Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 6
Tanpa banyak bicara, Zayna melakukan apa yang diminta suaminya, ia menyiapkan sarapan dan memanaskan air untuk mandi sang suami, wajahnya datar tanpa ekspresi.
“Apa kau tahu di mana celana dalam baruku?” Teriak Drake dari kamar.
“Di almari.” Kata Zayna singkat, suaranya tenang, nyaris dingin, ia masih teringat semua detail perselingkuhan suaminya yang di lakukan di ranjanh pribadinya.
Drake mengacak-acak almari. Namun tiba-tiba ia membeku ketika matanya menangkap beberapa tetes darah di sudut bawah almari.
“Ada darah di sini!” Teriak Drake panik.
Zayna terdiam sesaat. Ingatannya membawanya kembali pada pria yang bersembunyi dengannya, pria yang di tubuhnya di penuhi luka dan darah segar yang menetes dari perutnya.
Matanya sontak membulat, tubuhnya menegang. Ia segera mematikan kompor, lalu melangkah kan kakinya secepat mungkin menuju kamar. Seingatnya, ia telah membersihkan semua noda darah itu dengan teliti.
“Ada darah di dalam almari!” Ulang Drake lagi sambil menunjuk dengan telunjuk gemetar. Kedua bola mata Drake membulat penuh.
Zayna mendekat perlahan, menatap noda itu sekilas.
“Tadi malam aku memukul tikus,” kata Zayna dengan suara datar dan setenang mungkin.
“Tikus?” Drake mengernyit, pria itu tak percaya.
“Ada beberapa yang masuk,” lanjut Zayna tanpa menatapnya. “Mereka membawa bungkus pengaman sekss. Mungkin dipungut dari luar.”
Wajah Drake seketika pucat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Drake ingat ia membuang bungkus pengaman yang ia pakai bersama Ezme di depan rumahnya.
“Mana mungkin… Bisa ada orang membuang pengaman sembarangan sampai dibawa tikus masuk ke rumah.” katanya gugup dan kalimatnya keluar dengan terbata-bata.
Zayna menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi bukan tersenyum.
“Seharus memang dibuang dengan benar, jangan sembarangan membuang bungkus oengaman sekss.” Ucapnya pelan tapi menusuk.
“Kalau tidak, bisa membawa penyakit.” Sambung Zayna lagi.
Tanpa menunggu jawaban, Zayna keluar dari kamar dan kembali ke dapur, meskipun Zayna merasakan dadanya bergemuruh dan berdentum, takut alibi nya tidak masuk akal dan Drake curiga, namun pada akhirnya Zayna mengeluarkan senjata yang membuat Drake tak berkutik.
“Be… Be… Benar!” Teriak Drake menyusul, suaranya meninggi karena panik. “Sangat menjijikkan! Bisa membawa penyakit!”
Zayna sama sekali tidak menanggapi.
“Apa airnya sudah panas?” tanya Drake kemudian.
“Sudah.” Jawab Zayna singkat.
Drake kemudian memeluk Zayna dari belakang dan mengecup pipi Zayna beberapa kali. Namun, Zayna tetap diam, tubuhnya kaku. Tak ada reaksi apapun. Hal itu justru membuat Drake tersulut emosi.
“Kenapa kau selalu diam saja setiap kali aku menciummu?” Bentak Drake tiba-tiba.
“Apa aku tidak lagi menggairahkan bagimu?” Tanya Drake sembari melepaskan pelukannya.
Zayna menoleh perlahan. Tatapannya tajam dan dingin. Zayna merasa Drake hanya mencari alasan untuk memancing keributan.
Saat ia hendak bicara, Drake lebih dulu menyela.
“Sudahlah. Aku mau mandi dan berangkat ke kantor. Banyak pekerjaan. Mungkin aku tidak pulang hari ini.” Kemudian Drake berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada merendahkan.
“Lagipula, tidak ada yang enak dipandang. Sesekali rawat dirimu. Kau selalu berpakaian lusuh.”
Pintu kamar mandi dibanting keras. Zayna tahu, Drake menahan ego dan rasa malunya karena Zayna tidak merespon apa yang Drake mau.
BRAKK!
“Jadi semua ini adalah salahku?” GumamZayna lirih.
“Apa salahku juga, jika kita punya hutang setinggi gunung sampai aku tak mampu merawat diriku, karena tak ada sepeser pun uang tersisa untuk hal semacam itu. Aku hanya bekerja dan bekerja… melunasi semua hutang-hutangmu. Para rentenir gila itu pun selalu mengejarku dan kau selalu bersembunyi di balik punggungku.”
“Apa yang kau katakan?! Aku tidak dengar!” Teriak Drake dari dalam kamar mandi dengan kran air yang menyala.
“Sarapannya sudah siap.” Kata Zayna lebih keras.
“Taruh saja di meja!” Sahut Drake.
“Kalau kau buru-buru, aku akan makan sendiri.” Drake melanjutkan lagi.
Zayna berdiri terpaku di depan pintu kamar mandi. Wajahnya kosong. Lelah. Seolah hanya dia yang masih bertahan memperjuangkan pernikahan yang perlahan runtuh. Drake bahkan masih selalu menghinanya dengan kata-katanya yang tajam dan merendahkan.
Zayna pun meletakkan sarapan di meja, lalu meraih tasnya.
“Aku berangkat.” Kata Zayna dengan suara tenang namun penuh kesedihan.
“Hm… hati-hati di jalan.” Kata Drake dengan mulut penuh busa pasta gigi.
Zayna pun keluar. Pintu tertutup perlahan, sejenak ia menyandarkan punggungnya di pintu setelah menutupnya.
Zayna diam dan bersandar di sana untuk beberapa detik, tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga. Zayna ingin berlibur, ingin bernafas tanpa beban. Namun yang paling melelahkan bukanlah pekerjaanya yang tiada habisnya, melainkan kenyataan bahwa suaminya tak pernah lagi peduli padanya. Kenyaataan bahwa Zayna berjaung sendiri dengan lilitan hutang sang suami sedangkn suaminya bersenang-senang dengan gadis belia.
“Fuhh…” Zayna membuang napas nya yang berat dan kemudian berjalan perlahan.
Langkah Zayna terasa berat saat meninggalkan rumah. Udara pagi yang meski sejuk justru membuat tubuhnya menggigil karena demamnya masih belum sembuh. Kepalanya berdenyut, pandangannya sedikit buram. Demam itu belum juga turun sejak semalam, dan Zayna lupa belum meminum obat, tetapi ia tak punya pilihan lain selain tetap berangkat bekerja.
Lagi-lagi Zayna menarik napas panjang, berusaha menahan rasa mual yang naik perlahan. Tangannya dingin, sementara tubuhnya terasa panas. Zayna tahu ia seharusnya beristirahat, berbaring, dan memejamkan mata. Namun angka-angka hutang terus berputar di kepalanya, menuntut dilunasi tanpa peduli pada kondisinya.
Di tengah perjalanan, pikirannya melayang pada pemandangan yang tak pernah ingin ia ingat.
Suaminya, Drake, bersama gadis muda itu. Senyum yang dulu hanya untuknya, kini mengembang lebar untuk gadis lain. Hatinya perih, seperti disayat pelan-pelan. Lebih menyakitkan lagi, Drake tetap pulang ke rumah seolah tak terjadi apa-apa, sementara Zayna harus menelan luka itu sendirian.
Zayna merasa benar-benar pontang-panting sendiri. Bekerja tanpa henti, menahan sakit, memendam perasaan, demi menutup hutang yang bahkan bukan sepenuhnya kesalahannya. Tak ada tempat bersandar, tak ada bahu untuk mengadu. Hanya dirinya sendiri.
Dulu, Drake adalah rumah baginya. Pria yang hangat, penuh perhatian, dan selalu menggenggam tangannya.
Zayna ingat betul Drake berkata bahwa apa pun bisa mereka hadapi bersama. Zayna sering bertanya-tanya, sejak kapan semua itu berubah. Sejak kapan cinta yang dulu begitu lembut kini menjelma menjadi pengkhianatan dan perselingkuhan yang kotor.
Kini Zayna kebingungan harus bersikap bagaimana? Jika Zayna marah pun karena perselingkuhan suaminya, semua itu tak akan menyelesaikan apa-apa.
Jika Zayna pergi pun ia tak tahu harus ke mana. Dalam hidupnya, hanya Drake yang ia miliki. Tak ada keluarga untuk pulang, tak ada sahabat untuk berbagi. Kehilangan Drake berarti kehilangan seluruh dunianya.
Zayna menguatkan langkahnya meski tubuhnya nyaris menyerah, ia menelan air liur yang kering, menahan sesak di dadanya karena hatinya yang terlalu lelah untuk terus berpura-pura kuat.
Namun pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, Zayna tetap berjalan maju. Karena jika ia berhenti, tak ada siapa pun yang akan menopang hidupnya.
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk