Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 21
Jay menyeringai tipis melihat binar ketakutan yang mulai bercampur dengan gairah di mata Anna. Ia tak memberi wanita itu kesempatan untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Dengan satu gerakan sentakan yang halus namun dominan, Jay menyusupkan lengannya di bawah lipatan lutut dan punggung Anna, mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.
“Ah! Apa yang jau lakukan! Turunkan aku!” Anna memekik pelan, tangannya refleks melingkar di leher kokoh Jay agar tidak jatuh.
Jay tidak menjawab. Ia melangkah keluar dari ruangan merah yang mencekam itu, membawa Anna melewati lorong apartemen yang dingin menuju kamar utama.
Aroma maskulin dari tubuh Jay yang baru saja mandi menyeruak kuat, memenuhi indera penciuman Anna, membuatnya pening oleh sensasi yang asing.
Begitu sampai di kamar, Jay tidak meletakkannya dengan kasar. Ia menurunkan Anna di tepi ranjang besar yang empuk. Namun, sebelum Anna sempat bergeser menjauh, Jay sudah mengungkungnya.
Pria itu berlutut di antara kedua kaki Anna, menumpu berat tubuhnya dengan tangan di sisi kiri dan kanan paha wanita itu.
Kaus putih yang Anna kenakan tersingkap sedikit, mengekspos paha mulusnya yang kontras dengan seprai gelap di bawahnya.
“Kau bilang kau haus, bukan?” bisik Jay, suaranya kini serendah geraman. Matanya menelusuri setiap inci wajah Anna yang memerah.
“Tapi melihatmu seperti ini, memakai bajuku... justru aku yang merasa sangat haus sekarang.”
Jay memajukan wajahnya, membiarkan ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Anna. Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah-olah udara di kamar itu mengandung listrik yang siap meledak hanya dengan satu sentuhan lagi.
“Tadi kau bertanya apakah kau merepotkanku,” Jay mengulang pertanyaan Anna dengan nada yang jauh lebih intim.
Tangannya yang besar perlahan merayap naik, jemarinya membelai lutut Anna, terus naik ke balik kain kaus tipis itu.
Anna gemetar. Sentuhan itu tidak kasar, justru sangat perlahan, seolah Jay sedang menikmati setiap inci kulit yang ia klaim.
“K.. Kau… Bilang kau akan tidur di sofa.”
Jay tertawa kecil, suara baritonnya bergetar di dada Anna.
“Itu sebelum aku melihatmu keluar dari kamar mandi dengan pakaianku, Anna. Dan sebelum aku tahu kau masuk ke ruangan rahasiaku. Bukankah aku sudah memperingatkanmu, aku tidak akan memakanmu, kecuali kau yang memulainya.”
Jay mendekat ke telinga Anna, menggigit kecil cuping telinganya hingga Anna memejamkan mata dan mengeluarkan lenguhan halus yang tak sanggup ia tahan.
“Malam ini, sofa itu terasa sangat jauh. Dan aku tidak berencana membiarkanmu tidur sendirian setelah kau melihat apa yang ada di balik dinding rahasia itu.”
Jay menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Anna dengan intensitas yang seolah bisa menelanjangi jiwa wanita itu.
“Pilihannya ada di tanganmu. Kau mau aku berhenti sekarang dan pura-pura tidak terjadi apa-apa, atau kau ingin tahu seberapa jauh 'serigala' ini bisa menjagamu?”
Tangan Jay berhenti di pangkal paha Anna, ibu jarinya memberikan tekanan lembut yang membuat napas Anna tercekat.
Anna seolah kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Aroma tubuh Jay yang maskulin dan dinginnya sisa air mandi di kulit pria itu kontras dengan hawa panas yang menjalar dari titik di mana tangan Jay menyentuh paha dalam Anna.
“Ak… Aku tidak tahu,” bisik Anna, suaranya pecah, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar yang hanya diisi suara napas mereka yang memburu.
Jay menyeringai, sebuah ekspresi kemenangan yang murni. Ia tidak menunggu jawaban verbal. Baginya, mata Anna yang sayu dan jemari wanita itu yang kini justru meremas bahu telanjangnya adalah lampu hijau yang paling terang.
“Kau tidak perlu tahu, Anna. Biar aku yang menuntunmu,” gumam Jay rendah.
Jay menarik tubuhnya ke atas, merangkak di atas ranjang hingga ia mengurung Anna sepenuhnya di bawah kungkungan tubuhnya yang berat dan berotot. Ia menekan tubuh Anna ke kasur yang empuk, membuat kaus putih yang kebesaran itu tersingkap lebih tinggi, memamerkan lekuk tubuh Anna yang selama ini yang hanya bisa ia lihat melalui layar monitor selama 4 tahun.
Kali ini, Jay tidak meminta izin. Ia mencium Anna kembali, lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh dengan rasa lapar yang selama ini ia tekan di balik dinding rahasianya. Lidahnya menyapu bibir Anna, mengecap rasa manis yang membuatnya semakin haus.
Tangan Jay yang besar tidak lagi diam. Ia menyelusup ke bawah kaus putih itu, menyentuh kulit pinggang Anna yang halus, lalu naik perlahan hingga menyentuh lengkungan tulang rusuknya.
Setiap sentuhan Jay meninggalkan jejak panas yang membuat Anna melenguh kecil di sela ciuman mereka.
Anna merasakan sensasi yang meledak-ledak. Logikanya mengatakan pria ini berbahaya, seorang penguntit yang obsesif, namun tubuhnya justru bereaksi seolah ia memang diciptakan untuk berada di bawah dominasi Jay.
Anna melingkarkan kakinya di pinggang Jay, sebuah gerakan penyerahan diri yang membuat Jay mengerang rendah di tenggorokan.
“Kau milikku, Anna,” bisik Jay di antara kecupan-kecupan panas di leher Anna.
“Bahkan sebelum kau menyadarinya, kau sudah menjadi milikku.”
Jay mulai menciumi sepanjang garis rahang Anna, turun ke leher, dan berhenti di tulang selangka yang menonjol cantik. Ia memberikan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan tanda kemerahan—sebuah klaim yang nyata.
Tangan Jay kini berpindah ke kerah kaus putih yang dikenakan Anna, menariknya sedikit ke bawah untuk mengekspos bahu Anna yang mulus.
“Kau tampak jauh lebih cantik saat mengenakan pakaianku, tapi kau akan tampak jauh lebih indah tanpa apa pun.”
Jay mulai menarik perlahan ujung kaus itu ke atas, mata gelapnya terkunci pada mata Anna, menunggu reaksi terakhir. Anna hanya bisa menatapnya dengan napas tersengal, matanya berkaca-kaca oleh gairah yang tak tertahankan. Ia menarik tengkuk Jay, membawa pria itu kembali ke bibirnya, sebuah isyarat bisu bahwa ia telah menyerah sepenuhnya pada badai yang ia undang sendiri.
Logikanya berjalan, bahwa ini adalah kesalahan, ia bahkan belum mengetahui siapa nama pria yang sedang menciumnya.
Setiap kali Anna bertanya, pria di yang sedang mengungkungnya tidak pernah mau menjawab.
Jay menggigit perut Anna pelan, wanita itu terkejut dan membuat tangannya menyenggol sesuatu.
“BRAK!”
Anna melihat beberapa barang jatuh.
Melihat barang-barang itu berserakan. Ekspresi Jay datar. Tidak menunjukkan kemarahan atau ketidak sukaan.
“Ma… Maaf…” kata Anna takut. Pria di hadapannya akan marah karena ia menjatuhkan barang milik tuan rumah.
“Tidak apa-apa. Tidak ada yang harus di maafkan.” Kata Jay.
Namun, Anna mendadak membeku di tepi ranjang melihat benda yang berserakan itu.
Suara napas Jay yang memburu di belakang lehernya mendadak terasa jauh, tergantikan oleh dentum jantungnya sendiri yang seolah menghantam rongga dada. Benda-benda usang di lantai itu tampak begitu kontras dengan kemewahan apartemen ini, namun bagi Anna, benda itu adalah kepingan memori yang selama ini ia anggap angin lalu.
“Aku ingat sesuatu… Jadi… Pria itu… Kau?” bisik Anna, suaranya bergetar hebat.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....