NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Komedi / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — KONTRAK YANG SALAH SISTEM

Alinea bengong natapin kertas di depannya. Lima detik berlalu, tapi otaknya beneran loading—nggak ada satu kata pun yang nyangkut. Kayaknya matanya cuma numpang lewat doang, sementara pikirannya entah lagi traveling ke mana.

Bukan karena tulisannya kecil.

Bukan karena bahasanya ribet.

Tapi karena judulnya bikin otaknya error.

HUMANITY COACHING AGREEMENT

Alinea mendongak pelan ke arah Arsenio.

“Pak,” katanya akhirnya, suara agak serak, “ini bercanda, kan?”

Arsenio berdiri nyandar di jendela gedenya. Di bawah sana, kota lagi riuh-riuhnya—mobil-mobil kelihatan kayak mainan Hot Wheels yang lagi macet, terus orang-orang udah kayak semut antrinya. Jujur, kontras banget sama ruangannya yang kelewat rapi dan sunyi sampai-sampai suara AC aja kedengeran jelas. Malah jadi kerasa... sepi banget, ya?

“Tidak,” jawabnya singkat.

Alinea mendadak susah nelan ludah, tenggorokannya berasa seret. Mana tangannya mulai keringat dingin lagi, sampai ujung kertas yang dia pegang jadi agak lembap dan lecek. Sumpah, dia beneran segugup itu sekarang.

“Oke,” kata Alinea sambil ketawa kecil, “kalau ini prank kantor buat staf baru—selamat, Bapak sukses.”

Arsenio nengok. Mukanya sih lempeng aja, datar kayak nggak ada ekspresi, tapi matanya beneran ngunci dan fokus banget ke lawan bicaranya. Tipe-tipe tatapan yang bikin kita ngerasa, "Oke, gue lagi diperhatiin banget nih, nggak boleh salah ngomong.”

“Saya tidak melakukan humor di jam kerja.”

Ya jelas. Humor juga butuh jiwa, Pak.

Alinea menghela napas, lalu akhirnya membaca isi kontrak itu.

Kalimat pertama langsung nusuk.

Pihak Kedua (Alinea) bersedia mendampingi Pihak Pertama (Arsenio) dalam kegiatan sosial terbatas guna meningkatkan citra personal dan kemampuan interaksi emosional.

Alinea mendecak pelan. “Ini maksudnya… saya jadi apa? Asisten pribadi?”

“Bukan.”

“Pacar sewaan?”

“Bukan.”

“Figuran hidup?”

Arsenio mengangkat alis. “Anda selalu menyimpulkan secara ekstrem?”

“Ini kontraknya ekstrem, Pak.”

Arsenio mulai jalan mendekat. Langkahnya tenang banget, nggak buru-buru tapi pasti—tipe-tipe orang yang kalau jalan nggak pernah kesrimpet. Sepatunya hampir nggak ada suaranya pas nyentuh lantai marmer, bikin suasana makin kerasa intense. Alinea yang tadinya agak bungkuk langsung refleks tegak, mendadak jadi kayak lagi ikut upacara saking otomatisnya.

“Fakta,” kata Arsenio, “nenek saya menganggap saya tidak punya kehidupan pribadi.”

Alinea mengernyit. “Dan itu salah saya?”

“Beliau mengancam akan menarik investasi keluarga jika saya tidak menunjukkan bahwa saya… normal.”

Kata normal diucapkan seperti istilah teknis.

Alinea menahan senyum. CEO segede gini ditekan neneknya. Dunia emang adil kadang.

“Dan Bapak pikir,” katanya, “solusinya saya?”

Arsenio ngelihatin dia lama banget. Sumpah, kelamaan sampai batas yang bikin orang jadi salah tingkah. Rasanya kayak lagi di-scanning dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi yang bikin makin deg-degan, tatapannya itu susah banget ditebak maunya apa.

“Setelah insiden kopi,” katanya pelan, “saya menyadari Anda tidak memfilter pikiran Anda.”

“Terima kasih… kayaknya.”

“Anda spontan. Reaktif. Emosional.”

“Pak, itu bukan kelebihan di CV.”

“Namun itu yang saya butuhkan.”

Sunyi.

Cuma suara AC yang kedengeran dengung halus, nemenin suasana yang makin canggung. Bau parfum Arsenio juga makin kecium—wangi mahal yang langsung bikin pusing (dalam artian positif, ya). Sekarang jarak mereka tinggal beberapa langkah doang, bikin Alinea bisa lihat jelas detail muka cowok itu. Rahangnya tegas banget, matanya tajam, dan mukanya itu, lho... tetep aja lempeng, kayak susah banget ditembus.

Gila sih. Tampangnya kayak model, sifatnya kayak kulkas.

“Jadi,” Alinea menyilangkan tangan,

“tugas saya ngapain?”

Arsenio menunjuk isi kontrak.

“Mendampingi saya dalam beberapa acara keluarga. Makan malam. Kunjungan sosial. Berpura-pura mengenal saya dengan baik.”

Alinea tertawa pendek. “Berpura-pura? Pak, saya bahkan nggak yakin Bapak manusia.”

Detik itu, sesuatu berubah.

Arsenio ngerutin keningnya dikit. Kelihatan banget sih kalau dia bukannya lagi marah, tapi lebih kayak... ngerasa keganggu gitu. Tahu kan, muka orang kalau lagi ngelihat sesuatu yang nggak pas di tempatnya atau ada yang bikin dia nggak nyaman? Nah, kayak gitu ekspresinya sekarang.

“Jelaskan.”

Tawa Alinea langsung berhenti mendadak. Sialnya, omongannya malah meluncur gitu aja sebelum otaknya sempat nyaring itu kata-kata. Beneran deh, mulutnya lebih cepet daripada pikirannya—tipe-tipe momen yang bikin kita pengen narik balik omongan tapi udah telat.

“Bapak hidup rapi banget. Terlalu rapi. Nggak pernah spontan. Nggak pernah kelihatan capek, atau kesel, atau… ya ampun, bahagia.”

Mendadak ruangannya berasa makin sempit. Padahal mah aslinya gede, tapi entah kenapa tembok-tembok di situ kayak makin ngerapet dan bikin sesek. Rasanya kayak oksigen lagi rebutan masuk ke paru-paru Alinea, saking awkward dan padetnya suasana antara Alinea sama Arsenio sekarang.

“Orang normal,” lanjut Alinea, jujur brutal, “punya chaos dikit. Punya kebiasaan aneh. Punya reaksi lebay. Bapak tuh kayak manual book.”

Alinea baru ngeh kalau napasnya udah kayak orang abis lari maraton—pendek-pendek dan agak cepet. Dadanya naik turun nggak beraturan, beneran kelihatan banget kalau dia lagi berusaha keras buat nggak kelihatan panik di depan Arsenio.

Kenapa gue ngomong gini lagi sih?

Arsenio masih aja ngelihatin Alinea. Lama banget, bener-bener fokus. Ekspresinya itu lho, persis kayak komputer lagi loading pas dapet kiriman data baru—kayak dia lagi berusaha keras mahamin Alinea itu makhluk jenis apa sebenarnya.

“Menarik,” katanya akhirnya.

“Apanya?”

“Anda tidak takut.”

Alinea mendengus. “Takut, Pak. Tapi keburu kesel.”

Sudut bibir Arsenio bergerak. Kali ini lebih jelas. Hampir… senyum.

“Justru itu,” katanya. “Saya ingin Anda.”

Kalimat itu jatuh terlalu berat untuk ruangan sekecil ini.

Alinea reflek berkata, “Kedengerannya salah, Pak.”

Arsenio mengangguk. “Saya sadar.”

Alinea kembali melihat kontrak. Matanya bergerak cepat ke bagian bawah.

Kompensasi:

Angkanya bikin dia refleks menarik napas tajam.

“Ini… serius?”

“Ya.”

“Bapak mau bayar saya segini cuma buat ngajarin Bapak basa-basi sama nenek?”

“Dan memahami emosi dasar.”

Alinea menutup mata sebentar.

Ini gila. Ini jebakan. Ini pasti endingnya gue dipecat secara halus.

Tapi angka itu…

Dan kontraknya cuma tiga bulan.

Dia membuka mata. “Kalau saya nolak?”

“Video Anda tetap viral.”

Ancaman itu diucapkan datar. Tanpa emosi. Tanpa nada jahat.

Tapi efektif.

“Oke,” gumam Alinea. “Itu licik.”

“Efisien.”

Alinea menatap Arsenio tajam. “Saya punya syarat.”

“Ajukan.”

“Pertama,” katanya, “saya nggak akan berubah gaya ngomong.”

“Diterima.”

“Kedua, saya nggak mau diperlakukan kayak bawahan di luar jam kerja kontrak.”

“Diterima.”

“Ketiga,” Alinea berhenti sebentar, “kalau saya bilang Bapak aneh, itu bagian dari pekerjaan.”

Arsenio berpikir dua detik. “Diterima.”

Alinea terkejut. “Serius?”

“Jika itu metode Anda.”

Alinea buang napas panjang-panjang, nyoba ngeluarin semua beban hidupnya. Bau ruangan ini jujur masih bikin dia pengen ciut, tapi entah kenapa sekarang ada perasaan lain yang nyelip. Bukannya makin takut, dia malah ngerasa tertantang. Kayak ada suara di otaknya yang bilang, "Oke, ayo kita lihat sejauh mana ini bakal jalan.”

Alinea mengambil pulpen.

Oke, Lin. Selamat. Hidup lo resmi tambah ribet.

Saat ujung pulpen menyentuh kertas, tiba-tiba—

Jantung Arsenio berdegup keras.

Satu kali.

Lalu dua.

Arsenio mengerutkan kening, refleks menekan dada kirinya.

Alinea melihat itu. “Pak?”

“Tidak apa-apa,” jawab Arsenio cepat.

“Tadi Bapak megang dada.”

“Respons fisiologis,” katanya kaku.

Alinea menyipitkan mata. “Bapak grogi?”

“Tidak.”

“Jantung Bapak bunyi keras banget.”

Arsenio masih aja natapin Alinea, tapi kali ini ada yang beda sama tatapannya. Nggak sedingin tadi, malah kelihatan agak... bingung? Kayak dia baru aja ketemu soal matematika yang nggak bisa dijawab pake logika biasanya. Si CEO yang biasanya serba tahu ini kayak lagi mikir, "Ini anak sebenernya kenapa sih?”

“Setiap kali Anda mendekat,” katanya pelan, “tubuh saya bereaksi.”

Alinea terdiam.

Hah?

“Kayak laptop overheat?” celetuknya refleks.

Arsenio mengangguk. “Analogi yang tepat.”

Alinea tertawa kecil. Gugup. “Wah, Pak. Saya virus berarti.”

Arsenio tidak membalas senyum.

Arsenio natap Alinea dalem banget, tipe tatapan yang intensitasnya tuh nggak main-main. Sumpah, rasanya sampai bikin udara di sekitar mereka mendadak jadi berat banget, kayak oksigennya sengaja ditarik keluar. Alinea berasa lagi di-pressure habis-habisan padahal Arsenio belum ngomong apa-apa.

“Mungkin,” katanya, “Anda adalah bug.”

Alinea menandatangani kontrak itu.

Klik.

Alinea menatap tanda tangannya sendiri di kertas itu.

Kesepakatan kemarin ternyata cuma pemanasan.

Waktu itu, di tengah chaos kopi dan adrenalin, semua terdengar seperti omongan spontan. Setengah ancaman, setengah bercanda. Alinea pikir Arsenio bakal lupa begitu saja, atau minimal berubah pikiran setelah tidur semalam.

Nyatanya, hari ini dia datang membawa map. Tebal. Rapi. Legal.

Ini bukan lanjutan dari kesepakatan kemarin.

Ini eskalasinya.

Yang kemarin cuma ucapan, sekarang jadi kontrak. Yang kemarin bisa ditarik kapan saja, sekarang mengikat.

Dan begitu gue tanda tangan, pikir Alinea, nggak ada tombol undo.

Di luar sana, orang-orang mungkin masih nganggep ini drama kantor receh. Padahal buat Alinea, ini sudah berubah jadi sesuatu yang jauh lebih serius—dan jauh lebih berbahaya—dari sekadar kopi tumpah dan CEO dingin.

Sistem resmi berjalan.

Dan tanpa mereka berdua sadarin, ada sesuatu yang jauh lebih bahaya dari sekadar tanda tangan kontrak

yang baru aja "nyala".

Yap, apalagi kalau bukan perasaan.

Logika mereka mungkin masih jalan, tapi hati mereka udah mulai main api sendiri. Dan kita semua tahu, kalau udah urusan hati, kontrak setebal apa pun nggak bakal ada gunanya.

Kesepakatan kemarin terdengar seperti lelucon.

Hari ini, semuanya tercetak rapi

legal, bermaterai, dan mengikat.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!