Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cermin yang terhapus
Vila pesisir utara itu kembali sunyi, namun suasananya tak lagi sama. Bangunan yang pernah menjadi saksi bisu kebencian Selena kini menjadi tempat persembunyiannya. Enam bulan telah berlalu sejak ledakan di "The Nest" Kalimantan. Dunia menganggap keluarga Vandana dan Arunika telah hancur, padahal mereka hanya sedang menyusun ulang kepingan neraka.
Selena duduk di kursi roda di balkon, menatap laut dengan mata yang kosong. Ia cantik, namun seperti patung porselen yang retak. Seluruh ingatannya tentang kode, satelit, bahkan pengkhianatan ayahnya telah menguap akibat overload syaraf malam itu.
"Selena," sebuah suara berat menyapa dari belakang.
Selena menoleh. Ia tersenyum tipis—sebuah senyum tulus yang dulu tak pernah ia miliki. "Bhanu. Kau sudah pulang?"
Alka Bhanu Vandana berlutut di depan Selena, menggenggam tangannya yang dingin. Bagi dunia, Bhanu adalah pengusaha kejam yang baru saja melakukan akuisisi berdarah atas sisa-sisa The Founders. Namun di depan wanita ini, ia hanyalah seorang pria yang mencoba menebus dosa masa lalu.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Bhanu, suaranya sangat lembut.
"Aku merasa... ada yang hilang di sini," Selena menyentuh dadanya. "Tapi setiap kali aku melihatmu, aku merasa aman. Kenapa aku hanya mengingat namamu, Bhanu?"
Bhanu terdiam. Ia tidak sanggup memberi tahu Selena bahwa mereka dulu saling membenci, atau bahwa ia pernah membelinya sebagai barang dagangan. "Karena aku adalah rumahmu, Selena. Hanya itu yang perlu kau tahu."
Di ruang kerja bawah tanah yang gelap, Alka Dahayu Indurasmi berdiri di depan monitor raksasa. Wajahnya diterangi cahaya biru yang dingin. Di sampingnya, Raka berdiri sambil menghisap rokoknya, menatap bar progres yang sudah mencapai 100%.
"Selena yang ada di atas sana hanyalah cangkang, Bhanu sangat bodoh karena menganggap amnesia itu berkah," desis Raka. "Dia tidak tahu bahwa seluruh data biometrik, kesadaran strategis, dan sandi 'Kunci Semesta' milik Selena tidak hilang... tapi berpindah."
Dahayu mengangguk, jemarinya menari di atas keyboard. "Bhanu memilih cinta, tapi kita memilih kekuasaan. Dengan data ini, kita bisa mengendalikan pasar global tanpa perlu menyentuh Selena lagi. Tapi ada satu masalah, Raka."
"Apa?"
"Data ini membutuhkan 'pemicu biologis' yang hanya bisa dihasilkan oleh emosi murni Selena. Jika dia terlalu bahagia bersama Bhanu, data ini akan tetap terkunci. Kita butuh dia merasa terancam... lagi."
Raka menyeringai gelap. "Jadi, kita harus menjadi penjahat di dalam rumah kita sendiri? Menarik."
Malam itu, jamuan makan malam diadakan di vila. Hanya ada mereka berempat: Bhanu, Selena, Dahayu, dan Raka. Bhanu mencoba menciptakan suasana normal, namun Selena terus menatap Raka dengan tatapan yang gelisah.
"Kenapa kau menatap saudaraku seperti itu, Selena?" tanya Bhanu halus.
"Wajahnya..." Selena berbisik, tubuhnya mulai gemetar. "Wajahnya mengingatkanku pada api. Dan suara tembakan."
Raka sengaja meletakkan belati makannya di atas meja dengan denting yang keras. "Mungkin karena kau memang melihatku saat tempat itu meledak, Selena. Saat Bhanu meninggalkanmu untuk menyelamatkan ibumu."
"Raka! Cukup!" bentak Bhanu, matanya berkilat penuh amarah.
"Kenapa? Dia harus tahu kebenarannya, Bhanu," sahut Dahayu dengan suara tenang yang mematikan. "Kau membohonginya. Kau membiarkannya hidup dalam fantasi sementara ibunya sekarang ada di pusat rehabilitasi mental karena ulah ayah mereka. Dan kau? Kau menggunakan amnezianya agar dia mencintaimu."
Selena memegang kepalanya. Bayangan-bayangan buram mulai muncul. Ledakan, wajah ayahnya, dan rasa sakit di lehernya.
"Bhanu... apa itu benar?" suara Selena bergetar. "Apa kau membohongiku?"
Tiba-tiba, lampu vila berkedip. Sistem keamanan yang dulu dibangun Dahayu mulai mengunci semua pintu secara otomatis. Di layar besar ruang makan, muncul logo yang sangat dikenal: THE FOUNDERS.
"Protokol Re-Inisiasi Dimulai," suara mesin menggema.
Dahayu berdiri, namun kali ini ia tidak menatap monitor. Ia menatap Selena. "Maafkan aku, Selena. Tapi dunia butuh Kunci-nya kembali. Dan Bhanu terlalu lemah untuk membangunkanmu."
Satu detak jantung yang kuat menghantam dada Selena. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari pangkal lehernya. Matanya yang tadinya lembut kini berubah menjadi tajam dan dingin—warna iris matanya berubah menjadi perak saat sistem biometriknya dipicu paksa oleh Dahayu dari jarak jauh.
Selena berdiri, menjatuhkan kursinya. Ia menatap Bhanu, namun bukan dengan cinta.
"Siapa kau?" tanya Selena, suaranya kini datar tanpa emosi, persis seperti saat ia pertama kali memasuki markas Vandana. "Dan kenapa kau memegang tanganku?"
Bhanu terpaku. Dunianya hancur untuk kedua kalinya. Dahayu dan Raka telah berhasil membangkitkan "Senjata" itu, namun mereka menghancurkan "Wanita" yang dicintai Bhanu.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...