NovelToon NovelToon
Pilot'S Barbaric Triplets

Pilot'S Barbaric Triplets

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Konglomerat berpura-pura miskin / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Office Romance
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞

______________________________________________

"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?

Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.

Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.

Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.

Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

@Flashback On@

Sejak Cia memasuki kantin bersama Varo, radar seorang Aksa langsung berbunyi nyaring. Duduk santai bersama tiga sahabatnya yang juga merupakan inti dari The Mavericks.

Galang, Bima, dan Arya.

"Itu anak baru?" tanya Aksa dengan dagunya yang terangkat sedikit, menunjuk Cia yang sedang memesan bakso level neraka.

Galang, sang wakil ketua The Mavericks yang selalu bersemangat, mengerutkan keningnya. "Yang mana, Bos? Tumben banget merhatiin cewek! Biasanya juga cewek yang pada ngantri buat dapat perhatian lo."

"Yang lagi pesan bakso," jawab Aksa datar, matanya tak lepas dari sosok Cia.

Bima, sang ahli strategi The Mavericks, ikut menoleh. "Kayaknya sih iya. Gue baru lihat. Tapi, gayanya menarik juga. Nggak kayak anak mami."

Arya, yang selalu menyeringai seolah tahu semua rahasia dunia, menambahkan, "Kayaknya cewek itu bukan tipe anak manja. Lihat aja gaya tengilnya. Bikin penasaran."

Aksa mengangguk, matanya terpaku pada Cia. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Keberanian, ketidakpedulian, dan aura pemberontaknya memikat perhatiannya. Ia tertarik pada cewek yang tidak seperti cewek-cewek lain yang selama ini mengejarnya.

"Beri tahu gue semua tentang dia," perintah Aksa pada Bima. "Gue mau tahu siapa dia, apa yang dia suka, dan apa yang dia benci."

Bima mengangguk dengan sigap. "Siap, Bos. Dalam waktu singkat, semua informasi tentang calon ibu negara bakal ada di tangan lo. Lengkap dengan foto masa kecilnya kalau perlu."

Aksa kembali menatap Cia, senyum tipis bermain di bibirnya. Ia membayangkan bagaimana ia akan mendekati gadis itu, bagaimana ia akan membuatnya tertarik padanya, dan bagaimana ia akan membuatnya menjadi miliknya. "Gue pasti dapetin lo," bisiknya pada dirinya sendiri.

@Flashback Off@

Reno menatap Aksa, Vano, Varo, dan Cia bergantian, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan. Ia tahu, ia tidak bisa memenangkan pertarungan ini. Ia harus mundur sebelum harga dirinya semakin tercabik-cabik.

"Awas aja lo," desis Reno, matanya menyipit menatap Cia dengan tatapan penuh dendam. "Ini belum selesai. Gue bakal bales lo nanti!"

Setelah mengucapkan ancaman itu, Reno berbalik dan pergi, diikuti oleh anak buahnya yang tampak lesu. Viona, dengan tatapan campur aduk antara iri, dengki, kagum, dan marah, ikut meninggalkan kantin mengikuti jejak Reno.

Suasana kantin kembali tenang, meskipun ketegangan masih terasa di udara. Semua mata tertuju pada Cia, Vano, Varo, Aksa, dan Senja. Bisikan-bisikan terdengar semakin tajam.

Aksa, dengan ketenangan yang khas, melangkah mendekati Cia. "Hai," sapanya dengan nada rendah yang menenangkan, berusaha menembus aura dingin yang terpancar dari gadis itu. "Aku Aksa."

Cia hanya meliriknya sekilas, tatapannya tajam namun tanpa minat. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik tangan Senja dan berdiri di samping Vano, membawanya pergi dari keramaian kantin. "Ikut gue," ucapnya singkat, meninggalkan Aksa yang terpaku sejenak.

Varo tertawa pelan, melihat ekspresi pria yang gagal mengajak kenalan saudara kembarnya. "Maaf, bro. Kayaknya lo harus berusaha lebih keras kali ini. Cia nggak gampang ditaklukkan."

Vano, dengan sorot mata tajam yang sulit diartikan, menatap Aksa sekilas sebelum berbalik dan mengikuti langkah Cia dan Senja. Kepergiannya tanpa kata menambah kesan misterius yang menyelimuti kedua saudara kembar itu.

Aksa, dengan wajah datar yang tak terbaca, hanya bisa melihat kepergian mereka. Bima, Arya, dan Galang yang sejak tadi memperhatikan drama singkat itu, gegas menghampiri Aksa, mencoba mencairkan suasana yang sedikit canggung.

"Sabar, Bos!" ujar Galang, mencoba menyemangati. "Tapi kayaknya si kembar kenal dekat sama tuh cewek!"

Arya menimpali dengan nada khawatir, "Jangan-jangan si kembar juga suka lagi sama tuh cewek!"

"Wah, Bos, saingan lo kembar tampan!" goda Galang, membuat suasana sedikit lebih ringan.

Aksa hanya mendengus pelan, tak terpengaruh oleh komentar teman-temannya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah pergi.

"Eh, Bos! Lo mau kemana? Kami ikut!" seru Galang, lalu dengan cepat mengikuti langkah Aksa, diikuti oleh Bima dan Arya.

Aksa terus melangkah, pikirannya dipenuhi dengan Cia dan misteri yang menyelimutinya. Ia tahu, ini baru permulaan. Tantangan yang lebih besar menantinya.

"Bos, lo mau kemana sih?" tanya Galang, yang berusaha mengimbangi langkah lebar Aksa.

Aksa tidak menjawab, matanya menatap lurus ke depan. Ia merasa ada sesuatu yang menariknya pada Cia, sesuatu yang lebih dari sekadar ketertarikan fisik. Ada misteri yang ingin ia pecahkan, tembok pertahanan yang ingin ia runtuhkan.

"Gue mau cari tahu lebih banyak tentang dia," akhirnya Aksa bersuara, nadanya serius dan penuh tekad. "Gue nggak suka ada orang yang nggak bisa gue kendaliin."

Bima, yang selalu menjadi otak di balik setiap rencana The Mavericks, menyeringai. "Oke, Bos. Gue akan kerahkan semua sumber daya kita. Dalam waktu singkat, kita akan tahu semua tentang Cia."

Arya mengangguk setuju. "Siap, Bos! Nggak ada rahasia yang bisa lolos dari kita. Bahkan, kita bisa tahu warna kuteks yang dia pakai hari ini."

Aksa menghentikan langkahnya, menatap teman-temannya dengan tatapan tajam. "Gue nggak mau ada yang menyakitinya. Gue cuma mau tahu siapa dia, apa yang dia inginkan, dan apa yang dia sembunyikan."

Galang, Bima, dan Arya saling bertukar pandang. Mereka tahu, Aksa tidak main-main dengan perasaannya. Kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Aksa benar-benar tertarik pada Cia, dan ia tidak akan menyerah sampai ia mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Tenang aja, Bos," kata Galang, menepuk bahu Aksa. "Kami akan bantu lo. Kita akan cari tahu semua tentangnya, tanpa menyakiti. Kecuali kalau dia yang nyakitin lo duluan, baru kita kasih pelajaran."

Aksa mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya.

______'&&'_______

Di perpustakaan yang tenang, Cia duduk bersama Vano, Varo, dan Senja. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar menerangi wajah mereka, menciptakan suasana yang hangat namun sedikit tegang.

Senja, yang masih merasa sedikit terkejut dan canggung, menatap ketiga orang baru di depannya dengan rasa ingin tahu. "Vano! Jadi Varo ini kembaran kamu?" tanyanya, memecah keheningan.

Vano mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya, kami kembar. Susah dibedain, kan?"

"Iya, bedanya cuman di warna rambut. Lo hitam legam sedangkan Varo pirang! Tapi ngomong-ngomong, kalian siapanya Cia?" lanjutnya penasaran.

Ketiganya saling tatap seolah mata mereka bisa berbicara. "Gue teman si kembar di sekolah yang lama. Dan kebetulan pindah ke SMA Garuda ini juga."

"Oh, pantes kalian terlihat akrab," sahut Senja paham.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, hanya suara halaman buku yang terbuka sesekali terdengar. Cia kemudian menoleh ke arah Senja, matanya berbinar.

"Senja, apa lo mau jadi teman gue juga?" tanya Cia, nadanya penuh harap.

Senja tampak sedikit ragu, namun akhirnya mengangguk pelan. "Boleh" jawabnya, merasa nyaman bersama mereka.

Cia tersenyum lebar. "Ok! Kita sekarang bestie! Akhirnya gue punya bestie!" serunya riang.

Varo dan Vano ikut tersenyum tipis mendengar semangat Cia. "Apa kau satu kelas sama Vano?" lanjut Cia sekilas ia melirik kembarannya yang juga sedang menatap dirinya.

"Iya, dia sekelas sama gue," jawab Vano mewakili Senja.

"Wah, anak IPA toh," gumam Cia, terkesan. "Pasti pinter banget."

"Gue gak yakin," sahut Varo, "otaknya paling isinya cuma rumus sama tebak-tebakan receh." Jahil Varo.

Cia tertawa. "Yang penting bisa bikin ketawa. Itu lebih berguna daripada rumus fisika."

Cia tertawa. "Yang penting bisa bikin ketawa. Itu lebih berguna daripada rumus fisika. Hidup itu harus dibawa santai."

Setelah itu, keempat orang itu kembali sibuk dengan buku masing-masing, tenggelam dalam dunia kata-kata dan pengetahuan. Waktu berlalu begitu cepat hingga bel berbunyi, menandakan jam istirahat telah usai.

"Oke deh, Senja! Gue duluan ya!" ucap Cia sambil melambaikan tangan. "Jangan lupa, kita bestie forever! Besok kita ketemu lagi."

"Siap!" balas Senja ikut senyum manis.

Saat mereka berpisah di depan pintu perpustakaan, Cia menatap Vano dengan tatapan menyelidik. "Vano jagain Senja ya. Awas aja kalau sampai kenapa-kenapa!"

Vano mengangkat alisnya. "Ck! Emang gue babysitter?" balasnya.

Varo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Cia, lalu ikut berlari mengikuti langkah Cia. "Bye Senja! Sampai ketemu besok!"

Bersambung...

 

.

1
Surya
ya Thor lebih tegas lagi Cianya
Surya
lanjut kak keren banget ceritanya
Juli Restiarini
lanjutnya jangan lama2 lgi seru ni
riniandara: mohon maaf belum bisa up rutin karena, author lagi berduka ayah author meninggal dunia.
total 1 replies
Surya
Cerita yang menarik untuk di baca.. karakter yang kuat aku sih suka kak terima kasih
Surya
Varo kebagian juga, aku mu juga dong di angkat jadi cucunya Opa Anggara/Facepalm//Grin/
Surya
ancaman pamungkas buat Cia kocar kacil /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Surya
wah bab pertama sih udah keliatan seru banget karakter utamanya dapat bangat. semoga kedepannya lebih seru semangat kak./Heart//Heart//Heart//Rose//Rose//Rose/
mimi
gak tau aja Bu Fani kalau ini triplenya Ratu dan Nathan /Facepalm//Facepalm/
mimi
lanjut kak, semakin menarik kak triple Alatas dan Nugroho ini mah di lawan./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
_bunda@dlan_
thour karakter x cia lebih ditegassin lgi donk, kyak ibunya 🤣
mimi: setuju lebih greget lagi Thor
total 2 replies
mimi
salah cari lawan ini mah
mimi
seru banget aku suka
mimi
wah triple bereaksi nih pasti seru banget... semangat ya thor awalnya sudah menarik dan penasaran aku suka karakter tokoh yang kuat.
riniandara
Jangan lupa tinggalkan jejak yang teman-teman/Applaud//Pooh-pooh/
riniandara
Hay semua! apa kabarnya. Semoga semua dalam keadaan sehat dan mudah rejeki ya. terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karya sederhana author semoga menghibur. jika kalian suka jangan lupa like dan kasih vitamin yang banyak buat author supaya rajin dan semangat untuk up/Applaud//Applaud/ terimakasih.
Muft Smoker: siap kak author ,,
semangat truus ,,
total 3 replies
Mama lilik Lilik
ini kisah anak² ratu dan Nathan ya KK author, hmmm sepertinya menarik 👍💪semangat kk, terimakasih 🙏
riniandara: iya kakak. terima kasih supportnya/Applaud//Applaud//Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!