Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa Bayi
Kehadiran Nayla di rumah kami adalah sebuah Berkah yang nyata. Di satu sisi, ia adalah cahaya yang menyapu bersih bayang-bayang kelam di sudut-sudut ruangan. Suara tawa dan celotehnya yang belum jelas adalah musik paling indah yang pernah kudengar, melampaui suara gemericik air mancur di taman yang dulu sangat kubanggakan.
Namun di sisi lain, Nayla hadir di saat pertahanan finansialku sedang berada di titik terendah. Komplikasi persalinan itu bukan hanya menguras tabungan, tapi juga memaksa kami melakukan restrukturisasi kredit yang membuat durasi cicilan rumah kami bertambah panjang lima tahun lagi.
Aku kembali ke pola hidup yang dulu kulakukan saat masih bersama Bayu. Bedanya, kali ini aku tidak mengupas bawang, melainkan memangkas segala bentuk keinginan pribadi demi popok, susu, dan angsuran bank. Aku membawa bekal nasi dengan lauk seadanya ke kantor, menolak semua ajakan makan siang mewah dari rekan kerja, dan menggunakan pakaian kerja yang sama selama bertahun-tahun hingga warnanya sedikit memudar.
Berita tentang kelahirannya dan kesulitan ekonomi yang kami alami rupanya sampai juga ke telinga keluarga besar. Paman-paman yang dulu kuusir dengan tegas, tiba-tiba muncul kembali di depan pagar rumah. Kali ini, mereka tidak datang dengan gertakan, melainkan dengan wajah-wajah penuh keprihatinan yang dibuat-buat, membawa satu kotak biskuit bayi sebagai "tiket masuk".
"Kami dengar Maya habis operasi besar dan biayanya mahal ya?" tanya Paman tertua saat aku terpaksa mempersilakan mereka duduk di teras. Ia melihat sekeliling rumah dengan tatapan yang seolah-olah sedang menghitung nilai aset yang tersisa. "Makanya, May, jangan terlalu sombong jadi orang. Kalau ada apa-apa kan keluarga juga yang repot. Kami ke sini mau menawarkan bantuan, kalau memang kalian sudah nggak sanggup bayar cicilan, mending rumah ini dijual saja. Paman ada kenalan yang mau beli cash. Nanti sisanya bisa buat kalian kontrak rumah yang lebih kecil dan buat modal usaha."
Darahku mendidih mendengar tawaran "bantuan" yang sebenarnya adalah upaya untuk meruntuhkan kerajaanku. Mereka mengira aku sudah lemah hanya karena aku sedang berhemat. Mereka mengira Nayla adalah beban yang akan membuatku menyerah pada rumah ini.
"Terima kasih atas biskuitnya, Paman," kataku sambil menimang Nayla yang sedang tertidur di dekapan kakiku. "Tapi rumah ini tidak dijual. Cicilan memang berat, tapi selama saya masih punya napas dan jemari untuk mengetik di kantor, rumah ini akan tetap menjadi milik Nayla. Kami tidak butuh bantuan untuk menjual, kami hanya butuh ketenangan."
Menghadapi paman-paman itu terasa lebih mudah daripada menghadapi rasa lelah yang menghunjam setiap hari. Sebagai ibu bekerja, duniaku terbagi menjadi dua medan perang. Di kantor, aku harus tetap kompetitif agar posisiku tidak digeser, mengingat biaya hidup yang melonjak. Di rumah, aku harus menjadi ibu yang penuh kasih bagi Nayla dan anak yang berbakti bagi Ayah dan Ibu.
Malam-malamku diisi dengan menyusui dan mengganti popok, sementara di kepalaku aku terus menghitung sisa saldo untuk membayar denda keterlambatan bank bulan lalu. Mas Aris bekerja hingga larut malam, mengambil lembur yang tak berkesudahan demi menutupi lubang pengeluaran medis yang belum lunas. Kami jarang bicara tentang hal romantis; pembicaraan kami kini berkisar pada harga susu formula yang naik dan tagihan listrik yang membengkak.
Ada satu momen ketika aku merasa sangat jatuh. Nayla sakit demam tinggi, dan di saat yang sama, bank mengirimkan surat peringatan kedua. Aku duduk di lantai dapur, menangis tanpa suara agar tidak membangunkan siapapun. Aku merasa kembali menjadi Maya yang kecil, yang berdiri di tengah hujan tanpa payung.
"May..." Mas Aris menghampiriku, ia baru saja pulang kerja dengan wajah yang sangat kuyu. Ia ikut duduk di lantai, merangkul bahuku. "Jangan menangis. Kita sedang membangun fondasi yang lebih kuat untuk Nayla. Ini bukan soal rumah, ini soal kita yang tidak akan pernah menyerah."
Ayah dan Ibu menjadi saksi bisu perjuangan kami. Suatu hari, aku menemukan Ayah sedang mencoba membersihkan kebun depan sendirian, meski kakinya sering gemetar.
"Ayah mau bantu apa, Yah? Sini Maya saja," cegahku.
Ayah menatapku dengan mata yang mulai rabun. "Ayah nggak punya uang buat bantu kamu bayar bank, May. Ayah cuma bisa bersihkan ini supaya kamu nggak perlu bayar orang buat potong rumput. Maafkan Ayah ya... sampai tua begini malah jadi beban kamu."
Aku memeluk Ayah erat. Rasa perih itu muncul lagi. Dulu aku membenci Ayah karena kesalahannya, tapi kini aku melihat pria tua yang sedang berusaha menebus dosanya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Aku menyadari bahwa di rumah ini, kami semua sedang berjuang dengan cara masing-masing.
Setahun berlalu, dan kondisi finansial kami mulai stabil. Kami berhasil melewati masa-masa kritis denda bank. Nayla mulai bisa berjalan, melangkah di atas lantai marmer yang dulu kubayar dengan cucuran keringat. Setiap langkah kecilnya adalah pengingat bahwa keputusanku untuk mempertahankan rumah ini adalah benar.
Paman-paman itu akhirnya berhenti datang setelah mereka sadar bahwa aku bukan mangsa yang mudah diterkam. Mereka melihat bahwa meski aku berpakaian sederhana, harga diriku tetap setinggi langit-langit rumahku.
Suatu sore, aku duduk di teras sambil memperhatikan Nayla bermain dengan Ayah. Mas Aris baru saja pulang dengan membawa kabar bahwa ia mendapatkan promosi jabatan. Aku menarik napas panjang. Udara sore ini terasa jauh lebih ringan.
Aku menyadari bahwa "cicilan" hidup ini tidak akan pernah benar-benar selesai. Setelah cicilan rumah, akan ada cicilan sekolah, cicilan masa depan, dan lain-lain. Namun, aku tidak lagi takut. Aku adalah Maya. Wanita yang sudah terbiasa dengan beban di pundaknya.
Nayla mendekatiku, memberikan sebuah mainan plastik dengan senyum ompongnya. Aku mencium keningnya lama. Di dalam hati, ibu janji Kamu tidak akan pernah tahu rasanya diusir dari rumah, Sayang. Ibu sudah memastikan dinding rumah ini cukup kuat untuk melindungimu dari siapapun, termasuk dari masa lalu Ibu.
Malam itu, aku menutup buku tabunganku. Angka-angkanya masih menantang, tapi jiwaku sudah tenang. Rumah ini bukan lagi sekadar bangunan; ini adalah bukti bahwa cinta dan keteguhan bisa mengalahkan kemiskinan dan pengkhianatan keluarga.