Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Special chapter 3 : Warisan untuk sang pangeran jalanan
Sepuluh tahun telah berlalu dengan sangat cepat, namun bagi Syra dan Arkanza, setiap detiknya terasa seperti sebuah investasi yang berharga. Zavian kini sudah tumbuh menjadi bocah laki-laki yang cerdas dengan tatapan mata yang dalam dan tajam seperti ayahnya, namun memiliki keberanian dan sifat keras kepala yang sangat mirip dengan ibunya. Ia adalah perpaduan sempurna antara ketenangan pesantren dan kegesitan jalanan.
Suatu sore yang tenang di bengkel Creative Hub yang kini sudah menjadi pusat inovasi otomotif di Jawa Timur, Zavian sedang membantu—atau lebih tepatnya mengacaukan—meja kerja ibunya. Ia kemudian menemukan sebuah kotak besi tua yang sedikit berkarat di sudut rak paling bawah. Kotak itu terkunci rapat dengan gembok kecil.
"Umi, ini isinya apa? Kunci motor rahasia ya? Atau peta harta karun?" tanya Zavian dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
Syra tersenyum kecil, ia meletakkan obengnya, lalu mengajak Zavian duduk di bangku panjang bengkel. Ia mengambil kunci kecil dari saku jaketnya dan membuka kotak itu. Di dalamnya tidak ada emas atau perhiasan mahal. Yang ada hanyalah sebuah foto polaroid lama yang sudah mulai menguning di bagian tepinya. Foto itu memperlihatkan Arkanza muda yang berambut sedikit gondrong, mengenakan jaket kulit penuh emblem, berdiri gagah di samping motor BMW hitamnya. Di sebelahnya ada Syra muda, tanpa kerudung saat itu, mengenakan baju balap lengkap dengan piala emas besar di tangannya. Keduanya tampak begitu liar, namun ada binar pencarian di mata mereka.
Di bawah foto itu, ada sebuah surat yang ditulis Arkanza dan Syra tepat pada malam pertama mereka resmi mendiami dhalem setelah menikah. Syra menarik napas panjang dan membacakannya untuk Zavian:
"Untuk putraku, Zavian Farras Farhana.
Mungkin saat kamu tumbuh besar, orang-orang akan bercerita padamu dengan nada miring bahwa Abi-mu adalah seorang 'Singa Jalanan' yang liar dan Umi-mu adalah seorang 'Naga Kecil' yang pemberontak. Mereka tidak sepenuhnya salah, Nak. Kami memang pernah tersesat jauh di aspal jalanan yang keras, mencari arti jati diri dalam deru mesin yang bising dan kecepatan yang semu.
Tapi ketahuilah satu hal, Zavian. Aspal jalanan itu mengajarkan kami tentang arti terjatuh, tentang perihnya luka, dan tentang betapa rapuhnya kekuatan manusia. Dan sajadah di pesantren inilah yang mengajarkan kami tentang cara bangkit kembali, tentang arah yang benar, dan tentang di mana kami harus bersujud.
Abi dan Umi ingin kamu tumbuh setangguh mesin motor klasik itu—sulit dinyalakan namun takkan bisa dihentikan jika sudah berjalan di jalur yang benar. Namun, pastikan hatimu tetap lembut dan tenang seperti suara lantunan selawat di masjid saat fajar menyingsing. Jangan pernah malu dengan masa lalu kami, karena dari masa lalu yang kelam itulah kami belajar betapa indahnya cahaya hidayah Allah.
Teruslah berkendara mengarungi dunia, Zavian. Tapi ingat pesan kami: Jangan pernah lepaskan tanganmu dari 'rem' iman, sesering apa pun dunia menyuruhmu untuk terus tancap gas."
Zavian menatap foto itu cukup lama, seolah sedang menyerap energi dari masa lalu kedua orang tuanya. Ia kemudian menatap Syra dengan tatapan yang sangat dewasa untuk anak seusianya.
"Umi, Zavian mau jadi kayak Abi. Jago main motor tapi juga hafal Al-Qur'an. Biar nanti Zavian bisa jaga Umi kalau Abi lagi ceramah di luar kota!"
Syra memeluk putranya erat-erat, menahan air mata haru yang mulai menggenang. Di luar bengkel, Arkanza sedang berjalan menuju mereka dengan senyum yang tetap sama seperti sepuluh tahun yang lalu—senyum yang selalu memberikan rasa aman. Arkanza melihat mereka, lalu ikut bergabung dalam pelukan itu. Di bengkel kecil yang penuh dengan aroma oli dan doa ini, Syra menyadari bahwa warisan terbaik untuk anaknya bukanlah harta, melainkan sebuah cerita tentang bagaimana manusia bisa berubah menjadi lebih baik jika mereka menemukan cinta yang tepat dan jalan pulang yang suci.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...