"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 1
BRAK!
Terdengar bunyi melengking dari sebuah pintu yang terbuka lebar, menampilkan seorang lelaki paruh baya berjalan masuk ke dalam sebuah mansion nan megah. Terlihat jelas sorot matanya yang memerah memancarkan sebuah amarah yang membuncah di dalam benaknya.
Lelaki itu melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya, sama seperti dengan keadaannya saat ini begitu menyesakkan dada. Bahkan untuk bernapas pun seolah tak dapat dia lakukan.
"Aarrrgggh ... sial, kenapa semuanya harus seperti ini?" Umpatnya sambil menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Apa yang harus aku lakukan? Semuanya sudah hancur lebur, dasar brengsek!" Lelaki itu meraup kasar wajahnya yang sudah keringat dingin. Ya, lelaki itu tak lain adalah Zhu Guan pemilik dari Zhu Group. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang tekstil.
Beberapa minggu lalu perusahaan miliknya telah mengekspor sebuah kain berbahan Xiangyunsha Silk (Liangsha atau Soft Gold) pada klien yang telah memesannya. Uang pun sudah masuk ke dalam rekening perusahan untuk memproduksi bahan tersebut. Namun sayangnya, barang yang dia ekspor ternyata belum sampai pada kliennya. Dimana faktanya jika pengiriman itu telah mengalami kendala. Terlebih saat dia tahu jika salah satu karyawannya lah yang terlibat dalam proses pengiriman. Tapi sayangnya, karyawan itu telah resign dua bulan yang lalu.
Seketika sebuah suara terngiang di indra pendengarannya bak seperti kaset rusak yang terus berputar memenuhi isi kepalanya.
"BAYAR SELURUH HUTANGMU, TUAN GUAN! SAYA BERI WAKTU SAMPAI BESOK ATAU KAU TAU SENDIRI AKIBATNYA!"
"AKU TAK BUTUH JANJI, TAPI BUKTI. KAU HARUS SEGERA MEMBAYAR BESERTA BUNGANYA. INGAT BESOK PAGI, UANG ITU HARUS ADA DI HADAPANKU."
"PERUSAHAANMU ITU SUDAH HABIS UNTUK UANG INVESTOR DAN PESANGON KARYAWAN, LALU DENGAN APA KAU MAU MEMBAYAR HUTANGMU PADAKU, TUAN GUAN? HEH' AKU YAKIN RUMAHMU SAJA BAHKAN TAK CUKUP UNTUK MENUTUPI HUTANGMU! MAKA DARI ITU AKU MEMBERIKAN PENAWARAN YANG MENARIK UNTUKMU?"
"PUTRIMU! SERAHKAN PUTRIMU PADAKU SEBAGAI BAYARANNYA! AKU INGIN PUTRIMU MENIKAH DENGAN PUTRAKU YANG LUMPUH ITU!"
PYAR!
Saat ini pikirannya sedang kalut, Guan tak bisa lagi menahan amarahnya. Vas bunga yang ada di hadapannya menjadi sasaran empuk, telah melayang membentur lantai dan berhamburan sebagai pelampiasan amarahnya.
Semuanya telah hancur lebur seperti perusahaannya saat ini. "DASAR BAJINGAN! ZIMO KEPARAT!"
Tak hentinya lelaki paruh baya itu mengumpat kembali. Sungguh dia menyesal atas kecerobohannya yang telah percaya begitu saja pada karyawan baru. Tanpa ada keraguan, Papa Guan mempercayakan proses ekspor pada Zimo.
"Papa! Ada apa ini Pa? Kenapa semuanya berantakan seperti ini?" pekik seorang wanita paruh baya yang baru saja turun dari lantai atas. Kedua netranya menyapu pandang ke seluruh ruangan, melihat ruangan mewah itu yang tampak seperti kapal pecah.
Wanita paruh baya itu tak sengaja mendengar suara bariton yang begitu memekikkan telinga. Membuat wanita itu dilanda rasa penasaran yang membuncah dalam benaknya. Wanita itu tak lain adalah Mama Suzhen yang merupakan istri dari pemilik Zhu Group.
"Hancur, semuanya hancur lebur Ma." Papa Guan mendaratkan bobot tubuhnya dengan kasar di atas sofa ruang tamu.
"Hancur? Maksud Papa apa? Mama nggak ngerti." Mama Suzhen mengulang ucapan suaminya sambil berkerut alis dalam.
"Perusahaan kita sudah habis ma. Bahkan sedikitpun tidak ada yang tersisa, ini semua gara-gara Zimo keparat itu." Papa Guan berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada perusahaannya saat ini.
Mama Suzhen menggeleng cepat menepis fakta yang ada. "Apa? Tidak! Itu tidak mungkin. Papa pasti bercanda, bukan?" Terdengar suara wanita paruh baya itu yang sedikit bergetar diiringi kekehan di akhir kalimat.
"Heh' apa gunanya Papa bercanda seperti itu. Papa ini serius Ma."
"Maksud Papa kita bangkrut. Kita udah nggak punya apa-apa lagi? Pa, terus gimana dengan kehidupan kita Pa?" Mama Suzhen kembali bertanya untuk memastikan ucapan suaminya bahwa hal itu tidak benar. Berharap semua yang dia dengar hanyalah sekedar bunga tidurnya semata. Namun, harapan itu pupus sudah saat melihat ekspresi suaminya yang terlihat pucat. Sudah dipastikan bahwa hal buruk telah menimpa perusahaannya saat ini.
Mama Suzhen menghela napas berat. "Haduuh Mama nggak habis pikir. Mama nggak bisa Pa, duuuh ...." Terlihat jelas kepanikan di raut wajah wanita paruh baya itu.
Bukannya memberi support untuk menenangkan suaminya, justru yang ada Mama Suzhen panik sendiri takut dengan segala macam hal buruk yang akan terjadi padanya.
"Tenang dulu dong Ma! Jangan panik seperti itu! Seharusnya saat ini Mama tenangin Papa, kasih support kek atau apa? Bukan malah nambah suasana jadi runyam," sentak Papa Guan dengan emosi yang masih menguasai dirinya.
Mama Suzhen tak kalah emosinya, wanita itu mendelikkan mata pada suaminya. "Aku ... aku nenangin Papa? Justru aku pa, aku yang nggak tenang. Haduh Pa kita itu udah bangkrut, udah nggak punya segalanya. Haduh Papa ... Mama nggak bisa. Gimana ini Pa hidup kita kedepannya? Gimana ... gimana Mama bisa tenang?" pekik Mama Suzhen.
Mama Suzhen mendekatkan wajahnya pada sang suami. "Aku nggak mau hidup susah. Gimana caranya Papa harus repair semuanya. Dan perusahaan nggak boleh collapse! Ingat Pa, aku nggak mau hidup susah!" Lanjutnya yang terus menekan Papa Guan dengan tatapan predatornya seolah siap menerkam mangsanya.
Setelah mengatakan itu, Mama Suzhen melenggang pergi meninggalkan Papa Guan seorang diri dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepalanya.
"Aaarrggghh ... sial! Semua ini gara-gara Zimo brengsek itu."
PRANK!
PRANK!
PRANK!
🥕🥕🥕
"Kalian duduk dulu, Papa ingin bicara sama kalian." Papa Guan membuka suara saat kedua anaknya sudah berada di hadapannya.
Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga, dimana Mama Suzhen duduk di samping Papa Guan. Sedangkan Yiyue dan Lian sudah duduk tepat di hadapan orangtuanya dengan wajah tenangnya yang memang mereka belum mengetahui perihal keadaan perusahaan saat ini.
"Ada apa Pa?" tanya Lian yang mulai sedikit gusar melihat ekspresi Papanya seolah ada hal buruk yang terjadi pada keluarganya.
Perempuan cantik itu seperti cenayang yang dapat membaca pikiran orang dan instingnya selalu benar. Tak pernah sedikitpun meleset dalam memprediksi sesuatu ataupun membaca pikiran orang.
Berbeda halnya Yiyue yang masih tetap diam dengan wajah tenangnya. Perempuan cantik itu memasang telinganya baik-baik, berusaha mendengarkan apa yang ingin dikatakan Papanya.
"Kalian harus tahu bahwa saat ini perusahaan Papa sedang dalam masalah. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan ...." Belum selesai bicara, secepat kilat Lian menyela ucapan Papanya.
"Apa? Perusahaan Papa dalam masalah? Kenapa bisa seperti itu Pa? Bukankah selama ini baik-baik saja." Lian tersentak kaget mendengar ucapan Papanya seolah tak percaya dengan fakta yang ada.
Papa Guan mengangguk pelan sebagai tanda jawabannya. Tentu saja hal itu membuat Lian terkejut bukan kepalang, selama ini dia selalu hidup bergelimang harta. Namun, dalam sekejap hidupnya akan berubah dan Lian tak bisa menerima itu sama seperti Mamanya yang tak bisa menerima kenyataan pahit.
Kali ini Yiyue sedikit terkejut, tapi bukan perusahaan yang dia khawatirkan. Melainkan kesehatan Papanya, takut jika ada hal buruk yang menimpa lelaki paruh baya itu. Baginya harta bisa dia cari dengan cara bekerja dengan giat tapi jika kesehatan sangatlah mahal harganya. Oleh karena itu, Yiyue lebih mengkhawatirkan keadaan Papanya dibandingkan hal lain.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Pa?" tanya Lian yang tak sabaran.
"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat nomor satu di kota ini."
JEDYAR ....
Bagai tersambar petir di siang bolong saat mendengar ucapan Papa nya barusan.
.
.
.
🥕Bersambung🥕