NovelToon NovelToon
Fated Across Borders: Shared Wounds

Fated Across Borders: Shared Wounds

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiano R

Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.

Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 03

“JANGAN PERNAH MENYENTUH BRIAN!”

Brian menghentikan langkahnya seketika. Itu… suara Amayah.

Tanpa pikir panjang, ia segera berlari menuju sumber suara. Begitu tiba, matanya melebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Amayah—si pendiam, si dingin—tengah mencekik kerah baju seorang siswa dengan kedua tangannya.

Dan yang membuat Brian semakin bingung…

Mengapa Amayah menyebut namanya?

Terlebih lagi, siswa yang kini dicekik oleh Amayah adalah salah satu anak buah Michael—murid terkenal yang sudah beberapa waktu ini sering mengganggu Brian.

Tanpa melakukan apa pun, Brian memilih pergi begitu saja. Langkahnya tergesa, napasnya tak beraturan. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan, rasa merinding dan trauma menyelimuti dirinya.

“Amayah… menyebut namaku?”

Pikiran itu terus bergema di kepalanya hingga ia tiba di rumah. Rasa penasaran bercampur kebingungan membuatnya sulit memproses kejadian tadi. Brian yakin betul ia mendengar Amayah menyebut namanya—jelas, lantang, tanpa keraguan.

Sudah berbulan-bulan sejak Brian melepas tanggung jawabnya atas Amayah; namun kini, gadis itu kembali menghantui pikirannya. Ia ingin memahami sikap Amayah… tapi ia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.

“Aku harus bertanya padanya,” gumam Brian, akhirnya mengambil keputusan.

---

Keesokan paginya, Brian bangun lebih awal—sesuatu yang benar-benar tidak ia lakukan biasanya. Biasanya, ia baru bangun setengah jam sebelum bel sekolah berbunyi. Namun kali ini berbeda. Demi bisa berbicara dengan Amayah, ia rela mengorbankan kenyamanannya.

Brian berdiri di trotoar depan rumah Amayah, menunggu gadis itu keluar. Udara pagi masih dingin, namun ia tetap menanti dengan sabar.

Namun menit demi menit berlalu… dan Amayah tak kunjung muncul.

Brian mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Baru ketika ia mengecek jam di ponselnya, wajahnya langsung memucat.

“Sudah jam segini?! Aku harus berangkat ke sekolah sekarang juga!”

Dengan terpaksa, Brian mengakhiri niatnya pagi itu dan langsung berlari menuju sekolah.

Yang tidak Brian ketahui adalah… sejak tadi Amayah sebenarnya melihat dirinya dari balik jendela. Namun alih-alih keluar dan menemuinya, gadis itu memilih berdiam. Ia tidak ingin bertemu Brian—setidaknya belum.

Amayah kemudian keluar rumah melalui pintu belakang, berjalan menuju sekolah lewat jalur yang berbeda, seakan sengaja menghindari pertemuan itu.

---

Di sekolah, Brian terus melamun sepanjang jam pelajaran. John yang duduk di sampingnya hanya bisa mengernyit bingung; biasanya Brian sudah terlelap jauh sebelum guru menjelaskan setengah materi.

“Tumben sekali kau tidak tidur di kelas, Brian.”

“Jangan bicara seolah-olah aku ini pemalas.”

“Tapi itu kenyataannya,” ejek John sambil menyengir.

“Berisik.”

Brian menutup percakapan itu begitu saja dan memutuskan untuk benar-benar tidur setelah dikomentari.

Saat pelajaran olahraga, Brian memilih duduk di tempat teduh, menjauh dari keramaian murid lain. Angin sore berembus pelan, tapi pikirannya tidak kunjung tenang. John tiba-tiba menghampirinya sambil membawa bola.

“Apa olahraga favoritmu, Brian?” tanya John santai.

“Tidak ada,” jawab Brian datar.

“Serius? Tidak cukup hanya otak yang diasah, fisik juga harus dilatih, kawan.”

“Kau terdengar seperti kakekku.”

“Oh? Memangnya kakekmu seperti apa?” John langsung antusias. “Apakah dia sekeren aku? Setampan dan segagah diriku?”

John terus mengoceh tanpa henti, sementara Brian hanya diam. Namun tatapannya terseret pada lorong sekolah—tempat Amayah baru saja melewati beberapa detik lalu.

Untuk alasan yang bahkan ia sendiri tidak pahami, dadanya terasa sesak. Ia bingung. Tersesat dalam pikirannya sendiri.

“Hei, kau dengar aku?” John menyenggol lengannya.

Namun sebelum Brian sempat menjawab, John sudah menelusuri arah pandang temannya. Meski Amayah sudah tak tampak, John langsung paham apa yang sedang dipikirkan Brian.

“Sebenarnya, apa yang kau inginkan dari gadis itu?” tanyanya dengan nada yang tiba-tiba serius.

“Sudah kubilang, jangan ikut campur urusanku.”

Namun John menepuk pundak Brian dengan tegas. Brian menoleh, bingung oleh tatapan serius itu.

“Jika ada hal yang membuatmu kesulitan, mintalah bantuan orang lain. Tidak semua hal bisa kau tangani sendirian. Aku di sini… jadi percayalah padaku.”

Brian terdiam sejenak, lalu memalingkan wajah. “Jangan mengatakan hal menjijikkan seperti itu. Orang lain bisa salah paham kalau mendengarnya.”

“Apa maksudnya? Aku hanya ingin membantumu sebagai teman.”

“Kita bukan teman. Itu sudah kukatakan sebelumnya.”

Ucapan itu membuat udara di antara mereka hening sejenak. Brian menatap langit yang cerah, namun pikirannya terasa mendung.

“Baiklah, biar kuberitahu.”

Seketika, senyum kecil muncul di wajah John—sesuatu yang jarang terlihat.

Brian pun mulai menjelaskan semuanya. Tentang kebingungannya, tentang rasa tak nyaman yang ia sendiri tak mengerti, dan tentang Amayah. John mendengarkan tanpa menyela, sampai akhirnya ia bertanya:

“Jadi, apa tanggapanmu soal Amayah?”

Brian kembali terdiam. Ia mencoba mencari kalimat yang paling tepat—namun yang keluar justru…

“Dia… gadis pendiam yang terlihat hanya hanyut dalam keheningan. Tapi di balik tatapannya yang meredup seperti lampu yang pernah menyala terlalu terang, ada sesuatu yang ia sembunyikan rapat. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena bagian dari dirinya yang dulu begitu hidup… kini terlipat di sudut yang bahkan ia sendiri jarang berani sentuh lagi.”

John menatapnya lama. “…Kau ini bicara apa? Aku tidak paham.”

“Itu gambaran yang muncul di kepalaku. Tentang dirinya.”

Bel berbunyi pelan menandai akhir pelajaran olahraga. Brian berdiri dan pergi begitu saja.

“Sebenarnya aku tidak tahu apa pun tentang dirinya,” gumamnya sambil berjalan pulang.

“Aku bahkan tidak mengenalnya. Tapi kenapa aku terus memikirkan dia? Apa cuma karena dia menyebut namaku?”

“Mungkin dia ingin melindungiku… tapi kenapa? Apa alasannya? Kami bahkan tak pernah benar-benar bicara.”

“Kupikir… tidak ada gunanya memikirkan ini semua. Bahkan setelah kejadian kemarin, dia tetap tidak menunjukkan ketertarikan apa pun padaku.”

“Tapi… kenapa aku berharap begitu?"

---

Brian merasa frustrasi dengan pikirannya sendiri—semakin ia mencoba mengendalikannya, semakin liar semuanya berputar di kepalanya. Sepulang sekolah, ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membeli makanan kesukaannya di minimarket.

Namun ketika hendak pulang, ia melihat sosok yang tidak asing di seberang jalan: Amayah, berjalan sendirian.

Brian terdiam. Ada hal aneh yang langsung ia rasakan. Saat memperhatikan sekitar dengan lebih teliti, ia menyadari ada beberapa pria berpakaian serba hitam mengikuti langkah Amayah dari kejauhan.

Dugaan Brian kian kuat ketika Amayah mempercepat langkah… dan para pria itu ikut mempercepatnya.

"Firasatku buruk…"

Tanpa ragu, Brian mengikuti mereka dari sisi lain jalan. Mereka terus berjalan tanpa tujuan jelas, menyusuri kota yang perlahan dirayapi senja.

Hingga Brian melihat sesuatu yang membuatnya terkejut—tidak hanya ada pengejar di belakang Amayah, tapi juga di depan dan di sisi lain jalan.

Terpojok, Amayah akhirnya masuk ke sebuah gang sempit yang gelap dan sepi, langit sore yang mulai gelap menambah kesan mencekam.

Brian menghentikan langkahnya. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, ini tak bisa dibiarkan.

Di sisi lain, Amayah sebenarnya sudah panik sejak awal, meski berusaha menahan diri agar tetap tenang. Ia menoleh ke belakang, melihat jumlah pengejarnya justru bertambah. Tanpa pilihan lain, ia berlari melewati gang itu, masuk ke setiap belokan yang ia temui.

Namun nasib buruk menantinya. Ia berhenti di ujung jalur buntu.

Amayah berbalik cepat.

"Siapa kalian?!"

"Siapa kami?" Salah satu pria membuka masker wajahnya. Ternyata ia adalah Michael, murid satu angkatan.

"Jadi kau ingin balas dendam, ya?" ucap Amayah dengan suara bergetar.

"Tepat sekali!" ejek Michael sambil tertawa keras. "Kau pintar juga, tapi nilaimu anjlok. Ironis sekali."

Amayah mengepalkan tangan. Ia tahu ini pasti tentang anak buah Michael yang pernah ia hajar sebelumnya. Tapi jumlah mereka terlalu banyak—dan ia tak tahu sampai sejauh apa mereka akan bertindak.

"Kau memukul anak buahku tanpa ampun. Aku tidak suka itu," kata Michael sambil mendekat.

"Kau tidak suka ketika pengikutmu ditindas, padahal kau sendiri sering melakukannya."

Michael tersenyum tipis, hampir gila.

"Di sekolah ini, aku penguasanya. Tidak ada yang berani menentangku. Murid, bahkan guru sekalipun."

Ia lalu berteriak kesal, "Tapi murid pindahan bernama Brian itu menyingkirkanku dari posisi yang sudah kusandang bertahun-tahun! Aku tidak terima!"

"Itu karena salahmu sendiri yang tidak bisa menyainginya," balas Amayah.

"Hah?! Kau yang berada di peringkat terbawah berani berkata begitu?! Urus saja dirimu dan jangan ganggu rencanaku!"

Amarah Amayah memuncak.

"Jangan pernah menyentuh Brian sedikit pun."

Salah satu anak buah Michael terkekeh.

"Lucu… gadis yang suka menindas orang lain kini membela cowok yang bahkan sering ia abaikan."

"Jangan-jangan ini kisah cinta," kata Michael sambil meledek.

"Apakah ini my..." tambah salah satu anak buahnya.

Tawa mereka memenuhi gang gelap itu, membuat Amayah semakin panas.

"Sudahlah," kata Michael sambil mengibas tangan.

"Lakukan!"

Tanpa menunggu komando kedua, anak buahnya langsung menyerbu. Amayah bersiap bertarung, namun dua dari mereka memegang kedua tangannya dengan kuat. Dua lainnya menahan kedua kakinya.

"Hei, apa yang ingin kalian lakukan?!?!"

Mulutnya dibekap, membuatnya tak bisa berteriak. Amayah jatuh terduduk di tanah, tak berdaya.

Michael maju sambil menatapnya dengan tatapan bengis. Ia meraih jaket Amayah, membuka satu persatu kancing kemejanya, membuka sepatunya sebelum melemparkannya, membuang tasnya, lalu dengan paksa melepas rok pendeknya. Amayah berusaha meronta, mencoba menghindar dan melawan, namun jumlah mereka membuatnya tak bisa bergerak. Ia bahkan mencoba membenturkan kepalanya pada Michael, tapi tangan para pria itu mencegahnya, rambutnya ditarik dengan kasar.

"Sebelum aku merusakmu, lebih baik menggunakanmu dulu..." bisik Michael menggoda.

"Mantap nih bos, besar sekali!"

"Kalian tidak boleh menyentuhnya sebelum aku."

"Cepat bos, sudah tidak tahan nih!"

Panik menyergapnya, rasa sakit menjalar ke tubuhnya. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan, semua pakaiannya hampir dilepas.

"Mengapa... ini harus terjadi..."

"Andai saja… dia ada di sini…" pikir Amayah, mengharapkan kehadiran Brian yang selalu menganggunya.

Saat Michael hendak melangkah lebih jauh—

DOR!

Sebuah suara tembakan memecah udara. Semua orang terkejut dan menoleh ke arah suara.

"Sial! Kabur!" teriak Michael.

Namun sebelum lari, ia sempat memukul pipi Amayah dengan keras hingga dar*h menetes dari sudut bibirnya.

Mereka tidak sempat menjauh. Polisi mengepung gang itu dari depan, satu-satunya jalan yang ada—terlihat jelas bahwa sudah ada operasi yang berjalan. Dalam hitungan detik, Michael dan anak buahnya ditangkap satu per satu.

"Serahkan gadis itu pada saya," ujar seorang laki-laki.

Sementara itu, Amayah hanya duduk terkulai, tubuhnya gemetar. Ia memeluk kakinya sambil menangis tanpa suara, masih tak percaya dengan yang baru saja terjadi.

Usai polisi membawa para pelaku pergi, Brian menghampirinya.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil jongkok.

"Aku menelepon polisi ketika melihatmu dalam bahaya. Mereka sudah ditangkap, jadi tidak perlu khawatir lagi."

Amayah menutup wajahnya di antara kedua kakinya, namun perlahan ia mengangkat kepalanya. Air mata masih menetes di pipinya. Begitu melihat siapa yang datang, hatinya tergetar.

"Mengapa… kau… menolongku…?" tanyanya dengan suara yang hampir tak terdengar.

Brian tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan tatapan serius. Lalu ia menyodorkan sebotol air minum.

"Minum ini. Tenangkan dirimu dulu."

Tangan Amayah bergetar saat menerima botol itu. Ia meminumnya perlahan, mencoba mengatur napas.

"Terima kasih…" bisiknya.

"Kau bisa jalan?" tanya Brian.

Amayah menggeleng lemah.

Tanpa berkata banyak, Brian melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Amayah yang kedinginan.

"Pakaianmu kotor dan robek. Pakai ini dulu. Kembalikan nanti saja."

Amayah mengangguk kecil. Hatinya hangat oleh perhatian sederhana itu.

Brian kemudian berbalik sambil berjongkok.

"Ayo. Naik. Aku antar pulang."

Terkejut sekaligus tersentuh, Amayah perlahan menaiki punggung Brian. Tubuhnya masih lemas, tetapi Brian mengangkatnya dengan mudah sebelum berdiri dan mulai berjalan menuju rumahnya.

"Tubuhnya ringan juga."

Senja telah berubah menjadi malam. Di tengah suara kendaraan kota yang bergema, keduanya berjalan pulang—perlahan, namun terasa dekat.

---

Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)

---

Sepanjang perjalanan, Amayah tidak mengatakan apa pun. Ia hanya bisa memandangi Brian—seseorang yang selama ini justru ia hindari.

“Mengapa kau menolongku?” tanya Amayah pelan, suaranya terdengar rapuh, pelan— membuat Brian agak sulit untuk mendengarnya.

Brian tetap menatap lurus ke depan. “Ini hanya rasa peduliku padamu.”

“Meskipun aku sering mengabaikanmu…?”

“Ya. Meski kau sering mengabaikanku.”

Amayah terdiam. Ia memejamkan mata, seolah menahan sesuatu yang selama ini ia pendam.

“Lalu... mengapa kau melakukan semua itu?” Brian meliriknya. “Maksudku, penindasan yang kau lakukan selama ini?”

Amayah membuka matanya kembali. “Aku… hanya merasa kesal terhadap... mereka yang menindasku.”

Brian menoleh sedikit, seakan baru menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah ada di depan mata. “Maksudmu?”

“Ketika ayahku meninggal dunia... duniaku terasa gelap,” ucap Amayah dengan suara nyaris bergetar. “Rasanya... seperti lampu yang menerangi seluruh ruangan tiba-tiba padam begitu saja.”

Ia menunduk. “Aku sedih setiap saat.... keluargaku berusaha menghiburku… tapi aku tidak bisa tersenyum seperti biasanya. Ayahku… adalah orang yang paling aku cintai.”

Ayah Amayah adalah pria hebat—seorang dokter berpengaruh di kota mereka. Namun karena pengaruh itu, banyak dokter lain yang merasa tersaingi dan ingin menjatuhkannya. Ia meninggal setelah mengidap Tuberkulosis selama hampir dua bulan, padahal ia dan keluarganya tidak memiliki riwayat penyakit itu sama sekali.

Dan setelah kematiannya, banyak orang justru melupakan jasanya. Masa kerjanya sebagai dokter memang singkat, tetapi pengaruhnya begitu besar.

Saat itu Amayah masih kelas lima SD. Ia mulai jarang masuk sekolah. Ia mengurung diri, terperangkap dalam kesedihan. Keluarganya mencoba menghiburnya, namun ia seolah telah kehilangan cahaya hidupnya.

Yang lebih menyakitkan, teman-temannya yang dulu menghormatinya perlahan menjauh, seolah kematian ayahnya menghapus statusnya. Amayah menduga mereka telah terpengaruh oleh rumor buruk tentang ayahnya. Beberapa murid bahkan mulai menindas dan memperlakukannya dengan kasar.

Ibunya, Barbara, akhirnya memutuskan membawa Amayah pindah ke New York—menjauhkan putrinya dari lingkungan beracun itu. Amayah hanya mengangguk lemah, menyetujui keputusan itu.

Namun luka di hatinya tak kunjung sembuh. Dan pada suatu titik, ia memilih melampiaskan amarahnya kepada murid-murid yang ia anggap lemah—menghajar dan mencuri uang mereka saat pulang sekolah di tempat sepi.

“Jadi itu penyebabnya?” Brian bertanya.

“Ya… mungkin kedengarannya konyol bagimu…”

“Hah? Konyol? Jelas tidak!” Brian menatapnya tajam. “Aku juga tidak akan memaafkan perbuatan mereka kalau aku berada di posisimu.”

Amayah membisu.

“Sekarang, apa kau ingin berhenti melakukannya?” lanjut Brian. “Kau tahu, apa yang kau lakukan selama ini tidak akan menyelesaikan apa pun. Itu hanya akan menimbulkan masalah baru.”

Mereka berhenti di persimpangan, menunggu lampu pejalan kaki berubah hijau.

“Aku tahu kau menghajar salah satu anak buah Michael karena kau tahu rencana mereka untuk menghajarku,” ucap Brian. “Tapi… kenapa kau melakukannya?”

“Itu karena… ibuku sangat dekat dengan ibumu. Aku tidak ingin ibuku sedih kalau dirimu tidak baik-baik saja…”

“Tapi itu tidak menyelesaikan apa pun. Setelah kau melakukannya, apa yang kau dapatkan?”

Amayah terdiam. “…Aku dilecehkan oleh mereka.”

“Itu yang harusnya kau pahami.”

Amayah menatap Brian lagi. Tangisnya sudah mereda, namun ada sesuatu yang berubah dalam pandangannya—sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia tunjukkan pada Brian.

“Kau berbuat sejauh ini untukku… mengapa?”

Brian tersenyum tipis. “Tentu saja karena aku ingin menolongmu sebagai tetangga.”

“Jawaban itu kurang memuaskan,” ucap Amayah datar.

Brian kembali melangkah, menyusuri trotoar yang mulai sepi. Perumahan mereka sudah semakin dekat.

"Karena aku merasakan apa yang kau rasakan..." ucap Brian pelan, nyaris tidak terdengar.

"Aku pernah berada di posisimu, jadi aku sedikit mengerti."

Brian melanjutkan, “Bu Barbara—ibumu—meminta bantuan padaku. Dia memintaku menolongmu keluar dari kegelapan.”

“Ibuku…?” suara Amayah melemah.

“Ya. Dia sempat menemuiku, menceritakan tentang ayahmu dan perubahan sikapmu setelah kejadian itu. Aku merasa iba dan ingin membantunya.”

“Ibumu sangat khawatir. Ia sedih, bahkan stres, melihat putrinya berubah begitu drastis. Ia merasa tak berdaya.”

“Ia hanya ingin bisa mendengar ceritamu lagi. Melihat senyummu. Tawamu.” Brian menunduk sedikit. “Tapi ia memilih menghargai perasaanmu, dan memberimu kebebasan.”

“Menurutmu… bagaimana perasaan ibumu, bahkan ayahmu yang sudah tiada kalau tahu putrinya sering berbuat jahat?”

“Ayah… ibu...”

Tiba-tiba, air mata Amayah kembali turun. Ia menangis lebih pelan, namun lebih dalam. Hatinya seolah retak kembali, menumpahkan emosi yang selama ini ia tekan.

"Aku berharap kau berjanji pada dirimu sendiri agar tidak mengulanginya lagi," ujar Brian.

Ia menyandarkan wajahnya pada punggung Brian, dan Brian bisa merasakan betapa basah seragamnya karena air mata gadis itu.

Beberapa menit berlalu.

Perlahan, tangis itu mereda—dan akhirnya, Amayah tertidur di punggungnya.

Brian menghela napas pelan. Gadis yang dulu ceria dan ramah… berubah menjadi anak berandalan. Tapi kini, ia merasa lega.

“Aku berhasil menyelesaikannya, Kayla…” ucapnya lirih.

Bersambung.

1
Rama Iskandar
end ny gk nikah?
Zildiano R: Ini baru tamat part 1, part 2 nya menyusul, join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini 🙏
total 1 replies
Rama Iskandar
p
Rama Iskandar
sepi amat
Rama Iskandar
p
SaeKanai
Saya puas dengan endingnya🤣🤣
semangat terus bang!!!
Zildiano R: thank you👍
total 1 replies
sakura
...
gralsyah
diam-diam menghanyutkan tuh si amayah ya 😭 gk ketebak wkwk
Zildiano R: wkkwk🤣
total 1 replies
gralsyah
mampir kak author. ihh seruuuu. ceritanya
Zildiano R: terima kasih~
total 1 replies
Marley Howard
keren cuy
Zildiano R: makasih🙏
total 1 replies
Arisell
semangat oi
Zildiano R: makasih, siap🙏
total 1 replies
Khai Dok
udah chat ke editor ya... covernya?
Zildiano R: sudah👍
total 1 replies
Khai Dok
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!