Terpikat Pesona Om Duda Dingin

Terpikat Pesona Om Duda Dingin

CHAPTER 1

"Gila! Ganteng banget, demi apa?!"

Keyla menempelkan wajahnya ke kaca ponsel, menggunakan pantulan layar itu untuk merapikan poni curtain bangs-nya yang sedikit lepek terkena percikan air hujan. Matanya melirik tajam ke arah sudut halte. Di sana, seorang pria berdiri tegap dengan aura yang membuat oksigen di sekitar Keyla seolah menipis.

"Key, lo denger gue nggak sih?" suara melengking dari ponsel yang ia tempelkan di telinga nyaris diabaikan.

"Sstt! Diem dulu, Re. Gue rasa... gue baru aja ngelihat masa depan gue," bisik Keyla pelan.

"Masa depan apa? Lo lagi di halte bus, bukan di depan ramalan zodiak!" seru Rena, sahabatnya, dari seberang telepon. "Buruan pulang, mendung makin gelap. Mama tiri lo nyariin, katanya lo belum setor muka sejak pulang sekolah."

"Re, dengerin gue baik-baik," Keyla membalikkan badannya membelakangi pria itu. "Di sebelah gue ada cowok. Bukan, maksud gue... Om-om. Tapi sumpah, ini tipe daddy-able banget! Jasnya rapi, jam tangannya mahal, dan mukanya... ya Tuhan, kayak dipahat malaikat pas lagi lembur."

"Keyla! Inget cita-cita lo!"

"Justru ini! Gue pengen nikah muda, kan? Nah, kalau suaminya modelan begini, gue rela deh nggak kuliah juga!"

"Gila lo. Udah ya, gue tutup. Jangan malu-maluin di tempat umum!" ucap Rena, yang kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.

Keyla memasukan ponselnya kedalam tas. Ia menarik napas dalam-dalam, membetulkan rok abu-abu SMA-nya yang sedikit kependekan, lalu dengan gerakan yang dianggapnya paling anggun, ia bergeser mendekat.

Hujan semakin deras. Di liriknya oleh Keyla, Pria itu tetap diam dengan jemari lincah yang menari di atas layar ponsel mahalnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Duh, hujannya awet banget ya, Om?"

Kalimat pembuka diluncurkan. Keyla menoleh dengan senyum manis yang sering ia gunakan untuk meluluhkan hati guru BK.

Pria itu tidak menoleh. Tidak bergerak. Bahkan tidak berkedip.

"Mana bus nggak lewat-lewat lagi. Om nunggu bus juga? Atau nunggu... jemputan jodoh?"

Kali ini, pria itu bergerak. Ia melirik jam tangannya—sebuah Patek Philippe yang berkilau mewah—lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang tergenang. Ia sama sekali tidak menoleh pada gadis remaja di sampingnya.

"Om?" panggil Keyla lagi, kali ini lebih berani.

Pria itu akhirnya menoleh. Matanya yang tajam dan dingin menatap tepat ke manik mata Keyla. "Kamu bicara denganku?"

"I-iya. Habisnya di halte ini cuma ada kita berdua. Masak saya bicara sama hantu?" jawab Keyla dengan sedikit gugup.

"Jangan berisik," jawab pria itu singkat.

"Ih, galak banget. Aku cuma nanya, Om. Namaku Keyla. Nama Om siapa?" Keyla mengulurkan tangannya yang mungil ke depan dada pria itu.

Pria itu hanya melihat tangan Keyla sekilas lalu kembali menatap jalanan tanpa menyambut jabatan tangan tersebut. "Pulanglah. Anak sekolah tidak seharusnya menggoda orang asing di jalanan."

Keyla menarik kembali tangannya, namun bukannya ciut, ia justru merasa tertantang. "Siapa yang menggoda? Aku kan cuma mau kenalan. Siapa tahu kita jodoh, ya kan? Lagian aku udah kelas 3 SMA, Om. Sebentar lagi lulus, udah sah kalau mau dipinang."

Pria itu menghela napas panjang, tampak terganggu. "Umurmu berapa?"

"Delapan belas kurang dikit. Kenapa? Om mau nungguin aku sampai lulus?"

"Pulang, Dek. Belajar yang rajin. Jangan kebanyakan nonton drama," ucap pria itu dengan nada datar.

Tepat saat itu, sebuah mobil Rolls Royce hitam mengkilap berhenti tepat di depan halte. Seorang pria berseragam pengemudi keluar membawa payung besar, berlari kecil menghampiri pria dingin di samping Keyla.

"Maaf terlambat, Tuan Arlan. Jalanan macet total karena genangan air," ucap sang supir dengan hormat.

Pria bernama Arlan itu hanya mengangguk kecil. Sebelum melangkah masuk ke mobil, ia melirik Keyla sekilas. Bukan tatapan tertarik, melainkan tatapan peringatan.

"Om Arlan!" seru Keyla, mencoba mengejar hingga ke pinggir halte. "Namanya Arlan, ya? Sampai ketemu lagi, Om Calon Suami!"

Arlan tidak menyahut. Pintu mobil tertutup rapat, dan kendaraan mewah itu pun melaju, meninggalkan Keyla yang berdiri dengan perasaan campur aduk.

"Arlan..." Keyla mengeja nama itu di bibirnya. "Om Arlan. Duda bukan sih? Tapi nggak ada cincin di jarinya. Ah, bodo amat. Mau duda, mau bujang, yang jelas Om Arlan harus masuk ke daftar target utama gue!"

Keyla mengambil ponselnya lagi, mengetik sesuatu di grup WhatsApp-nya.

Keyla: Guys, gue nemu mangsa baru. High quality. Arlan namanya. Doain dalam tiga bulan dia bakal melamar gue ke rumah!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!