"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi yang membusuk
Ketegangan di ruang tamu itu begitu pekat hingga rasanya oksigen di dalam apartemen mewah itu mendadak menguap.
Kharel Renaud berdiri di tengah ruangan dengan keanggunan yang mengerikan. Mantel bulu rubah putihnya tampak kontras dengan dekorasi minimalis apartemen Zane yang serba gelap. Ia memandang berkeliling dengan tatapan menghina, seolah-olah seluruh Islandia hanyalah tempat sampah yang tidak layak disinggahi oleh kakinya yang beralaskan stiletto rancangan desainer ternama.
"Zane, Zane... tempat ini terlalu kecil untukmu. Terlalu dingin. Dan terlalu... menyedihkan," suara Kharel mengalun merdu, namun ada racun yang tersembunyi di setiap suku katanya. Ia mengalihkan pandangannya dari Zane dan memaku sasarannya pada Salena yang berdiri hanya beberapa meter darinya.
Salena tidak bergerak. Ia berdiri dengan kaki telanjang di atas lantai kayu yang dingin, hanya berbalut kemeja putih milik Zane yang menutupi separuh pahanya.
Meskipun secara visual ia tampak jauh lebih rapuh dibandingkan Kharel yang berpakaian lengkap dan glamor, sorot mata Salena justru yang paling tajam. Ia menatap Kharel bukan sebagai saingan cinta, melainkan sebagai seorang jaksa yang sedang menghadapi terdakwa yang paling hina.
"Keluarlah, Kharel. Aku tidak akan mengatakannya untuk ketiga kalinya," Zane memperingatkan.
Suaranya bukan lagi kemarahan yang meledak-ledak, melainkan nada rendah yang sangat berbahaya. Zane berdiri di antara kedua wanita itu, bahunya yang lebar seolah menjadi garis batas yang tidak boleh dilewati oleh api dari New York.
Kharel tertawa, suara tawa yang kering dan tanpa jiwa. Ia membuka tas tangan hermes kecilnya dengan gerakan yang sangat lambat, sengaja ingin mempermainkan saraf mereka.
"Kau pikir aku terbang melintasi Atlantik hanya untuk diusir seperti pengemis? Aku ke sini untuk menunjukkan pada gadis kecil ini... siapa kau sebenarnya, Zane Sebastian Vance."
Kharel mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil yang sudah tampak agak usang. Ia melemparkannya ke atas meja marmer di depan mereka. "Kau bercerita padanya tentang Phoenix? Kau bercerita tentang betapa kau membenciku? Tapi, apakah kau bercerita padanya tentang malam ? Malam di mana kau memohon padaku untuk tidak menikahi Phoenix karena kau tidak sanggup melihatku bersama pria lain?"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Salena. Ia melirik Zane. Rahang pria itu mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Zane terdiam, dan diamnya pria itu terasa seperti hantaman godam bagi Salena.
"Kau berbohong," desis Salena, meski suaranya sedikit bergetar.
"Oh, Sayang... tanyakan padanya," Kharel melangkah mendekati Salena, aroma parfumnya yang manis dan mencekik memenuhi hidung Salena. "Zane adalah aktor yang sangat hebat. Dia lari ke sini bukan karena dia membenciku, tapi karena dia takut pada besarnya obsesinya sendiri terhadapku. Dia takut jika dia tetap di New York, dia akan membunuh Phoenix hanya untuk memilikiku."
Kharel kemudian menatap Zane dengan tatapan penuh kemenangan. "Katakan padanya, Zane. Katakan padanya bahwa tato dipergelangan tangan mu itu adalah permintaanku. Katakan padanya bahwa kau masih menyimpan surat-suratku di bawah bantalmu."
Zane mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-bukunya memutih. Ia menatap Salena, matanya dipenuhi dengan rasa sakit dan permohonan agar Salena tidak mempercayai satu pun kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu.
"Jangan dengarkan dia, Salena," suara Zane serak. "Dia sedang meracunimu. Dia ingin menghancurkan satu-satunya hal baik yang tersisa di hidupku."
Salena menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah maju, melewati Zane, dan berdiri tepat di depan Kharel. Jarak mereka begitu dekat hingga Salena bisa melihat retakan pada riasan tebal di mata Kharel, retakan yang menunjukkan kegilaan yang sesungguhnya.
"Kharel Renaud," ucap Salena dengan ketenangan yang menakutkan. "Aku sudah mempelajari kasus-kasus selama empat tahun di fakultas hukum. Kau adalah contoh yang sangat klasik. Kau tidak mencintai Zane. Kau hanya mencintai kekuatan yang kau miliki saat kau melihat dua pria hebat saling menghancurkan demi dirimu."
Salena mengambil amplop di atas meja tanpa membukanya, lalu ia menyulut korek api yang ada di atas nakas dekorasi. Ia membakar amplop itu di depan wajah Kharel.
"Masa lalu Zane bukan urusanku. Apa pun yang dia katakan padamu di New York, itu adalah pria yang sedang hancur. Pria yang berdiri di sampingku malam ini adalah pria yang berbeda. Pria yang memilih untuk memasakkanku makan pagi, pria yang menciumku dengan rasa syukur, dan pria yang memintaku untuk tetap tinggal," Salena membuang amplop yang mulai hangus itu ke dalam asbak kristal.
"Kau datang ke sini membawa abu, Kharel. Tapi di Islandia, abu hanya akan terkubur di bawah salju. Kau tidak punya kekuatan di sini. Kau tidak punya pesona di sini. Di mata hukum, kau adalah penyusup. Dan di mataku... kau hanyalah seorang wanita malang yang kesepian yang sedang mengejar bayangan yang sudah lama pergi."
Kharel tertegun. Wajahnya yang semula cantik kini berubah menjadi jelek karena kemarahan yang meluap. Ia mengangkat tangannya untuk menampar Salena, namun dengan kecepatan yang tidak terduga, Zane menangkap pergelangan tangan Kharel dan mencengkeramnya dengan sangat kuat.
"Cukup, Kharel. Pergi. Sekarang. Atau aku sendiri yang akan menyerahkanmu pada kepala keamanan Ashford yang sudah menunggu di lobi," ancam Zane, suaranya sedingin es kutub.
Kharel menatap Zane, lalu menatap Salena dengan kebencian yang murni. Ia menyentakkan tangannya dari genggaman Zane, merapikan mantelnya dengan gerakan kaku, dan berbalik menuju pintu.
"Ini belum selesai," ucap Kharel tanpa menoleh. "Manhattan akan selalu memanggilmu pulang, Zane. Dan kau, Salena... semoga kau suka dengan rasa dingin yang akan segera menyelimuti hidupmu."
Pintu apartemen terbanting keras. Keheningan yang menyakitkan kembali menyelimuti ruangan itu. Zane berdiri mematung, kepalanya tertunduk. Ia tampak seperti seorang prajurit yang baru saja memenangkan pertempuran namun kehilangan seluruh kekuatannya.
Salena mendekat, perlahan menyentuh punggung Zane yang penuh tato. Ia bisa merasakan tubuh pria itu gemetar.
"Zane?"
Zane berbalik dan langsung memeluk Salena dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Salena.
"Jangan percaya padanya, Sal... Kumohon, jangan pergi," bisiknya dengan suara yang hancur.
Salena membalas pelukan itu, mengelus rambut basah Zane. Ia tahu malam ini barulah pembukaan.
Kharel tidak akan menyerah begitu saja, dan Phoenix mungkin akan terjepit di antara persahabatannya dengan Zane dan obsesinya pada Kharel. Tapi saat ini, di bawah cahaya lampu Reykjavik, Salena telah memilih posisinya. Ia bukan lagi sekadar penonton; ia adalah pelindung sang Dewa.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰😍