Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Ribut Di Tengah Jalan
Pria itu menutup pintu dengan gerakan pelan, terlalu terkontrol untuk orang yang baru saja mobilnya dirusak. Lalu ia menatap kaca belakang yang retak, kemudian menoleh pada Raisa.
Tatapan itu turun-naik, menilai Raisa seperti menilai sesuatu yang mengganggu jalannya.
“Kamu yang lempar?” suaranya rendah, datar, tapi ada tekanan yang membuat udara terasa lebih berat.
Raisa mengusap wajahnya yang penuh lumpur. Gerakan tangannya kasar, jijik. Ia meludah kecil ke samping.
“Iya! Emang kenapa?” Raisa melangkah maju, sepatu sandal jepitnya menciprat air. “Masnya buta ya? Mobil segede gaban lewat genangan kayak raja! Nggak lihat ada orang di jalan?!”
Krisna menyipit. “Kamu merusak properti orang.”
“Dan kamu ngerusak hidup orang!” Raisa menunjuk tubuhnya sendiri yang kotor. “Ini baju satu-satunya yang layak buat ngelamar kerja! Kamu pikir saya punya banyak baju?!”
Krisna menahan napas. Raut wajahnya tidak berubah, tapi otot di rahangnya mengeras. “Berapa harga bajumu? Saya ganti.”
Raisa tertawa pendek—tajam, sinis. “Hah! Enak banget! Duit bisa beresin semua? Mas kira saya anjing disiram air terus dikasih tulang?”
Krisna melangkah mendekat. Aura dinginnya menekan. “Jangan kurang ajar.”
Raisa justru mengangkat dagu, menantang. “Kurang ajar itu kamu, Mas! Mobil mewah, tapi nggak punya sopan santun!”
Krisna mengangkat telunjuk, menunjuk kaca belakang mobil. “Itu retak. Kamu sadar itu tindak pidana?”
Raisa berkedip, tapi bukan karena takut. Karena kesal dengan nada mengancam itu. “Pidana? Ya laporin aja! Sekalian laporin juga Mas yang nyipratin orang!”
Krisna menatapnya beberapa detik, seolah sedang menahan sesuatu di dalam dadanya agar tidak meledak. Di balik ketenangannya, ada lelah yang menumpuk—lelah yang tidak punya tempat untuk tumpah.
Ia baru pulang membawa bayi. Kepala penuh rencana klinik, penuh kekacauan batin. Dan sekarang ada gadis barbar berlumur lumpur yang merusak mobilnya lalu membentak-bentak tanpa rasa takut.
Hari pertama datang di desa, dan semesta sudah menyambutnya dengan keributan.
“Kamu sadar mobil ini bukan mainan?” Krisna berkata perlahan. “Kamu pikir merusak itu bentuk protes yang benar?”
“Setidaknya saya berani!” Raisa membalas cepat. “Daripada orang kaya yang nyakitin orang tapi pura-pura nggak salah.”
Krisna menatap Raisa, dan untuk sesaat, ada sesuatu yang bergerak di matanya—sesuatu yang seperti … tersentuh? Bukan. Tidak mungkin. Tapi kata-kata “nyakitin orang” seperti menabrak luka yang belum kering.
Ia menegang lagi. “Jangan sok tahu.”
Raisa menyibak rambutnya yang basah, memperlihatkan pipinya yang berlumur lumpur. “Saya nggak sok tahu. Saya lihat. Kamu nyiprat saya. Kamu bikin saya gagal hari ini.”
Krisna mendekat satu langkah lagi. Jarak mereka kini hanya beberapa jengkal. Raisa bisa mencium aroma parfum mahal bercampur wangi sabun rumah sakit—bersih, steril, bertolak belakang dengan lumpur di tubuhnya.
“Kalau kamu mau kompensasi, saya bisa ganti lebih dari cukup,” Krisna berkata, suaranya masih datar tapi lebih tajam. “Tapi kaca retak ini, kamu harus tanggung jawab.”
Raisa mendengus. “Saya tanggung jawab? Kamu juga!”
Krisna menatapnya tanpa berkedip. “Kamu ini siapa?”
Raisa mengangkat dagu lebih tinggi. “Raisa.”
“Hanya ‘Raisa’?” Krisna mengulang, seolah nama itu terlalu kecil untuk keributan sebesar ini.
Raisa menyeringai. “Iya. Orang miskin biasanya nggak punya gelar. Nggak kayak ‘Dokter, polisi, atau pejabat’.”
Krisna terdiam sejenak.
Ia tidak tahu kenapa kata “dokter” terdengar seperti ejekan dari mulut gadis ini. Padahal ia menghabiskan bertahun-tahun untuk gelar itu. Dulu gelar itu membuatnya bangga. Kini … gelar itu seperti baju yang berat. Menutupinya dari rasa hancur di dalam.
“Kamu pikir gelar bikin hidup gampang?” Krisna bertanya pelan, suaranya kini mengandung bara.
Raisa menatapnya tajam. “Kalau gelar nggak bikin gampang, ya minimal punya otak buat nginjek rem kalau lihat genangan!”
Krisna mendecih, kehilangan sedikit kontrol. “Kamu ini—”
“Saya ini apa? Barbar? Kampungan?” Raisa melangkah maju, hampir menabrak dada Krisna. “Iya! Saya kampungan! Tapi saya punya hati! Saya nggak nyipratin orang terus sok suci!”
Krisna menahan gerakan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia merasa darahnya naik, bukan karena Raisa benar—tapi karena cara Raisa menelanjangi sesuatu yang ia sendiri tidak siap lihat: bahwa ia sedang kehilangan kendali, dan dunia tidak peduli ia dokter atau anak Kades.
Suara bayi tiba-tiba terdengar dari dalam mobil—rengekan kecil, pelan.
Raisa tersentak. Matanya melirik ke mobil, baru sadar ada sesuatu yang hidup di sana.
Krisna langsung menoleh ke arah suara itu, tubuhnya refleks berubah. Wajah dinginnya tetap, tapi langkahnya cepat menuju pintu belakang.
Raisa menatap punggungnya dengan bingung. “Ada … bayi?”
Krisna membuka pintu belakang. Suara tangisan bayi semakin jelas. Ia mengangkat bayi itu dari car seat dengan gerakan yang—anehnya—lebih hati-hati dari sebelumnya. Bayi itu merengek, tangan kecilnya menggenggam udara.
Krisna mengayun pelan, seperti seseorang yang belajar menenangkan dengan terpaksa.
Raisa menatap pemandangan itu, mulutnya terbuka sedikit. Amarahnya tidak langsung hilang, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Orang arogan ini … bawa bayi?
Krisna menoleh lagi pada Raisa, masih menggendong bayi. Tatapannya tetap dingin, tapi kini ada bayang gelap kelelahan.
“Kamu tetap harus tanggung jawab,” katanya, suaranya lebih rendah. “Saya bisa urus ini baik-baik. Tapi jangan pikir dengan marah-marah kamu benar.”
Raisa menggertakkan gigi. “Dan jangan pikir dengan ngomong pelan kamu jadi paling benar.”
Mereka seperti dua api saling menggesek. Hujan rintik-rintik menjadi saksi, jalan kampung menjadi arena.
Beberapa orang mulai melintas—petani pulang dari sawah, ibu-ibu membawa payung, anak sekolah yang menepi karena penasaran.
“Lho, ada apa itu?” terdengar bisik-bisik.
Seorang bapak tua menghampiri, membawa jas hujan tipis. “Heh! Kalian ini kenapa ribut di jalan?”
Raisa menunjuk mobil. “Pak! Mobilnya nyipratin saya! Terus saya—”
“Terus kamu lempar batu?” bapak itu memotong, matanya membesar melihat kaca belakang retak.
Raisa menegang. “Ya … saya emosi, Pak.”
Krisna berbicara datar. “Dia merusak mobil saya.”
Bapak itu menghela napas, menatap bergantian, lalu menatap bayi di gendongan Krisna. “Lho … kamu ini … Krisna?”
Krisna menatap bapak itu sebentar, lalu mengangguk singkat. “Pakde Suyat.”
Pakde Suyat melongo. “Ya Allah … anak Pak Kades pulang beneran.”
"Eh, ada dokter duda ganteng," salah satu Ibu-ibu ikut menyahut.
Ia menoleh cepat ke warga yang mulai berkumpul, seolah ingin menyuruh mereka menelan gosip mereka sendiri.
Raisa menelan ludah. Anak Pak Kades?
Ibunya bekerja di rumah Pak Kades. Jadi pria ini … majikan ibunya? Atau anak majikannya?
Dadanya mendadak sesak, tapi bukan karena takut. Karena rasa jengkel yang makin dalam.
Bersambung .... 💕
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊