Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK DI SEPANJANG ARUS.
Sesuai dengan janji yang diucapkannya, Ferdiansyah akhirnya mengantar Ariya terbang menuju Sumatera. Langkah Ariya memang belum sesempurna dulu, namun ia sudah tidak lagi bergantung pada kursi roda. Ia mendarat di tanah Minang bukan sebagai turis, melainkan sebagai dokter relawan yang akan menggantikan posisi Arumi di garis depan.
Sebelum kembali ke Jakarta, Ferdiansyah memberikan instruksi terakhir kepada tim penyelamat. "Terus sisir setiap jengkel wilayah ini. Saya akan memberikan imbalan yang sangat besar bagi siapa pun yang membawa menantu saya pulang dalam keadaan selamat," tegasnya di depan helikopter. Ia kemudian menepuk bahu Ariya, menitipkan seluruh harapan keluarga pada pundak putranya itu sebelum mesin helikopter menderu dan membawanya menjauh.
Ariya kini berdiri di tengah hiruk pikuk posko medis. Ia segera mengenakan jas putihnya, jas yang serupa dengan yang dipakai Arumi sebelum hilang. Ia mulai bergelut dengan ratusan pasien yang membutuhkan penanganan cepat. Dedikasinya luar biasa, seolah ia sedang menebus dosa dengan setiap nyawa yang ia selamatkan.
"Dokter Ariya, ada pasien dengan luka robek di tenda tiga!" seru seorang perawat.
"Siapkan peralatan jahitnya, saya segera ke sana," sahut Ariya dengan nada tenang namun tegas.
Setiap kali tangannya menyentuh luka pasien, hatinya berbisik lirih kepada Sang Pemilik Nyawa. Ya Allah, biarkan setiap luka yang hamba obati ini menjadi jalan bagi-Mu untuk mempermudah jalanku menemukan Arumi. Hamba menolong hamba-Mu, maka tolonglah hamba menemukan belahan jiwa hamba.
Ketangkasan Ariya membuat banyak rekan medis kagum. Ia bekerja tanpa kenal lelah, hingga saat pekerjaan di posko mulai melandai, ia tidak menggunakan waktu istirahatnya untuk tidur. Ia justru bergabung dengan tim SAR untuk menelusuri aliran sungai yang membelah hutan.
"Hati saya berkata kita harus mengikuti arah aliran ini lebih jauh lagi, Pak," ujar Ariya kepada komandan tim SAR yang menemaninya.
"Tapi Dok, wilayah di depan sana adalah hutan yang sangat terpencil. Jarang ada akses ke sana," balas petugas itu ragu.
"Kita coba saja. Saya merasa dia ada di suatu tempat di sepanjang sungai ini," desak Ariya.
Sambil menelusuri tepian yang curam, mereka sempat menemukan seorang warga yang terjepit di antara bebatuan kali. Ariya segera beraksi, membuka tas ransel medis yang selalu siap di punggungnya. Ia menangani pendarahan warga tersebut dengan cekatan sebelum meminta tim SAR untuk mengevakuasinya. Karena kondisi hari yang mulai gelap dan medan yang sulit, mereka memutuskan untuk berkemah di sekitar bantaran sungai malam itu.
🍃
Sementara itu, jauh di hilir sungai yang lebih tenang, Arumi, yang kini dikenal sebagai Ayu, sedang menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Ia tidak lagi memegang alat bedah, melainkan keranjang bambu. Hilang ingatan tidak menghapus ketenangan batinnya. Ia membantu kakek masuk ke dalam hutan di belakang gubuk untuk mencari daun-daun herbal dan akar-akaran obat.
"Kek, lihat ini. Akar ini baunya sangat segar, sepertinya bagus untuk mengobati luka memar," ujar Arumi sambil menunjukkan sepotong akar kayu pada sang kakek.
Kakek tersenyum kagum. "Kamu itu pintar sekali, Ayu. Padahal kakek tidak pernah mengajarimu jenis akar itu. Sepertinya kamu memang punya bakat jadi tabib."
Arumi hanya tersenyum tipis. Ia sendiri heran mengapa pengetahuan medis itu seolah muncul begitu saja di kepalanya, meskipun ia tidak ingat dari mana asalnya. Setelah keranjang mereka penuh, kakek menyuruh Arumi pulang lebih dulu.
"Pulanglah, temani nenekmu di gubuk. Kakek akan ke pasar kecil di pinggir desa untuk menjual hasil hutan ini ke klinik obat tradisional," pesan kakek.
Arumi mengangguk patuh dan berjalan kembali menuju gubuk. Sementara itu, kakek melanjutkan perjalanannya menuju pasar desa yang cukup ramai. Setelah berhasil menjual semua daun dan akarnya, kakek menerima beberapa lembar uang. Ia segera membeli beras, garam, dan sepotong kain baju baru bermotif bunga untuk dihadiahkan kepada Ayu.
Saat hendak berjalan pulang, langkah kakek terhenti di depan sebuah papan pengumuman kayu di dekat gerbang desa. Di sana tertempel sebuah poster yang sudah sedikit terkena percikan lumpur. Mata kakek melebar saat melihat foto wanita di poster tersebut.
"Ini... ini kan Ayu?" gumam kakek dengan suara gemetar.
Ia membaca tulisan di bawah foto itu: DicarI Dokter Arumi. Hilang saat tugas medis di Sumatera. Bila menemukan dalam keadaan selamat, akan diberikan hadiah 1 Milyar Rupiah. Kakek tertegun melihat nominal yang begitu fantastis, jumlah uang yang tidak akan pernah ia lihat seumur hidupnya meskipun ia menjual seluruh hutan itu.
Kakek segera memutar arah, berjalan cepat melewati jalan-jalan hutan yang rimbun agar tidak ada orang yang mengikutinya. Pikirannya kalut. Ia teringat betapa bahagianya sang nenek sejak kehadiran Ayu. Gubuk mereka yang biasanya sepi kini penuh dengan tawa dan kehangatan.
"Kalau aku memberitahu nenek dan menyerahkan Ayu, nenek pasti akan sangat sedih. Dia sudah menganggap Ayu sebagai anak sendiri," batin kakek dalam kebimbangan.
Sesampainya di gubuk, kakek melihat Arumi sedang membantu nenek menjerang air di tungku. Mereka berdua tampak tertawa bahagia. Kehangatan yang terpancar dari wajah Ayu membuat kakek tidak tega untuk mengatakan apa yang baru saja ia lihat di pasar.
"Kakek sudah pulang? Kok wajahnya tegang begitu, ada apa?" tanya nenek sambil menghampiri suaminya.
Kakek buru-buru menyembunyikan keterkejutannya dengan menyodorkan bungkusan baju baru. "Ah, tidak apa-apa, Nek. Hanya capek saja karena jalanan becek. Ini, kakek beli baju untuk Ayu."
Arumi menerima baju itu dengan mata berbinar. "Terima kasih, Kek. Ayu sangat suka."
Kakek hanya tersenyum kaku. Di satu sisi, ia tahu bahwa keluarga wanita ini pasti sangat merindukannya. Di sisi lain, ia takut kehilangan satu-satunya kebahagiaan di masa tuanya. Ia juga khawatir, apakah orang-orang yang mencari itu benar-benar keluarganya atau justru orang jahat yang ingin menyakiti Ayu.
Malam itu, di bawah temaram lampu minyak, kakek tidak bisa tidur. Ia menatap Arumi yang sedang terlelap di balai-balai. Ia menyadari bahwa ia sedang menyimpan sebuah rahasia besar yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Sementara di hutan yang tidak jauh dari sana, Ariya sedang menatap bintang di langit sambil menggenggam foto Arumi, tidak menyadari bahwa wanita yang ia cari hanya berjarak beberapa jam perjalanan darinya
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra