😂😂
🌸Santi Suki🌸: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Gadis misterius
Nenek lmpir minta diseleding tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!