Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 (Part 1) Pengejaran di Balik Tirai Hujan
Van putih katering itu melaju membelah gerimis yang mulai menderas, meninggalkan kemegahan rumah Alangkara yang kini tampak seperti istana hantu di spion. Di dalam kabin yang sempit, aroma sisa makanan katering bercampur dengan bau hujan dan keringat dingin. Kella masih memeluk map cokelat itu erat-erat di dadanya, seolah jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, kebenaran di dalamnya akan menguap.
Gala mengemudi dengan rahang yang mengatup rapat. Wajahnya yang pucat karena flu kini terlihat makin kaku di bawah siraman lampu jalan yang bergantian masuk ke dalam mobil. Ia sesekali melirik spion tengah, matanya yang merah waspada terhadap setiap sorot lampu di belakang mereka.
"Gala, kamu masih demam," bisik Kella, melihat tangan Gala yang sedikit gemetar di atas kemudi.
"Gue nggak apa-apa," jawab Gala pendek, meski suaranya terdengar pecah. "Kita harus sampai di kantor Adrian sebelum Hendra sadar. Dia nggak bodoh. Begitu dia cek CCTV ruang kerja atau liat brankas itu terbuka, dia bakal langsung tahu siapa yang keluar-masuk koridor itu."
...
Pukul 23.00 WIB – Labirin Jalanan Jakarta.
Jalanan Jakarta di Sabtu malam masih cukup ramai, namun Gala memilih rute-rute tikus di daerah Menteng yang gelap dan sempit. Ia mematikan lampu kabin agar mereka tidak terlihat dari luar.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam muncul dari belokan di belakang mereka. Mobil itu tidak menyalakan lampu jauh, namun ia menjaga jarak yang konstan.
"Gala... mobil di belakang itu," suara Kella bergetar.
Gala melirik spion. "Itu Hendra. Sial, dia lebih cepat dari dugaan gue."
Gala menginjak pedal gas lebih dalam. Van katering yang berat itu mengerang, mencoba menambah kecepatan di atas aspal yang licin. Gala banting setir ke kiri, masuk ke gang yang hanya cukup untuk satu mobil. Suara gesekan spion van dengan dinding tembok rumah warga menciptakan bunyi nyaring yang memilukan.
"Pegang erat-erat, Kella!" teriak Gala.
Hendra di belakang mereka tidak menyerah. SUV hitam itu lebih lincah. Di sebuah persimpangan jalan besar, SUV itu mencoba memotong jalur van mereka.
Gala dengan nekat menginjak rem secara mendadak, membuat ban mobil berdecit hebat, lalu memutar kemudi sepenuhnya untuk putar balik secara ilegal.
"Dia bakal terus ngejar kita selama kita masih di mobil ini," ujar Gala napasnya tersengal. "Kita harus tukar kendaraan."
...
Pukul 23.20 WIB – Parkiran Basement Apartemen Tua.
Gala membawa van itu masuk ke sebuah apartemen tua yang tampak kumuh di daerah Cikini. Ia tidak berhenti di lobi, melainkan langsung menuju lantai basement paling bawah yang gelap dan jarang digunakan.
"Turun!" perintah Gala.
Mereka melompat keluar dari van. Gala segera menuju sebuah mobil sedan tua berwarna abu-abu yang tertutup debu tebal. Ia mengambil kunci yang disembunyikan di atas ban mobil.
"Ini mobil lama almarhum supir ibu gue. Nggak ada yang tahu keberadaannya selain gue," jelas Gala sambil membuka pintu untuk Kella.
Kella masuk ke dalam, merasa ngeri saat melihat SUV hitam Hendra meluncur masuk ke area basement di lantai atas mereka. Suara deru mesin SUV itu bergema di tembok beton.
Gala menyalakan mesin sedan tua itu. Suaranya halus, tanda mobil itu terawat meski penampilannya kusam. Ia tidak menyalakan lampu mobil. Ia perlahan keluar dari area basement melalui pintu keluar darurat yang menuju ke jalan belakang.
...
Pukul 23.45 WIB – Kantor Hukum Adrian.
Mereka sampai di sebuah ruko berlantai tiga yang tampak sepi. Hanya ada satu lampu yang menyala di lantai dua. Gala memarkir mobilnya agak jauh, lalu mereka berjalan kaki, merapat ke dinding-dinding ruko untuk menghindari sorot lampu jalan.
Adrian sudah menunggu di pintu belakang. Wajah pengacara muda itu tampak tegang. Begitu Gala dan Kella masuk, Adrian langsung mengunci pintu dengan tiga lapis kunci.
"Kalian gila," bisik Adrian saat melihat kondisi mereka yang basah kuyup dan berantakan. "Hendra baru saja menelepon kantorku lima menit lalu, menanyakan apakah aku bertemu kalian."
"Lo jawab apa?" tanya Gala, ia ambruk di sofa kulit tua di ruang tamu Adrian. Tubuhnya akhirnya mencapai batas.
"Aku bilang aku sedang di rumah sakit menjenguk klien," jawab Adrian. Ia beralih pada Kella. "Kamu bawa dokumennya?"
Kella menyerahkan map cokelat itu dengan tangan gemetar. Adrian membukanya di bawah lampu meja yang redup. Matanya menelusuri baris demi baris dokumen tersebut.
"Ini dia..." desis Adrian. "Tanda tangan asli Bramantyo pada sertifikat pengalihan lahan yang dipalsukan. Dengan ini, proyek Green Residence bisa dihentikan secara hukum besok pagi."
Kella menarik napas lega, namun Gala justru tertawa getir di sofa.
"Berhenti secara hukum nggak bakal bikin Ayah gue berhenti, Adrian," ujar Gala. "Dia bakal nyari siapa yang ngambil ini. Dan dia bakal mulai dari Kella."
...