Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Pagi itu, mansion Volkov terasa lebih mencekam daripada penjara bawah tanah yang paling dingin sekalipun. Sinar matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar di ruang makan seolah tidak mampu menembus kabut permusuhan yang menyelimuti meja panjang itu. Alana turun dengan langkah yang sangat pelan, tangannya berpegangan pada pegangan tangga kayu jati, mencoba menahan rasa pening yang berputar di kepalanya.
Ia mengenakan gaun rumah sederhana yang tampak longgar di tubuhnya yang semakin hari semakin terlihat ringkih. Harapan kecil masih tersisa di hatinya—mungkin setelah kemarahan semalam mereda, Dante akan menunjukkan sedikit sisi manusiawinya. Mungkin pria itu hanya terkejut.
Dante sudah duduk di sana, di kepala meja. Ia tampak sempurna namun mematikan dengan setelan jas abu-abu gelap. Matanya yang tajam tertuju pada tablet di tangannya, sama sekali tidak menoleh saat Alana menarik kursi dan duduk dengan gemetar.
"Dante..." sapa Alana lirih.
Pria itu hanya diam. Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap wajah pucat pasi Alana dengan tatapan kosong, seolah ia sedang melihat orang asing yang tidak berarti. Keheningan itu begitu menyakitkan hingga Alana merasa sesak.
Seorang pelayan meletakkan sepiring bubur gandum dan buah-buahan di depan Alana. Aroma makanan yang biasanya menggoda itu kini tercium seperti racun bagi indra penciumannya. Alana mencoba bersikap normal; ia mengambil satu suap kecil, berusaha menelannya demi nyawa yang ada di rahimnya. Namun, baru saja makanan itu menyentuh kerongkongannya, gelombang mual yang hebat menghantamnya tanpa ampun.
Alana membekap mulutnya, wajahnya berubah menjadi kehijauan. Ia segera bangkit, berniat lari menuju kamar mandi terdekat.
BRAKK!
Suara pisau dan garpu perak yang dibanting ke atas piring porselen terdengar seperti ledakan di ruangan sunyi itu. Alana tersentak hebat, tubuhnya gemetar menahan takut. Ia mengira Dante muak melihatnya, ia mengira pria itu akan mengusirnya karena dianggap mengganggu ketenangan sarapannya.
Namun, sebelum Alana sempat melangkah, Dante sudah berada di sampingnya. Dengan kecepatan predator yang mengerikan, ia menyambar tubuh Alana dan menggendongnya secara bridal style. Ia tidak membawa Alana ke kamar mandi umum, melainkan langsung membawanya dengan langkah lebar menuju kamar mandi di lantai bawah.
Sesampainya di sana, Dante menurunkan Alana di depan wastafel. Alana langsung memuntahkan seluruh isi perutnya, air mata mengalir karena rasa sakit dan kontraksi perutnya yang menyiksa. Di tengah penderitaannya, ia merasakan sesuatu yang tidak ia duga.
Tangan besar Dante—tangan yang sama yang telah membunuh banyak orang—kini hinggap di tengkuknya. Pria itu memijat tengkuk Alana dengan gerakan yang anehnya sangat telaten, membantu meredakan ketegangan saraf istrinya. Untuk beberapa detik, Alana merasa bahwa suaminya mungkin peduli. Ia merasa bahwa mungkin ada cinta di balik kekerasan itu.
Setelah mualnya mereda, Dante mengambil tisu, menyeka bibir Alana yang basah, dan memaksanya untuk berdiri tegak menatap cermin. Alana menoleh, matanya yang basah mencari perlindungan di mata biru es suaminya.
Namun, yang ia temukan hanyalah kegelapan yang pekat.
"Sudah lebih baik?" suara Dante terdengar sangat dingin, nyaris tidak ada emosi di dalamnya.
Alana mengangguk lemah. "Terima kasih, Dante... aku—"
"Besok, Dr. Arisov akan kembali ke sini," potong Dante dengan nada yang tajam seperti belati. Ia menatap Alana tepat di matanya, memberikan tekanan psikologis yang luar biasa. "Gugurkan janin itu."
Alana membeku. Matanya melotot lebar, detak jantungnya seolah berhenti seketika. Ia merasa seolah-olah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu menghilang. "A-apa? Apa yang kau katakan, Dante?"
"Aku tidak suka mengulangi perintahku, Alana," geram Dante, rahangnya mengeras. "Aku tidak menginginkan anak itu. Aku tidak ingin ada makhluk lemah yang membawa namaku. Gugurkan, sebelum aku sendiri yang akan melakukannya dengan caraku yang jauh lebih menyakitkan."
"TIDAK!" Alana berteriak, suaranya melengking penuh keputusasaan. Ia secara instingtif mendekap perutnya sendiri, mundur beberapa langkah hingga menabrak dinding dingin. "Ini anakmu, Dante! Benihmu! Bagaimana bisa kau setega itu membunuh darah dagingmu sendiri?"
Dante melangkah maju, memerangkap tubuh mungil Alana di antara dinding dan tubuh raksasanya. Ia mencengkeram dagu Alana dengan sangat kuat, memaksanya menatap monster di dalam dirinya.
"Hanya karena dia berasal dariku, bukan berarti dia berhak hidup. Seorang Volkov hanya akan melahirkan kehancuran, Alana. Aku tidak akan membiarkan monster lain lahir ke dunia ini," desis Dante dengan kebencian yang mendalam pada dirinya sendiri dan masa lalunya. "Pilihannya sederhana: kau melakukannya di bawah pengawasan medis besok, atau kau akan melihatku menghancurkan segala hal yang kau sayangi jika kau berani mempertahankannya."
Alana menggeleng hebat, air mata kini membanjiri pipinya. Ia menatap pria yang ia cintai dan ia takuti ini, menyadari bahwa ia baru saja menerima vonis mati bagi buah hatinya dari tangan ayahnya sendiri. Sang Predator tidak ingin memberikan kehidupan; ia hanya tahu cara mencabutnya.
Sama klau bisa request yg dominan cewenyabdongggg
kecewa😔😔😔