Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-6
Di tengah perjalanan Hajeera terus bergumam memanggil manggil nama Ibunda, dan ayah dalam keadaannya yang tengah tidak sadarkan diri.
Demian cukup panjk ia mencoba menenangkan Hajeera dengan memegang erat tangan wanita di sampingnya dengan sebelah tangan dan tangan lainnya fokus menyetir kemudi.
Sampai di sebuah rumah sakit terdekat, Demian langsung membawa Hajeera masuk ke dalam lobi tanpa menunggu suster menghampiri mereka.
"Tolong periksa teman saya sekarang,.." titah Demian pada seorang dokter yang tengah berjaga.
Melihat wajah Demian yang panik, dokter tadi pun langsung mengarahkan Demian agar membaringkan nya ke atas palbet kosong.
Saat dokter memeriksa keadaan nya, ponsel Demian berdering menandakan sebuah telepon masuk ke ponselnya.
Haris, nama yang tertera di layar ponsel Demian asisten nya yang mengurus pekerjaan nya di Indonesia.
"Halo pak, ada beberapa berkas penting yang membutuhkan tanda tangan bapak saat ini juga, saya di apartemen bapak tapi bapak tidak ada di dalam, apakah saya perlu menjemput bapak?" tanya Haris panjang lebar setelah Demian mengangkat teleponnya.
Demian berpikir sejenak, ia tidak bisa meninggalkan Hajeera begitu saja, entah mengapa ia khawatir membiarkan Hajeera yang masih kecil sendirian di rumah sakit.
"Jemput saya ke alamat yang saya kirim!" titah Demian, lalu menutup teleponnya.
Setelah selesai menerima telepon Demian masuk kembali ke tempat Hajeera di periksa, dilihatnya sang dokter telah selesai memeriksa Hajeera dan memasangkan selang infus di tangan nya.
"Bagaimana keadaan nya dok?" tanya Demian pada dokter yang memeriksanya.
"Kondisi nya saat ini sudah membaik, saya sudah memberikan obat penenang agar dia bisa beristirahat,.."
"Mungkin sebaiknya periksakan lebih lanjut ke psikolog, saya pikir shock yang tadi pasien alami adalah sebuah trauma nya sedari kecil, saya khawatir kesehatan nya terganggu karena mentalnya yang sakit..." jawab dokter panjang lebar.
Demian terdiam, ia tidak tahu apa yang dialami Hajeera hingga seperti ini.
Penyakit trauma yang di alami Hadriana mengingatkan nya pada sesosok yang amat ia benci dalam hidup nya, sesosok anak yang manipulatif yang menyebabkan hubungan nya dan Indri kandas.
Tak lama Haris pun datang untuk menjemput nya, namun Demian menyuruh Haris untuk menjaga Hajeera sampai ia terbangun dari pingsannya.
"Ini ponsel dan tas miliknya, tunggulah sebentar dokter bilang ia tidak perlu di rawat jadi tidak perlu dipindah kan ruangan nya,.." jelas Demian pada Harus yang langsung di angguki kepala oleh asisten nya.
Setelah selesai melakukan pembayaran biaya administrasi, Demian pulang meninggalkan Hajeera bersama Haris.
Ia mengendarai mobilnya dengan laju cepat, membelah angin malam yang menyapu kota dengan angin sejuknya, bintang di langit hitam terlihat cukup terang, ingatan nya kembali pada saat tadi dirinya menemui Indri Silvana Advi, wanita yang pernah mengandung benihnya sekaligus adik angkatnya yang tidak pernah ia anggap sebagai adik karena saat orang tuanya mengangkat Indri sebagai anak usia mereka seumuran.
Citttttt...
Demian memarkir mobilnya di basement gedung apartemen tempat nya tinggal selagi ia mengunjungi Indonesia, ia jarang pulang ke rumah orangtuanya dengan alasan malas bertemu dengan putri manja dari keluarga Manopo yang kini menjadi anak bungsu keluarga nya.
Dengan langkah lebar Demian masuk ke dalam unit apartment miliknya, mengambil air dari dalam kulkas lalu meneguk nya perlahan.
Langkah kakinya melangkah ke arah meja kerja yang sudah tertumpuk puluhan berkas di atas nya, ia membuka beberapa file di meja lalu mulai membacanya perlahan.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 dini hari, Demian meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku karena semalaman memeriksa kontrak kontrak perusahaan nya yang sudah lama tidak ia tinjau.
Sedangkan di rumah sakit, Hajeera mulai terbangun dari tidurnya, matanya celingukan menatap ke sekeliling yang sangat asing di penglihatan nya, namun seperkian detik kemudian ia tersadar jika dirinya tengah berada di ranjang rumah sakit.
Kesadarannya langsung berkumpul seketika, ia langsung terduduk seraya mencoba melepaskan selang infus di tangannya, dengan langkah tergesa gesa ia menyambar tas miliknya yang berada di atas nakas lalu berlari keluar rumah sakit tanpa menghiraukan panggilan beberapa nakes yang memanggil nya karena tangannya yang berdarah.
Melangkah cepat ke arah jalan, ia menghentikan taksi yang tengah melintas, dengan jantung yang berdegup kencang ia masuk ke dalam taksi dan menyuruh nya untuk cepat jalan.
"Jalan bang cepat..." titahnya dengan suara bergetar dan nafas ngos-ngosan, seluruh tubuhnya bergetar saat melihat jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 4 lewat dini hari yang menandakan sebentar lagi waktu subuh mendatang, bahkan ia lupa memakai alas kaki di kakinya.
Setelah memakan waktu hampir setengah jam, mobil taksi yang ditumpangi nya berhenti di sebuah pekarangan belakang rumah mewah miliknya.
"Makasih mas..." ucapnya seraya menyerahkan satu lembar uang pada sang supir.
Dengan gerakan cepat, ia mulai memanjat tembok tinggi belakang rumah nya perlahan, gerakan nya cukup lihai dan tidak ada rasa takut sedikitpun.
Hupfttttt...
Nafasnya terasa lega setelah kakinya mendarat di balkon kamarnya di lantai dua, dengan perlahan ia membuka pintu balkon kamarnya perlahan lalu menyelinap masuk.
"Akhirnya sampai juga..." ucapnya terasa lega seraya menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Namun ia tak ingin berlama-lama beristirahat, ia buru buru mengganti pakaian nya dengan piyama tidur dan membersihkan tangannya yang tadi sempat berdarah.
"Untung ajah udah kering..." ucapnya, membersihkan tangannya dengan kapas yang sudah di basahi alkohol, lalu ia pun menutupi bekas tusukan jarumnya dengan handyplast bergambar kero keropi.
Tubuhnya terasa kaku, karena itu adalah pertama kalinya ia berbaring di atas ranjang yang cukup keras hingga seluruh badannya sakit dan pegal pegal.
"Aishhh sial.. Kenapa harus ruangan kelas umum sih..." jeritnya mengumpat dengan nada kesal namun berwajah sedih.
"Astaghfirullah gak boleh gitu girlll, dosa.." ucapnya lagi pada dirinya yang terpantul di depan cermin kacanya.
"Tapi ngomong ngomong siapa yang ngebawa gue ke rumah sakit? Si Demian kalu yah?" tanyanya berpikir dengan kepala miring yang di sangga tangan kiri lalu tangan kanannya mengetuk ngetuk bibirnya dengan telunjuk seraya berpikir keras.
"Ya Allah,... Apakah Demian semakin itu sampe harus nyimpen gue di ruang umum?" jerit nya lagi saat tubuhnya kembali terasa sakit, lalu ia pun berjalan ke arah ranjang miliknya lalu mencoba meluruskan tubuhnya berharap rasa sakit di punggung nya sedikit berkurang.
"Kenapa gue selalu ketemu sama laki miskin terus sih ya Allah, jadinya gini sakit terus nih badan, padahal mukanya ganteng eh dompetnya gak sinkron..." gerutu nya, seraya memukul mukul punggung dan bokongnya sendiri.