Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Rumah kecil tempat Tasya tinggal akhirnya kembali terasa tenang setelah mereka meninggalkan rumah sakit. Begitu pintu dibuka, Kenzi langsung berlari masuk terlebih dahulu. Bocah kecil itu tampak lega akhirnya kembali ke rumahnya sendiri.
“Mommy, kita sudah pulang!” katanya riang. Namun, suasana hati Kenzo sangat berbeda. Bocah itu masuk dengan langkah pelan. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap dan amarah yang ia tahan dalam diam. Sejak mendengar ucapan Mario di rumah sakit, sejak tahu siapa pria bernama Alex Roman Vasillo itu. Kemarahan dalam hati Kenzo justru semakin membesar.
Ia tidak mengatakan apa pun. Namun, jelas sekali bahwa pikirannya sedang bekerja keras.
Sementara itu, Tasya membantu kakeknya turun dari kursi roda dan masuk ke kamar.
“Kakek pelan-pelan,” ucap Tasya sambil menuntunnya ke tempat tidur. Setelah duduk di tepi tempat tidur, pria tua itu menghela napas panjang.
Beberapa detik ia hanya diam. Tatapannya terlihat dalam, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Akhirnya ia berbicara pelan.
“Tasya…”
Tasya yang sedang merapikan selimut menoleh.
“Iya, Kek?”
Pria tua itu menatapnya dengan serius.
“Kamu … sudah mengenal Tuan Alex sejak lama?”
Pertanyaan itu membuat tangan Tasya langsung berhenti bergerak. Ia sudah menebaknya, sejak di rumah sakit tadi, dia tahu kakeknya pasti akan menanyakan hal ini.
Tasya menarik napas pelan sebelum menjawab.
“Tidak, Kek.”
Ia menggeleng perlahan.
“Aku tidak pernah mengenal dia.”
Tatapan kakeknya masih menunggu penjelasan. Tasya melanjutkan,
“Baik di sini … maupun waktu aku di Berlin. Aku tidak pernah berurusan dengan keluarga Vasillo.” Ia duduk di kursi di samping tempat tidur.
“Walaupun … aku memang tahu banyak tentang keluarga itu di Berlin.”
Kakeknya menyempitkan mata sedikit.
“Bagaimana kamu tahu tentang mereka?”
Tasya tersenyum tipis.
“Siapa yang tidak tahu keluarga Vasillo di sana? Keluarga itu sangat terkenal.” Ia menunduk sebentar.
“Tapi aku tidak pernah bertemu mereka.”
Beberapa detik suasana kamar menjadi hening. Lalu, kakeknya bertanya lagi dengan suara lebih dalam.
“Kalau begitu … benarkah pria itu … ayah Kenzo dan Kenzi?”
Tasya langsung terdiam. Pertanyaan itu membuat dadanya terasa berat. Ia menggenggam kedua tangannya pelan.
“Aku … tidak tahu, Kek.” Suara Tasya terdengar pelan, matanya menatap lantai.
“Waktu itu…” Ia berhenti sejenak, seolah mengingat sesuatu yang tidak ingin diingat.
“Aku bahkan tidak tahu siapa pria malam itu.”
Kakeknya terdiam mendengar pengakuan itu. Sementara di luar kamar, Kenzo berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Sejak tadi ia sebenarnya mendengar percakapan mereka.
Bocah itu tidak masuk ke kamar, dia hanya berdiri diam di sana. Tatapannya gelap di kepalanya hanya ada satu nama yang terus terngiang, Alex Roman Vasillo.
Kenzo merasa sangat ingin membenci seseorang. Tasya baru saja keluar dari kamar kakeknya. Sebelum menutup pintu, ia sempat menoleh sekali lagi.
“Kakek istirahat saja dulu ya. Kalau butuh apa-apa panggil aku,” ucap Tasya lembut.
Pria tua itu hanya mengangguk pelan.
“Iya … kamu juga istirahat.”
Tasya lalu menutup pintu kamar itu perlahan.
Begitu langkah Tasya menjauh di lorong rumah kecil itu, suasana kamar kembali sunyi. Namun, beberapa detik kemudian pria tua itu membuka laci kecil di samping tempat tidurnya. Dari dalam laci itu ia mengeluarkan sebuah ponsel lama.
Tangannya terlihat sedikit gemetar saat menekan beberapa angka. Panggilan tersambung tidak lama kemudian.
Di seberang sana seseorang segera menjawab dengan nada hormat.
[Selamat siang, Tuan.]
Pria tua itu langsung berbicara dengan suara yang pelan namun tegas.
“Kirim email pekerjaan untuk cucuku.” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Aku tidak mau cucuku terlibat dengan perusahaan Vasillo.”
Di seberang sana terdengar suara kaget yang cepat disembunyikan. Namun, orang itu segera menjawab dengan patuh.
[Baik, Tuan Rockhi. Kami akan segera menghubungi Nona Tasya.]
Pria tua itu hanya mengangguk pelan.
“Lakukan secepatnya.”
Panggilan itu pun berakhir.
Ia meletakkan ponsel itu di atas meja kecil di samping tempat tidur. Lalu, tubuhnya bersandar perlahan pada sandaran. Tatapannya kosong menatap jendela kamar. Cahaya siang masuk melalui tirai tipis, namun wajahnya justru terlihat semakin berat oleh pikiran. Nama yang baru saja disebutkannya kembali terngiang di kepalanya.
Keluarga yang selama ini ia harap tidak akan pernah bersinggungan lagi dengan kehidupan cucunya. Namun, takdir justru mempertemukan mereka kembali. Rockhi mengepalkan tangannya perlahan. Beberapa bayangan masa lalu muncul di benaknya.
Masa lalu yang selama ini ia sembunyikan bahkan dari Tasya sendiri. Sebuah masa lalu yang berkaitan dengan keluarga Vasillo.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal