NovelToon NovelToon
Gue Jadi Figuran?

Gue Jadi Figuran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Transmigrasi ke Dalam Novel / Selingkuh / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Fantasi Wanita
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.

Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.

Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Seyra mengendarai motornya menuju Akademi Edevane, tempat para tokoh utama novel bersekolah. Seyra sudah tak sabar ingin menyaksikan secara langsung, bagaimana adegan di dalam novel muncul di depannya matanya.

Namun, begitu tiba di depan gerbang sekolah. Dia melihat seorang pemuda dengan pakaian acak-acakan khas anak berandalan sedang menatap ke arahnya dengan dingin.

"Seyra!" suara datar dan dingin menggema.

Seyra sontak menghentikan laju motornya, dia melepas helm dan menatap pemuda itu bingung.

"Lo siapa?"

Pemuda itu mendekat, dia menarik dagu Seyra hingga kedua pipinya terjepit di antara jemari pemuda itu.

"Sudah bosan rupanya? apa selama lo di Paris lo udah nemuin gebetan baru?" tuduh pemuda tersebut.

Seketika kening Seyra berkerut, dia tak paham kemana arah pembicaraan mereka. Belum lagi, pemuda itu nampak tak asing tapi dia tidak tahu siapa.

"Lo ngomong apaan sih? kenal juga enggak pake sok posesif segala. Minggir sana, gue mau masuk!" usir Seyra sambil menepis tangan pemuda itu.

"Sey-"

"Apa ganteng? mau nebeng?" potong Seyra sebelum menyalakan kembali mesin motornya dan masuk ke halaman sekolahnya, meninggalkan tatapan syok di wajah pemuda tadi.

Tak berselang lama, muncul dua sahabat Seyra. Mereka dengan heboh mendekati Seyra dan memarkirkan motornya di sisi motor gadis itu.

"Pagi, Sey." Sapa Agha.

Seyra menoleh, "Pagi juga, eh, kalian sekolah di sini juga?"

Seyra heran, sebab tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua yang mengatakan jika mereka akan satu sekolah dengannya.

"Iya, kita berdua sekolah di sini. Ngomong-ngomong tatapan pacar lo kayak mau nelen kita berdua, Sey." Jawab Samuel, ekor matanya melirik ke arah pemuda yang sedang melangkah ke arahnya.

"Pacar? siapa?" tanya Seyra bingung.

Samuel dan Agha tercengang, mereka berdua serempak menunjuk ke arah pemuda yang baru saja sampai di depan mereka.

"Ini Arthur, cowok lo." Jawab Agha.

Seyra tak langsung menjawab, namun pandangannya tertuju pada pemuda di sisinya. "Lo pacar gue? sejak kap-"

Mendadak potongan ingatan kembali muncul, Seyra memejamkan kedua matanya. Setelah ingatan itu hilang, barulah dia menatap Arthur yang masih memandangnya dengan tatapan rumit.

"Jadi kita pacaran?" tanya Seyra polos.

"Lo lupa? atau lo pura-pura lupa, Baby?"

Seketika Seyra bergidik ngeri, dia tidak menyukai panggilan lebay seperti itu. Kesannya dia merasa di samakan dengan babi.

"Jangan panggil baby deh, gue bukan babi. Panggil nama aja biar nggak ribet." Protes Seyra.

"Tapi, Beb..."

"Sekali lagi lo panggil kayak gitu, kita putus!" ancam Seyra dingin.

Seketika Arthur menelan ludahnya kasar, dan wajahnya berubah menjadi serius. "Baiklah, Sayangku. Maaf kalau gue bikin lo nggak nyaman," katanya dengan nada yang sedikit menggoda.

Namun, di dalam hatinya dia merasa campur aduk. Di satu sisi, dia ingin menghormati keinginan Seyra, tetapi di sisi lain dia khawatir tentang sikap pacarnya yang berubah.

Samuel dan Agha saling bertukar pandang, merasakan ketegangan di antara mereka.

"Mungkin kita perlu memberi kalian sedikit ruang," ujar Samuel, mencoba mencairkan suasana.

Dia dan Agha melangkah menjauh, meninggalkan Seyra dan Arthur dalam kebisuan yang canggung.

Seyra masih menatap Arthur, berusaha mencari jawaban di balik tatapannya yang dalam. "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di antara kita? kenapa gue nggak ingat apa-apa?"

Suara Seyra terdengar lebih lembut, seolah-olah dia sedang berusaha mengingat sesuatu yang sangat penting.

Arthur menghela napas. "Kita udah bersama selama hampir tiga bulan. Banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Tapi, beberapa minggu terakhir ini, lo sulit di hubungi. Gue bahkan pergi ke tempat kakek lo, tapi lo udah pulang ke Jakarta tanpa memberitahu gue."

Mendengar jawaba pemuda itu Seyra mengangguk-anggukan kepalanya, dia sebenarnya sudah tahu siapa Arthur dari novel yang sempat di bacanya. Dia adalah villain utama yang nantinya akan jatuh hati pada protagonis wanita, dan memiliki obsesi gila pada protagonis wanita.

'Berarti sekarang belum tiba saatnya Arthur jatuh hati sama si Elsa, dari ingatan yang gue dapat Arthur pacaran sama gue setelah kalah taruhan di permainan truth or dare.' Batin Seyra mengingat kembali lintasan memori tadi, serta alur novelnya.

"Sey, lo kenapa?" tanya Arthur cemas.

Seyra mendengus sebal, untung dia ingat bagaimana jalan ceritanya ke depan. Jika tidak, mungkin dia akan tertipu dengan sikap manis dari pemuda di depannya.

"Nggak, anterin gue ke kelas." Ujarnya datar.

Arthur mengangguk, baru saja dia mengambil ransel Seyra sebuah motor sport masuk ke area parkiran. Seyra terdiam sejenak, dia tahu siapa yang datang. Dia adalah most wanted Akademi Edevane, sekaligus protagonis pria.

'Ah, kayaknya bakal seru nih.' Batin Seyra menyeringai.

***

Ozil Crusoe, memarkirkan motor sport hitamnya di area parkiran Akademi Edevane. Sejak memasuki area sekolah, dia sudah menjadi pusat perhatian semua murid yang ada di sana. Baik cowok mau pun cewek.

Banyak yang menatap penuh damba pada pemuda itu, tak jarang juga dia mendapat tatapan sinis dari para pemuda yang iri pada dirinya.

Ozil merupakan most wanted sekaligus kapten basket di sekolah itu, ketampanan dan juga latar belakang yang memadai mampu mendongkrak popularitasnya.

Bagi Ozil, tatapan memuja seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Pemuda itu melepas helm full face dari kepalanya, lalu meletakan helm itu asal di atas motornya.

Dia berjalan menuju koridor sekolah, yang menghubungkan dengan kelasnya. 11 A. Ketika Ozil hendak memasuki kelas, suara seseorang dari arah belakang punggungnya menghentikan langkah Ozil. Pemuda itu menoleh ke belakang dan melihat seorang gadis cantik berambut sepinggang yang di gerai tengah berlari ke arahnya.

Gadis itu berhenti tepat di depan Ozil, "Lo baru sampai, Zil?"

Dia bernama Aleta Anandra, gadis yang terkenal sebagai good girl. Sekaligus sahabat baik Ozil.

"Ya, lo udah sembuh? kemarin lo nggak masuk karena demam, kan?" Ozil menyentuh dahi Aleta menggunakan punggung tangan.

"Gue udah sembuh, jangan cemas." Secarik senyum muncul di wajah gadis itu.

Senyum Aleta menular, perlahan tangan Ozil terangkat. Menyelipkan beberapa helai anak rambut Aleta ke belakang telinga. Aleta merupakan teman masa kecilnya, dan Ozil sangat menyayangi gadis itu.

"Jangan sakit lagi, Let." Bisik Ozil merdu.

"Oi, oi. Masih pagi udah pacaran aja! haram tahu, nanti banyak setannya!" ucap pemuda yang baru saja tiba, dia Alvino.

"Yoi, bikin udara makin cetar membahana," imbuh pemuda bernama Jazigar.

Mereka berdua sahabat Ozil, dan ada dua orang lagi yang kini baru datang sambil menenteng kantong plastik berisi roti dan soda.

"Pacaran teroosss," sahut Raga Pradipta dan Galen Wallace secara bersamaan.

Aleta menggeleng tegas, "Kita nggak pacaran, kok. Cuma temanan aja."

Ozil mengangguk membenarkan, "Sana pergi, ganggu aja."

Mendengar perintah tersebut, mereka berempat mengangguk dan bergegas masuk ke dalam kelas untuk bergosip ria seperti kebanyakan remaja pada umumnya ketika kumpul.

Aleta terkekeh geli melihat tingkah para sahabat Ozil, "Teman-teman lo lucu, deh."

Ozil mengangguk, "Ya, mereka emang bikin sakit kepala."

Aleta semakin terkekeh, dia melihat jam di pergelangan tangannya. "Gue balik ke kelas dulu, ya."

"Oke, hati-hati." Jawab Ozil.

"Bye, Zil." Aleta berbalik dan bergegas pergi menuju kelasnya, sebab jam pelajaran hampir di mulai.

Di belakang mereka dengan jarak yang tidak terlalu jauh, Seyra menatap berbinar pada adegan antara Ozil dan Aleta. Tanpa dia sadari, tatapan Arthur sudah muram layaknya anak kucing yang di abaikan.

"Lo suka sama dia, Sey?" cetus Arthur menepuk pundak Seyra.

1
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
lanjut Thor, seru and semangat 💪
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
lanjut thor, and semangat
Wahyuningsih
q mampir thor, mga2 critanya bagus bla perlu dot bonus ruang dimensi atau sistem buar mkin sru
Zee✨: bsk deh kalo udah bisa wkwk harus belajar cara nulisnya dulu klo sistem kak wkwk
total 1 replies
Aria Sabila
hadir
Mey Abimanyu
sering typo penyebutan nama ya kak .. Nino jadi nini😂
Zee✨: wkwk iya kak, padahal udh bolak balik revisi masih aja typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!