Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja
Langit mulai gelap dengan lembut. Warna jingga yang samar terlihat, mirip dengan karya seni yang warnanya dipilih agar tidak terlalu mencolok. Aurellia berada di belakang meja kasir kafe, tangannya repot mengatur struk, tetapi pikirannya melayang jauh.
Hari ini terasa… aman. Terlalu aman.
Padahal biasanya, pada waktu ini kafe mulai dipenuhi orang. Suara mesin kopi berdengung, gelas beradu, dan obrolan pengunjung yang sibuk bercampur. Namun sore itu, semua terasa lebih lambat satu langkah.
Aurellia memperhatikan jam dinding. 16.47.
Masih ada waktu sebelum Alvaro biasanya datang.
“Lia, Lo keliatan ngelamun tadi,” suara Dimas menghentikan pikirannya.
Aurellia terkejut. “Hah? Iya, Dim. Sorry sorry. ”
Dimas memandangnya sambil memberikan pertanyaan kecil. “Capek? ”
“Nggak juga… cuma hari ini kayaknya aneh,” kata Aurellia dengan jujur.
Dimas mengangguk pelan, seakan mengerti. “Kadang hari emang rasanya gitu. Nyaman tanpa alasan yang jelas. ”
Aurellia mengangguk, namun perasaan di dalam dadanya belum juga reda. Ada sesuatu yang terasa aneh, perasaan samar yang susah untuk diungkapkan. Bukan ketakutan. Bukan juga kecemasan. Tetapi lebih seperti… sebuah antisipasi yang tak jelas ditunggu.
Tak lama kemudian, pintu kafe terbuka.
Bukan Alvaro.
Seorang pria masuk, mengenakan jaket gelap, wajahnya familiar tetapi tak sepenuhnya dikenali. Ia memesan kopi dengan cepat, lalu duduk di sudut sambil menunduk melihat ponselnya.
Aurellia melayani dengan cara biasa, tetapi matanya sesekali melirik ke arah pintu.
Biasanya Alvaro datang lebih awal di sore hari seperti ini.
“Jangan berharap pada orang yang belum tentu muncul,” suara Nara terdengar dari belakang.
Aurellia menoleh. “Sejak kapan kamu di sini? ”
“Dari tadi. Kakak aja yang terlalu banyak ngelamun,” jawab Nara dengan senyum lebar.
Kebetulan di hari itu Nara sedang libur sekolah dan memutuskan pergi ke tempat kerja kakaknya untuk melihat lebih dalam lagi sosok Alvaro.
Aurellia mendengus pelan. “Aku nggak nunggu siapa-siapa. ”
“Uh-huh,” Nara mengangkat alisnya. “Terus kenapa tiap kali bunyi pintu kamu melirik? ”
Aurellia menahan tawa. “Kamu lebay. ”
Nara bersandar pada meja. “Aku cuma penasaran. Kakakku yang satu ini kayaknya dapet senyum yang beda. ”
Aurellia menghela napas berat. “Jangan mulai yaaaa. ”
“Oke, oke,” Nara mengangkat tangannya. “Aku diem. ”
Namun tidak lama kemudian, pintu kafe kembali dibuka.
Kali ini Alvaro.
Aurellia tidak menyadari bahwa tubuhnya sedikit membetulkan diri. Matanya seketika menangkap sosok itu—kaus gelap, ransel di bahu, rambutnya agak acak-acakan seperti biasanya.
Alvaro memindai sekeliling, lalu tatapannya bertemu dengan Aurellia.
Ia tersenyum.
Dan entah mengapa, rasa aneh di dada Aurellia sedikit berkurang.
“Kayak biasa? ” tanya Aurellia saat Alvaro mendekati.
“Ya,” jawab Alvaro. “Americano. ”
Nara melirik bergantian, lalu membersihkan tenggorokannya dengan jelas. “Rasanya aku nggak keliatan, ya. ”
Alvaro tertawa. “keliatan lah. Kamu Nara, kan? ”
Nara mengangguk cepat. “Iya. Adik yang cerewet. ”
Aurellia melotot. “Nar. ”
“Becanda,” Nara tertawa.
Alvaro duduk di kursi dekat kasir, tidak jauh dari mereka. “Kafe hari ini sepi, ya. ”
“Iya,” kata Aurellia sambil meracik kopi. “Kayaknya kafe lagi narik napas. ”
Alvaro memberikan senyuman kecil. “Aku suka suasana kayak gini. ”
“Kenapa? ” tanya Aurellia.
“Soalnya nggak banyak gangguan. Rasanya lebih… tulus,” jawab Alvaro dengan perlahan.
Kata itu menggantung di udara.
Tulus.
Aurellia memberikan kopi. Jari-jari mereka hampir bersentuhan, seperti biasanya. Detik-detik yang entah mengapa selalu terasa lebih lama.
Nara memperhatikan dari kejauhan, berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
“Semalam kamu jalan jauh, ya? ” tanya Alvaro setelah menyeruput kopinya.
Aurellia mengangguk. “Lumayan. Tapi nyenengin. ”
“Capek? ”
“Dikit aja. ”
“Tapi senyummu nggak keliatan capek,” kata Alvaro tanpa sadar.
Aurellia terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. “Kamu suka bilang kayak gitu, ya? ”
“Bilang tentang apa? ”
“Hal-hal yang mancing pemikiran orang lain. ”
Alvaro mengangkat bahunya. “Aku cuma ungkapin yang bener aja. ”
Kata itu lagi.
Kebenaran.
Malam semakin merayap. Cahaya oranye perlahan berubah menjadi abu-abu kebiru-biruan. Lampu kafe dinyalakan satu per satu.
Seiring waktu, beberapa pengunjung datang dan pergi. Namun suasana tetap terasa tenang. Aurellia melayani dengan sesekali mencuri pandang ke arah Alvaro, yang kini sibuk mengedit foto di kameranya.
“Belakangan ini kamu foto apa? ” tanya Aurellia saat kafe tampak sepi.
“Kota,” jawab Alvaro. “Tapi bukan suasana yang rame. ”
“Terus yang kayak apa? ”
“Tempat-tempat yang jarang diperhatiin orang. Gang, lampu padam, bangku kosong. ”
Aurellia mengangguk pelan. “Kedengerannya… sepi. ”
“Ya,” Alvaro tersenyum tipis. “Tapi jujur. ”
Aurellia menatapnya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara Alvaro berbicara sore itu. Tenang, namun sepertinya menyimpan banyak arti.
“Lia,” panggil Dimas dari dapur, “Tolong ambilin gula di belakang, ya. ”
“Oke... bentar. ”
Aurellia melangkah ke belakang, melewati lorong sempit menuju gudang kecil. Lampu di sana agak redup. Ia membuka lemari, mengambil gula, tetapi langkahnya melambat.
Entah kenapa, lorong itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Aurellia menoleh sejenak ke arah pintu belakang. Tertutup rapat. Aman.
Ia menggeleng pelan, menertawakan dirinya sendiri. Kenapa sih kamu.
Ketika kembali ke depan, Alvaro sedang berdiri, membantu Nara memindahkan kursi.
“Kamu jadi pembantu sekarang? ” goda Aurellia.
Alvaro tertawa kecil. “Biar keliatan bermanfaat. ”
Nara menyahut, “Dia lumayan rajin, Kak. ”
Aurellia tersenyum.
Namun malam benar-benar tiba ketika senja berakhir sepenuhnya.
Kafe akhirnya tutup. Dimas pulang lebih awal, meninggalkan Aurellia, Nara, dan Alvaro.
“Kalian pulang bareng? ” tanya Nara sambil mengenakan jaket.
Aurellia menoleh ke Alvaro, sedikit ragu. “Kamu… pulang kemana? ”
“Ke kosan,” jawab Alvaro. “Lewat jalur utama. ”
“Aku juga,” kata Aurellia.
Nara tersenyum lebar. “Kalo gitu, aku duluan ya. Ada janji. ”
“Jangan pulang terlambat,” kata Aurellia otomatis.
Nara melambaikan tangan. “Kakakku ini perhatian banget. ”
Kini hanya tersisa mereka berdua.
Udara malam terasa lebih dingin dibanding kemarin. Suasana sunyi terasa berbeda.
Mereka berjalan berdampingan, tanpa banyak bicara. Namun bukan kesunyian yang canggung. Melainkan lebih kepada… hening penuh pikiran.
“Rell,” kata Alvaro akhirnya, suaranya lembut. “Kamu percaya nggak, kadang kehidupan memberi ketenangan sebelum muncul keributan? ”
Aurellia menoleh. “Maksud kamu apa? ”
“Entahlah,” Alvaro menarik napas. “Aku cuma ngerass… belakangan ini terlalu damai. ”
Aurellia tersenyum kecil, namun dia merasa hangat dan sedikit tertekan di dalam dadanya. “Bukannya damai itu baik? ”
“Iya,” jawab Alvaro. “Tapi kadang aku takut terbiasa dengan keadaan damai. ”
Mereka menghentikan langkah di lampu merah. Cahaya merah menerangi wajah Alvaro sebentar, membuat bentuk wajahnya tampak lebih jelas.
Aurellia ingin mengatakannya—bahwa damai tidak selalu berarti lemah, bahwa dia merasa aman saat bersama Alvaro—tapi kata-kata itu terdiam.
Lampu berubah menjadi hijau.
Mereka melanjutkan langkah.
Tanpa disadari, Aurellia berpikir: jika malam ini hening, mungkin dia menyimpan sesuatu.
Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, kesunyian itu terasa agak menakutkan.