NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Udara dingin di atap gedung fakultas itu menusuk tulang, namun tak ada yang lebih dingin daripada pemandangan yang menyambut Nadine saat ia membuka pintu besi yang berat itu.

Asap rokok membumbung ke langit abu-abu New York, bercampur dengan gelak tawa kelompok paling populer di kampus. Di sudut atap, bersandar pada pagar pembatas, Nickholes sedang membelakangi pintu.

Ia tidak sendirian. Clarissa melingkarkan lengannya di leher Nick, dan mereka sedang berciuman dengan begitu intens, seolah dunia di sekitar mereka tidak ada.

Nadine membeku di ambang pintu. Dunianya seolah runtuh dalam satu detak jantung. Selama ini, Nickholes selalu menanamkan doktrin bahwa Clarissa hanyalah pajangan dan tuntutan reputasi. Nadine percaya bahwa gairah Nickholes hanya miliknya, bahwa hanya dialah yang bisa memuaskan pria itu.

Namun melihat cara Nick membalas ciuman Clarissa, pikiran Nadine langsung melayang ke kemungkinan yang paling menyakitkan: Apakah mereka juga melakukan hal yang sama di atas ranjang? Apakah semua desahan dan janji Nick setiap malam hanyalah kebohongan besar?

Tubuh Nadine gemetar hebat.

Tas yang ia pegang terjatuh ke lantai beton, menimbulkan suara yang cukup keras untuk memecah suasana.

Air matanya luruh tanpa bisa dicegah, membasahi pipinya yang pucat.

Gretha, salah satu teman dekat Nick yang sedang asyik merokok, menoleh dan terkejut melihat Nadine yang tampak seperti baru saja melihat hantu.

"Nadine? Hei, kau kenapa?" tanya Gretha dengan suara lantang, membuat semua orang di atap itu menoleh, termasuk Nickholes.

Nick melepaskan ciumannya dari Clarissa dengan gerakan refleks. Matanya yang tajam melebar saat melihat Nadine berdiri di sana dengan wajah hancur dan air mata yang mengalir deras. Ada kilatan keterkejutan di wajah Nick, namun dengan cepat ia menggantinya dengan topeng kedinginan yang biasa ia gunakan di depan umum.

"Nadine?" Nick bergumam pelan, suaranya parau.

Clarissa, yang merasa terganggu, menghapus sisa lipstik yang berantakan dan menatap Nadine dengan tatapan meremehkan. "Ada apa dengan si kutu buku ini? Kenapa dia menangis seperti kehilangan induknya?"

Nickholes berdiri mematung. Di satu sisi, ia ingin menghampiri Nadine dan mencengkeram lengannya menyeretnya menjauh agar ia bisa mengendalikan situasi.

Namun di sisi lain, teman-temannya sedang menonton. Harga dirinya sebagai "raja kampus" sedang dipertaruhkan.

Nadine menatap Nick, memohon melalui matanya agar pria itu memberikan penjelasan, agar pria itu mengatakan bahwa semua ini hanya sandiwara.

Namun, Nickholes justru melakukan hal yang paling menyakitkan.

"Kenapa kau melihatku seperti itu, Nadine?" ucap Nick dengan suara keras dan sinis agar didengar teman-temannya. "Kau tersesat? Ini area merokok, bukan perpustakaan. Pergilah sebelum kau membuat dirimu semakin malu."

Gretha mengerutkan kening, merasa ada yang aneh. "Nick, dia sepertinya benar-benar syok. Kau mengenalnya, bukan?"

"Hanya teman lama ibuku," jawab Nickholes pendek, memalingkan wajah kembali ke Clarissa seolah Nadine hanyalah debu yang mengganggu pemandangan.

Nadine berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju tangga. Rasa sakit di dadanya jauh lebih hebat daripada rasa nikmat yang pernah ia rasakan bersama Nick. Ia menyadari satu hal pahit, bagi Nickholes, dia benar-benar hanya sebuah alat—tanpa hati, tanpa perasaan.

Nadine melangkah masuk ke apartemen Nickholes dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. Matanya sembap, namun kemarahan yang tenang mulai menggantikan kesedihan yang meledak-ledak tadi siang.

Nickholes berdiri di dekat jendela, masih dengan aura angkuh yang sama, meski ada sedikit kegelisahan di matanya saat melihat Nadine yang biasanya penurut kini tampak begitu rapuh dan berbeda.

"Kenapa kau datang?" tanya Nickholes rendah.

Nadine menatapnya lurus, suaranya bergetar namun tajam. "Apa alasan hubungan kita dirahasiakan selama bertahun-tahun ini, Nick? Sejak SMA... aku selalu menuruti setiap kata-katamu. Aku bersembunyi di balik bayang-bayang, aku menjadi rahasia kotor yang hanya kau sentuh saat malam tiba."

Nickholes mendengus, mencoba berpaling. "Sudah kubilang, ini demi ibumu, demi—"

"Bohong!" potong Nadine. "Ini demi dirimu sendiri. Agar kau bisa bebas mencium Clarissa di depan umum. Agar kau bisa tetap menjadi bintang yang bisa memiliki siapa pun."

Nadine mendekat, air matanya kembali luruh. "Aku mengira aku spesial. Aku mengira hanya aku yang kau cium, hanya aku yang kau sentuh dengan cara seperti itu. Tapi hari ini... melihatmu dengannya... aku merasa seperti sampah."

Nadine mencengkeram kemeja Nick, memaksanya untuk menatap matanya. "Katakan padaku, Nick. Apakah cintamu juga sudah kau bagi pada Clarissa? Atau apakah aku ini benar-benar hanya alat pemuas nafsumu sementara hatimu sudah milik orang lain?"

Nickholes terdiam. Rahangnya mengeras. Ia melihat kehancuran di mata Nadine, sebuah kehancuran yang ia ciptakan sendiri dengan egoisnya.

Untuk sesaat, topeng dinginnya retak. Ia meraih tangan Nadine, menariknya dengan kasar namun posesif ke dalam pelukannya.

"Jangan tanyakan itu, Nadine," bisik Nick di telinganya, suaranya serak dan penuh gairah yang gelap. "Kau tahu tidak ada yang bisa memuaskanku seperti dirimu. Clarissa itu bukan apa-apa."

"Tapi kau menciumnya!" jerit Nadine dalam dekapan pria itu.

Nick tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru membungkam bibir Nadine dengan ciuman yang menuntut, seolah mencoba menghapus jejak Clarissa dari ingatan Nadine. Namun kali ini, rasa ciuman itu berbeda bagi Nadine. Ada rasa pahit dari pengkhianatan yang tidak bisa hilang hanya dengan gairah sesaat.

Di atas ranjang yang sudah menjadi saksi bisu ribuan rahasia mereka, Nickholes kembali mencoba menjinakkan Nadine dengan sentuhannya. Nadine, dengan segala kenaifannya, kembali terjatuh dalam pelukan pria itu, meski hatinya terus berbisik bahwa ini adalah awal dari kehancuran yang lebih besar.

Saat fajar menyingsing, Nadine terbangun lebih dulu. Ia menatap Nick yang tertidur pulas di sampingnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa asing di tempat tidur itu. Saat ia hendak beranjak, ponsel Nickholes yang tergeletak di nakas menyala karena sebuah pesan masuk.

Pesan itu dari Clarissa:

"Semalam sangat luar biasa, Nick. Sampai jumpa di kampus nanti pagi, Sayang."

Nadine membeku. Waktu pengiriman pesan itu adalah jam dua pagi—tepat saat Nick baru saja selesai meyakinkan Nadine bahwa Clarissa bukan siapa-siapa.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰😍🥰🥰

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!