Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Familiar
Karena tidak mau pikirannya terus menerus dikacaukan oleh Dira, dua hari ini Ethan memilih fokus dengan pekerjaannya. Pekerjaan mafia pastinya. Dia sibuk menganalisis senjata baru mereka. Menenggelamkan diri dalam laporan teknis, spesifikasi, dan jalur distribusi senjata baru yang akan dikirim ke luar negeri.
Ruangan bawah tanah itu dingin dan berbau logam.
Deretan senjata yang tersusun rapi di atas meja baja panjang. Beberapa orang kepercayaannya berdiri tidak jauh, menunggu instruksi.
Ethan mengenakan sarung tangan hitam saat membongkar salah satu senapan semi-otomatis. Gerakannya tenang, seolah-olah ia sedang merakit mainan, bukan alat pembunuh. Ia memeriksa larasnya, memutar baut pengunci, lalu memasangnya kembali dengan cekatan.
"Batch ini harus lolos uji akurasi jarak 300 meter," ucapnya datar tanpa mengangkat kepala.
"Kalau meleset lebih dari toleransi yang kita tetapkan, pisahkan. Jangan sampai ada komplain dari klien."
"Oke bos," jawab Geral, tangan kanannya, sambil mencatat.
Ethan berdiri, berjalan ke meja lain tempat beberapa pistol kompak tergeletak. Ia mengambil satu, menimbangnya di telapak tangan. Ringan. Seimbang. Cocok untuk pasar Eropa Timur yang menginginkan model ringkas namun bertenaga.
"Pengiriman lewat jalur laut tetap?" tanya anak buahnya yang lain.
"Tidak." Ethan menatap layar tablet di tangannya.
"Ada pemeriksaan acak di pelabuhan minggu ini. Kita alihkan lewat jalur udara.
"Gunakan perusahaan kargo yang biasa. Dokumennya sudah diatur."
Nada suaranya dingin, penuh kendali. Tidak ingin ada kesalahan sedikit saja. Di dunia yang ia bangun, satu kelalaian kecil bisa berujung pada kematian. Mereka memang bukan mafia biasa. Susah di senggol. Ethan tidak kalah dari Damian dalam memimpin orang-orangnya.
Damian sendiri siap membantu kapan saja. Masih ada Matt juga. Meski begitu, mereka harus tetap waspada, karena musuh ada di mana-mana. Mafia kuat bukan hanya mereka. Yang licik dan lebih jahat dari mereka pun banyak.
Begitu pekerjaan itu selesai, Ethan meninggalkan markas. Di luar sudah mulai gelap. Lelaki itu duduk sendirian di sebuah taman sepi. Taman yang cukup luas namun tak ada penghuninya. Wajahnya datar menatap lurus ke depan. Entah apa yang dia lihat, tidak jelas.
Tiba-tiba seorang anak kecil muncul di depannya. Masih kecil. Mungkin empat atau lima tahun, soalnya badannya masih pendek dan keliatan bayi sekali. Bocah laki-laki itu berdiri kira-kira setengah meter di depannya. Pakai kaos lengan pendek dan celana panjang. Keduanya saling menatap. Anak kecil itu menatapnya lama, dia juga menatap lama, tanpa ekspresi dan sedikit malas.
"Om, boleh kenalan nggak?"
Ethan terkekeh malas. Pikirannya lagi kacau, eh malah di ajak kenalan sama bocah kecil. Bocah itu maju, mengulurkan tangannya di depan Ethan. Kalau yang ajakin kenalan perempuan, sudah dia tolak mentah-mentah. Tapi ini anak kecil, dia sedikit tidak tega. Meski tidak teganya masih dikategorikan tega.
"Arel." kata bocah itu. Ethan membalas uluran tangan kecil tersebut tanpa menyebut namanya.
"Nama om siapa?" Ethan tetap diam. Arel duduk di sebelahnya, terus menatapnya lama sebelum akhirnya meminta sesuatu,
"Arel bisa minta dibeliin makan gak om? Arel laper bangeett ..."
Kali ini Ethan menoleh menatap bocah itu lama. Dari dekat, ia merasa wajah bocah tersebut ada kemiripan dengan dirinya.
"Orangtuamu kemana, kenapa di luar jam segini? Kau tidak takut di culik? Tidak takut aku adalah orang jahat?"
Arel menghembuskan nafas panjang.
"Mama masih kerja, Arel ikut bibi Ella. Tapi tadi bibi Ella di marahin om-om. Arel takut jadi Arel kabur. Tapi Arel lupa roti Arel ketinggalan sama bibi Ella."
Bocah ini pintar sekali ngomongnya. Meski kadang masih ada Kata-katanya yang tidak begitu jelas. Ethan tidak tahu siapa yang di sebut bocah itu, tidak penting juga.
"Om, Arel beneran laper. Gak bohong. Nanti Arel bilang mama ganti duit om. Ya?" wajah bocah itu memelas.
Ethan menghembuskan nafas panjang. Tidak tega juga sama anak sekecil itu.
"Ayo," katanya berjalan lebih dulu. Wajah Arel bersorak gembira. Ia berlari kecil dan meraih tangan Ethan yang jauh lebih tinggi darinya.
Sentuhan tangan kecil itu membuat langkah Ethan melambat sepersekian detik.
Tangannya mungil. Hangat. Jari-jarinya menggenggam tanpa ragu, seolah-olah dunia ini aman selama ia memegang orang dewasa di sampingnya tersebut.
Ethan tidak ingat kapan terakhir kali ada seseorang yang menyentuhnya tanpa takut.
"Kau mau makan apa?" tanyanya singkat saat mereka berjalan menyusuri trotoar yang mulai lengang.
"Spagetti! Sama es teh manis! Tapi kalau mahal, nasi goreng juga nggak apa-apa…" jawab Arel cepat, seperti takut permintaannya ditolak.
Ethan mendengus pelan. Bocah ini bahkan sudah tahu konsep 'kalau mahal'. Mereka berhenti di sebuah warung makan sederhana. Lampunya temaram, beberapa kursi plastik tersusun seadanya. Pemilik warung sempat menatap Ethan waspada, penampilannya memang terlalu rapi dan terlalu dingin untuk tempat seperti itu, tapi segera tersenyum saat melihat anak kecil di sampingnya.
Pesanan datang tak lama kemudian. Arel makan dengan lahap. Terlalu lahap untuk anak seusianya.
Ethan memperhatikan tanpa sadar. Cara bocah itu meniup makanan yang masih panas. Cara pipinya menggembung saat mengunyah. Bahkan cara alisnya berkerut kecil saat kuahnya sedikit pedas. Ada sesuatu yang aneh bergetar di dalam dada Ethan.
Dan anak itu, makan pakai tangan kiri. Sama sepertinya.
"Kau tinggal di mana?" tanyanya tiba-tiba.
"Di sana…" Arel menunjuk ke arah deretan ruko di seberang taman. Padahal yang dia maksud bukan itu, tapi apartemen sederhana yang masih cukup jauh dari deretan ruko tersebut.
"Mama kerja di kantor. Kadang pulangnya lamaaa banget.”
"Kantor apa?"
"Nggak tahu."
Jawaban polos itu membuat Ethan terdiam. Dia baru sadar, kenapa juga dia menanyakan jenis kantor sama bocil.
Ethan menatap lebih tajam ke wajah Arel. Bentuk rahangnya. Lengkungan alisnya.
Tatapan matanya yang entah kenapa terasa… familiar.
"Om kok liatin Arel terus?" tanya bocah itu polos, bibirnya belepotan kuah.
"Tidak."
"Om galak ya?"
Ethan hampir tersedak oleh pertanyaan itu.
"Dari tadi om natap Arel dan semua orang kayak gini."
Arel memperagakan cara Ethan menatapnya dan orang lain. Ethan terkekeh.
"Kau tidak takut padaku?"
"Nggak tuh! Arel lebih takut sama mama."
Ethan tertawa.
"Jadi mamamu galak?"
"Nggak. Mama Arel baaiiik banget. Arel cuma takut bikin mama sedih."
Kali ini Ethan terdiam lama. Tiap kali melihat bocah itu, perasaannya terasa aneh.
Dia tidak sadar ada orang yang bersembunyi di balik tembok tempat itu. Melihat dirinya dan Arel dengan raut wajah tegang dan harap-harap cemas.
ni si ethan kapan dibuat nyesel nya sih thor 🤣🤣
Arel ingin dimandikan sama papanya, ethan akan berusaha menjadi papa yg terbaik buat arel...
Mengalah dira demi kebaikan arel, walaupun hubungan sangat rumit sama ethan.. ethan gengsinya terlalu tinggi egonya tinggi...
dira tidak mau membuat ethan marah makin ribet urusannya nanti, dira menerima keputusan ethan menikah agar arel punya keluarga yg lengkap...
dira sangat tersiksa sikapnya ethan sangat dingin dan datar, tenang dira ethan sebenarnya masih mencintaimu tapi egonya dan gengsinya tinggi...
buktinya ethan maen nyosor mencium dira, hanya saja ethan kecewa dan marah melihat berduaan dulu sama jeremy...
ethan sangat sayang sama arel, ethan memberikan segalanya buat arel, kasih sayangnya...
apalagi arel juga happy sekali punya papa...