Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Di sebuah ruangan kedap suara yang terletak di lantai dasar markas rahasia, asap rokok tipis melayang di udara. Luca duduk dengan menyandangkan punggungnya ke sofa, sementara Bobby berdiri di depan deretan monitor yang menampilkan peta pergerakan logistik kota.
"Keluarga Harley mulai bergerak secara agresif, Luc," ucap Bobby sambil memutar sebuah rekaman singkat. "Mereka menaruh harga tinggi untuk kepalamu. Pesannya jelas, mereka ingin barang berharga itu kembali."
Luca mengerutkan kening, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang membosankan.
"Barang berharga? Apa mereka gila? Justru mereka yang menyerang gudang kita lebih dulu dan mencoba menyabotase sistem. Apa yang mereka maksud dengan barang berharga?"
"Itu dia masalahnya. Mereka yakin kau mencuri sesuatu yang sangat krusial malam itu saat pengejaran." Bobby menghela napas, menatap asisten sekaligus putra sahabatnya itu dengan serius. "Kira-kira barang apa yang mereka maksud, Luc? Dokumen rahasia? Chip data? Atau mungkin emas batangan?"
"Mana aku tahu!" balas Luca ketus. Matanya menatap tajam ke arah dinding. "Aku masuk ke sana hanya untuk menghancurkan server distribusi mereka, bukan untuk merampok perhiasan nyonya besar Harley."
Meskipun Luca adalah putra dari Edgar Frederick, sang CEO raksasa sekaligus penguasa dunia bawah tanah yang ditakuti, Luca bukanlah tipe pemuda yang suka bermanja di bawah ketiak ayahnya.
Ia membangun faksi kecilnya sendiri, merintis semuanya dari nol, dan membuktikan bahwa nama belakangnya bukan sekadar pajangan.
"Kau yakin tidak mau menerima tawaran Edgar untuk menduduki posisinya sekarang? Dengan dukungan penuh klan Frederick, keluarga Harley tidak akan berani menyentuh ujung rambutmu." Bobby mencoba memancing.
Luca terdiam. Tatapannya mendadak kosong. Memorinya berputar ke masa kecil yang penuh dengan bau obat-obatan dan dinding rumah sakit.
"Sejak kecil aku sakit-sakitan. Kau tahu itu. Lily, saudara kembarku, dia jauh lebih cerdas, lebih tangguh, dan lebih segalanya dariku. Dia lebih berhak atas tahta ayah daripada aku."
"Tapi kau sudah membuktikan kau bisa memimpin, Luc."
"Tidak. Aku tidak butuh itu," potong Luca cepat. Ada satu kekurangan besar dalam dirinya yang ia sembunyikan dengan sangat rapat, sebuah rahasia medis yang bahkan tidak diketahui oleh Bobby.
"Lagi pula, usiaku masih tujuh belas tahun. Jalanku masih panjang, dan aku lebih suka jalan itu berdarah karena usahaku sendiri, bukan karena karpet merah dari papa," lanjut Luca.
Bobby mengangguk paham. Ia tahu watak keras kepala Luca tidak bisa digoyahkan.
"Baiklah. Tapi tetap waspada. Harley tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka cari."
*
*
Di kediaman Luca yang dijaga ketat, sang hacker jenius sedang mengalami krisis identitas yang memalukan.
Rencana awal Alena sangat hebat, yakni meretas keamanan pusat mansion, mengambil alih kontrol CCTV dan mencari tahu siapa pengirim tubuh Queen ke mobil Bobby.
Namun, realitanya? Begitu ia menyentuh bantal empuk di sofa ruang kerja Luca, tubuh kecil itu seolah-olah diputus aliran listriknya.
"Sial... kenapa... mataku... berat sekali..." gumam Queen sebelum akhirnya jatuh tertidur dengan posisi mulut sedikit terbuka.
Namun, tidurnya tidak tenang. Di dalam alam bawah sadar, kegelapan mulai merayap.
Alena melihat bayangan-bayangan hitam yang mengejarnya di sebuah gang sempit. Tapi anehnya, dia tidak merasa seperti Alena yang berusia 24 tahun. Dia merasa sangat kecil, sangat lemah, dan ketakutan.
"Tangkap bocah itu! Jangan biarkan dia lari!" teriak suara parau di belakangnya.
Tangan-tangan besar menjangkau bajunya, menyeretnya dengan paksa hingga lututnya tergores aspal.
Ia meronta-ronta dengan tangis yang pecah.
"Lepaskan! Queen tidak salah! Queen mau pulang!" teriaknya dalam mimpi.
"Kau anak pembawa sial! Gara-gara kau, semuanya hancur!" bentak salah satu bayangan itu sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk memukul.
Degh!
Queen tersentak bangun. Napasnya memburu, ngos-ngosan seperti baru saja berlari maraton. Keringat dingin membasahi dahinya, dan ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pipinya. Ia menyentuhnya dengan jemari mungilnya.
Air mata.
"Aku... menangis?" bisik Queen.
Ia terdiam, memeluk lututnya di atas sofa yang luas itu.
Perasaan takut, sedih, dan putus asa dari mimpi tadi terasa sangat nyata, sangat emosional, seolah-olah itu bukan sekadar bunga tidur.
"Apakah ini ingatan asli bocah ini? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" batinnya bingung. "Siapa yang mengejarmu? Dan kenapa mereka bilang kau pembawa sial?"
Queen menatap tangannya yang sedikit bergetar. Sebagai peretas, ia selalu mengandalkan logika dan data. Tapi sekarang, ia terjebak dalam teka-teki emosional dari tubuh yang bahkan bukan miliknya.
"Napas ini... dada ini... rasanya sesak sekali," gumamnya sambil mencoba menghapus sisa air matanya. "Bisa-bisanya aku diperlakukan seperti ini. Siapa pun mereka, jika aku bertemu dengan mereka lagi, akan kupastikan mereka menyesal telah menyentuhmu."
Di tengah kemarahannya, rasa lelah itu kembali menyerang. Queen mendengus kesal.
"Benar-benar payah! Baru bangun sudah mau tidur lagi! Tubuh bocah ini benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama!" Ia merebahkan tubuhnya kembali, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.
Queen tidak menyadari bahwa di balik pintu, sebuah kamera CCTV sedang merekam setiap ekspresi rapuhnya, dan di ujung kabel sana, Luca sedang menatap layar monitor dengan tatapan yang semakin penuh tanda tanya.
"Ada apa dengan bocah itu? Kenapa dia menangis?" panik Luca, ia bergegas menyambar jaketnya.
"Mau kemana Luc?" tanya Bobby.
"Pulang! Cepat!" seru Luca.
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
ternyata Sean juga manusia biasa😌