Nando menatap tubuh sang istri yang terbaring dengan tubuh penuh nanah dan tidak pernah berhenti merintih, sudah dua bulan ini Yuli terus aja menderita dengan rasa sakit begitu panjang dan ini semua tidak tahu datang dari mana.
Yuli adalah wanita yang tipe tidak pernah keluar rumah untuk urusan jalan-jalan atau yang membuang waktu, dia hanya diam di rumah dengan penampilan sederhana serta tidak banyak bertingkah namun mendadak saja sekarang jadi sakit seperti itu dan kabar beredar bahwa dia sedang di santet.
Siapa kah yang sudah menyantet Yuli?
Benarkah bahwa Yuli memang terkena santet?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Memang santet
"Mbak Tina." April istri dari Farel mendatangi Tina.
"Iya, Pril." Tina yang sedang bersiap untuk pergi mengunjungi rumah sakit menoleh dan menatap wanita itu.
"Tadi malam kan Abang Farel pergi sama Mbak Tina ya, kok sekarang dia belum pulang?" April mencari keberadaan sang suami yang belum sampai rumah sampai saat ini.
"Maaf ya, sekarang Farel sedang ada di rumah sakit bersama dengan Niko dan ini mobil dia." Tina jadi merasa sungkan kepada April.
"Oh gitu, pantas saja tadi kulihat sudah ada mobil kami tapi kok Bang Farel sama sekali tidak ada." ujar April yang sebenarnya dia juga bingung kenapa sang suami belum pulang ke rumah.
"Ada sedikit masalah tadi malam sehingga aku pulang duluan dan ini mau mengembalikan mobil kalian, setelah ini aku akan pulang lagi ke rumah sakit itu dan nanti Farel pasti akan segera pulang." ujar Tina.
"Oh iya enggak masalah, tadi aku cuma kepikiran saja kenapa dia belum pulang." angguk April sambil tersenyum.
Mobil milik April dan juga Farel memang sudah ada di depan rumah Yuli sehingga pantas saja bila wanita ini bertanya kepada Tina tentang keberadaan sang suami, setelah mendengar bahwa suami dia masih ada di rumah sakit untuk menemani Niko yang sedang berjaga maka April tidak masalah dengan hal itu.
Lagi pula dia juga sudah tahu bahwa saat ini Yuli sedang sakit keras sehingga mungkin saja sedang membutuhkan bantuan dan perlu di jaga oleh beberapa orang, sebab terlihat juga Tina sedang bersiap untuk menuju rumah sakit dengan bawaan yang begitu banyak karena dia akan menuju rumah sakit itu menggunakan mobil dia sendiri.
Namun April masih sedikit heran karena Nando sama sekali tidak terlihat membantu Tina yang sedang kerepotan seperti ini, tampak jelas dari luar bahwa Nando sedang bermain ponsel dan duduk di sofa sehingga timbul tanda tanya besar di dalam kepala wanita muda dan cantik ini.
Tapi mau bertanya langsung kepada Tina yang sedang serius itu mendadak lidah April terasa kelu karena dia juga merasa agak sungkan sehingga memutuskan untuk mengambil mobil dia secara langsung saja, nanti bila ada kesempatan maka dia akan bertanya kepada Farel dan akan menjenguk Yuli di rumah sakit itu juga.
Untuk sekarang lebih baik diam saja dulu karena April juga tipe tetangga yang tidak cerewet dan tidak ingin tahu urusan orang lain, kalau dalam hati sekarang dia sangat penasaran apa yang telah terjadi dan kenapa tidak terlihat begitu marah kepada seseorang, hati April mengatakan bahwa Tina pasti sedang marah besar kepada Nando.
"Mari Mbak saya pulang dulu." pamit April sambil mengendarai mobil dia.
"Iya, terima kasih sudah membantu kami tadi malam ya." Tina mengucapkan rasa terima kasih dia.
"Iya." April tersenyum dan segera pergi dari depan rumah Yuli.
"Ayo cepat, Tante." Yudith sudah tidak sabar ingin segera mengunjungi rumah sakit.
"Sabar ya, ini Tante lagi ngurus bawaan kita." jawab Tina begitu lembut.
"Kenapa Papa tidak peduli sama Mama?" Yudith bertanya dengan suara serak karena dia terus menangis sejak tadi malam.
"Astaga Nando, aku harus menjawab apa sekarang pada anak mu ini." keluh Tina dalam hati nya.
"Yudith, tinggal di rumah saja sama Papa ya." Nando keluar dari rumah.
"Di rumah saja sama Papa? memang nya kau tidak akan kerumah sakit!" Tina menatap sang adik tajam.
"Nanti kalau sudah selesai aku akan kesana kok, santai saja kenapa sih." Nando menjawab santai.
"Papa jahat, Mama lagi sakit sekarang!" teriak Yudith dengan air mata berderai.
Ini kalau saja Tina tidak memiliki kesabaran yang luar biasa maka sudah pasti saatnya dia akan menghajar Nando, bagaimana bisa memiliki adik yang tidak pernah peduli kepada sang istri dan membiarkan begitu saja sang istri ada di dalam rumah sakit itu sendirian walau nanti dia mengatakan akan mengunjungi Yuli juga.
Namun dari gelagat dia yang santai seperti itu bisa membuat siapa saja pasti akan emosi bila mendengar ucapan Nando, tidak ada sedikit rasa kaget atau pun terburu-buru ingin mendatangi rumah sakit agar bisa menemani sang istri yang tengah berjuang menahan rasa sakit pada tubuh dia saat ini.
...****************...
"Aku pulang sekarang." Sadewa memilih pulang karena ada yang perlu dia bahas.
"Mas saya minta tolong untuk membantu ipar saya ya." Niko cepat berdiri.
"Insya Allah pasti akan saya bantu, nanti akan saya bicarakan dulu dengan atasan saya." janji Sadewa karena dia kasihan setelah mendengar cerita dari Niko tadi.
"Ini udah siang seperti ini tapi Nando juga belum datang." Farel ikut kesal.
"Suami dia kerja apa?" Sadewa jadi tertarik dengan kisah rumah tangga Yuli dan juga Nando.
"Kantor, dia punya jabatan yang cukup bagus sehingga rumah tangga mereka sebenarnya selama ini cukup adem dan juga tentram." jelas Farel kepada Sadewa.
Sadewa mengangguk Karena sekarang sedikit demi sedikit dia mulai menyadari bahwa rumah tangga yang terlihat adem dan tentram belum tentu itu baik-baik saja, apalagi sekarang para pria bila sudah memiliki uang maka pasti akan tergiur dengan orang lain yang menurut dia lebih cantik atau menawan dari istri sendiri.
Jadi emang semua harus di usut dengan sangat baik agar tidak ada satu pun yang terlewat tentang kejadian rumah tangga Juli dan juga Nando ini, terlebih lagi Sadewa merasa ada yang janggal karena santet yang dipergunakan adalah menggunakan arwah yang masih Suci sehingga nanti pasti akan begitu sulit untuk melawan santet itu.
Sadewa tidak bisa mengurus ini sendirian sehingga dia memutuskan untuk bertemu langsung dengan atasan yang ada di desa, jadi nanti dia pasti memiliki teman untuk saling curhat satu sama lain agar tidak ada kesalahan dalam mengurus masalah tersebut, bila terlalu gegabah maka nanti yang ada masalah itu akan berbalik kepada dia sendiri.
"Paling lama dua hari aku pasti akan segera memberi kabar kepada kalian." janji Sadewa kepada Niko dan Farel.
"Baik, kami akan menunggu kabar itu dari Mas Sadewa." angguk Niko.
"Jangan lupa saat nanti akan datang maghrib maka terus membaca surah Yasin di depan pintu kamar dia." pesan Sadewa pada Niko.
"Iya, saya akan mengingat pesan itu." angguk Niko.
Sadewa segera pergi meninggalkan rumah sakit karena dia telah mengantongi semua berita dan nanti akan menceritakan kepada atasan yang dia maksud itu, entah nanti bagaimana tapi yang jelas Dewa sangat yakin bahwa nanti malam pasti akan segera datang lagi iblis yang di jadikan sarana santet tersebut.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya.
kenapa sendal jepit ga di ajak masuk aja sih mak... biar dia kapok...