NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan / Iblis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

⚠️MC NON MANUSIAWI‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alam Rahasia Lembah Gunung Jinting 2

Cahaya di dalam gua itu telah mati, ditelan oleh perut Lu Daimeng.

Kini, dia berdiri di ambang pintu gua, menatap dunia luar Alam Rahasia yang berlimpah energi. Indra barunya—yang merupakan perpaduan dari Triple Pupil dan sensitivitas Anti-Dao—menangkap getaran di kejauhan.

Di arah timur, sekitar tiga belas kilometer dari posisinya, terjadi fluktuasi Qi yang kacau. Ledakan elemen api, jeritan angin, dan benturan logam.

"Mereka sudah mulai memperebutkan makanan," gumam Lu Daimeng.

Dia mencoba eksperimen kecil. Dia mengambil sebuah pedang terbang milik kultivator liar yang dia bantai di dalam gua. Dia meletakkannya di bawah kakinya dan mencoba mengalirkan Dark Null ke dalamnya, berharap bisa terbang seperti kultivator pada umumnya.

Sreeeet...

Pedang baja itu tidak melayang. Sebaliknya, logamnya mendesis. Struktur atomnya yang dialiri Dark Null kehilangan kohesi, berubah menjadi rapuh seperti kerupuk gosong, lalu hancur menjadi debu logam di bawah berat badan Lu Daimeng.

"Gagal," katanya datar. "Energi Darknull ini terlalu mengandung sifat meniadakan, aku harus mencobanya lagi nanti agar dia bisa menjadi energi pendukung."

Dia tidak kecewa. Dia membuang gagang pedang yang tersisa.

Jika dia tidak bisa terbang di atas angin, dia akan berlari menembus angin.

Lu Daimeng mengalirkan lapisan tipis Dark Null ke seluruh permukaan kulitnya. Tubuhnya yang setinggi 2,3 meter itu kini diselimuti oleh aura hitam transparan yang menyerap cahaya, membuatnya tampak seperti siluet dua dimensi yang bergerak di ruang tiga dimensi.

Dia melesat.

BUM!

Tanah di bawah kakinya meledak, menciptakan kawah selebar dua meter. Tubuhnya meluncur seperti peluru meriam.

Di depannya, hutan purba yang lebat menghalangi jalan. Pohon-pohon raksasa, batu-batu granit, dan semak berduri.

Lu Daimeng tidak berbelok. Dia tidak melompat. Dia menabrak.

Setiap kali tubuhnya yang dilapisi Anti-Dao bersentuhan dengan materi fisik yang memiliki kepadatan energi lebih rendah darinya, materi itu tidak pecah. Materi itu dihapus.

Pohon besar yang menghalangi jalannya berlubang seketika saat dia lewat, meninggalkan terowongan berbentuk manusia yang sisinya halus seolah dipotong laser.

Seekor Badak Cula Besi (Iron Horn Rhino - Beast tingkat rendah) yang sial sedang merumput di jalurnya. Ia tidak sempat lari. Lu Daimeng menabraknya.

Tidak ada suara gedebuk.

Badak itu terbelah menjadi dua bagian yang terpisah rapi, organ dalamnya menguap menjadi kabut merah, sementara Lu Daimeng terus melaju tanpa melambat sedikit pun.

Ini bukan lari. Ini adalah penghapusan di sepanjang garis lurus.

Tiga belas kilometer di depan.

Sebuah lembah terbuka yang dipenuhi oleh Bunga Roh Api (Fire Spirit Flowers).

Tiga kekuatan besar telah berkumpul di sana, membentuk segitiga ketegangan.

Di satu sisi, Sekte Awan Biru dipimpin oleh Bi Yue. Pedang-pedang mereka terhunus, membentuk formasi Jaring Awan.

Di sisi lain, Sekte Bambu Hitam dipimpin oleh Zian Qin. Mereka memegang senjata berat, otot-otot mereka menegang siap untuk benturan.

Dan di sisi ketiga, Keluarga Lu.

Lu Duo berdiri di tengah pasukannya yang berjumlah enam orang. Kipas bajanya terbuka, wajah tampannya merah padam karena amarah dan keserakahan.

Di tengah-tengah mereka, tergeletak bangkai seekor Ular Sanca Api raksasa yang baru saja mereka bunuh bersama, dan di belakangnya, sebuah peti batu kuno.

"Keluarga Lu yang memberikan serangan terakhir!" teriak Lu Duo arogan. "Peti itu milik kami! Siapapun yang berani maju, berarti mendeklarasikan perang dengan Keluarga Lu di Kota Jinting!"

Bi Yue mencibir, pedangnya berdenging. "Serangan terakhir? Kalian hanya bersembunyi di belakang saat kami menahan racunnya. Jangan bermimpi, Lu Duo."

Zian Qin tertawa kasar, memukulkan gada besarnya ke tanah. "Yang kuat yang dapat! Mari kita lihat apakah kipas cantikmu bisa menahan pedang besarku!"

Suasana memanas. Para kultivator liar yang menonton dari pinggir tebing menahan napas, berharap bisa memancing di air keruh.

Tepat saat Zian Qin hendak melompat menyerang...

WUUUUUNG...

Suara aneh terdengar dari arah hutan di atas tebing. Bukan suara siulan angin, melainkan suara frekuensi rendah yang membuat gigi ngilu.

DUARRRR!

Tebing batu di atas mereka meledak.

Bukan karena teknik sihir, tapi karena ditabrak dari dalam.

Sebuah sosok hitam raksasa melompat turun dari balik debu ledakan itu. Dia jatuh dari ketinggian lima puluh meter.

Tidak ada teknik meringankan tubuh. Hanya massa, gravitasi, dan ketiadaan.

BOOOM!

Sosok itu mendarat tepat di tengah segitiga konfrontasi itu, di atas bangkai Ular Sanca Api.

Gelombang kejut fisik menyapu area itu. Tanah bergelombang seperti air. Bangkai ular raksasa itu penyok ke dalam tanah, tulang-tulangnya hancur seketika menjadi bubur.

Debu perlahan turun.

Semua orang terdiam. Mata mereka terbelalak menatap pendatang baru itu.

Berdiri tegak setinggi 2,3 meter. Kulitnya putih dengan kepadatan tinggi yang bahkan logam akan terpental saat menyentuhnya. Rambut hitam panjangnya melayang-layang seolah berada di dalam air, melawan gravitasi. Dia bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot yang begitu padat hingga tampak seperti ukiran patung dewa perang kuno.

Dan matanya.

Sepasang mata triple pupilnya berputar pelan, menatap mereka semua seolah menatap serangga di dalam toples.

Aura yang dia pancarkan... aneh.

Bi Yue mundur selangkah, wajahnya pucat. "Tidak ada Qi... tapi kenapa... kenapa perasaanku mengatakan aku akan mati jika melawannya sendirian?"

Zian Qin, yang biasanya berani mati, merasakan lututnya gemetar. Insting binatangnya menjerit. "Apa itu? Binatang buas berbentuk manusia?"

Tapi reaksi paling keras datang dari sisi Keluarga Lu.

Lu Duo menyipitkan matanya, mencoba mengenali wajah di balik rambut liar dan aura mengerikan itu. Struktur wajah itu... hidung itu... rambut... dia mengenali satu hal yaitu tatapan.

Tatapan dari orang yang dia injak lima tahun lalu.

"Lu... Lu Daimeng?" bisik Lu Duo, suaranya pecah antara tawa tidak percaya dan teror. "Tidak mungkin... bukankah kau telah dibuang ke hutan! Kau harusnya sudah jadi kotoran kelinci!"

Lu Daimeng menoleh perlahan ke arah Lu Duo.

Saat mata mereka bertemu, Lu Duo merasa seolah jiwanya ditarik keluar dan dibekukan.

Lu Daimeng tersenyum.

Senyum itu tenang. Sangat tenang. Tapi di balik ketenangan itu, ada janji kiamat.

"Sepupu," suara Lu Daimeng berat, bergetar di dada setiap orang yang mendengarnya. "Lama tidak bertemu. Kau terlihat... enak dikunya."

Keheningan pecah.

"I-itu? Apa benar-benar si cacat Daimeng!" teriak salah satu bawahan Lu Duo, seorang pemuda yang memegang tombak. "Pria besar itu! Bagaimana si Daimeng yang kurus menjadi seperti itu! Jangan-jangan dia menggunakan teknik iblis untuk mengubah tubuhnya! Kita harus membunuhnya!"

Pemuda itu, didorong oleh keinginan mencari muka, melesat maju. "Mati kau, Cacat!"

Dia menusukkan tombaknya yang dialiri Qi api ke dada Lu Daimeng.

Lu Daimeng tidak menghindar. Dia tidak mengangkat tangan.

Dia hanya melihat.

Tombak itu mengenai dada telanjang Lu Daimeng.

TING!

Ujung tombak baja itu patah. Kulit Lu Daimeng bahkan tidak tergores.

Pemuda itu ternganga.

Lu Daimeng menggerakkan tangannya. Gerakan santai, seolah mengusir lalat.

Sebuah pisau tulang kecil—yang dilapisi Dark Null super padat—terlepas dari jarinya.

Wush.

Pisau itu menembus pelindung Qi pemuda itu tanpa hambatan, menembus tenggorokannya, dan keluar dari belakang leher.

Pemuda itu terkejut, memegangi lehernya yang berlubang. Lu Daimeng dengan cepat melesat mencekik leher pemuda itu dan seketika darah menyembur kebelakang tubuhnya.

Lu Daimeng melempar tubuh pemuda itu ke tanah hingga remuk menjadi gumpalan daging.

"Satu," hitung Lu Daimeng.

Kepanikan meledak di barisan Keluarga Lu.

"Bunuh dia! SEMUANYA SERANG!" jerit Lu Duo, mundur ke belakang para pengawalnya, mencoba menganalisis kekuatan Lu Daimeng lebih dulu.

Tapi dia tidak hanya memerintahkan keluarganya. Dia menoleh ke arah Bi Yue dan Zian Qin.

"Hei! Kalian lihat itu?! Dia Iblis! Dia menggunakan teknik terlarang! Jika dia membunuhku, dia akan membunuh kalian juga!" Lu Duo berteriak, menggunakan manipulasi ketakutan. "Kita harus bersatu! Bunuh monster ini dulu, baru kita bagi harta peti itu!"

Kata-kata itu masuk akal. Bi Yue dan Zian Qin ragu. Aura Lu Daimeng memang terlalu asing dan berbahaya.

Mereka mulai mengangkat senjata, bersiap mengepung Lu Daimeng.

Lu Daimeng melihat pergeseran itu. Dia tidak panik. Dia justru tertawa kecil.

"Zian Qin. Bi Yue," panggil Lu Daimeng. Dia tahu nama mereka dari pengamatan sebelumnya.

Dia menunjuk ke arah Lu Duo dengan dagunya.

"Kalian kultivator cerdas. Gunakan otak kalian, bukan ketakutan kalian."

Lu Daimeng merentangkan tangannya, menunjukkan bahwa dia tidak memegang senjata utama.

"Keluarga Lu kaya raya. Cincin di jari Lu Duo berisi setidaknya lima ribu batu roh dan artefak pelindung tingkat tinggi. Peti di belakang itu? Aku tidak butuh isinya."

Mata Lu Daimeng berkilat licik.

"Aku punya dendam pribadi dengan bajingan ini. Itu saja. Jika kalian membantunya, kalian harus melawanku. Dan aku jamin..."

Lu Daimeng menghentakkan kakinya.

BOOM!

Retakan tanah menjalar dari kakinya, membelah tanah sampai ke kaki Zian Qin.

"...Setidaknya separuh dari kalian akan mati bersamanya. Apakah nyawa kalian seharga pembelaan terhadap tuan muda manja ini?"

Logika. Keserakahan. Dan ancaman.

"Tapi..." Lu Daimeng melanjutkan, suaranya menjadi seperti bisikan iblis. "Jika kalian diam dan menonton... Peti itu milik kalian. Dan apapun yang ada di mayat pengawal Keluarga Lu... milik kalian. Aku hanya butuh Lu Duo."

Suasana berubah seketika.

Zian Qin menurunkan gadanya. Dia menyeringai serakah. "Harta Keluarga Lu... dan peti itu..."

Bi Yue menyarungkan pedangnya. "Kami Sekte Awan Biru tidak ikut campur urusan internal keluarga Lu."

Lu Duo membelalak. Wajahnya pucat pasi. "Kalian... Kalian pengkhianat! Ayahku akan memusnahkan sekte kalian!"

"Ayahmu tidak ada di sini," kata Lu Daimeng.

Tiba-tiba, para kultivator liar yang menonton dari atas tebing juga bergerak. Mereka tidak menyerang Lu Daimeng. Mereka membentuk lingkaran di kejauhan, memblokir jalan keluar lembah.

"Bagus kalian mengerti," perintah Lu Daimeng dingin.

Para kultivator liar itu mengangguk. Mereka ingin melihat darah bangsawan tumpah.

Kini, di tengah lembah itu, hanya ada Lu Daimeng dan lima orang sisa Keluarga Lu.

Lu Daimeng tidak mencabut pedang hitamnya. Itu penghinaan. Dia berjalan mendekat dengan tangan kosong.

"Kalian! Gunakan Formasi Bintang!" teriak Lu Duo histeris.

Lima pengawal tersisa mengaktifkan formasi. Cahaya keemasan menghubungkan mereka, menciptakan perisai kubah yang kuat.

Lu Daimeng sampai di depan kubah cahaya itu.

Dia mengangkat tinju kanannya. Otot-ototnya membengkak, dilapisi energi hitam pekat.

"Pukulanku menghancurkan apapun!!."

BUUUGGGGHHH!

Satu pukulan.

Kubah emas itu bergetar hebat, lalu retak seperti kaca. Dark Null memakan struktur Qi penyusun formasi itu.

PRANG!

Formasi hancur. Kelima pengawal itu muntah darah karena reaksi balik (backlash).

Lu Daimeng bergerak kabur.

Dia tidak menggunakan teknik bela diri. Dia menggunakan kebrutalan.

Dia menangkap kepala pengawal wanita, dan meremasnya. Splat.

Dia menendang pengawal kedua di dada. Tubuh itu terbang sepuluh meter, dadanya cekung total.

Tiga lainnya mencoba menebasnya. Pedang mereka patah saat mengenai kulit Lu Daimeng.

Dalam sepuluh detik, lima pengawal itu mati. Mayat mereka berserakan seperti boneka rusak.

Tinggal Lu Duo.

Lu Duo gemetar hebat. Dia melempar kipas bajanya.

"Teknik Kipas Angin Puyuh!"

Kipas itu melesat, menciptakan tornado yang tajam, mengarah ke wajah Lu Daimeng.

Lu Daimeng tidak menghindar. Dia mengulurkan tangannya, menangkap tornado itu.

Sreeet... Poof.

Energi angin itu lenyap saat menyentuh telapak tangan Lu Daimeng. Kipas baja itu ditangkap, lalu diremas menjadi bola besi rongsokan.

"Dao Anginmu lemah," kata Lu Daimeng, membuang rongsokan itu.

Lu Duo mundur, tersandung kakinya sendiri, dan jatuh terduduk. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan segenggam jimat peledak dan pil penguat.

"Mati! Mati! Mati!"

Dia melempar jimat-jimat itu.

BOOM! BOOM! BOOM!

Ledakan api dan petir menelan Lu Daimeng. Asap tebal membumbung.

Lu Duo tertawa histeris. "Hahaha! Lihat! Dia mati! Tidak ada yang bisa selamat dari itu!"

Dari balik asap, sebuah tangan raksasa muncul. Mencengkeram leher Lu Duo dan mengangkatnya ke udara seperti mengangkat anak ayam.

Lu Daimeng keluar dari asap. Tubuhnya sedikit gosong, ada beberapa luka gores, tapi tidak ada yang fatal. Regenerasinya sudah menutup luka-luka itu dalam hitungan detik.

"Mainan yang lucu," kata Lu Daimeng.

Dia menatap mata Lu Duo yang melotot kehabisan napas.

"Ingat sup di salju lima tahun lalu, Sepupu?"

Lu Daimeng menghantamkan tubuh Lu Duo ke tanah.

BAAAM!

Tulang punggung Lu Duo retak. Dia menjerit, tapi suaranya terputus karena Lu Daimeng menginjak dadanya.

"Apa kau..." Lu Duo terbatuk darah. "Yang...."

"Tepat aku yang membunuh Kakekmu dan dantiannya sudah kumakan," potong Lu Daimeng dingin.

Mata Lu Duo membelalak horor. "Apa...?"

"Dantiannya. Rasanya lumayan. Sedikit berlemak."

Lu Daimeng berjongkok. Dia mengeluarkan pedang hitam dari punggungnya.

"Aku tidak akan memakanmu, Lu Duo. Dantianmu terlalu kotor oleh pil. Kau tidak bergizi."

"T-tolong... kita keluarga..."

"Benar. Keluarga."

Lu Daimeng mengayunkan pedangnya.

SLAASH.

Lengan kanan Lu Duo putus.

"AAAAAARGGGHHH!"

Luka itu tidak memancarkan darah biasa. Luka itu berwarna abu-abu. Dark Null di pedang itu telah mematikan sel-sel di ujung potongan, mencegah regenerasi, tapi juga mencegah kematian karena pendarahan hebat. Rasa sakitnya dikunci di sana.

SLAASH.

Lengan kiri putus.

SLAASH.

Kaki kanan.

SLAASH.

Kaki kiri.

Dalam empat tebasan, Tuan Muda Lu Duo yang sombong telah berubah menjadi torso manusia. Dantiannya di tekan hingga retak, membuatnya ranahnya mengalami penurunan, sulit meningkatkan ranah, dia akan jadi sampah abadi.

Dia menjerit, menangis, memohon, dan mengutuk.

Lu Daimeng menatapnya tanpa belas kasihan. Dia mengarahkan jari telunjuknya ke arah mata kanan Lu Duo.

PLOK.

Dia mencongkel mata itu dengan jarinya.

"Satu mata untuk melihat betapa rendahnya kau sekarang," bisik Lu Daimeng.

Lu Duo mencoba menggigit lidahnya untuk bunuh diri. Rasa sakit ini terlalu berat.

Tapi Lu Daimeng lebih cepat. Dia mencengkeram rahang Lu Duo, lalu memukul mulutnya dengan gagang pedang.

Krak. Krak.

Gigi-gigi Lu Duo rontok semua. Dia tersedak darah dan pecahan gigi sendiri. Dia tidak bisa bunuh diri. Dia harus hidup.

Lu Daimeng berdiri. Dia melihat sekeliling. Bi Yue dan Zian Qin menonton dengan wajah pucat pasi. Kekejaman ini di luar standar sekte ortodoks. Ini adalah penyiksaan iblis.

Lu Daimeng menunjuk ke arah tumpukan mayat pengawal Keluarga Lu. Ada satu pemuda yang di sisakan bernapas, meski kakinya patah.

"Kau," tunjuk Lu Daimeng.

Pemuda itu mengompol di celana karena takut.

"Bawa ini pulang."

Lu Daimeng menarik rambut dan menyeret tubuh Lu Duo yang sudah buntung itu. Dia membuka baju Lu Duo lalu menggunakan ujung pedangnya untuk mengukir sesuatu di dada telanjang Lu Duo.

Daging berdesis saat huruf-huruf itu terbentuk.

HUTANG AKAN DI BAYAR DENGAN BUNGA YANG TINGGI— DAIMENG

Lu Daimeng mengambil semua cincin penyimpanan Lu Duo dan para pengawalnya. Lalu dia melemparkan satu cincin ke arah pemuda yang selamat itu.

"Di dalamnya ada Talisman Escape (Jimat Pelarian Jarak Jauh). Gunakan."

Pemuda itu gemetar. Dia mencoba bicara, "T-terima kasih..."

"Jangan bicara."

Lu Daimeng menusukkan dua jarinya ke leher pemuda itu.

Crush.

Pita suaranya hancur.

"Kau adalah kurir bisu. Biarkan tubuh anjing ini yang akan berbicara."

Pemuda bisu itu menangis, menyeret tubuh Lu Duo yang masih hidup (tapi berharap mati), dan mengaktifkan jimat itu.

Cahaya putih menyelimuti mereka. Dalam sekejap, mereka menghilang dari lembah, diteleportasi keluar dari Alam Rahasia.

Lu Daimeng berbalik menghadap Bi Yue dan Zian Qin yang masih mematung.

Dia menendang peti batu kuno ke arah mereka.

"Ambil. Itu sisa makananku," kata Lu Daimeng.

Dia tidak menunggu jawaban. Dengan pedang hitam di tangan dan aura kematian yang menyelimuti punggungnya, Lu Daimeng berjalan melewati mereka, menuju kedalaman Alam Rahasia yang lebih gelap.

Dunia kultivasi di luar sana belum tahu, tapi pesan telah dikirim. Pesan yang ditulis oleh Iblis yang mereka ciptakan.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!