Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Tawaran Jadi Mitra Bisnis
#
Tiga bulan berlalu sejak Zidan kerja jadi sopir pribadi Pak Rahmat. Hidupnya udah jauh lebih baik. Setiap bulan dapat gaji enam juta termasuk bonus. Hutang ke Pak Burhan udah berkurang jadi enam juta. Tinggal enam bulan lagi bisa lunas kalau bayar dua juta per bulan.
Ibu Siti kondisinya juga membaik. Setelah Zidan dapat gaji pertama, dia langsung bayar tunggakan biaya rumah sakit yang menumpuk. Sekarang Ibu Siti udah bisa pulang. Tinggal di rumahnya yang kecil dengan bantuan suster yang Naura sewa pakai uang hasil jualan gorengan. Susternya cuma dateng dua kali seminggu buat bantu terapi. Tapi setidaknya Ibu Siti udah di rumah sendiri. Nggak di rumah sakit lagi.
Meski masih lumpuh sebelah dan belum bisa ngomong dengan jelas, tapi dia udah bisa senyum. Setiap Naura datang bawa Faris, mata Ibu Siti berbinar. Dia usap usap kepala cucunya dengan tangan kirinya yang masih bisa gerak sedikit.
Hari itu Zidan lagi nyetir Pak Rahmat ke meeting sama klien di hotel. Meetingnya lama. Hampir tiga jam. Zidan nunggu di mobil sambil baca baca buku tentang bisnis yang dipinjemin Pak Rahmat.
Jam empat sore, Pak Rahmat keluar dari hotel dengan senyum lebar. Kelihatan banget meetingnya sukses.
"Zidan, kita nggak balik ke kantor. Kita ke restoran aja. Bapak mau ngobrol sama kamu."
"Baik Pak."
Mereka ke restoran Padang langganan Pak Rahmat. Tempat yang sama waktu pertama kali mereka makan bareng dulu. Pesan nasi padang lengkap. Rendang, gulai, ayam pop, sambal ijo, perkedel.
Sambil makan, Pak Rahmat mulai ngomong.
"Zidan, Bapak mau tanya sesuatu. Kamu udah berapa lama kerja sama Bapak?"
"Udah tiga bulan Pak."
"Selama tiga bulan ini, Bapak lihat kamu orangnya rajin. Disiplin. Nggak pernah ngeluh. Terus Bapak juga lihat kamu belajar cepet. Buku buku yang Bapak kasih kamu baca semua kan?"
"Iya Pak. Saya baca semuanya. Sangat bermanfaat."
Pak Rahmat senyum sambil suap nasi. "Bagus. Bapak seneng kamu serius belajar. Makanya Bapak mau nawarin sesuatu ke kamu."
Zidan berhenti makan. Deg degan. "Nawarin apa Pak?"
"Bapak mau ajak kamu jadi mitra bisnis."
Sendok di tangan Zidan hampir jatuh. "Mi... mitra bisnis Pak?"
"Iya. Mitra bisnis Bapak. Bukan karyawan lagi. Tapi partner."
Zidan speechless. Otaknya blank. Mitra bisnis? Dia? Yang cuma lulusan SMA? Yang dulu cuma sopir angkot? Jadi mitra bisnis pengusaha sekelas Pak Rahmat?
"Pak, saya... saya nggak ngerti. Maksud Bapak gimana?"
Pak Rahmat taruh sendoknya terus condong ke depan. Wajahnya serius.
"Begini. Bapak punya bisnis sampingan selain pabrik garmen. Bapak main di jual beli tanah. Beli tanah murah di daerah yang potensial. Tunggu beberapa tahun sampai harganya naik. Terus jual dengan untung besar."
"Oh..."
"Tapi Bapak udah tua. Udah nggak kuat lagi keliling cari tanah yang bagus. Bapak butuh orang muda yang energik. Yang bisa survey lokasi. Yang bisa nego sama pemilik tanah. Yang bisa urus surat surat. Dan Bapak lihat kamu orangnya cocok."
"Tapi Pak, saya nggak ngerti apa apa soal tanah. Saya nggak pernah beli tanah sebelumnya."
"Makanya Bapak akan ajarin. Dari awal. Dari dasar. Bapak akan kasih tau cara liat tanah yang bagus. Cara nego harga. Cara urus sertifikat. Semua."
Zidan menelan ludah. Jantungnya berdebar keras.
"Terus... terus sistemnya gimana Pak?"
"Gini. Modal semua dari Bapak. Kamu nggak perlu keluar uang sepeserpun. Tugas kamu cuma cari tanah yang bagus, nego, urus surat surat, terus jual lagi kalau udah untung. Keuntungannya kita bagi dua. Lima puluh persen buat Bapak. Lima puluh persen buat kamu."
Lima puluh persen.
Zidan tau bisnis tanah itu untungnya gede. Kalau beli tanah sepuluh juta, beberapa tahun kemudian bisa jual dua puluh juta bahkan tiga puluh juta. Untung sepuluh sampai dua puluh juta. Kalau dia dapat lima puluh persen, berarti lima sampai sepuluh juta sekali jual beli.
Lima sampai sepuluh juta!
Itu hampir dua tahun gajinya sekarang!
"Pak, saya... saya nggak tau harus bilang apa. Ini tawaran yang luar biasa. Tapi... tapi apa Bapak nggak salah pilih orang? Saya kan cuma sopir. Pendidikan saya cuma SMA. Saya nggak pinter pinter amat."
Pak Rahmat ketawa. "Zidan, bisnis itu nggak butuh ijazah. Bisnis butuh keberanian, kejujuran, dan kerja keras. Tiga hal itu kamu punya. Bapak udah lihat selama tiga bulan ini. Kamu orang yang bisa dipercaya."
"Tapi Pak..."
"Udah nggak usah banyak tapi tapian. Kamu mau nggak?"
Zidan diam lama. Otaknya berputar cepet. Ini kesempatan emas. Kesempatan yang mungkin cuma dateng sekali seumur hidup. Kalau dia tolak, dia bodoh. Tapi kalau dia terima, tanggung jawabnya besar.
Tapi dia inget doa doanya sama Naura malam itu. Doa minta kekayaan. Doa minta kesuksesan.
Ini jawaban dari doa itu.
Ini jalan yang Allah kasih.
"Saya... saya terima Pak. Saya mau jadi mitra bisnis Bapak."
Pak Rahmat senyum lebar sambil jabat tangan Zidan kuat. "Bagus! Bapak seneng! Mulai minggu depan kita survey tanah tanah yang Bapak udah lirik. Kamu siap ya."
"Siap Pak!"
Mereka lanjut makan dengan semangat. Zidan makan lebih lahap dari biasanya. Hatinya seneng banget. Excited banget.
Pulang kerja sore itu, Zidan langsung ngebut pulang. Nggak sabar mau kasih tau Naura.
Sampe di kontrakan, dia parkir motor asal asalan terus langsung masuk sambil teriak.
"Naura! Naura ada kabar gembira!"
Naura lagi nyusuin Faris di kasur. Dia kaget dengerin suara suaminya yang keras. "Mas kenapa? Ada apa?"
Zidan duduk di sampingnya sambil pegang pundak istrinya. Matanya berbinar.
"Naura, Pak Rahmat nawarin aku jadi mitra bisnis!"
"Mitra bisnis? Maksudnya gimana?"
Zidan jelasin semua yang dijelasin Pak Rahmat tadi. Tentang bisnis jual beli tanah. Tentang bagi hasil lima puluh lima puluh. Tentang potensi untung yang gede banget.
Naura dengerin dengan serius sambil Faris masih nyusu di pelukannya.
"Mas yakin? Mas bisa?"
"Aku nggak tau. Tapi ini kesempatan emas Naura. Kesempatan yang nggak akan dateng dua kali. Kalau berhasil, kita bisa dapat untung puluhan juta sekali transaksi. Puluhan juta! Bayangin!"
"Tapi Mas, bisnis tanah itu kan ribet. Mas harus ngerti banyak hal. Surat surat. Hukum. Harga pasaran. Mas sanggup?"
"Pak Rahmat bilang dia akan ajarin aku dari nol. Aku percaya dia. Lagian aku udah baca buku buku yang dia kasih. Aku udah tau sedikit sedikit."
Naura diam sebentar. Wajahnya terlihat ragu.
"Mas, aku seneng kamu dapat kesempatan ini. Tapi... tapi aku juga takut."
"Takut kenapa?"
"Takut kalau... kalau nanti kita beneran kaya... kita jadi berubah. Jadi lupa sama janji janji kita di sajadah waktu itu."
Zidan pegang wajah istrinya dengan lembut. "Naura, dengerin aku. Aku nggak akan berubah. Kita nggak akan berubah. Kita udah janji sama Allah. Dan aku akan pegang janji itu."
"Tapi Mas, uang itu bisa ngubah orang. Banyak yang awalnya baik, pas udah kaya jadi jahat. Jadi sombong. Jadi..."
"Aku beda. Kita beda. Kita pernah ngerasain susah. Pernah tidur beralas kardus. Pernah makan nasi kecap berhari hari. Pernah dikejar debt collector. Pengalaman itu nggak akan pernah hilang dari ingatan kita. Percaya sama aku."
Naura menatap mata suaminya lama. Lalu dia ngangguk pelan. "Oke. Aku percaya Mas. Tapi inget ya, kalau nanti Mas mulai berubah, aku akan ingetin. Aku nggak akan diem aja."
"Aku tau. Dan aku minta kamu ingetin aku. Jangan biarkan aku jadi orang yang buruk."
Mereka berpelukan sambil Faris di tengah. Faris udah selesai nyusu. Sekarang lagi main main sama jari tangannya sendiri.
Malam itu mereka sholat Isya berjamaah. Setelah sholat, mereka duduk bersimpuh lagi di sajadah.
Zidan yang berdoa.
"Ya Allah, terima kasih. Terima kasih udah kasih hamba kesempatan ini. Kesempatan jadi mitra bisnis. Kesempatan untuk sukses. Ya Allah, hamba mohon, berikan hamba ilmu. Berikan hamba kebijaksanaan. Berikan hamba kejujuran dalam berbisnis."
Suaranya bergetar.
"Ya Allah, hamba janji. Kalau bisnis ini sukses. Kalau hamba dapat untung besar. Hamba akan sedekah banyak banyak. Hamba akan bantu orang orang susah. Hamba akan bangun masjid. Hamba nggak akan lupa sama janji hamba. Aamiin."
Naura mengaminkan sambil ikut nangis. "Aamiin ya Allah."
Minggu depannya, Zidan mulai belajar bisnis tanah dengan serius. Pak Rahmat bawa dia keliling liat tanah tanah kosong di pinggiran kota. Ajarin dia cara liat lokasi yang strategis. Cara ngitung potensi kenaikan harga. Cara nego dengan pemilik tanah.
Zidan belajar dengan tekun. Dia catat semua di buku. Pulang kerja dia baca lagi catatan catatan itu. Hafalin.
Bulan pertama mereka beli tanah di daerah yang rencana mau dilewatin jalan tol. Luas lima ratus meter. Harga tiga puluh juta. Modal dari Pak Rahmat.
Bulan ketiga, jalan tol diumumkan. Harga tanah langsung naik. Banyak developer yang tertarik. Akhirnya mereka jual tanah itu seharga tujuh puluh juta.
Untung empat puluh juta.
Bagi dua. Zidan dapat dua puluh juta.
DUA PULUH JUTA!
Hari Zidan terima uang itu, dia pulang sambil nangis di motor. Nggak percaya. Dia yang dulu cuma sopir angkot, sekarang pegang uang dua puluh juta dari satu transaksi.
Sampe rumah, dia langsung peluk Naura sambil nangis.
"Naura... kita berhasil... kita dapat dua puluh juta..."
Naura ikut nangis. "Alhamdulillah Mas. Alhamdulillah."
Uang dua puluh juta itu mereka pake buat:
Sepuluh juta buat lunasin hutang ke Pak Burhan. Akhirnya bebas dari jeratan rentenir.
Tiga juta buat bayar semua biaya pengobatan Ibu Siti sampai tuntas.
Dua juta buat Bu Mariam. Beliin dia kulkas baru sama modal jualan yang lebih besar.
Dua juta buat sedekah ke masjid sama panti asuhan.
Tiga juta ditabung.
Mereka pegang janji mereka.
Mereka nggak lupa sama orang orang yang udah bantuin mereka.
Mereka nggak lupa sama Allah.
Tapi...
Ini baru transaksi pertama.
Masih ada transaksi transaksi berikutnya.
Dan setiap transaksi, untungnya makin gede.
Uang makin banyak.
Dan pelan pelan...
Sangat pelan...
Ada yang mulai berubah.
Di dalam hati Zidan.
Perubahan kecil yang dia sendiri nggak sadar.
Perubahan yang akan terus membesar.
Sampai suatu hari nanti...
Dia jadi orang yang sama sekali berbeda.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja